
Sambil menyetir Jo menelepon Jesika dengan memakai headsetnya, "Jes, kamu dimana? Aku disuruh Tuan Bara untuk membawa hasil penelitian kamu mengenai sebuah obat!"
Kebetulan Jesika juga saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah Bara karena dia mencoba untuk menelpon Karin tapi tidak diangkat juga karena Karin sengaja mensilentkan ponselnya pada saat akan menggoda Bara.
"Aku mau ke rumah Bara untuk memberikan hasil penelitian klinisku." jawab Jesika dengan memakai headsetnya juga, awalnya Jesika tersenyum saat melihat ada panggilan telepon dari Jo, dia pikir Jo akan menanyakan masalah pribadi padanya tapi lagi-lagi soal pekerjaan.
"Oh jangan kesana, Tuan Bara bilang saat ini dia sedang acara penting dengan istrinya."
"Ya sudah aku ke apartemen kamu aja, sekalian aku masakin spaghetti buat kamu, mau gak? Waktu itu aku malah ketiduran, gak jadi membuatnya."
Entah mengapa rasanya sangat mendebarkan saat Jesika akan datang ke apartemennya lagi, tapi Jo tidak bisa menolaknya apalagi dia membutuhkan hasil penelitian Jesika mengenai obat yang dimaksud Bara. "O-oh ya udah."
Setelah menutup telepon, Jo teringat sesuatu, dia segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena baru menyadari di meja ruang tengah saat itu Jo sedang memikirkan masalah David tapi pikirannya malah terus ke Jesika, dia sebenarnya merasa sedih karena mendengar sebentar lagi Jesika akan dinikahkan dengan seorang pemilik rumah sakit swasta bernama Raka, sampai dia terus mencoret-mencoret bukunya dengan tulisan Jesika, Jesika, dan Jesika, Mungkin dia menulis puluhan kata nama Jesika.
Namun saat tiba di basement, dia melihat mobil Jesika sudah terparkir disana, dia sudah menebak pasti Jesika sudah berada di apartemennya karena dia tau pasword pintu apartemennya.
"Aish... " Jo jadi gelapan karena Jesika pasti sudah melihat tulisan itu, apa yang harus dia jelaskan pada Jesika jika dia bertanya soal tulisan itu.
Benar saja Jesika sudah tiba di apartemennya, tapi Jo melihat Jesika sedang berada di dapur memasak spagetti yang bahannya sudah tersedia waktu itu. Jo melihat buku-buku yang berantakan di atas meja termasuk sebuah buku yang dipenuhi dengan tulisan Jesika, Jo yakin Jesika tidak melihatnya, bisa saja dia langsung pergi ke dapur tidak menghiraukan dengan berkas-berkas pekerjaannya yang menumpuk di meja.
Jo segara memindahkan berkas-berkasnya ke ruang kerja, dia menemui Jesika yang sedang memasak di dapur.
Sementara itu di dapur sana, Jesika sedang melamun, saat dia baru masuk ke dalam apartemen, dia tidak sengaja melihat banyak berkas-berkas pekerjaan Jo namun perhatiannya fokus ke satu buku yang terlihat jelas ada namna dia dibuku itu, Jesika ingin melihatnya dengan jelas, disana banyak sekali tulisan 'Jesika'.
Kenapa Jo terus menulis namaku? ucap Jesika sambil mengangkat spaghetti yang sudah masak.
"Jesika!"
Kata itu mengagetkan Jesika sampai Jesika tidak fokus saat memasukan spaghetti ke dalam piring, hingga tangannya kena cipratan air panas di dalam wajan.
__ADS_1
"Arrgghhh... " Jesika menjerit saat air panas itu mengenai tangannya.
Jo segera berlari, dia membawa wajan yang di pegang Jesika dan meletakkan kembali ke atas kompor, Jo memegang tangan Jesika yang memerah, dia meniupinya agar Jesika tidak merasa kesakitan.
"Aku tidak apa-apa ko, Jo." Jesika merasa sangat grogi karena tangannya di pegang oleh Jo.
Jo tidak menjawab apa-apa, dia memang lebih banyak bertindak dibandingkan berbicara, dia segera pergi untuk mengambil salep, tak lama kemudian dia kembali lagi membawa salep itu dan mengoleskan tangannya pada tangan Jesika.
"Lain kali kalau memasak jangan sambil melamun." Jo mengomelinya sambil mengoleskan salep itu ke tangan Jesika.
"Hm." hanya itu respon dari Jesika.
Jesika memandangi Jo yang sedang mengoleskan salep pada tangannya, dia tidak mengerti akhir-akhir hatinya berdebar-debar setiap bertemu dengan Jo, masa iya dia jatuh cinta kepadanya? Tapi kenapa harus sama Jo yang sampai kapanpun Jo tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, yang ada diotaknya hanya kerja, kerja, dan kerja tentu saja mengabdi pada Bara sesuai sumpahnya pada Pak Ferry yang dulu membiayai sekolah sampai kuliahnya karena mengetahui kalau Jo itu anak yang rajin dan berprestasi. Bahkan dulu dia tinggal bareng juga dengan keluarga Bara, namun setelah dia beranjak dewasa memutuskan untuk tinggal di apartemen karena itu Bara yang anti dengan orang asing terbiasa dengan kehadiran Jo. Makanya Jesika sering bertemu dengan Jo juga dari kecil.
