
Drrtttt... Drrtttt...
Jo mendapatkan pesan dari Jesika.
[Mau berkencan dengan aku malam ini? ]
Jo terpaku saat membaca pesan dari Jesika, dia tau niat Jesika mengajaknya berkencan, mungkin itu adalah moment terakhir dia bersama Jesika, karena setelah Jesika menikah nanti, mereka tidak akan dekat seperti dulu lagi.
Jo membalas pesan dari Jesika.
[Kamu dimana? Aku akan menjemput kamu]
Lama sekali Jesika membalas pesannya, membuat Jo tidak sabar menungu balasan pesan dari Jesika.
Drtttt... Drttt...
Jo langsung membaca pesan itu.
[Aku akan menunggumu di Festival Akhir Tahun]
Tanpa berpikir panjang Jo segera mengambil kunci mobil, dia ingin sekali bertemu dengan Jesika, setidaknya dia bisa memiliki kesempatan untuk mencurahkan hatinya dan bisa saling mengatakan salam perpisahan mereka malam ini, mungkin setelah Jesika menikah nanti dia harus berjaga jarak pada Jesika.
Ternyata Jo yang lebih duluan tiba di Festival itu, dia mencari keberadaan Jesika, tapi belum juga bertemu dengannya, rupanya saat Jesika akan pergi dia bertemu dengan Raka yang sengaja datang untuk mengajak Jesika makan malam.
"Raka, mengapa kamu ada disini?" tanya Jesika, padahal dia ingin segera bertemu dengan Jo, dia ingin merasakan bagaimana rasanya berkencan dengan orang yang dicintai karena dia belum pernah berkencan sama sekali, walaupun hanya satu malam.
"Tentu saja mengajak calon istriku makan malam." jawab Raka dengan tersenyum manis.
"Maaf Raka, tapi aku malam ini kebetulan ada acara dengan temanku." Jesika menolak makan malam dengan Raka, dia takut Jo akan lama menunggu kedatangannya.
"Hanya sebentar, ada yang ingin aku bicarakan." Raka tidak akan pergi sebelum Jesika bersedia makan malam dengannya.
Jesika terpaksa menyetujui ajakan Raka, "Baiklah hanya sebentar ya."
Selama makan malam, Raka terus memandangi Jesika, wajah Jesika memang tidak membosankan, dia sangat cantik, walaupun awalnya terasa biasa saja tapi semakin sering melihatnya, Raka mulai ada ketertarikan pada Jesika.
__ADS_1
Jesika sangat tidak nyaman di pandang seperti itu oleh Raka, padahal besok pria itu akan menjadi suaminya.
Jesika terus memandangi jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya, dia takut Jo kelamaan menunggunya.
"Kamu ingin berbicara apa?" tanya Jesika, dia merasa kesal karena Raka belum berbicara juga.
Raka tersenyum memandangi Jesika, dia memegang tangan Jesika, "Jujur saja aku jatuh cinta padamu, aku harap kita bisa menjadi pasangan suami istri yang saling mencintai nanti. Lalu bagaimana perasaanmu padaku?"
Jesika tidak menjawab perkataan Raka, dia pura-pura membalas senyuman Raka dengan perasaan bingung karena tidak tau harus menjawab seperti apa, tidak mungkin dia menjawab yang sebenarnya pada Raka.
"Emm... Raka." Jesika mengatakannya dengan ragu-ragu. Dia menarik tangannya dari genggaman Raka.
"Kenapa?"
"Bagaimana kalau aku tidak mencintai kamu, apa kamu akan membatalkan pernikahan kita?" Jesika memberanikan diri untuk bertanya seperti itu, dia berharap Raka akan memundurkan diri dari pernikahan mereka.
Raka meneguk sebentar minumannya, dia menjawab pertanyaan Jesika dengan tenang, "Tidak masalah, aku pasti akan membuat kamu jatuh cinta padaku."
Sebenarnya bukan jawaban itu yang Jesika harapkan, dia hanya menghela nafas kasar mendengar jawaban dari Raka.
Belum juga Raka menjawabnya, Jesika segera pergi tanpa menunggu persetujuannya.
Drtttt... Drtttt...
