Menikahi Gadis Koma ( Arwah Cantik)

Menikahi Gadis Koma ( Arwah Cantik)
Kamu Melihatnya?


__ADS_3

Pagi menyapa dengan cahaya matahari membiaskan cahaya mengintip di balik jendela, Karin perlahan-lahan membuka matanya, tangannya meraba-raba ke samping namun tidak ada yang bisa dia sentuh, rupanya Bara sudah tidak ada disana.


Bara memang terbiasa hidup disiplin dengan bangun di pagi buta, menyiapkan sarapan sendiri karena dia sebenarnya tidak begitu suka makan di luar, dia harus makan yang benar-bebar terjamin higienis, waktu itu dia terpaksa makan di cafe star menemani Karin. Karin memang sudah sedikit merubah hidupnya.


Karin terperanjat saat menyadari semalam dia tidur bersama Bara, "Oh ya ampun!" Dia menutup mulutnya, dia perlahan-lahan mengintip tubuhnya yang di tutupi selimut oleh Bara.


Karin bernafas lega ternyata dia masih utuh, dia menelan saliva saat membayangkan ciuman panas semalam, mungkin karena dulu pernikahan dia dan Bara itu secara dadakan untuk menolongnya agar papanya tidak menerima lamaran Revan, sebuah pernikahan yang tanpa persiapan sama sekali, tapi harus dijalani karena dia memang mencintai Bara dan hanya Bara satu-satunya yang dia miliki.


Karin merasakan lapar, dia segera mencari Bara karena Bara yang bilang sendiri akan memasak untuknya. Karin memang terbiasa hidup manja dan tidak pernah menginjakan kaki ke dapur.


"Bara!" Karin mencari Bara ke dapur, ternyata Bara tidak ada disana.


"Kemana dia?" Karin celingak celinguk mencari keberadaan Bara, dia menebak pasti Bara berada di kamarnya.

__ADS_1


"Bara!" Karin segera membuka pintu kamar Bara, dia melihat Bara yang sedang memakai baju sementara dibagian bawahnya sudah memakai celana panjang.


Bara reflek menutup dadanya, karena terkejut Karin tiba-tiba membuka pintu kamarnya, "Aish... kamu membuat aku kaget."


"Oh aku pikir kamu tidak sedang dibaju, aku tutup lagi pintunya ya!" ucap Karin tanpa berkedip memandangi badan Bara yang sixpack.


Karin ingin menutup pintu kamar namun Bara mencegahnya sambil berjalan ke arah Karin, "Tidak perlu, aku sudah di selesai di baju kok."


Bara mendekati Karin yang berdiri di dekat pintu kamar, membuat Karin mundur karena Bara terus menatapnya, sampai punggungnya mentok di dinding kamar, Bara mengunci tubuhnya dan mencondongkan badannya lebih mendekatkan jaraknya pada Karin, "Ternyata kamu tidak berubah, selalu saja mengintipku."


"Waktu kamu masih menjadi arwah,"


Karin membulatkan matanya saat mengingat moment waktu itu.

__ADS_1


"Kau melihatnya kan?" tanya Bara semakin mengikis jaraknya di antara mereka sementara Karin sudah tidak bisa mundur lagi, apalagi tubuhnya dihalangi kedua tangan Bara.


"Ti-tidak," Karin menjawabnya dengan gugup.


Bara tersenyum geli melihat ekspresi Karin seperti itu, seperti anak kecil yang sedang diintrogasi ayahnya.


Kenapa dia harus menggemaskan sekali, batin Bara. Ingin sekali dia memakannya pagi ini.


"Dari ekspresimu aku tau kau sudah melihatnya. Kamu curang, kamu sudah melihat semuanya sementara aku tidak." Bara mencondongkan wajahnya untuk mencium Karin namun Karin menghalangi kedua bibir mereka dengan tangannya.


"A-aku belum mandi. Aku harus mandi dulu." Karin mencoba mencari alasan.


Namun Bara melepaskan tangan Karin, dia mengecup bibir Karin sebentar, hanya menempel saja, Bara melepaskan tubuh Karin, "Kamu mandi dulu, aku tunggu di ruang makan. Aku sudah memasak untukmu." Bara sama sekali tidak keberatan memasak untuk istrinya, malah dia senang akan ada yang memakan masakannya, akhirnya dia tidak akan makan sendirian lagi.

__ADS_1


Karin hanya mengangguk, dia segera berjalan dengan terburu-buru dan masuk ke kamarnya, Karin memegang dadanya yang berdebar-debar, "Ya ampun baru begitu saja jantungku hampir mau meledak, bagaimana jika... " Karin menggelengkan kepala, dia merasa malu pada dirinya sendiri untuk mengatakan kalimat selanjutnya.


__ADS_2