"Jo!"
"Kenapa?" tanya Jo, dia masih sibuk mengoleskan salep pada tangan Jesika dan meniupi tangannya dengan lembut.
Jo menghentikan aktivitasnya, dia memandangi Jesika, lalu pura-pura tersenyum mendengar kabar itu, "Baguslah, aku harap kamu hidup bahagia dengan calon suami kamu itu."
Jesika hanya menghela nafas, dia sadar dia berbicara dengan siapa makanya dia pernah menganggap Jo tidak normal karena di aman-aman saja selama di dekat Jo bahkan dia sudah beberapa kali menginap di rumahnya.
"Percuma juga aku berbicara dengan pria tidak normal sepertimu, sama sekali tidak bisa diajak curhat." Jesika merasa kesal dengan sikap Jo, mungkin dia berharap Jo akan sedih atau bagaimana mendengar kabar itu.
Jesika memilih pergi dari dapur itu, tapi Jo malah menarik tangannya dan menghentakkan badan Jesika ke dinding, Jesika membelalakan mata tidak menyangka bahwa Jo akan mencium bibirnya, malah ciuman itu begitu ganas. Mungkin karena terkesima, Jesika terdiam saat Jo terus menerus melu mat bibirnya.
Jo memandangi Jesika yang kelihatan shock sekali, "Apa sekarang kamu percaya aku pria normal?" Jo mengatakannya dengan terengah-engah, "Jadi aku minta jangan pernah memancingku lagi apalagi menginap disini, aku bisa membahayakanmu."
Bukannya takut, Jesika malah menantang mungkin agar Jo bisa memperjuangkannya. Dia menarik dasi Jo, "Buktikan kalau kamu memang berbahaya."
__ADS_1
Kini giliran Jesika yang mencium bibir Jo, lu ma tan lembut itu membuat Jo terangsang apalagi tangan Jesika meraba-raba dadanya yang berotot itu, Jo membalas ciuman Jesika, dia mengunci tubuh Jesika, baru kali ini dia merasa hilang kendali, padahal dia selalu menahan diri setiap berada di dekat Jesika, dia sudah beberapa kali mengurus Jesika yang setiap mabuk dan selalu menggendongnya ke kamar, bahkan Jesika pernah beberapa kali menginap di rumahnya. Mungkin karena Jesika yang menantangnya membuat Jo lebih berani menyalurkan hasrat terpendamnya, ciuman itu semakin lama semakin menuntut meminta lebih dari itu.
Ciuman itu pindah ke leher Jesika, Jesika hampir saja men de sah, bahkan tangannya kini membuka kancing kemeja Jesika, Jesika yang sudah sama-sama terhanyut juga dia membuka kancing baju Jo.
Kring... Kring...
Ponsel Jesika berdering. Mereka berdua terperanjat menyadari apa yang mereka lakukan, Jesika segera mengancingkan bajunya kembali, begitu juga Jo dengan gelagapan tidak tau harus berbicara apa pada Jesika.
Rupanya ada telepon dari Karin, saat itu Karin masih berada di ranjang bersama Bara tanpa memakai apapun, baru menghabiskan tiga ronde malam ini. Karin saat itu beristirahat dulu mengecek ponselnya ternyata ada panggilan tidak terjawab dari Jesika.
"O-oh Karin, a-ada apa?" Tanya Jesika dengan wajah memerah, dia menjauhkan jaraknya dari Jo. Saat itu Jo terus menekan pelipisnya, mengapa dia bisa seberani itu pada Jesika.
"Aku melihat ada panggilan tidak terjawab darimu akh... " Karin malah reflek mendesah saat Bara mengisap pucuk di dadanya. Dia mencubit lengan Bara agar jangan bersikap jail padanya.
"Kamu kenapa Karin?" tanya Jesika yang tiba-tiba mengatakan akh.
"Oh tidak tadi aku kaget melihat ada kecoa."
Jesika mengerutkan dahinya karena responya saat melihat kecoa harusnya menjerit bukan men de sah, tapi dia tidak ingin mempermasalahkannya, "Tadinya aku mau memberikan hasil penelitianku tentang obat yang kamu berikan itu, tapi nanti aku berikan pada Jo saja."
"Oh ya sudah, terimakasih ya Jes, aku sangat berterimakasih kepadamu karena sudah membantuku."
"Iya sama-sama."
Bara memeluk Karin dan mencium bibir Karin, "Ayo kita lanjut lagi."
"Kamu belum puas juga?" Padahal Karin sudah merasa lelah.
"Belum," Bara dan Karin melanjutkan kembali ke ronde ke empat mereka. Di kamar itu menjadi saksi bisu pertempuran panas mereka, bahkan suara de sa han itu tiada hentinya mengalun begitu indah yang akan membuat terangsang bagi siapa yang mendengarnya.
__ADS_1
Sementara Jesika dan Jo jadi tampak kaku, mereka bingung harus berbicara apa dan di mulai dari mana.