
"Baguslah, sekarang giliran aku mempelajari tentang apapun di dalam dirimu." Bara menatap Karin dengan intens.
Karin menelan saliva mendengarnya, di dalam situasi seperti ini dia bingung harus menolak atau mengiyakan. Antara mau atau tidak. Dan antara takut tapi penasaran.
"Emmm... Bara aku rasa aku harus membaca ulang buku ini." Karin mencoba mencari alasan.
"Kamu sudah selesai membaca semuanya." Bara mengatakannya dengan nafas berat karena dia sudah tidak tahan menantikan malam pertamanya, tapi sekarang masih siang, jadi siang pertama.
"Emmm... sepertinya aku... "
Bara memegang kedua wajah Karin dan langsung mencium bibirnya, kali ini ciuman itu berbeda dari yang sebelumnya, dia begitu rakus menikmati bibir yang manis itu membuat sukmanya bergetar hebat di dalam jiwa.
Tanpa sadar Karin telah membalas ciuman Bara walaupun dia belum bisa mengimbangi ciuman Bara yang semakin liar mengobrak-abrik bibirnya. Dia membulatkan mata saat tangan Bara mere mas-me re ma dadanya walaupun badannya masih tertutupi gaunnya, tapi sukses membuat Karin terbuai dengan sentuhan itu.
Ciuman itu kini turun ke leher jenjang Karin yang putih dan mulus, Bara menyesapnya disetiap inci leher Karin dan meninggalkan tanda cinta disana, Karin menggigit bibirnya menahan diri agar tidak mende sah, saat itu mereka masih dalam posisi duduk di sofa. Dia sangat gugup saat merasakan tangan Bara membuka beberapa kancing gaunnya, hanya bagian atas saja dan tangan itu menelusup masuk dengan bebas menyentuh pa yu daranya.
"Bara, apa ini termasuk pelecehan?"
Pertanyaan itu malah merusak suasana, "Apa ada suami melecehkan istrinya?" Bara menatap tajam pada Karin.
Karin terpekik kaget dan menggelinjang saat tangan itu memainkan pu tingnya, sentuhan itu sukses membuat jiwanya terbang ke angkasa. Dan kata lak nat itu pun kini keluar dari mulut Karin "Akhh..."
Bara menurunkan bra Karin sehingga menyem bul dengan bebas bongkahan yang mulus dan putih itu, benar saja ukuran payu da ra Karin begitu besar, sangat menggairahkan, Bara langsung melahapnya, menyesapnya dengan kuat meninggalkan tanda merah di bagian pinggirnya, lagi-lagi sentuhan itu membuat Karin menggila, beberapa kali dia telah men de sah sampai dia terus membusungkan dadanya.
"Akh Bara!" Karin reflek dia memeluk kepala Bara saat Bara menyedot dengan rakus bagian pu tingnya, dia semakin erat memeluk kepala Bara sampai Bara hampir kehabisan nafas karena hidungnya tertutupi payu da ra Karin.
Bara menghentikan aktivitasnya, dia langsung menggendong tubuh Karin, Karin terkesiap mengalungkan kedua tangannya ke leher Bara, jantung Karin berdetak begitu hebat, dia sangat gugup sekali memandangi Bara yang berjalan membawanya ke kamar Bara, tempat yang akan menjadi saksi bisu kisah panas mereka.
"Bara!" lirih Karin.
__ADS_1
Bara memandanginya, tapi Karin tidak mengucapkan sepatah katapun lagi, Karin merasa diposisi dilema, karena ini adalah hal yang tidak mudah untuknya, baginya keperawanannya itu begitu sangat penting, tapi sekarang dia telah menemukan orang yang pantas untuk dia serahkan hal yang sangat berharga itu. Terlebih lagi dia adalah suaminya.
Bara membaringkan tubuh Karin diatas kasur, dia membuka gaun Karin sehingga tersisa pakaian dalam saja, dan Karin membantu Bara melepaskan kemejanya. Bara menindih tubuh Karin yang bertumpu pada tangannya agar tidak sepenuhnya menindih sang istri, Karin merasakan ada yang sudah terbangun dan terasa keras dibawah sana padahal Bara masih memakai celana membuat Karin menelan saliva dengan kasar karena sudah tau sebesar apa itu.
Bara membuka bra Karin dan melempanya ke sembrang tempat, sehingga dia bisa melihat jelas dua bongkahan yang indah. Karin menutupnya dengan kedua tangannya, "Jangan terus melihatnya, aku malu."
Bara tersenyum geli mendengarnya, "Jangan malu kita harus saling melihat dan merasakannya, kamu adalah milikku dan aku milikmu."
"Tapi Bara... akh.. " Karin tidak melanjutkan perkataannya karena Bara membuka tangan Karin yang menutupi buah da da nya, dia langsung melahapnya dengan rakus, dan dada Karin yang satu lagi dia re mas - re mas dengan lembut.
