
Sudah lama Bara menunggu Karin tapi Karin belum kembali juga ke toko khusus handphone itu, dia mencoba mencari Karin ke toilet khusus wanita, dia terpaksa masuk kesana untuk mencari istrinya tapi ternyata disana tidak ada siapa-siapa.
"Kemana dia?"
Bara menjadi tidak enak hati takut terjadi sesuatu dengan Karin, dia mencoba mencari Karin lagi ke beberapa tempat di mall itu tapi tidak menemukannya juga, dia menghubungi Jo agar segera mengutus beberapa bodyguard untuk mencari Karin di mall yang besar itu.
"Jo cepat utus para bodyguard untuk mencari Karin." suruh Bara dengan nafas tak beraturan karena begitu tidak tenang mengkhawatirkan Karin.
"Iya tuan. Tapi ada apa dengan Karin?"
"Dia menghilang, aku sekarang sedang mencarinya."
Tidak butuh waktu yang lama para bodyguard muncul untuk mencari keberadaan Karin. Jo juga yang baru pulang dari rumah sakit ikut kesana.
Bara mendatangi manager di mall itu untuk meminta izin ingin melihat rekaman CCTV malam ini di lantai 3.
Manager yang tau Bara siapa, dia langsung mengizinkannya, "oh iya Pak, silahkan!"
Bara terkejut saat melihat di Rekaman CCTV itu, dia melihat Revan menarik tangan Karin membawanya ke lift. Bara segera mengubungi Jo dan para bodyguard disana, "Tolong pantau bagian basement, sepertinya ada yang ingin membawa lari Karin."
"Iya Pak." jawab salah satu di antara mereka. Jo segera berlari ke basement dengan lewati tangga karena saat dia akan memasuki lift, sudah penuh.
Setelah sampai basement, Jo melihat ada beberapa bodyguard yang sudah standby disana. "Kita harus berpencar!" perintahnya.
"Baik, pak." jawab mereka dengan patuh. Dan akhirnya mereka mencari Karin dengan terpencar.
Benar saja saat itu Revan sedang menggendong Karin yang tengah tak sadarkan diri karena merasakan kepalanya begitu sangat kesakitan. Dia membawa Karin ke dalam mobil, "Aku juga tau kamu masih cinta aku, ayo kita berjuang bersama-sama, sayang." Revan mengelus rambut Karin. Revan merasa dia harus membawa dulu Karin ke dokter.
Namun mobilnya telah dihalangi oleh mobil milik Jio. "Saya menemukan taget di basement." lapornya.
__ADS_1
Kebetulan saat itu Bara sedang ada di lift menuju basement.
Dengan emosi Revan keluar dari mobilnya, dia menggedor kaca pintu mobil Jo dan dengan sangat marah, "Cepat minggir! Kamu menghalangi jalanku."
Bara yang baru tiba disana tanpa basa basi langsung menghajar Revan, melayangkan tinjunya beberapa kali ke wajah Revan.
Bugh...
Bugh...
"Brengsek!" Bara sangat terihat emosi sekali malam ini.
Revan yang jatuh tersungkur segera bangkit untuk melawan Bara namun malah di tendang oleh Jo yang baru keluar dari mobil. "Biar aku yang urus, tuan."
Bara hanya mengangguk, dia segera menghampiri Karin yang ada di mobil Revan, dia mencoba untuk membangunkan Karin.
"Karin!"
"Karin!"
...****************...
Bara berjalan mondar-mandir menunggu Karin yang sedang diperiksa oleh Jesika. Bara sengaja memanggil Jesika ke rumahnya. Dia belum tenang sebelum mengetahui keadaan Karin sekarang, dia berharap Karin baik-baik saja.
Ceklek!
Terdengar suara pintu terbuka, Jesika sudah selesai memeriksa kondisi Karin.
"Bagaimana keadaan Karin, Jes? Dia baik-baik aja kan?" tanya Bara dengan nada khawatir.
__ADS_1
Jesika mengangguk, "Karin baik-baik aja ko, mungkin ada sesuatu yang membuat di shock. Aku harap kamu jangan menekannya dulu untuk mengingatkam Karin dengan kenangan kamu bersama dia, aku juga sebenarnya tidak mengerti ingatan tentang apa itu karena Karin tidak mengalami amnesia. Mungkin itu cuma kamu dan dia yang tau." Jesika juga tidak mengerti dengan apa yang dia bicarakan, tapi Karin sudah beberapa kali bilang padanya seperti ada ingatannya yang hilang yang telah dia lupakan.
"Terimakasih, Jes. Aku minta maaf sudah mengganggu waktu istrirahat kamu." Bara jadi tidak enak pada Jesika yang menyuruh Jo untuk menjemput Jesika ke rumahnya.
"Iya, tidak apa-apa ko, gak usah merasa tidak enak, aku sudah anggap Karin temanku dan kamu juga sahabat aku. Ya sudah aku pulang dulu ya." pamit Jesika.
Bara melirik Jo, "Cepat antar Jesika pulang Jo."
Jo tampak kaku untuk menjawabnya, "I-iya, tuan."
Bara segera masuk ke kamar untuk melihat keadaan Karin. Dia merasa lega karena melihat Karin baik-baik saja, dia melihat Karin sedang duduk di tepi ranjang menatap ke arahnya.
Apa kamu begini karena merasa tersiksa tidak bisa bersama Revan gara-gara aku? Tapi seandainya kamu tau Revan seperti apa, Karin. Aku tidak ingin kamu terluka pada akhirnya karena dia.
Bara mengusap dengan lembut rambut Karin, "Aku senang kalau kamu baik-baik saja, lebih baik sekarang kamu istirahat."
Karin tak merespon apa-apa, dia hanya menatap Bara dengan mata berkaca-kaca.
Bara memutuskan untuk segera pergi dari kamar Karin. Namun langkah Bara terhenti karena tiba-tiba Karin turun dari ranjangnya dan memeluk Bara dari belakang.
"Maaf, aku terlambat mengingat kamu. Aku pasti sudah membuat kamu terluka. Aku sangat merindukan kamu, Bara." Karin mengatakannya sambil menangis, dia tidak bisa membendung air matanya karena begitu sangat merindukan pria yang yang sedang bersamanya sekarang.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
__ADS_1
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...