
1 minggu setelah penangkapan Elsa dan Bu Zora... mereka di vonis hukuman seumur hidup.
Sudah satu minggu atau lebih racun itu bersarang di tubuh Bu Zora, membuat tubuhnya semakin lemah, belum lagi mereka mendapatkan perlakuan tidak enak dari para napi lainnya yang satu sel dengan mereka. Bu Zora selalu berusaha untuk melindungi anak kesayangannya itu.
Bu Zora sering terbatuk-batuk dan kali mengeluarkan darah dari mulutnya, saat itu dia berusaha melindungi Elsa yang dihajar oleh para napi wanita karena merasa geram dengan sifat dan kesombongan Elsa, sampai Bu Zora tidak sengaja terkena gamparan salah satu dari mereka, dia yang tubuhnya sudah lemah tidak bisa menahan keseimbangannya hingga dia terjatuh , tersungkur ke lantai dan tidak sadarkan diri.
"Mama... " Teriak Elsa begitu melihat sang mama tidak sadarkan diri.
Namun sayangnya nyawa Bu Zora tidak tertolong, hari itu Bu Zora menghembuskan nafas terakhirnya, sayangnya dia mati dalam keadaan tidak merasa bersalah sedikit pun kepada Karin atau meminta maaf padanya karena telah membuat papanya meninggal bahkan membuat dia kecelakaan.
"Mama, jangan tinggalkan Elsa!"
"Mama harus bangun!"
"Mama tidak boleh pergi!"
Elsa mengguncang-guncang tubuh Bu Zora, berharap mamanya terbangun kembali, namun tubuhnya itu begitu dingin dan semakin terlihat pucat, sudah tidak terasa hembusan nafas dari hidungnya, rupanya Bu Zora pergi untuk selamanya.
"Mama!" Elsa menjerit histeris memeluk sang mama. Begitu lah yang dirasakan Karin saat kehilangan sang ayah, namun Elsa sedikit beruntung, dulu Karin tidak diberi kesempatan untuk memeluk sang papa di akhir hayatnya.
Setelah kematian sang mama, kaadaan Elsa semakin terpuruk, mentalnya sedikit terganggu karena orang yang begitu sangat penting baginya yang selalu melindunginya kini telah tiada, bahkan semua mimpi dan angannya untuk menguasi K Grup kini telah hancur lebur, dia tidak pernah merasakan mendapat cinta dan perhatian dari siapapun, bahkan tidak ada yang menjenguknya sama sekali.
Apalagi di lapas sana Elsa harus terus menerus mendapatkan perlakuan kasar dari teman satu selnya, tiada lagi orang yang membela dan melindunginya, sampai suatu hari dia kehilangan kendali seperti orang gila.
"Hei cepat pijat tanganku!" suruh seorang wanita yang dianggap menjadi jeger disana.
Namun Elsa diam saja, pikiran dan pandangannya kosong, dia hanya diam memeluk kedua lututnya.
Salah satu orang disana menendang kaki Elsa.
Bughh...
Membuat Elsa meringis kesakitan. Dia memegang lututnya yang terasa linu ditendang dengan keras oleh mereka.
"Cepat pijat tangan bos kami!" bentaknya.
Elsa terpaksa menurutu perintah mereka, dia menatap tajam pada orang yang dianggap ratu di sel itu, dia memegang tangan wanita itu.
"Ayo pijat!" bentaknya.
Namun bukan sebuah pijatan yang Elsa lakukan, tapi dia malah mengigit tangan wanita itu.
__ADS_1
"Arrgghhh... " wanita itu menjerit kesakitan.
Dia langsung menampar Elsa dengan emosi.
Plakk...
Plakk...
"Dasarnya ja lang, kurang ajar kamu!'
Bukannya takut, Elsa malah tertawa terbahak-bahak, mentertawakan dirinya sendiri yang hidupnya kini semakin menderita, mereka yang ada di sel menjadi ketakutan melihat Elsa seperti itu.
"Dia kenapa? Apa dia gila?"
****************
David sudah sadarkan diri. Bagaimanapun apa yang dia lakukan termasuk kejahatan, dia tetap harus ditahan walaupun dia tidak dihukum separah Elsa, dia sangat bersyukur karena Bara telah memenuhi janjinya untuk melindungi adiknya. Bahkan adik dan omnya sudah beberapa kali bertemu dengannya.
Dan sekarang dia bertemu dengan Karin, Karin sengaja mengunjunginya karena untuk menghargai David yang sudah bersedia menjadi saksi kejahatan Elsa.
"Kesalahan aku tidak akan termaafkan, tapi aku benar-benar ingin minta maaf padamu, Karin. Aku sangat menyesal karena sudah membuat kamu celaka, jika waktu bisa berputar kembali aku tidak akan pernah melakukan hal keji itu padamu." David nangis terisak, dia tidak malu dengan kelelakiannya karena dia benar-benar merasa bersalah pada Karin.
Mata Karin berkaca-kaca mendengarnya, bagaimanapun juga dia mengenal sosok David dari dulu, walaupun percobaan pembunuhan itu termasuk hal yang keji dan tidak bisa dimaafkan dalam bentuk alasan apapun itu. "Setelah kecelakaan itu, aku mengalami banyak hal, membuat aku melihat dengan jelas hal-hal yang sama sekali tidak aku ketahui selama ini."
