
Bara mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, dia ingin sekali bertemu dengan Karin, dia begitu sangat merindukan gadis itu. Rasa rindu yang begitu menggebu di dalam dada.
Setelah sampai di rumah sakit, Bara malah dihalangi Jo.
"Ada apa , Jo?" tanya Bara, padahal dia ingin sekali menemui Karin.
"Jesika ingin bertemu dengan Tuan" Jo mengajak Bara untuk berbicara di ruangan Direktur Rumah Sakit, milik Jesika.
Jesika sudah ada disana. Dari tatapannya terlihat seakan mau menginterogasinya.
"Karin sudah siuman, dia hanya mengalami geger otak ringan, tapi dia tidak hilang ingatan." ucap Jesika dengan menatap Bara penuh keheranan.
Bara bersyukur mendengarnya, entah harus beribu-ribu kali dia mengucapkan terimakasih kepada Tuhan yang sudah membuat Karin tersadar kembali tanpa ada masalah yang serius.
"Tapi dia tidak ingat denganmu, Bara." Jesika menambahkan perkataannya.
Deg!
Seketika hati Bara merasa tersayat, sangat perih walaupun dia sudah tau resikonya seperti apa.
"Itu yang membuat aku bingung, dia tidak hilang ingatan, tapi kenapa dia tidak mengingatmu, malah yang dia terus menanyakan papanya dan pria bernama Revan." Jelas Jesika seorang Dokter, dia harus lebih tau detail mengenai pasiennya. Dia sudah berulang kali memeriksa kondisi Karin, bahkan mencoba mengajak Karin berbicara tentang kejadian terakhir yang ada di ingatannya.
Flashback On...
Saat itu Jesika bertanya kepada Karin, "Apa kamu mengingat kejadian terakhir yang kamu alami?"
"Iya, saat itu aku kecelakaan motor, setelah itu aku gak ingat apa-apa lagi. " jawab Karin dengan kondisinya yang masih lemah.
__ADS_1
"Tapi Dokter, mengapa papaku belum kesini juga? Apa ada pria yang bernama Revan datang kesini?" tanya Karin dengan tatapan sayu. Saat itu dia sudah bisa duduk di kasur dibantu oleh Jesika. Bahkan dia mengira bunga edelweis itu dari Revan.
Jesika merasa heran karena Karin tidak menanyakan suaminya, "Aku tidak tau, tapi Bara sering menemanimu disini."
"Bara? Siapa dia?" Karin mengerutkan dahinya. Karin teringat dengan nama pria yang akan dijodohkan dengannya, tapi mereka belum pernah bertemu , untuk apa Bara menemaninya.
"Iya Bara, dia itu su.. " Jesika tidak jadi mengatakannya karena saat ini Karin sedang mengalami geger otak ringan, dia tidak boleh marasa tertekan dalam proses pemulihan , apalagi saat dia melihat eksepsi Karin seakan tidak mengenali Bara.
Flashback off...
"Aku benar-benar bingung untuk mendiagnosa kondisi Karin, kecuali kalau dugaan aku benar, kamu menikahi wanita yang tidak mengenalimu." Jesika menatap tajam pada Bara. Seandainya iya, dia tak habis fikir mengapa Bara melakukannya padahal dia anti sekali untuk mendekati wanita, mengapa dia nekad menikahi wanita yang tidak mengenalinya?
Baru kali ini Jesika merasa gagal untuk mendiagnosa kondisinya pasiennya.
"Diagnosa kamu tidak salah, dia memang tidak mengenaliku. Jadi tidak ada yang hilang dari memory ingatannya." Maksud Bara ingatan di dunia nyata Karin.
"Astaga! Bara! " Jesika mengatakannya dengan nada tinggi.
"Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan? Sementara dalam proses pemulihan Karin tidak boleh tertekan, dia tidak boleh tau dulu kabar duka tentang papanya. Dia harus benar-benar sehat untuk menerima semua kabar yang tidak diharapkannya."
Bara hanya menunduk, dia tidak tau harus berbuat apa, apalagi untuk sementara ini dia tidak boleh menjelaskan kepada Karin bahwa dia suaminya. Dia merasa sangat terpukul dengan keadaan ini.
"Percuma juga aku menjelaskan semuanya pada siapapun, yang ada aku dianggap gila."
Bara segera keluar, dia ingin melihat kondisi Karin walau hanya melihatnya dari kejauhan.
"Aku tidak mengerti dengan ulah bosmu itu, Jo." Jesika memijat-mijat kepalanya.
__ADS_1
"Aku sangat mengenali tuan Bara, dia tidak mungkin bertindak gegabah seperti itu. Pasti ada alasan yang jelas , ya walaupun tidak masuk akal." Jo jadi teringat dengan Bara yang bilang diikuti arwah bahkan Bara di meeting room malah berbicara sendiri. Dia terlihat seperti sedang jatuh cinta, tapi tidak terlihat dekat dengan wanita manapun, bukti nyatanya apa yang dia selidiki itu nyata soal Karin, salah satunya masalah kecelakaan Karin.
Jesika malah mendeliki Jo "Kamu sama anehnya dengan bosmu itu."
Sementara itu, Bara hanya bisa melihat Karin dari kejauhan, dia hanya menatap dari balik jendela. Padahal dia sangat merindukan gadis itu, dia ingin sekali memeluknya, tapi tidak bisa, karena Karin sama sekali tidak mengingatnya. Matanya berkaca-kaca memperhatikan Karin.
Bara berkata di dalam hatinya dengan penuh keyakinan untuk menyemangati dirinya sendiri, Aku yakin kamu suatu saat nanti akan mengingatku, dan aku akan selalu berjuang untuk mendapatkan kamu dan hatimu, juga selalu melindungimu, Karin.
Saat itu Karin sedang terbaring di atas kasur, hatinya bertanya-tanya.
Aku ingin sekali melihat papa, aku berharap papa baik-baik saja.
Revan, kamu dimana? Aku kangen.
Karin jadi teringat dengan ucapan Jesika mengenai Bara yang selalu menemaninya.
Bara? Kenapa dia selalu menemaniku? Padahal aku tidak mengenalinya.
Karin memegang dadanya, mengapa jantungnya berdegup begitu kencang saat menyebut nama itu.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
__ADS_1
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...