Menikahi Gadis Koma ( Arwah Cantik)

Menikahi Gadis Koma ( Arwah Cantik)
Bertemu Revan


__ADS_3

Malam ini berada di mall yang sama dengan Karin dan Bara, saat itu dia sedang mengantar mamanya belanja pakaian.


"Aduh ma, jangan lama-lama ya belanja nya." ucap Revan dengan nada kesal, dia paling malas kalau mengantar wanita belanja, pasti lama sekali memilih pakaiannya.


"Iya, iya, gak akan lama ko." Bu Sovia mengatakan itu sambil sibuk memilih beberapa dress disana.


"Revan, waktu itu kamu tidak menghadiri ke pemakanan Pak Tian?" Bu Sovia mengajak Revan mengobrol agar Revan tidak merasa jenuh mengantarnya belanja, memang akhir-akhir ini Revan lebih banyak diam setelah lamarannya di tolak oleh papanya Karin.


"Tentu saja datang setelah tidak ada siapa-siapa, ma." Revan memang hadir kesana untuk menghargai Karin karena dia masih yakin dia pasti bisa hidup bersama Karin suatu hari nanti walaupun mungkin banyak tantangan yang akan dia hadapi.


"Mama dengar Karin sudah dinikahkan dengan pemilik Neo Grup, seharusnya kamu mulai melupakannya. "


Revan tak menanggapi ucapan Bu Sovia.


"Mengapa tidak dengan kakaknya Karin aja? Dia juga cantik lho." Bu Sovia malah menyuruh Revan berkencan dengan Elsa.


Revan sangat malas kalau membahas Elsa, dia ingin benar-benar lepas dari wanita itu karena sangat merasa bersalah pada Karin, dia memilih tidak menanggapi perkataan Bu Sovia. Tiba-tiba pandangan Revan berhenti di satu titik yang membuat matanya berbinar-binar, dia melihat Karin yang sedang berada di toko khusus handphone bersama Bara.


Saat itu Bara ingin membelikan ponsel untuk Karin, karena ponselnya Karin yang dulu hancur.


"Aku ingin yang ini aja." Karin menunjuk ponsel yang harganya sebanding dengan sepeda motor.


Bara mengangguk, "Oke, mas tolong cek ponsel yang itu." Bara menyuruh pegawai disana untuk mengecek dulu ponsel yang ditunjuk Karin.


"Nanti aku ganti semuanya, aku juga punya uang cuma... "

__ADS_1


Bara memotong pembicaraan Karin, "Aku ini suami kamu, untuk apa kamu menggantinya."


Karin tertegun mendengarnya, dia mengiyakan saja daripada harus berdebat terus dengan Bara di mall itu.


"Bara, aku ke toilet dulu ya." Karin meminta izin pada Bara.


Bara hanya mengangguk, Bara memilih menunggu di toko ponsel itu untuk melihat kualitas ponsel yang diinginkan Karin.


Revan yang melihat Karin berjalan sendirian di mall itu dia mengikutinya, ini kesempatan dia untuk bertemu dengan gadis yang sangat dirindukannya itu karena dia tidak bisa menjenguk Karin yang selalu di larang masuk ke dalam rumah sakit oleh para bodyguard yang menjaga pintu gerbang rumah sakit itu.


Karin terkejut tiba-tiba ada yang menarik tangannya, dia ingin melepaskan tangannya tapi dia terdiam saat mengetahui siapa yang menarik tangannya. "Revan?"


Revan tidak berkata apa-apa, dia terus menarik tangan Karin untuk membawanya pergi agar tidak dilihat oleh Bara dan Bu Sovia.


Kebetulan di lift itu hanya ada mereka berdua.


"Arrrghhh... " Revan tampak kesakitan karena Karin tidak sengaja membuat tangannya sedikit terkilir saat Karin mencoba berontak tadi.


Karin terkejut saat menyadari kesalahannya "Ya ampun kamu gak apa-apa?"


Revan menggelengkan kepala sambil tersenyum, "Nggak ko, aku gak apa-apa." Revan memegang tangannya yang sedikit bengkak.


Karin menghela nafas berat, dia ingin menekan tombol lift agar bisa segera keluar dari sana, "Kamu mau kemana?" Revan tidak membiarkan Karin pergi begitu saja.


"Kita tidak bisa bertemu seperti ini, Van. Mungkin kamu sudah tau kalau aku sekarang sudah menjadi istri orang." ucap Karin dengan nada sedih.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan kamu, sayang. Aku bisa gila kalau harus kehilangan kamu." Revan mengatakannya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi bukan begini caranya, Van." Karin segera malangkahkan kaki untuk keluar dari Lift itu saat pintu lift terbuka.


Tapi Revan malah menahan tangan Karin, "Aku akan memperjuangkan kamu, sayang. Kita belum putus. Kamu tidak bisa melakukan ini sama aku."


Sampai pintu lift itu tertutup kembali, "Revan!"


Revan memegang kedua bahu Karin, "Kamu cinta kan sama aku? Lebih baik kamu ikut aku, aku akan urus perceraian kamu dengan Bara. Aku sangat merindukan kamu, Karin." Revan menatap intens kedua mata Karin.


Karin terdiam, dia tidak mengerti mengapa hatinya terasa hambar saat ditatap seperti itu oleh Revan. Sama sekali tidak membuat hatinya bergetar atau jantungnya terus berdetak seperti dia sedang bersama Bara.


Karin tidak menyadari saat Revan mencondongkan wajahnya untuk mencium Karin, namun Karin menahan bibir Revan dengan jemarinya, dia menjauh jaraknya saat tiba-tiba terbayang sekilas saat Revan berciuman mesra dengan Elsa. Sampai Karin sangat shock, begitu jelas bayangan adegan yang sangat int*m itu di apartemen Revan.


Karin memegang kepala, dia merasakan kepalanya yang begitu sangat kesakitan sambil berjongkok di sudut lift itu. "Arrrghhh... " Karin mengerang kesakitan sambil terus memegang kepalanya.


Revan sangat panik melihat Karin yang kesakitan seperti itu, "Karin, kamu kenapa sayang?"


Karin menepis tangan Revan yang memegang pundaknya, "Jangan sentuh aku!" Bayangan dikepalanya terasa begitu nyata sampai dia merasa marah saat Revan menyentuhnya.


"Argghhh..." Karin sangat merasakan kesakitan luar biasa dikepalanya.


"Karin!" Revan tidak tau harus berbuat apa.


Namun kini pandangan Karin terasa begitu gelap, sampai tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2