
Pernikahan Jesika dan Raka tinggal menghitung hari, Jo selalu memberikan perhatian pada Jesika akhir-akhir ini, mengikuti saran dari Karin dan Bara. Dia siang ini pergi ke rumah sakit untuk menemui Jesika sambil membawa bunga. Dia tidak akan menyerah walaupun Jesika berusaha untuk menghindarinya, Jesika menyadari dirinya tidak bisa menbantah walaupun dia sudah beberapa kali protes tapi papanya tidak akan mendengarkannya, bahkan dia takut Jo akan semakin terluka kalau dia memberikan harapan padanya.
Jesika menghela nafas saat melihat Jo masuk ke ruangannya sambil membawa bunga. Mungkin dia ingin menjadi sosok pria romantis, namun salahnya dia setiap hari membawa bunga sampai bunga-bunga itu numpuk di meja.
"Sampai kapan kamu akan memberi aku bunga?" keluh Jesika.
"Sampai kamu mengizinkan aku berbicara dengan kamu." ucap Jo dengan tersenyum manis.
"Tapi aku sedang kerja, Jo." Jesika terus mencari alasan untuk tidak bertemu dengan Jo.
"Aku akan menunggumu." jawab Jo dengan santai.
Jesika tidak menghiraukannya, dia segera pergi dari ruangannya, berpura-pura akan memeriksa pasien, padahal dia ingin menghindari Jo.
Mengapa dia menunjukkan perhatiannya sekarang, mengapa tidak dari dulu.
Jo terpaksa balik lagi ke kantor karena waktu istirahatnya hampir habis. Dia ingin menemui Bara karena ada yang ingin dia sampaikan mengenai pekerjaannya, namun saat dia akan mengetuk pintu, dia mendengar suara de sa han disana. Mungkin orang lain tidak akan ada yang mendengarnya karena Bara melarang siapapun masuk ke ruangannya, dia bilang ada meeting penting dengan CEO K Grup, rupanya bukan meeting pekerjaan, tapi meeting bi ra hi.
Jo tersenyum kecut mendengarnya, dia tidak jadi mengetuk pintu takut mengganggu mereka, pantas saja tadi mereka salah tingkah mungkin merasa terganggu olehnya. Jo membiarkan mereka berdua terus menuntaskan hasrat mereka, sampai akhirnya Karin keluar dari Ruang CEO itu.
"Jo!" sapanya saat melihat Jo ada di luar ruangan CEO itu.
Jo membalas sapaan Karin dengan sebuah senyuman.
"Masuk aja Jo. Aku harus ke kantor lagi." ucap Karin sambil tersenyum, lalu segera pergi dari sana.
"Iya, Karin. Hati-hati di jalan."
"Siap, makasih, Jo."
Jo segera masuk, dia melihat Bara yang sedang merapikan pakaiannya. Jo juga sudah dewasa, dia mengerti dengan hal seperti itu. Dia hanya tersenyum geli, rupanya tuannya yang dia jaga sudah juah lebih dewasa darinya.
__ADS_1
"Ayo kita mulai meeting Jo." kata Bara sambil membawa beberapa berkas yang sudah tersedia di atas meja.
Jo menahan tawa saat melihat resleting celana Bara masih terbuka.
"Kenapa Jo?" tanya Bara saat melihat ekspresi Jo yang menahan tawa.
"Lain kali lakukanlah di rumah, tuan. Lebih bebas." kata Jo sambil pergi ke luar dari ruangannya.
Bara mengernyitkan keningnya, dia sangat kaget saat menyadari resleting celananya terbuka. "Aishhh... " Dia merasa malu sekali, dia segera membenarkan resleting celananya.
"Tumben dia jadi konek dalam hal begituan, apa karena gara-gara dia sudah ada kemauan untuk menikah?" Bara berbicara pada dirinya sendiri.
****************
Karin menemui Jesika, saat itu Jesika balik lagi ke ruangannya saat mengetahui Jo sudah pergi. Karin melihat ada banyak bunga di meja. Rupanya Jo mengikuti sarannya untuk memberi Jesika bunga tapi dia tidak menyarankan untuk memberinya tiap hari sampai bunga itu numpuk di meja Jesika.