Raka mendapati pesan dari seseorang, dia tersenyum lebar saat mendapatkan pesan itu.
[Sayang, aku kangen.]
...****************...
Jesika sudah tiba di Festival itu tapi ternyata disana sudah sepi, mungkin karena sudah terlalu malam, sepertinya dia terlambat datang kesana, mungkin juga Jo sudah pergi dari sana.
Jesika mengatur nafasnya yang terengah-engah karena dia mencoba sangat terburu-buru pergi kesana, namun sayangnya tempat itu telah mulai sepi. Dia mencoba mencari keberadaan Jo, tapi tidak menemukannya.
"Mungkin dia sudah pulang." gumam Jesika dengan nada sedih.
__ADS_1
Jesika tersentak kaget saat tiba-tiba ada yang memberikan arumanis padanya tanpa berkata apa-apa dari belakang, hampir saja mengenai wajahnya.
"Jo!" katanya dengan nada kesal, Jo memang tidak bisa bersikap lebih romantis sedikit.
"Ini buat kamu. " Jo semakin mendekatkan arumanis itu ke Jesika dengan mengangkat kedua alisnya.
Jesika membawa arumanis itu, dia mencubitnya sedikit dan memakannya, "Emm... sangat manis, aku suka." Jesika tersenyum manis sambil memakan arumanis itu.
Jo mengelap wajah Jesika yang sedikit berkeringat dengan sapu tangan yang dia bawa, mungkin karena dia tidak berhenti mencari keberadaan Jo . Jesika memandangi wajah Jo dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kamu yakin mau berkencan denganku?" tanya Jo sambil memandangi Jesika.
"Tentu saja, aku ingin tau rasanya berkencan itu seperti apa."
Suara kembang api terdengar menggelegar menyambut datangnya awal tahun, mereka memandangi kembang api yang begitu meriah diatas sana.
"Setidaknya aku tidak terlambat untuk menyaksikan semua itu." Jesika mengatakan sambil menengadah ke atas, memandangi kembang api yang membuat langit begitu indah.
Mata Jo malah fokus memandangi wajah Jesika, dia ingin menatap lebih lama wajah dari wanita yang mungkin suatu hari nanti hubungan mereka akan berubah menjadi orang asing yang tidak akan bertegur sapa lagi, karena status yang menghalangi mereka, Jesika sebentar lagi akan menjadi seorang istri.
Karena sudah larut malam, tidak ada permainan disana yang bisa mereka ikuti, bioskop pun sudah tutup, mereka tidak tau harus berkencan ke tempat mana.
"Hmm sepertinya aku sudah mengacaukan rencana kencan kita." Jesika menyalahkan dirinya sendiri yang datang terlambat. Padahal malam ini adalah moment yang sangat penting untuk dia dan Jo.
"Tidak apa-apa, kan masih ada hari lainnya." Jo tidak sadar dengan perkataannya.
Begitu tersadar bahwa ini artinya besok adalah hari pernikahan Jesika dan Raka, mereka saling memandang.
"Emm... maksud aku, tidak apa-apa, Jesika. Aku sudah berbicara seperti ini dengan kamu aku sudah senang."
"Bagaimana kalau kita menonton film?" Jesika tidak mau acara kencan mereka tidak bermakna sedikitpun, apalagi mereka ini berkencan untuk berpisah, harus ada moment indah diantara mereka berdua.
"Tapi bioskop sudah tutup, Jes, belum lagi om Gani dan tante Hera pasti mengkhawatirkan kamu karna belum pulang."
"Aku sudah bilang ke papa dan mama kalau aku ada urusan dengan teman. Bagaimana kalau kita menonton film di apartemenmu?" tanya Jesika.
__ADS_1
Jo tidak langsung menanggapinya, dia takut dia tidak seperti Jo yang Jesika kenal dari dulu, mungkin karena dulu Jo tidak pernah memikirkan perasannya sendiri, tapi saat ini perasaan itu semakin besar dan terus membuat hatinya bergetar hebat, apalagi dia tau bagaimana perasaan Jesika kepadanya. Bara bilang Jesika juga memiliki perasaan padanya karena Jesika sering curhat masalah hatinya ke Karin, walaupun tanpa Bara bilang, dia bisa merasakannya dari sorot mata Jesika.