Menikahi Gadis Koma ( Arwah Cantik)

Menikahi Gadis Koma ( Arwah Cantik)
Kamu Cinta Pertamaku


__ADS_3

Sore ini Bara menepati janjinya untuk mengajari Karin memasak.


Seperti biasa Karin memang sifatnya selalu jahil, apa saja dia pegang membuat Bara terus saja memperingatinya, beberapa kali dia mengentil jidat Karin menyuruhnya untuk fokus, "Fokus!"


"Ya ampun Bara masa masak juga harus fokus." Karin mengusap-usap keningnya yang disentil oleh Bara.


"Ya haruslah biar rasanya enak dan masakannya sesuai keinginan dan selera kita." ucap Bara sambil mengaduk-aduk adonan untuk membuat chicken fried steak, makanan favorit Karin.


"Cepat ambil garam!"


Karin segera mengambil apa yang di suruh Bara.


Bara menghela nafas saat Karin memberikan gula pasir padanya, "Ini gula pasir, Karin."


"Tapi warnanya sama, Bara."


"Iya tapi beda teksturnya."


Karin terpaksa menyimpan gula pasir itu dan membawa yang menurutnya itu pasti garam sambil terus bergerutu, "Kumat lagi sikap menyebalkannya."


Bara hanya tersenyum samar mendengar ucapan Karin, "Ayo belajar membumbuinya."


"Ya," jawab Karin dengan nada kesal. Dia menabur garam dengan jumlah yang banyak ke dalam adonan.

__ADS_1


"Astaga, Karin! Kenapa banyak sekali menaburkan garamnya?" Bara mencolek adonan itu, benar saja rasanya sangat asin, Bara harus bisa bersikap lebih bersabar, dia menambahkan banyak tepung terigu lagi agar tidak keasinan.


Karin hanya terkekeh, "Bagaimana tidak keasinan lagi kan?"


"Tidak,"


Karin menawarkan diri agar dia yang mengaduk adonan itu, "Sekarang giliran aku, Bara!"


Bara menurut saja, dia mundur ke belakang memperhatikan Karin yang sedang mengaduk-aduk adonan itu, Bara menambahkan bumbu penyedap rasa ke adonan itu agar rasanya lebih mantap.


Bara merasa haus, dia membawa air putih dingin di dalam kulkas dan meneguknya, lalu memeluk Karin dari belakang, "Bagaimana pekerjaan kamu tadi?"


"Lumayan melelahkan, aku harus belajar untuk menyesuaikan diri. Tadi aku bertemu dengan Kak Elsa, dia sepertinya berharap sekali kita bercerai."


Karin merasa kegelian tapi menahannya "Ya dia terlihat senang saat mendengar kita berantem. Padahal kita berantem di kasur, iya kan?" Karin tertawa kecil menceritakannya.


Karin menyalakan kompor dan mulai memasak dengan daging ayam yang sudah tersedia disana.


Karin tidak menyadari kalau Bara terpancing dengan ucapan istrinya itu. Bagaimana tidak terpancing bahkan tubuh Karin sangat membuatnya candu. Melihat Bara bengong seperti itu membuat Karin ingin menjahilinya, dia mencolek adonan itu untuk di colekan ke pipi Bara, tapi Bara menahan tangannya, dia malah membalikan membuat jari yang di penuhi terigu itu ke hidung Karin.


Bara tertawa kecil melihatnya, "Kamu lucu sekali."


"Aishhh... awas ya aku balas, Bara." Karin ingin mencolek hidung Bara namun Bara malah menarik tangannya, membuat jarak mereka begitu dekat, dia membersihkan adonan itu di hidung Karin dengan tangannya, lalu mencium bibir Karin.

__ADS_1


Karin melepaskan ciuman itu, "Bara, aku sedang memasak!"


Bara mematikan kompor, dia membersihkan apa saja yang ada di meja, dia menggendong tubuh Karin membiarkan dia duduk di atas meja. Bara mencium kembali bibir Karin, ciuman yang yang begitu lembut membuat Karin nyaman dan mulai membalas ciuman Bara, saling menautkan bibir mereka dan meresapi disetiap pagutannya.


Mereka mulai terbawa suasana, saling berpagut dengan begitu naf su bahkan Kedua tangan Karin memegang wajah tampan Bara. Dan Bara melingkari punggung Karin yang sedang duduk di atas meja itu.


Bara melepaskan ciuman mereka karena dia rasa mereka hampir kehabisan nafas, Bara mencium kening Karin, dan memegang wajah Karin, "Aku mencintaimu, Karin. Kamu adalah cinta pertamaku, saat dipesta bertopeng itu, aku adalah pria yang berdansa dengan kamu 6 tahun yang lalu."


Karin membulatkan matanya, dia sama sekali tidak menyangka dengan ucapan Bara, dia memegang wajah Bara juga, "Jadi pria itu kamu?"


Bara tersenyum, dia mengangguk, "Iya, dia itu aku. Maaf aku dulu tidak memperjuangkan kamu, karena aku tidak mengerti dengan apa yang ku rasakan saat itu. Karena itu aku tidak akan pernah melepaskan kamu lagi."


karin mengecup pipi Bara, dia memandangi Bara dengan hati yang berbunga-bunga, "Aku mengajak kamu berdansa waktu itu karena aku tertarik padamu. Tapi sayangnya saat itu aku tidak sempat berkenalan dengan kamu, ada seseorang yang menyuruhku untuk segera menemui papa."


Bara tersenyum lebar, betapa bahagianya dia mendengar ucapan dari istrinya itu, "Mungkin ikatan kita begitu kuat makanya aku bisa melihat arwahmu, dan mungkin memang kamu sudah ditakdirkan untukku."


Mereka saling berpandangan dan berciuman kembali, ciuman yang begitu menggebu, saling mencecap dengan rakus di kuasai bi rahi yang semakin meletup-letup di dada, bahkan suara nafas yang terus berderu semakin menggairahkan di jiwa, Bara mulai membuka tali kain celemek yang mengikat di leher dan pinggang Karin.


Begitu juga Karin, dia membuka kain celemek di tubuh Bara, mereka saling membuka baju mereka, mereka tidak sadar bahwa mereka masih berada di dapur, tapi karena na fsu yang sudah berkobar-kobar membuat mereka lupa sedang berada di dapur, yang penting tidak di rumah tetangga hehe...


Dan akhirnya mereka melakulan penyatuan pada kedua tubuh mereka dengan seluruh hasrat yang bergelora di jiwa, bahkan mereka menggeliatkan badan mereka disetiap irama dan hentakan yang indah.


Setelah sama-sama puas, Bara memakai kembali pakainnya, lalu membantu Karin memakaikan pakaiannya karena dia yang sudah melucuti istrinya di dapur, dia membersihkan sisa percintaan mereka di atas meja lalu melakukan aktivasi mereka sebelumnya yaitu memasak.

__ADS_1


Bara memeriksa ponselnya yang sengaja dia silentkan tadi, dia mendapat pesan dari Jo, dia tercengang saat mendapatkan kabar mengenai David, padahal tadi siang mereka bertemu.


__ADS_2