Tubuh Karin menggelinjang hebat saat Bara terus menyesap pa yu daranya dan menyedot pu tingnya seperti bayi yang sedang kelaparan.
Tanpa sadar Karin telah membusungkan dadanya membuat Bara semakin leluasa melahap dada Karin secara bergiliran. "Akh... geli Bara! Stop ah!" mulut dan tangannya tidak sinkron tangan Karin malah terus menekan kepala Bara disertai mencengkram rambut Bara agar Bara terus memberikan dia kenikmatan dibagian dadanya.
Tangan Bara semakin nakal dia meraba-raba bagian perut Karin dan tangan itu terus bergerak dengan lembut lalu menelusup masuk ke bawah sana yang masih terbungkus kain segitiga.
Tubuh Karin menegang dan menggerinjal saat jemari Bara bergerak-gerak dibawah sana, "Ah Bara, stop pelase akh... " Tubuh Karin tidak kuat jika terus merasakan kenikmatan dibagian dada dan dibawah perutnya.
"Bara, aku malu." Karin malah menahan kain segitiga itu.
"Jangan malu, kita susah suami istri. Kamu sudah melihat punyaku waktu itu, sekarang giliran aku melihatnya."
"Tapi... "
Bara berhasil membuka kain segitiga itu, namun Karin langsung menutupnya dengan kedua tangannya. "Jangan melihatnya!"
Bara yang sedang duduk di antara kedua paha Karin dibantara kedua pagar Karin dia menarik tangan Karin yang menutupi miliknya, Bara sudah pernah melihat bagaimana memuasakan dan merangsang seorang wanita dari film dewasa yang pernah dia tonton, Bara ingin mencobanya, dia merangkak kembali menindih tubuh Karin mencium bibirnya dengan naf su, menghujaninya dengan banyak kecupan dari ujung rambut lalu ke ujung kaki, dan kecupan itu kini mendarat di bawah perut Karin, dia ingin merasakan juga bagaimana rasanya mencumbunya.
"Akh... jangan Bara!" Karin merasakan kegelian yang luar biasa saat Bara melu mat miliknya.
__ADS_1
Kedua tangan Karin mencengkram seprai, tubuhnya semakin menggelinjang penuh kegelian merasakan lidah itu terus mendominasi dibawah sana, dah mulut Bara terus menyedot sesuatu yang ada di bagian tengahnya, rasanya sungguh tak tertahankan. Membuat jiwanya melayang bebas di udara.
Sampai Karin merasakan ada yang akan tumpah di bawah sana. "Akh... stop Bara, aku mau pipis."
Bara tidak menghentikan aktivitasnya dibawah sana, dia tau itu bukan pipis tapi Karin akan mengeluarkan pelepasannya, dan Karin men de sah panjang saat ada yang tumpah dibawah sana "Akhhh... " Dia mencengkram rambut Bara dengan kuat.
Bara segera melepaskan celananya, dia menindih kembali tubuh Karin yang sedah mulai melemas karena pelepasannya.
"Jangan kaget, pasti kamu akan merasakan sakit sekarang, tapi hanya sebentar, aku akan membuat kamu menikmatinya nanti." Bara mencoba untuk menenangkan Karin, dia mencium bibir Karin dengan lembut , sementara dibawah sana Bara mulai bersentuhan untuk saling berkenalan.
Ting-Tong...
Suara bel telah merusak suasana. Tapi Bara yang sudah di kuasai hawa naf su memilih mengabaikan suara bell rumah itu. Dengan perlahan dia mulai menggerakkan miliknya untuk segera masuk ke dalam surga dunianya.
Ting-Tong....
Suara bell yang kedua kalinya benar-benar membuyarkan pikirannya, hasrat itu semakin menurun, dengan terengah-engah dia bangkit, dan segera meraih pakaiannya. "Kita lanjut nanti malam saja." Bara mengatakan itu dengan nada kesal.
Karin yang menyadari Bara sudah keluar dari kamar, dia mengusap dadanya, jantungnya seperti meloncat-loncat dari tadi. "Apa aku bisa dikatakan masih gadis?"
Bara membuka pintu dengan terus menggerutu, padahal hari ini hari minggu tapi kenapa ada Jo datang ke rumahnya, dia tau yang datang ke rumahnya itu Jo, dan Jo tidak akan datang ke rumah kalau tidak ada urusan penting.
"Ada apa, Jo? Padahal aku sedang acara penting sekarang."
"Acara penting apa tuan?" Jo malah memperhatikan di sekeliling rumah yang megah itu.
"Aku dan Karin sedang membuat sesuatu, lebih baik kamu pergi, nanti aku telepon kamu." Bara malah mengusir Jo.
Jo pikir Bara dan Karin sedang membuat adonan untuk masak, "Ya sudah kita lupakan dulu acara memasak itu, ada berita penting yang harus saya sampaikan."
__ADS_1
"Berita apa?" Bara menyipitkan matanya.
"Aku dengar dari detektif Anan kalau David hari ini menyerahkan diri ke polisi,"