
Saat itu Bara masih berada di taman rumah sakit bersama Karin, Bara hanya tersenyum samar saat Karin bilang kalau dia sudah memiliki pacar.
Karin merasa canggung dengan kehadiran Bara yang menurutnya Bara itu pria asing yang baru bertemu dengannya dan bersikap sok akrab dengannya.
Krucuk... Krucuk...
Tiba-tiba perutnya berbunyi meronta-ronta ingin segera diisi.
Aish...sangat memalukan, Karin mengigit bibir bawahnya karena takut Bara mendengarnya, Karin memang hari ini sama sekali tidak memakan masakan dari rumah sakit, yang menurutnya terasa sangat hambar.
"Kau lapar?" tanya Bara.
"Tidak!" jawab Karin, walaupun sebenarnya dia sangat lapar, dia berharap Elsa datang, pasti akan memintanya untuk membelikan chicken fried steak untuknya.
"Ayo kita makan, aku juga lapar." ajak Bara.
Karin tidak mengerti mengapa pria asing ini bersikap sok akrab padanya padahal dia sudah memperingatkannya kalau dia sudah punya pacar. Dia tidak mungkin mau diajak makan bareng oleh pria yang baru bertemu dengannya.
"Tidak, aku tidak mau." Karin menolak ajakan Bara.
"Hmm... ya sudah kalau tidak mau, aku mau makan siang ke cafe star disana ada chicken fried steak, wah rasanya mantap sekali." Bara mencoba untuk menggoda Karin.
Chicken fried steak adalah makanan kesukaan Karin apalagi di cafe Star, membuat dia menelan saliva membayangkan bagaimana enaknya makanan kesukaannya itu.
"Ya udah gak usah kebanyakan mikir, kalau mau ayo, dekat ko dari sini." Bara mengulurkan tangannya pada Karin.
Bagaimana kalau dia menculikku? Karin takut pria asing ini ada tujuan tertentu mengajaknya makan bersama.
Bara tau apa yang ada sedang ada dalam fikiran Karin, "Namaku Bara." Bara terpaksa mengenalkan dirinya.
"Bara?" Karin terkejut mendengarnya. Dia sama sekali tidak menyangka ternyata pria asing ini adalah pria yang akan dijodohkan dengannya, namun mereka tidak jadi bertemu karena sama-sama menolak perjodohan itu.
Tapi kenapa dia selalu menemaniku selama aku koma? Karin tau itu dari Jesika.
"Iya, aku disuruh papamu untuk mejagamu jadi kamu tidak perlu takut aku akan menculikku."
Apa dia bisa membaca fikiranku bahkan dia bisa tau aku ingin sekali memakan chicken fried steak. Karin memandangi Bara dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
Bara membantu Karin berdiri, "Kau harus berlatih memperlancar jalanmu, tinggalkan saja kursi rodanya. Jadikan lenganku sebagai tumpuan."
"Tapi... " Karin ingin menolak, tapi chicken fried steak telah menguasai fikirannya, ingin sekali dia segera memakannya.
Bara memapahnya, dia ingin Karin memperlancar jalannya, Karin terpaksa bersedia ikut dengan Bara karena dia yakin pemilik neo Grup itu tidak mungkin menculiknya. Buat apa dia minta tebusan toh dia juga orang kaya, mungkin dia begitu baik karena papanya yang menyuruhnya untuk menjaga Karin, itulah yang ada didalam fikiran Karin sekarang.
Bara membawa Karin masuk ke dalam mobilnya.
"Tidak apa-apa gitu kita meninggalkan rumah sakit tanpa meminta izin dulu pada dokter?" Karin lupa untuk meminta izin pada Jesika.
"Aku sudah meminta izin." Padahal Karin sebenarnya sudah diperbolehkan untuk pulang, namun karena Bara berfirasat bahwa Karin akan memilh pulang ke rumah papanya, membuat Bara menyuruh Jesika untuk tidak mengizinkan dulu dia pulang.
Mungkin besok Karin harus mengetahui semuanya dan Karin harus tinggal bersamanya, suaminya.
"Tapi masa aku makan disana pakai baju begini?" Karin merasa malu jika harus makan disana memakai baju pasien.
Bara hanya tersenyum tipis, dia membawa Karin ke sebuah butik, Bara menunjuk gaun berwarna putih, "Nah ini pantas untukmu."
Apa hanya kebetulan, dia seakan tau tentangku. begitu kata hati Karin saat Bara menunjukkan gaun berwarna putih karena dia begitu sangat menyukai warna putih.
Setelah dari butik, Bara membawa Karin ke tempat tujuan utama mereka yaitu makan di cafe star, Bara sengaja memesan shicken fried steak untuk Karin, sampai Karin dengan malu-malu meminta nambah lagi. "Boleh aku nambah lagi?" tanya Karin.
Bara malah senang dengan tipe wanita seperti itu, yang terlihat apa adanya dan tidak bersikap malu-malu dengan berpura-pura makan sedikit supaya terlihat anggun.
