
Sebenarnya Jesika tidak koma, kepalanya memang terluka tapi bukan luka yang parah, dia masih bisa sadarkan diri. Dia hanya pura-pura koma agar papanya tidak jadi menikahkan dia dengan Raka. Papanya memang seorang Dokter juga, tapi dia tidak pernah berpikiran kesana apalagi di mempercayai Dokter Cristian, Dokter yang sangat ahli dan handal disana. Pak Gani tidak tau bahwa Jesika meminta bantuan pada Dokter Cristian untuk pura-pura menyebutkan Jesika sedang koma.
Sebenarnya rencana Jesika hanya ingin pernikahan dia dan Raka tidak jadi menikah. Bahkan mamanya juga mengetahui rencana Jesika karena orang yang pertama kali Jesika beritahu adalah mamanya.
"Ya ampun, Jesika. Masa mama harus berbohong kepada papamu?" Bu Hera sangat keberatan dengan rencana anaknya itu.
"Ayolah ma, bantu Jesika sekali aja. Jesika tidak ingin menikah dengan Raka. Mama tau kan Jesika takut sama papa, mama juga sama tidak berani menentang keputusan papa. Demi anakmu yang cantik ini, Ma." Jesika terus memohon dengan manja.
Akhirnya Bu Hera terpaksa menyetujuinya, bahkan saat Bara dan Karin datang ke rumah sakit. Bara menceritakan masalah Raka kepada Bu Hera. Dengan terpaksa Bu Hera menceritakan dengan jujur kalau Jesika pura-pura koma, agar dia tidak jadi menikah dengan Raka.
"Ya sudah kita nikahkan saja mereka, tante." usul Bara.
"Menikah?"
"Iya, betul ini kesempatan bagus untuk menyatukan Jesika dan Jo. Dengan mereka menikah Om Gani tidak akan lagi menjodohkan Jesika dengan pria lain. Bukannya tante juga sangat menyukai Jo?" tanya Bara lagi.
"Iya sih, tapi... " Bu Hera juga tidak tega sebenarnya melihat Jesika yang kemarin menangis di kamar karena tidak ingin menikah dengan Raka, dan mungkin kejadian itu akan terulang lagi karena dia tau suaminya ingin Jesika menikah dengan orang yang sepadan dengan mereka.
...****************...
Jesika begitu kaget saat mendengarkan rencana Bara dan kedua orangtuanya akan menikahkan dia dengan Jo. Bukan karena tidak ingin menikah dengan Jo, dia sangat senang jika mereka akan menikah nanti tapi bukan dengan cara dadakan seperti ini.
Sayangnya dia tidak bisa protes karena masih ada papanya disana.
Saat itu sudah sore, papanya pergi menemui Jo dan mamanya harus pulang sebentar untuk membawa makanan kesukaan Jesika. Jesika bangun, dia menatap Karin dan Bara yang sedang menemaninya dengan tatapan tajam, "Mengapa kalian malah mau menikahkan aku dengan Jo?"
"Lah bagus dong, itu artinya kamu dan Jo tidak akan terpisahkan." jawab Karin dengan santai.
__ADS_1
"Iya, tapi bagaimana aku menghadapi Jo nanti kalau dia tau aku pura-pura koma?"
"Ya jujur aja sama dia, itu urusan kamu dan Jo. Aku hanya ingin membantu kamu dan Jo sampai disini aja, aku tidak akan membiarkan Jo terluka lagi. Jika kalian tidak menikah, tetap saja harapan kalian untuk bersama masih tipis. kamu tau kan menantu yang diidamkan papamu itu lelaki yang mapan dan sempurna seperti aku?" Bara mengucapkannya dengan penuh rasa percaya diri.
Karin dan Jesika mual mendengarnya, walaupun perkataannya ada benarnya juga. Bara adalah calon menantu yang sangat di idamkan oleh Pak Gani dulu. Dia memang ingin Jesika menikah dengan sosok seperti Bara. Yang selevel dengan dirinya.
"Aishh... aku harus bagaimana?" Jesika menjadi pusing memikirkannya.
Ceklek!
Terdengar suara seseorang membuka pintu.
Jesika langsung berbaring dan pura-pura koma lagi.
Karin dan Bara menahan tawa melihat Jesika yang refleks langsung tidur terlentang seperti itu, dia seharusnya menjadi artis saja, bisa berakting dengan sempurna, ya iyalah kan aktingnya cuma tiduran aja persis seperti orang yang sedang koma hehe...
"Oh Hai Jo." sapa Bara.
Jo tersenyum ramah pada Bara, "Bagaimana keadaan Jesika?"
"Seperti yang kamu lihat, dia belum bangun juga. Kamu ingat kan dulu Karin juga begitu, setelah aku menikahinya, tak lama kemudian dia sadarkan diri. Nasib kita memang sama, menikahi gadis koma." Bara mengatakan itu sambil terkekeh-kekeh merangkul istrinya.
Karim tersipu malu, dia mengingat waktu itu saat dia sadar dia malah tidak langsung mengingat Bara, namun pria ini gigih untuk terus mengingatkannya.
"Hmm ya sudah kalau begitu kami keluar ya." ucap Karin, dia ingin membiarkan Jo dan Jesika berduaan, siapa tau Jesika ingin jujur dengan kondisinya yang sebenarnya baik-baik saja.
Setelah Bara dan Karin pergi, Jo duduk di kursi yang berada di samping Jesika, dia memegang tangan Jesika. Jesika sebenarnya ingin jujur pada Jo, tapi dia yakin Jo tidak akan mau menjalani ide gila ini, dia pasti tidak ingin mengkhianati kepercayaan papanya.
__ADS_1
"Jes, apa aku harus senang atau tidak dengan pernikahan ini. Di satu sisi aku sedih melihat keadaan kamu. Di sisi lain, aku senang karena hari ini kita akan menikah."
Jesika hampir saja tersentak kaget.
Menikah? Hari ini? Mengapa cepat sekali?
"Karena hari ini adalah tanggal cantik yang sudah ditentukan oleh om Gani untuk pernikahan kamu dan Raka, sayangnya Raka bukan pria yang baik untuk kamu. Karena itu aku yang menggantikan posisi Raka."
...****************...
"Apa yang kita lakukan itu benar untuk mereka?" tanya Karin, dari mulai rencana Bara yang menyuruh detektif Anan untuk menyelidiki Raka, juga mengusulkan untuk menikahkan Jesika dan Jo.
"Tentu saja, Jo sudah banyak membantu kita sampai kita bersama seperti ini. Aku juga harus membantunya." Saat itu Bara dan Karin ada di Cafe yang dekat dengan rumah sakit, mereka harus kembali ke rumah sakit lagi sebagai perwakilan keluarga Jo karena sebentar lagi mereka akan segera menikah.
Karin tiba-tiba merasa mual, "Bara, aku ke belakang dulu ya." kata Karin sambil sedikit berlari ke belakang di cafe itu.
Tak lama kemudian, Karin kembali. Dia duduk di samping Bara.
"Kamu kenapa, Karin?" tanya Bara dengan nada khawatir.
"Entahlah, akhir-akhir ini aku merasa mual." Karin mengusap-usap perutnya.
"Wah apa mungkin kamu hamil?" seru Bara, ingin sekali dia memeluk Karin. Tapi dia sadar sedang berada dimana.
...****************...
...Rupanya besok tamatnya pemirsa, karena mau cuti panjang di kantor semalam othor bergadang, jadi gak bisa up banyak 🙏...
__ADS_1