
"Tentu saja ini tidak gratis." Bara menatap netra kedua mata Karin.
Karin mengerutkan dahinya, "Maksudnya?"
Bara berjalan satu langkah sehingga tubuhnya begitu sangat dekat dengan Karin yang sedang duduk di atas kasur, Bara tak bisa lagi menahan rasa rindunya, dia meraih pinggang Karin dan mencium bibir Karin. Membuat Karin terbelalak mendapatkan ciuman dari Bara, karena dia merasa sudah memiliki pacar yang begitu setia padanya, dia ingin melepaskan ciuman itu, namun tiba-tiba terlintas bayangan saat Karin sedang berciuman dengan Bara di halaman belakang rumah sakit. Dan bibir itu rasanya tidak asing baginya.
Ada apa ini? Apa sebagian memory ingatanku hilang?
Bara memeluk tubuh Karin dan me ***** bibirnya dengan lembut, Karin ingin menolaknya tapi hatinya berkata tidak sampai dia terdiam saat menerima ciuman dari Bara, Bara minggigit bibir bawahnya sampai mulut itu terbuka dan Bara berhasil menelusupkan lidahnya ke bibir manis Karin, mengeksplor rasanya sebanyak mungkin, Bara memeluknya semakin erat, tidak ada tanda-tanda penolakan di diri Karin karena Karin malah terus teringat saat dia bercium dengan Bara di belakang rumah sakit itu, seakan terasa sangat nyata dan mengapa rasanya dia begitu merindukan pria ini.
Ceklek!
Mereka terperanjat saat ada seseorang yang membuka pintu.
Rupanya Jesika, dia tidak tau ada Bara di dalam.
"Oh Bara!"
Bara dan Karin terlihat salah tingkah. Beruntung Bara segera melepaskan ciumannya, dia tidak ingin mata Jesika ternodai karena dia tau Jesika belum pernah pacaran.
__ADS_1
"Emm... oh Jesika, a-aku harus pergi dulu. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. " Bara mengatakannya dengan sedikit terbata-bata karena salah tingkah.
Tanpa menunggu persetujuan dari siapapun, Bara segera pergi meninggalkan ruangan itu.
"Apa aku mengganggu kalian?" Jesika memperhatikan Karin yang wajahnya begitu terlihat merah merona.
"Oh tentu saja tidak. Lagian kita tidak ngapa-ngapain. Tapi sepertinya dokter mengenal Bara?" Karin merasa Bara dan Jesika saling mengenal malah mungkin bisa dikatakan akrab.
"Bara temanku." jawab Jesika, dia menawarkan sebuah cemilan kepada Karin sambil duduk di samping Karin.
Karin menerima cemilan dari Jesika dan memakannya bersama. Semenjak Karin siuman mereka begitu akrab, apa saja diceritakan yang penting nyambung. Tapi Jesika tidak bisa bercerita soal hubungan Bara dan Karin atas permintaan Bara.
"Ah tidak, aku sudah punya pacar, dokter. Kami sudah berencana akan segera menikah." Karin jadi merasa bersalah pada Revan, dia merasa telah berselingkuh dengan Bara gara-gara menikmati ciuman itu.
Jesika yang lagi makan langsung tersendak begitu mendengar jawaban dari Karin yang akan menikah dengan pria lain, padahal dia itu istri sahabatnya, "Ohokk... ohokk. " Jesika menepuk-nepuk dadanya.
"Dokter kenapa?" Karin terkejut karena Jesika tiba-tiba tersendak seperti itu.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Jesika segera mengambil air minum dan meminumnya dengan pelan.
__ADS_1
"Tapi dokter, apa aku tidak ada kelainan dikepalaku gara-gara kecelakaan itu?" Karin sangat ingin tau dengan kondisi dirinya sendiri.
"Tidak, tidak ada masalah serius dikepalamu."
"Tapi kenapa aku merasa ada kenangan yang yang belum aku ingat ya dok? Padahal aku sangat yakin tidak ada yang aku lupakan semua kenangan tentang aku dari kecil sampai sekarang. Dan rasanya seperti nyata seolah aku pernah mengalaminya."
Sebenarnya masalah itu bukan curhat ke Jesika, karena Jesika bukan psikiater, "Hmm mungkin saja kamu pernah memimpikannya, seperti aku, malam itu aku menginap di rumah teman, aku merasa sangat nyata sekali saat aku bermimpi di cium kambing."
Tawa Karin meledak saat mendengar cerita dari Jesika.
"Tuh kan seharusnya reaksi temanku sama denganmu, seharusnya dia tertawa saat aku bercerita kepadanya, lah ini malah cemberut sampai cuekin aku beberapa hari ini." Waktu itu Jesika bercerita kepada Jo kalau semalam saat dia menginap di rumah Jo dia bermimpi di cium kambing, tentu saja Jo ngambek karena dia yang tak sengaja membuat kedua bibir mereka menempel.
Sementara Karin dia malah terdiam memikirkan ciumannya bersama Bara, dia benar-benar merasa bersalah kepada Revan. Aish... apa ini bisa dikatakan selingkuh? Maafkan aku Revan.
Bara yang baru sedang berada di dalam mobil, matanya begitu berbinar penuh kesenangan, akhirnya dia bisa makan dan nonton bersama sang istri, dia tidak percaya bahwa dia memiliki keberanian seperti itu untuk mendekati Karin. Ternyata seperti ini rasanya mendekati seorang wanita, rasanya sangat mendebarkan , seharusnya dia melakukan pendekatan itu dari dulu tiga tahun yang lalu, atau bahkan enam tahun yang lalu.
Bara memegang bibirnya, dia memuji dirinya sendiri yang sudah berani selayaknya seorang pria sejati, ciuman itu masih terbayang-bayang di atas kepala.
Bara ingin menghubungi Jo untuk menanyakan masalah pekerjaannya di Neo Grup namun dia teringat kalau pagi tadi Jo meminta izin untuk tidak masuk kerja, "Tumben dia meminta izin, apa dia sedang berkencan? Syukurlah kalau dia bisa berkencan juga."
__ADS_1