"Tentu saja." Bara memesan lagi chicken fried steak untuk Karin.
Bara tersenyum-senyum melihat Karin yang makan dengan lahap, mungkin karena Karin sudah jenuh dengan makanan di rumah sakit. Namun Bara segera memegang tangan Karin saat Karin membawa saus.
"Hanya sedikit." pinta Karin dengan nada manja. Membuat Bara gemas melihatnya.
"Tidak boleh, kamu belum bisa makan yang pedas." Bara membawa saus itu.
Karin hanya mendengus kesal, tapi dia berfikir lagi mengapa dia malah bersikap nyaman seperti ini dengan Bara seolah mereka begitu akrab, padahal dia baru bertemu Bara sekarang.
"Setelah dari sini mau kemana?" tanya Bara.
"Balik ke rumah sakit saja," jawab Karin, padahal dia senang sekali jika lebih lama lagi menghirup udara luar, dia sangat jenuh dengan suasana rumah sakit.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita nonton, ada banyak film romantis sekarang!"
Karin tidak bisa menolaknya karena dia begitu sangat menyukai film romantis , apalagi dia butuh sekali hiburan. Dan hatinya terus bertanya-tanya mengapa Bara seakan tau sekali dengan apa yang dia suka, apa hanya kebetulan?
Bara terus menggandeng tangan Karin karena Karin belum bisa berjalan dengan cepat, malah kaki Karin kini mulai terasa sedikit tidak kaku lagi.
Karin begitu sangat menyukai film itu, malah dia sangat terhibur sekali dan begitu menikmati filmnya, Bara hanya bisa tersenyum memandangi Karin, matanya tak bisa lepas untuk terus memandangi gadis cantik itu.
Karin merasa tidak asing dengan suasana di bioskop itu, dan juga Bara. Hingga sekilas bayangan terlintas saat dia menonton film di bioskop bersama Bara.
Mengapa aku merasa ini bukan pertama kalinya kita menonton bersama di bioskop? Apa mungkin dia pernah hadir di mimpiku? Sungguh Karin tidak mengerti dan sulit untuk menemukan jawabannya.
Sebenarnya Bara ingin sekali mengajak Karin ke berbagai tempat, tapi dia sadar Karin belum sepenuhnya pulih, jadi dia harus membawa Karin ke rumah sakit lagi, Bara mengantarkan Karin sampai ke ruangannya. Dia membantu Karin duduk di kasurnya. Sementara Bara masih berdiri dihadapannya.
"Kamu suka bunga edelweisnya?" tanya Bara saat Karin meriah satu bunga edelweis di dalam vas.
"Sangat suka, apa ini dari kamu?" tanya Karin.
Bara hanya tersenyum dan sedikit mengangguk.
"Tapi kenapa kamu tau sekali tentangku, apa kamu bertanya pada papa tentang semua kesukaan aku?" tanya Karin, dia begitu sangat penasaran mengapa Bara seakan tau banyak hal tentang dirinya.
Bara tidak mungkin menjawab dari Karin sendiri, dia tidak ingin Karin merasa kebingungan. Masa dia bilang dari kamu saat menjadi arwah. Yang ada Bara akan dianggap gila.
"Nanti juga kamu tau sendiri. Hmm... ya sudah aku pergi dulu, hari ini kebetulan pekerjaan aku banyak sekali." Bara harus mengurus dulu pekerjaannya dari dua perusahaan itu.
Karin merasa kecewa karena Bara tak ingin langsung menjawabnya, tapi dia tidak ingin mempermasalahkan itu karena Bara sudah membuatnya terhibur hari ini.
"Terimakasih atas semuanya, aku sangat terhibur hari ini. Aku tidak tau harus membalas kebaikanmu dengan apa walaupun aku tau kamu begitu mungkin karena papa ku yang meminta kamu untuk menjagaku dan menemaniku." Karin memang dulu merasa jenuh karena papanya terus memuji-muji Bara di depannya walaupun dia tidak tau sosok Bara seperti apa, tapi namanya sangat familiar baginya.
"Tentu saja ini tidak gratis." Bara menatap netra kedua mata Karin.
Karin mengerutkan dahinya, "Maksudnya?"
Bara berjalan satu langkah sehingga tubuhnya begitu sangat dekat dengan Karin yang sedang duduk di atas kasur, Bara tak bisa lagi menahan rasa rindunya, dia meraih pinggang Karin dan mencium bibir Karin. Membuat Karin terbelalak mendapatkan ciuman dari Bara, karena dia merasa sudah memiliki pacar yang begitu setia padanya, dia ingin melepaskan ciuman itu, namun tiba-tiba terlintas bayangan saat Karin sedang berciuman dengan Bara di halaman belakang rumah sakit. Dan bibir itu rasanya tidak asing baginya.
Ada apa ini? Apa sebagian memory ingatanku hilang?
__ADS_1