"Bukannya sebentar lagi kamu akan menikah? Kenapa masih kerja?" Tanya Karin.
Karin menatap Jesika dengan tatapan serius, "Kamu masih memiliki waktu untuk memilih, Jesika. Kalau kamu tidak ingin menikah seharusnya kamu tidak perlu melakukannya."
"Aku sudah beberapa kali menolak, bahkan tidak datang saat acara makan malam aku dan Raka, tapi tetap saja papa tidak mendengarkanku. Bahkan papa menerima lamaran keluarga Raka tanpa menanyakan aku setuju atau tidak." Jesika menceritakannya dengan nada sedih.
"Kalau begitu seharusnya kamu beri kesempatan untuk Jo berbicara padamu. Kalian harus saling bicara , setidaknya tidak penasaran lagi dengan perasaan kalian masing-masing." Karin mengusulkan sarannya agar Jesika bisa bertemu dengan Jo walaupun itu cuma satu kali.
Jesika memikirkan saran dari Karin, rasanya dia begitu tega pada Jo karena tidak memberikan dia kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. Walaupun akhirnya tidak bersama tapi setidaknya mereka harus saling mengungkapkan perasaan mereka.
Malam ini , Jesika belum pulang ke rumah, dia masih berada di rumah sakit. Jesika termenung memikirkan pendapat dari Karin. Tidak ada salahnya mereka saling mengungkapkan perasaan walaupun mungkin akhirnya tidak bisa hidup bersama, yang penting mereka saling tau hati dan perasaan masing-masing walaupun akhirnya akan menyakitkan.
Saat itu Jo sedang berada di apartemennya, dia memandangi foto dia, Jesika dan Bara saat masih kecil. Dia tidak percaya rupanya orang-orang yang dia jaga sudah menikah dan akan segera menikah juga, Jo mengusap lembut foto Jesika yang masih kecil, apa mungkin saat ini dia sedang menjaga jodoh orang?
Jo mendengar suara bel berbunyi, Jo mengernyitkan keningnya saat mengetahui siapa tamu yang datang di balik layar pintunya.
__ADS_1
Jo segera membuka pintu, "Om Gani, silahkan masuk!" kata Jo dengan ramah.
Om Gani pun tersenyum, dia segera masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu bersama Jo.
"Mau saya buatkan minuman apa om?" tanya Jo, sebenarnya dia sangat penasaran mengapa papanya Jesika datang ke apartemennya.
"Tidak perlu, om hanya ingin bicara sebentar dengan kamu." Om Gani mengatakannya dengan serius.
"Ada apa, om?"
"Jesika sebentar lagi akan menikah, om melihat ada keraguan di hati Jesika, mungkin itu karena dia sering bertemu dengan kamu. Tanpa kamu bilang om tau perasaan kamu ke Jesika itu seperti apa, sepertinya Jesika juga memiliki perasaan padamu. Sejujurnya om sangat menyukai kamu, tapi Om ingin Jesika memiliki masa depan yang cerah, Jesika adalah anak om satu-satunya yang om miliki, Om harap kamu bisa mengerti dengan keputusan om."
Mata Jo berkaca-kaca mendengarnya padahal dia berniat untuk membicarakan perasannya dan Jesika ke Om Gani, tapi rupanya Om Gani tidak mengharapkannya sebagai menantunya. "Apa aku tidak ada kesempatan sama sekali untuk memperjuangkan Jesika, Om? Aku sangat mencintai Jesika."
"Om minta maaf, Jesika akan segera menikah , karena itu om harap kamu bisa mengerti dengan keputusan ini." Setelah berkata begitu om Gani pergi dari apartemen Jo.
Jo terdiam, harapan untuk memperjuangkan Jesika kini telah musnah karena Om Gani tidak akan menyetujuinya, padahal dia tipe pekerja keras dan tidak akan pernah membiarkan hidup Jesika sengsara, tapi tetap saja dia tidak akan selevel dengan Jesika.
Drrtttt... Drrtttt...
Jo mendapatkan pesan dari Jesika.
[Mau berkencan dengan aku malam ini? ]
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
__ADS_1
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...