Menikahi Gadis Koma ( Arwah Cantik)

Menikahi Gadis Koma ( Arwah Cantik)
Target Berikutnya


__ADS_3

"Besok saya akan mengantarkan David ke depan kantor polisi agar dia langsung menyerahkan diri kesana." Lapor Bima kepada Elsa, saat itu Elsa sedang berada di bar menikmati segelas winenya.


"Hmm... ya sudah. Aku ingin anak buahmu terus memantau adiknya David agar David tidak berani macam-macam." ucap Elsa dengan santai.


"Iya, tentu saja."


Elsa memberikan foto Bara kepada Bima, "Nanti tugasmu melenyapkan dia, selama dia ada di sisi Karin, dia pasti akan melindunginya."


Bima membawa foto yang diberikan Elsa kepadanya, dia memandangi sang target berikutnya.


"Tapi jangan bertindak dulu sebelum aku memberikan perintah." Elsa meneguk kembali winenya, dia menyayangkan coba saja Bara berpaling padanya dan berada dipihak yang sama, mungkin dia tidak akan menjadi targetnya. Tapi Elsa merasa Bara akan mengancam dirinya apalagi setelah tau asisten pribadi Bara yang mengejar David waktu itu, itu berarti Bara sedang mencari tersangka yang telah mencelakai Karin. Apalagi Bara telah merusak rencananya yang hampir saja akan menjadi Direktur di K Grup.


Sayang sekali, kamu harusnya berada disisiku Bara. Selama kamu berada di sisi Karin, kamu akan terus menjadi penghalang untukku.


****************


"Menurutmu Karin dan Bara memiliki kenangan seperti apa? Aku tidak mengerti, bukannya mereka tidak pernah bertemu?" tanya Jesika pada Jo yang sedang fokus menyetir.

__ADS_1


Jo berpikir sejenak "Emm...apa mungkin orang yang sedang koma arwahnya berkeliaran?" Jo malah balik nanya.


Jesika menatap Jo dengan tatapan aneh, "Jadi kamu pikir Bara berpacaran dengan arwahnya Karin saat Karin masih koma, begitu?" Setelah mengatakan itu tawa Jesika meledak.


"Hahaha... kamu membuat perut aku sakit, Jo. Bisa-bisanya kamu berpikir hal yang takhayul seperti itu."


Jo yang tidak bisa diajak bercanda hanya mendengus kesal. Padahal dia sedang berbicara serius pada Jesika.


"Ayo kita tebak malam ini mereka sedang apa?" tanya Jesika dengan polosnya.


Jo tidak menjawab pertanyaan Jesika, dia memilih fokus menyetir, dia ngebleng kalau ditanya soal itu.


Jo menelan saliva dengan kasar mendengarnya, dia langsung menghentikan mobilnya membuat Jesika terkejut.


Jo menatap Jesika dengan tatapan tajam, "Apa kamu tidak malu mengatakan itu di depan pria?"


Jesika mengusap dada karena kaget Jo tiba-tiba mengerem mobilnya secara mendadak. "Tentu saja malu, tapikan aku ngomong sama kamu , Jo."

__ADS_1


Jo mengusap wajahnya dengan kasar, "Memangnya kamu anggap aku apa? Aku pria Jesika, aku normal, aku bahkan sudah dewasa, tiga tahun lebih tau darimu!" Jo mengatakannya dengan nada tinggi.


Jesika merasa grogi karena Jo menatapnya depan begitu tajam menusuk hati.


Ya ampun ada apa dengan dia?


Beruntung Jo mengerem mobilnya tepat di depan gerbang rumah Jesika.


"Mau mampir dulu?" tanya Jesika sekedar basa basi.


"Tidak" ketus Jo.


Jesika pun keluar dari mobil Jo dengan cemberut , "Ih ya ampun jangan sampai aku naksir dia." gerutu Jesika, dia tidak ingin sakit hati untuk yang kedua kalinya dengan tipe cowok seperti itu.


Jo segera menjalankan mobilnya kembali, dia melihat di kaca spion mobilnya ada seorang pria menghampiri Jesika. Pria itu Raka yang akan dijodohkan dengan Jesika.


Jo hanya menghela nafas berat, dia sadar diri dia siapa, dan tidak terlintas sama sekali di benaknya untuk memperjuangkan cintanya, karena itu dia harus berlapang dada jika nanti Jesika menikah dengan pria lain.

__ADS_1


"Jesika," sapa Raka. Dia sengaja berkunjung ke rumahnya untuk menemui Jesika karena Jesika telah beberapa kali tidak datang di acara makan malam mereka.


"Oh emm... Raka ya?" Jesika tidak menyangka bahwa Raka akan berani datang ke rumahnya.


__ADS_2