
Impian Elsa menjadi seorang Direktur kini telah hancur lebur, bahkan saat menelpon sang mama bukannya menenangkannya, tapi malah mengomelinya.
"Mengapa bisa gagal begitu? Mama rela menjadi seorang pembunuh demi jabatan kamu itu. Sekarang impian kita kandas begitu saja?"
"Mama tenang saja, kita masih punya Karin. Karin begitu sangat mempercayai kita, nanti setelah Karin sadar, kita bisa mengambil hatinya atau memaksanya untuk menandatangani surat penyerahan saham yang dia miliki untuk Elsa." jawab Elsa, untuk menenangkan sang mama.
Elsa menutup panggilan telepon, dia bersyukur karena tidak jadi melenyapkan Karin.
Namun Elsa masih geram terhadap Bara. Elsa melampiaskan kekesalannya di kamar mandi, bayangkan saja dia sudah bersiap-siap untuk menempati posisi Direktur Utama, namun tiba-tiba dia diberi kejutan oleh Bara yang sama sekali tidak dia bayangkan sebelumnya, dia tidak menyangka bahwa papa tirinya merencanakan itu semua di belakangnya.
"Ahhhh! Brengsek! Brengsek!" Elsa menjambak rambutnya sendiri dengan begitu kesal dan marah.
"Awas ya kamu Bara, kamu sudah membuat marah. Aku akan buat kamu bertekuk lutut dihadapanku. " Elsa semakin marah karena telah menunjuk Doni sebagai Wakil Direktur. Bahkan dia hanya menjadi penanggungjawab di salah satu hotel milik K Grup.
__ADS_1
Elsa merapikan kembali rambutnya dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya yang panas.
Elsa segera keluar dari kamar mandi, berjalan dengan hati yang begitu dipenuhi kekesalan menelusuri koridor, dia melihat Bara yang sedang terburu-buru masuk ke dalam lift.
Elsa segera mengikutinya dan masuk juga ke dalam lift yang sama dengan Bara, "Kapan papa menulis surat wasiat itu?" tanya Elsa, kebetulan dia hanya berdua dengan Bara di lift itu.
Bara malas untuk menjawabnya apalagi dia tidak bisa berkonsentrasi ingin segera melihat keadaan Karin.
"Aku bertanya padamu, Bara." ucap Elsa dengan nada tinggi.
Elsa mendekatkan jaraknya pada Bara, "Kenapa kau selalu dingin padaku, padahal kita baru saja saling mengenal? Tatapan dinginmu itu kepadaku membuat aku penasaran!"
Bara merasa tidak nyaman dengan jarak sedekat itu pada Elsa, dia menjauhkan jaraknya dari Elsa. Dia sungguh malas untuk meladeninya. "Aku tidak menyukaimu. Menjauhlah!" jawab Bara dengan sejujurnya, rasanya lift itu bergerak pelan. Padahal Bara ingin secepatnya sampai di rumah sakit.
__ADS_1
Elsa malah tertawa kecil mendengar jawaban dari Bara, "Apa kamu tidak tersiksa menikahi wanita yang sedang koma, bahkan kamu tidak bisa menikmati malam pertamamu? Apa tujuanmu menikahi adikku?"
Bara mengerutkan dahinya, berani sekali wanita ini membicarakan hal int*m kepadanya.
Jangan bersikap sok munafik, yang ada nanti kamu akan tergila-gila padaku. Elsa merasa tertantang karena sikap Bara yang terlihat tidak menyukainya bahkan Bara tadi mengatakannya sendiri.
"Ayo kita bertemu malam ini, aku ingin tau setelah malam ini kamu akan bilang tidak menyukai aku tidak!" Elsa mengatakannya sambil tersenyum menggoda.
Bara mendengus kesal, "Apa ini yang dinamakan seorang kakak? Pantas saja papa mertua tidak mempercayaimu. Maaf aku tidak tertarik dengan tawaranmu itu." Setelah mengatakan itu Bara segera keluar dari lift.
Sementara Elsa memilih untuk tetap diam disana. Bara telah membuat hatinya bercampur aduk, antara benci , kesal, tapi penasaran dengan sosok pria seperti itu.
Elsa merasa tidak mungkin Bara memanfaatkan harta Karin karena Neo Grup juga termasuk perusahaan yang sangat besar. Tapi apa alasan Bara menikahi Karin? Karena selama ini Karin tidak pernah bercerita soal Bara. Bahkan Elsa sangat tau siapa saja orang yang dekat dengan Karin.
__ADS_1
"Kamu sudah menghancurkan impianku. Kamu tidak bisa lepas dariku begitu saja Bara Sebastian!" Elsa mengepalkan tangannya.