
"Maaf, aku terlambat mengingat kamu. Aku pasti sudah membuat kamu terluka. Aku sangat merindukan kamu, Bara." Karin mengatakannya sambil menangis, dia tidak bisa membendung air matanya karena begitu sangat merindukan pria yang yang sedang bersamanya sekarang.
Saat dia tidak sadarkan diri tadi, Karin begitu sangat jelas mengingat kenangan terakhir bersama Bara saat dia masih menjadi arwah saat itu, di halaman belakang rumah sakit. Bahkan dia mengingat ciuman terakhir mereka dan setiap kata yang dia ucapkan pada Bara, begitu masih terngiang-ngiang di telinganya sampai sekarang. Membuat hati Karin sangat sakit mengingat perpisahan dengan Bara saat itu.
Seandainya aku diberi kesempatan untuk hidup lagi. Aku akan berusaha untuk mengingatmu jika aku tersadar nanti, walaupun kau tidak tau caranya bagaimana.
Tapi seandainya aku tidak ingat, aku harap kamu tidak menyerah dan terus memperjuangkan aku. Aku sangat berharap hubungan kita tidak sebatas disini saja, saat aku tersadar nanti aku ingin kita bisa dekat seperti ini, terus bersamamu.
Aku mencintaimu, Bara. Aku datang kesini karena aku takut aku tidak bisa mengungkapkan isi hatiku padamu lagi. Karena itu aku minta jika nanti aku terus memintamu untuk melepaskanku, aku harap kamu tidak pernah melepaskan aku. Aku yakin hatiku ini tidak akan melupakan perasannya padamu.
Aku tidak tau apa aku pergi untuk hidup atau untuk mati. Tapi aku merasa tenang karena sudah mengungkapkan semuanya isi hatiku padamu.
Terimakasih untuk semuanya, aku bahagia bertemu denganmu. Sekali lagi, aku mencintaimu, Bara.
Karin masih menangis memeluk punggung Bara dari belakang, dia tidak mau Bara melihatnya menangis, karena dia paling anti menangis selama ini, apalagi di depan pria.
Bara melepaskan tangan Karin yang memeluk perutnya dengan erat, dia membalikkan badannya sehingga berhadapan dengan Karin, Bara memegang wajah Karin dengan lembut dengan mata berkaca-kaca karena tidak menyangka akhirnya Karin mengingatnya juga. Bara menghapus air mata Karin dengan jemarinya.
"Kamu mengingatku?" suara Bara terdengar begitu parau menahan diri agar air matanya tidak jatuh.
Karin menganggukan kepala, air mata itu tiada hentinya mengalir, dia sangat bersyukur karena bisa mengingat Bara lagi, bahkan perasaannya pada Bara tidak hilang sampai sekarang. "Terimakasih tidak pernah lelah untuk menjagaku. Aku cinta kamu, Bara."
Bara menghapus kembali air mata Karin, "Aku lebih mencintai kamu, Karin, istriku."
__ADS_1
Dengan perlahan Bara menyatukan kedua bibir mereka dengan lembut, sebuah ciuman mewakili hati dan perasaannya saat ini, bahwa dia begitu sangat bahagia karena Karin telah mengingatnya kembali. Karin membalas ciuman Bara dengan mengalungkan kedua tangannya ke leher Bara, dia membalas disetiap pagutan demi pagutan yang Bara lakukan pada bibirnya.
Mereka saling memagut dengan begitu mesra, ciuman yang lembut itu kini makin lama kian menuntut, membuat hasrat diantara mereka begitu bergejolak karena ciuman mereka kini semakin liar.
Bara dan Karin melepaskan ciuman mereka untuk mengambil nafas sebentar, saling menatap satu sama lain, lalu saling bercumbu kembali dengan penuh gairah, bahkan mereka kini telah saling membelitkan lidah mereka dengan sempurna, membuat aliran darah berdesir dengan hebat, bahkan tiada hentinya mereka saling bertukar saliva.
Bara melepaskan ciuman mereka, dia menggendong Karin membaringkannya di atas ranjang, membuat Karin gugup karena Bara berada di sampingnya, untuk pertama kalinya dia berada di atas ranjang bersama seorang pria, Bara mencium kembali Karin, menyesapnya dengan disertai lu ma tan - lu ma tan yang membuat mereka semakin tersulut api bi rahi. Dan tangan Bara tidak diam disitu saja, dia mencari sesuatu yang membuatnya penasaran , mere mas nya dengan lembut. Karin menahan diri agar tidak men de sah. Namun tiba-tiba Bara melepaskan ciumannya.
Kali ini Bara benar-benar melepaskan ciumannya, dia takut malam ini akan membuat Karin tidak berdaya, karena Karin baru saja sadarkan diri dari pingsannya, dia tau malam ini badan Karin belum begitu stabil.
Bara menghumbuskan nafasnya dengan pelan , mengendalikan dirinya dengan nafas yang tersenggal-senggal.
Bara meraih tubuh Karin ke dalam dekapannya, dia memeluknya dengan erat, dan mencium pucuk kepala Karin yang bersandar di dada bidangnya. "Apa saja yang kamu ingat sekarang?"
"Yang lainnya kamu tidak mengingatnya?" Maksud Bara mungkin saat mendengar ucapan David yang disuruh Elsa untuk mencelakai Karin. Atau mungkin juga ada hal yang Karin temukan saat dia menemui Pak Tian untuk terakhir kalinya.
"Aku belum mengingat apa-apa lagi."
"Ya sudah, jangan terlalu memaksakan, suatu saat kamu pasti akan mengingat semuanya." Bara membelai rambut Karin dengan lembut.
Karin sedikit menengadah memandangi wajah Bara, "Jadi itu ingatan saat aku menjadi arwah?"
"Iya, sesosok arwah cantik yang nakal dan terus mengikutiku." Bara mengatakannya sambil terkekeh. Dia mengecup bibir Karin yang membuatnya sangat gemas.
__ADS_1
"Hmm Dan aku ingat betul dengan sikapmu yang menyebalkan itu," Karin menyipitkan matanya menatap Bara.
"Yang penting aku mencintaimu sekarang." jawab Bara, dengan simple.
"Mulai besok aku ingin kamu mengajarkan aku bagaimana caranya mengurus perusahaan, aku ingin menendang dua wanita ular itu secara perlahan." Karin mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
"Apa rencanamu?" Bara penasaran dengan apa yang dilakukan Karin kepada ibu dan kakak tirinya.
"Aku hanya ingin bermain cantik, mengikuti alur saja, berpura-pura tidak tau kejahatan mereka, aku tidak akan menendang mereka begitu saja, aku harus bisa mendapatkan bukti kejahatan mereka yang sudah membunuh papa, setelah itu baru aku menendang mereka ke penjara."
Bara semakin mendekap tubuh Karin dengan erat, "Kamu harus melibatkan aku, aku tidak ingin kamu bertindak sendirian. Aku tidak akan membiarkan kamu terluka."
Karin hanya terdiam, dia takut Bara akan terluka karenanya. Dia mengeratkan pelukannya, dada Bara yang bidang membuatnya begitu nyaman sampai di terlelap di dalam dekapan Bara.
Bara yang menyadari Karin sudah tertidur hanya bisa tersenyum simpul, dia mencium pucuk kepala Karin kembali. Namun sayangnya dia tidak bisa tidur, mungkin ini pertama kalinya berada di situasi seperti ini, sebagai laki-laki normal pastinya akan membuat hasratnya menggebu-gebu , tapi dia harus bisa menahannya untuk malam ini saja.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
__ADS_1
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...