
Karin menghentikan motornya tepat di halaman depan rumah yang megah itu, rumah yang menyimpan banyak kenangan dia dan kedua orang tuanya.
Ada dua orang pelayan menyambut kedatangan Karin, "Nona!"
Karin tersenyum ramah kepada mereka. Para pelayan memang tidak diberi akses untuk masuk bebas ke rumahnya, karena di belakang sana tersedia tempat khusus para pelayan.
Karin segera masuk ke dalam, dia di sambut hangat oleh Bu Zora, "Ya ampun Karin, mama kangen sekali sama kamu." Bu Zora memeluk Karin pura-pura senang dengan kedatangan anak tirinya itu.
Bu Zora dan Karin duduk di ruang tengah, Karin datang kesana ingin membawa obat yang dulu diselipkan oleh papanya di sela-sela kursi ruang kerja papanya.
"Bagaimana hubungan kamu dan suamimu? Mama rasa Bara keterlaluan , dia melarang mama masuk ke rumah sakit saat mau menjenguk kamu." Bu Zora ingin memprovokasi Karin, dia berharap Karin meninggalkan Bara dan tinggal di rumahnya dengan begitu dia bisa membuat Karin bernasib sama seperti papanya, apalagi dia sudah memesan racun khusus untuk Karin yang bisa membuat Karin mati walau hanya satu kali meminumnya, walaupun mati secara perlahan dalam hitungan mingguan bahkan bulanan jika kondisi tubuhnya fit.
Karin berpura-pura tidak enak hati saat mendengar pengaduan dari Bu Zora, "Maafkan Bara, dia memang agak overprotective, mungkin karena takut ada mencelakai Karin lagi."
"Tapi masalahnya ini mama dan kakak kamu lho, keluargamu. Mama sangat tidak di hargai."
Cuihhh... keluarga apaan, yang ada aku akan menendang kalian ke penjara.
"Iya, maafkan Bara, ma."
"Apa kamu bahagia dengan suami overprotective seperti itu, Karin? Apalagi pernikahan kalian itu pasti sangat tidak kamu harapkan, bukannya kamu pacaran dengan Revan? Mama lebih setuju kamu dengan Revan."
__ADS_1
Karin tidak menanggapi ucapan Bu Zora, dia paling malas jika harus membahas tentang Revan.
Ini kesempatan Bu Zora untuk meracuni Karin, setelah itu dia akan membuat Karin dan Bara bercerai agar Bara tidak bertanggungjawab lagi atas saham yang dimiliki Karin, jika mereka tidak bercerai juga, salah satu jalan adalah melenyapkan Bara dari dunia ini.
"Mama mau ambilkan minuman dulu ya, mau minum apa?" tanya Bu Zora.
"Air putih aja, ma. Karin mau ke ruang kerja papa dulu ada beberapa berkas yang harus Karin bawa."
Bu Zora hanya mengangguk dan pergi ke dapur, sementara Karin pergi ke ruang kerja papanya, Karin segera mencari obat yang diselipkan papanya di sela-sela kursi waktu itu, akhirnya dia menemukan obat yang berwarna biru muda itu, Karin memasukkan obat beracun itu ke plastik kecil yang dia bawa dan memasukannya ke saku celana.
Karin berjalan ke meja kerja mendiang sang papa, dia mencabut flashdisk yang ada di laptop papanya yang berisi rekaman CCTV di area ruang kerja sang papa. Bu Zora dan Elsa tidak akan kepikiran kesana karena tidak tau Pak Tian menyelipkan obat itu di sela-sela kursi.
"Papa!" Karin menangis. Dia sangat menyesal selama ini dia belum bisa memenuhi apapun keinginan papanya, walaupun cuma satu harapan Pak Tian yang terkabul yaitu Karin menikah dengan Bara. Karin sangat bersyukur karena saat dia menjadi arwah dia bisa mengingat semuanya yang pernah dia lihat.
Tanpa sepengetahuan Karin, Bu Zora memasukan cairan berwarna bening itu ke dalam gelas yang akan dia berikan pada Karin.
Anggap saja hidupmu tidak beruntung, Karin.
Karin menghapus air matanya, dia segera keluar dari ruang kerja papa karena Bu Zora memanggil namanya. "Karin!"
"Iya, ma." jawab Karin dengan pura-pura tersenyum. Dia duduk kembali di ruang tamu sambil membawa dua buku milik papanya.
__ADS_1
"Sudah ketemu berkasnya?" tanya Bu Zora sambil meletakkan satu gelas yang sudah dia masukan racun di atas meja tepatnya di depan Karin, dan satu gelas lagi di depannya sendiri.
"Sudah, ma."
"Kapan kamu akan menginap disini?" tanya Bu Zora sekedar basa basi.
Karin menggelengkan kepala, "Entahlah, Karin belum tau, ma."
"Ayo cepat diminum," suruh Bu Zora dengan tersenyum samar.
Karin mengangguk, dia memegang gelas yang berisi air putih itu dan memandanginya.
"Ma, boleh Karin minta foto papa? Ponsel Karin rusak, jadi tidak ada foto papa sama sekali." pinta Karin dengan nada sedih.
Sebenarnya Bu Zora malas, tapi dia harus terus berpura-pura baik. "Oh iya tunggu sebentar, " Bu Zora segera masuk ke kamar untuk mengambil foto mendiang suaminya.
Bu Zora mengambil satu foto Pak Tian di album foto, "Oke, aku hanya sebentar lagi berpura-pura baik seperti ini, nanti semua aset berharga keluarga Keano menjadi milikku." Bu Zora tersenyum licik.
Setelah itu Bu Zora kembali menemui Karin, dia menyeringai saat melihat Karin meneguk air putih itu sampai habis.
Akhirnya dia meminumnya juga, kamu akan mati dengan perlahan Karin.
__ADS_1