
Ckiiiit...
Suara itu membuat perkelahian mereka berhenti seketika, rupanya Detektif Anan dan anak buahnya sudah tiba, tanpa aba-aba mereka langsung mengempung Bima dan anak buahnya.
"Sial!" Bima mengumpat, dia mengeluarkan pisau untuk melukai Bara.
Namun Bara tidak menyerah begitu saja, dia menahan pisau itu dengan tangannya sampai tangannya terluka dan bercucuran darah. Bima terus maju untuk semakin menekan pisau itu yang hanya 7 cm saja jaraknya dengan dada Bara.
Bugh...
Ada yang memukul kepala Bima dengan pipa besi, sampai kepalanya terluka.
Bugh...
Kini pipa besi tersebut mengenai punggung Bima dengan keras, sampai Bima kehilangan keseimbangan, dan kini bagian perutnya yang di tendang dengan keras sampai dia tak sadarkan diri.
Rupanya Detektif Anan yang memukul Bima dengan pipa besi itu, "Tuan tidak apa-apa?" tanya Detektif Anan begitu melihat tangan Bara terluka.
"Tidak, hanya luka kecil kok."
Anak buah Detektif Anan berhasil menaklukkan Bima beserta anak buahnya sampai terluka parah, mereka diikat dengan kuat dan dimasukkan ke dalam mobil.
"Kita apakan mereka?" tanya Detektif Anan.
"Tentu saja kita serahkan mereka ke polisi." jawab Bara.
__ADS_1
Jo melihat tangan Bara yang terluka kena sayatan pisau, "Tangan tuan terluka!"
Bara sedikit meringis, "Shhh... tidak apa-apa, kok." walaupun sebenarnya luka itu sangat membuatnya sakit.
"Lebih baik tuan ke rumah sakit saja, saya akan menyerahkan mereka ke kantor polisi." kata Detektif Anan. Dia menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengantar Bara dan Jo ke rumah sakit karena luka di tubuh mereka bukan luka kecil.
Bara hanya mengangguk, dia baru menyadari seluruh tubuhnya kini merasa kesakitan akibat pukulan demi pukulan mengenai tubuhnya. Begitu juga Jo.
...****************...
Karin dan Jesika yang mendengar kabar soal Bara dan Jo yang dirawat di rumah sakit, mereka segera pergi bersama-sama ke rumah sakit dengan perasaan yang tidak tenang dan begitu sangat mengkhawatirkan mereka.
Rupanya Bara dan Jo dirawat di ruangan yang berbeda tentunya Bara memesan dua ruang khusus VVIP yang hanya satu orang pasien saja di dalamnya dengan fasilitas yang mewah.
Karin tidak bisa berhenti menangis melihat kondisi Bara yang wajah tampannya kini banyak luka lebam dan ada luka di punggung juga tangannya yang sudah di jahit.
"Seharusnya aku ikut, biar aku menghajar mereka."
Bara terkekeh, "Tidak, aku tidak mengizinkan kamu berkelahi. Cukup dengan ku saja nanti di kamar begitu luka aku sembuh."
Karin malah mencubit pinggang Bara, "Ya ampun, aku sedang berbicara serius tapi kamu malah bahas itu."
"Argghhh... " Bara meringis saat Karin mencubit pinggangnya.
"Eh maaf, aku lupa kamu sedang terluka." Karin mengusap-usap pinggang Bara.
__ADS_1
Bara memegang tangan Karin dan memeluk erat tubuh istrinya. "Semuanya akan segera berakhir, tidak akan ada lagi yang akan menyakitimu karena aku tidak akan membiarkannya."
Karin menangis di pelukan Bara, dia merasa beruntung karena dipertemukan dengan Bara, dan dia lebih beruntung karena Bara telah menjadi pasangan hidupnya. "Maaf gara-gara aku kamu harus terluka, kamu sudah melakukan banyak hal demi aku. Aku tidak tau harus melakukan apa buat kamu karena pengorbanan kamu begitu banyak dari saat aku masih koma sampai sekarang kamu masih terus berusaha untuk melindungi aku."
Bara melepas pelukan, dia memegang wajah Karin dan menghapus air matanya "Jadilah ibu dari anak-anak ku dan terus temani aku sampai kita menua nanti, hanya itu yang aku mau, aku mau kita terus hidup bersama."
Karin menangguk, "Tentu saja, tanpa kamu minta aku pasti akan melakukannya. Makanya cepat sembuh, begitu pulang nanti aku akan memasak buat kamu."
"Benarkah?" tanya Bara, dia sama sekali tidak percaya saat mendengar Karin akan memasak untuknya.
"Iya Jesika mengajarkan aku memasak spageti."
Senyuman Bara langsung menciut, justru dulu gara-gara Jesika yang membuat dia sangat bosan memakan spageti karena Jesika dulu mengantarkannya spageti tiap hari makanya dia suka memberikan spageti ke Jo.
"Kenapa? Tidak mau ya?" tanya Karin begitu melihat raut wajah Bara.
Bara rasa dia harus mencoba memakannya spageti lagi, apalagi buatan istrinya. "Hmm iya nanti aku akan memakannya. Apa kamu sudah lihat kondisi Jo? Dia terluka juga, bahkan di sepanjang perjalanan ke rumah sakit Jo tidak berbicara sepatah kata pun seperti menahan sakit." Bara sangat mengkhawatirkan Jo.
"Aku ingin melihatnya tapi mungkin sekarang dia sedang bersama Jesika, biarkan saja mereka berdua."
Karin tau Jesika begitu panik saat mendengar Jo dirawat di rumah sakit, bahkan dia langsung menanyakan nomor ruangan tempat Jo dirawat.
"Hmm ya sudah kalau begitu."
Karin tidur di ranjang yang sama dengan Bara, sultan mah bebas, tidak akan ada yang berani melarangnya. Bara tersenyum-senyum melihat Karin yang sudah tertidur di sampingnya, dia mencium kening Karin lalu memeluknya dengan erat, dia bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup dan selamat dari bahaya yang hampir mengancam nyawanya, karena dia masih ingin hidup bersama dengan waktu yang lama dengan wanita yang ada di dekapannya itu.
__ADS_1
Bara tidak mengetahui bahwa Jo sebenarnya terkena luka tusuk di bagian perutnya saat Jo melawan anak buah Bima, namun luka itu dia tutup dengan jas hitamnya dan menyumpal luka itu dengan sapu tangan yang dia bawa agar tidak banyak mengeluarkan darah.