Mungkin juga dia tidak akan tau penyebab kematian sang papa, dia akan berpikir mungkin papanya meninggal secara wajar. Bahkan dia juga tidak akan bertemu dengan Bara, pria yang kini telah berhasil masuk ke relung hatinya yang paling dalam, Bara bisa menjadi papa, sahabat, dan suami yang baik untuknya.
Tapi kejahatan tetaplah kejahatan, tidak ada yang bisa disyukuri atas tidak kejahatan itu. Yang pasti itu sudah jalan takdir Karin yang mendapatkan keistimewaan itu, terkadang mungkin kebanyakan tidak akan ada yang mengingat lagi saat mereka terbangun dari komanya, tapi Karin bisa mengingatnya dengan jelas walaupun membutuhkan waktu untuk mengingat itu semua.
David hanya mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan perkataan Karin, Karin juga tidak akan menjelaskan secara detail masalah dia yang menjadi arwah gentayangan saat dia koma.
****************
Setelah menemui David, Karin menemui Bara di kantor Neo Grup, dia melihat Bara yang sedang membicarakan rancangan bisnisnya dengan klien nanti bersama Jo di ruang CEO.
Jo walaupun sedih, dia tidak pernah menujukan rasa sedihnya pada Bara. Dia memang tidak bisa mengekspresikan kesedihannya, selalu ingin bersikap profesional. Bara menghargai sikap profesional Jo walaupun sebenarnya dia tau masalah yang sedang dihadapi Jo, apalagi pernikahan Jesika dan Raka tinggal menghitung hari.
"Hai Jo. " sapa Karin sambil duduk disamping Bara.
"Hai." Jo membalas sapaan Karin dengan ramah. Dia mengerti pasti bosnya ingin berduaan. "Kalau begitu saya permisi, tuan. " pamitnya pada Bara.
Bara hanya mengangguk. "Iya"
__ADS_1
Setelah Jo pergi, dia langsung memeluk Karin. Dia mengangkat tubuh Karin yang ramping ke pangkuannya. "Tumben datang kesini."
"Karena tadi aku habis menemui David, jadi aku mampir dulu kesini." Karin mengalungkan tangannya ke leher Bara.
Bara mencondongkan wajahnya untuk mencium Karin.
Drrtttt... Drrtttt...
Getaran ponsel menganggu kesenangan dua sejoli ini.
Dengan kesal Bara segera mengangkat telepon dari Detektif Anan. "Hallo."
"Hallo tuan Bara, karena tugas pertama selesai , saya akan menerima tugas kedua tersebut." jawab Detektif Anan di sebrang sana.
"Oke, jangan sampai ketahuan dan laporkan langsung kepadaku." Bara mengatakannya dengan tegas.
"Baik, tuan."
Klik!
Bara segera menutup panggilan telepon bersama Detektif Anan.
"Tugas kedua apaan?" tanya Karin yang masih duduk di pangkuan Bara.
"Nanti aku ceritakan di rumah," Bara memeluk Karin dengan erat, dia mengecup bibir Karin. "Yang pasti saat ini aku menginginkanmu. Aku ingin membuat kamu cepat hamil."
"Ya ampun Bara, ini di kantor. Kamu belum puas sudah menghukumku tiap hari sampai waktu itu tidak bisa jalan?"
Bara menghukum Karin gara-gara Karin tidak meminta persetujuannya menemui Elsa dan mamanya satu minggu yang lalu, walaupun Karin tidak kenapa-kenapa. Tapi tetap saja Bara merasa khawatir karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada Karin. Dan hukuman hanya alasan Bara saja.
Bara tak mempedulikannya. Dia membalikan posisi Karin agar duduk menghadapnya diantara kedua pahanya. Dia mencium Karin dengan rakus, me lu mat bibirnya, mengakses di setiap inci bibir manisnya. Tangan Bara dengan nakal me re mas dada Karin yang masih terbalut kemeja itu, dia mulai membuka kancing kemeja Karin.
Ceklek!
Mereka terperanjat saat ada yang membuka pintu, Bara lupa tidak mengunci pintu. Karin segera duduk di kursi dan merapikan pakaiannya.
Sementara Bara hanya mendengus kesal saat melihat Jo yang masuk ke dalam tanpa merasa bersalah, dia datar-datar saja, malah mereka yang salah tingkah.
"Ada berkas yang ketinggalan." kata Jo sambil membawa berkas itu di meja, dia tidak mengerti mengapa wajah Bara dan Karin terlihat begitu merah dan bahkan mereka salah tingkah saat Jo masuk lagi ke ruangan itu.
Jo segera pergi ke luar dari ruang CEO itu setelah membawa berkas yang ketinggalan disana. "Mereka kenapa?" Jo mengerutkan dahinya.
__ADS_1
****************
...Sebenarnya novel ini harusnya tamat tapi karena ada yang meminta part khusus Jesika dan Jo, othor kasih bonchap, tapi maaf kalau cuma beberapa chapter saja, tidak bisa banyak 🙏🙏...