
Jesika terus mengumpat dirinya, mengatai dirinya sendiri, "Dasar bodoh! Dasa bodoh!" Jesika mengacak-acak rambutnya sendiri mengingat kejadian semalam dia berani menantang Jo.
Jesika sangat tidak memiliki keberanian untuk bertemu Jo atau menghubunginya, semalam setelah selesai berteleponan dengan Karin, Jesika tidak berbicara sepatah katapun, dia hanya menyimpan obat dan hasil penelitian klinisnya di atas meja dan langsung pergi dari apartemen Jo, entah mengapa dia berharap Jo mengejarnya meminta dia jangan pergi atau mengatakan cintanya. Dia membenci dirinya sendiri mengapa setelah move on dari Bara, hatinya malah pindah ke Jo yang jelas-jelas Jo tidak akan pernah mementingkan perasaan cintanya sendiri, jadi dia tidak mungkin memperjuangkan cintanya.
"Arrrghhh... kenapa aku harus jatuh cinta kepada makhluk seperti itu? Apa aku harus bersikap seperti ke Bara dengan terang-terangan mengungkapkan perasaan lagi walaupun di tolak berkali-kali? Apa tidak bisa aku diperjuangkan oleh seorang pria?" Jesika merasa kesal pada dirinya sendiri yang harus bucin duluan pada cowok.
Tok-tok-tok...
Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" Jesika membereskan rambutnya yang acak-acakan.
Orang itupun masuk, ternyata dia Raka, calon suaminya Jesika.
"Raka? Mau apa kamu kesini?" tanya Jesika dengan nada kesal karena dia sama sekali tidak mencintai Raka walaupun sebenarnya Raka berparas tampan.
"Tentu saja bertemu calon istriku, hari ini kita harus melakukan fitting baju pengantin dan memilih cincin pernikahan kita." Ternyata Raka datang ingin menjemput Jesika untuk segera melakukan fitting baju pengantin mereka dan juga membeli cincin pernikahan.
Bahkan Raka menunjukan beberapa design undangan pernikahan mereka, "Kamu mau design undangan pernikahan kita yang seperti apa? Kamu boleh pilih designnya?"
"Terserah kamu saja." Jesika sama sekali tidak bersemangat untuk melakukan itu semua, padahal pernikahan mereka tinggal satu bulan lagi.
Bahkan saat fitting baju pengantin, dia pasrah saja mau memakai gaun yang mana asal pas di tubuhnya yang ramping. Dia pura-pura tersenyum saat Raka mengatakannya cantik.
__ADS_1
Lagi-lagi Jesika pasrah saja saat Raka membawanya ke toko emas, dia menunjukkan beberapa sepasang cincin pernikahan pada Jesika, Jesika hanya mengangguk saja. Ingin sekali dia bilang pada Raka tidak bisa melanjutkan acara pernikahan mereka, tapi dia tidak ada keberanian untuk menghadapi papanya yang sangat keras kepadanya.
...****************...
Jo juga saat ini pikirannya menjadikan bercabang antara memikirkan pekerjaan dan perasaan pribadinya. Dia memang tau dari dulu menyukai Jesika tapi dia sudah meyakinkan dirinya didalam hati untuk menyukainya sewajarnya saja, dia tidak ada keinginan untuk memperjuangkannya karena dia tau akhirnya akan menyakitkan makanya dia lebih fokus mementingkan pekerjaannya, sampai akhirnya di kepalanya hanya kerja, kerja, dan kerja.
"Jo!"
Perkataan Bara mengagetkan Jo.
"Mana hasil penelitian Jesika?"
Jo memberikan satu pil terbungkus plastik dan sebuah kertas yang berisi hasil penelitian klinis yang telah dilakukan Jesika pada pil itu. Ternyata di surat itu menunjukkan bahwa pil yang diberikan Karin kemarin mengadung polonium, sebuah racun yang bisa mematikan secara perlahan.
"Detektif Anan sedang mengawasi adiknya David, Detektif Anan bilang ada dua orang yang sedang mengawasinya, sepertinya mereka suruhan dari Elsa. " Bara melaporkan pekerjaan Detektif Anan.
"Terus saja awasi mereka, dan lindungi adiknya David. Jangan sampai dia terluka." perintah Bara dengan tegas.
"Iya, tuan." Jo segera mengirim pesan pada Detektif Anan.
[Tolong awasi terus mereka, jangan sampai adiknya David terluka.]
...****************...
__ADS_1
Bara menemui David kembali di ruang kunjungan.
"Sudah aku bilang aku tidak ingin bertemu denganmu." bentak David.
Bara memberikan sebuah tulisan pada David, dia tau saat ini David ketakutan takut ada mata-mata yang mendengarnya karena Elsa bilang dia akan terus mengawasi David.
Aku tau adikmu sedang terancam, aku akan melindunginya. Jadi aku mohon kerjasamanya denganmu. Aku tau Elsa yang menyuruhmu untuk mencelakai Karin, jika kamu bersedia bekerjasama denganku aku ingin kamu menjadi saksi tentang kejahatan Elsa. Aku berjanji adikmu akan aman berada dalam perlindunganku. Jawab saja dengan sebuah anggukan jika kamu menyetujuinya.
Setelah membaca tulisan dari Bara, David hanya dengan pelan mengangguk karena dia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Bara tersenyum melihat David mengangguk. Dia tidak ingin banyak menanyai David lagi, baginya David mau jujur mengakui kejahatan Elsa itu sudah lebih dari cukup.
David menulis di kertas itu.
Aku menyimpan rekaman pembicaraan aku dan Elsa di bagasi motorku yang ada di rumah omku. Tapi kamu janji harus melindungi adiku.
Bara mengambil kertas itu dan mengangguk setelah membaca tulisan dari David.
Setelah bertemu dengan Bara, David kembali masuk ke sel penjara, di balik jeruji besi itu dia merenung sambil memeluk kedua lututnya, dia merasa lega karena adiknya akan dilindungi Bara. Sebenarnya dia ingin sekali bertemu dengan Karin untuk meminta maaf padanya, tapi dia tidak enak pada Bara.
David tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak kencang lebih kencang dari biasanya, dan disetiap detakan itu rasanya sangat menyakitkan, "Arrrggghhh... " Dia mengerang kesakitan memegang dadanya.
Sampai David terkapar di lantai dengan kaki dan tangannya tidak bisa diam terus mengejang, dia merasakan kesakitan kian menjalar ke seluruh tubuhnya. "Arrrgghhh... " Rasa sakit itu sungguh teramat luar biasa.
__ADS_1
Rupanya suruhan Bima berhasil mencampurkan racun ke makanan David tadi siang. Sesuai perintah dari Elsa.