
Karin sudah selesai mandi, dia memang paling suka berpenampilan tomboy, tapi mengingat kini dia menjadi seorang istri, dia harus selalu menarik di depan Bara, apalagi diluar sana pasti banyak pelakor merajalela, dia tidak rela jika Bara tergoda oleh wanita lain seperti Revan yang tergoda oleh Elsa yang berpenampilan feminim. Karin memutuskan memakai pakaian yang anggun, sesuai janjinya juga kepada papanya yang selalu menyuruh Karin untuk berpenampilan seperti wanita.
Bara yang sedang menunggu di meja makan dia terfana saat melihat penampilan sang istri. Karin sangat grogi karena Bara terus saja memandanginya tanpa berkedip, dia duduk disebelah Bara.
"Aku mau kamu berpenampilan seperti itu hanya di rumah saja, aku tidak ingin ada pebinor di antara kita. Melawan satu pebinor saja membuatku emosi, apalagi kalau banyak." Pebinor yang di maksud Bara adalah Revan.
"Hmm." Hanya itu jawaban dari Karin, dia berharap Bara memuji penampilannya, tapi malah mengkritiknya.
"Aku begini karena tidak ingin kehilangan kamu karena kamu adalah milikku." Bara menambahkan perkataannya membuat hati Karin berbunga-bunga.
Karin mencicipi masakan Bara, ternyata Bara sangat pandai memasak, "masakanmu enak sekali,"
Bara tersenyum lega karena Karin menyukai masakannya.
"Lain kali ajari aku memasak!" pintu Karin nada manja.
"Iya, nanti aku mengajarimu."
Setelah selesai sarapan pagi, Bara menerangkan apa saja yang harus dilakukan Karin jika nanti dia menjabat sebagai Direktur Utama , memang tugas Karin merangkap dengan CEO. Bara terlihat seperti seorang guru yang sedang mengajari muridnya, Karin hanya manggut-manggut walaupun ada beberapa hal yang membuatnya tidak mengerti dan mengantuk sampai dia terkantuk-kantuk beberapa kali.
Bara menyentil kening Karin membuat Karin terperanjat, "Fokus!" suruh Bara dengan tegas.
Karin baru menyadari di atas meja terdapat tumpukan buku yang begitu banyak.
"Untuk apa buku-buku ini?" Karin melototkan matanya memandangi buku-buku disana, kalau saja buku bisa hidup mungkin sudah pada berlarian karena Karin memeloti mereka dengan tatapan kesal.
__ADS_1
Bara menghela nafas, untung saja dia istrinya jadi Bara bisa bersabar sedikit padahal di kantor dijuluki killer boss, "Kamu harus mempelajari semuanya, kamu bilang ingin belajar cara mengurus perusahaan dengan baik, Seorang direktur harus paham betul dengan tugas-tugasnya." Bara duduk disebelah Karin.
"Tapi ini terlalu banyak, Bara!" Karin sangat keberatan untuk membaca buku sebanyak itu.
"Disini juga ada berkas-berkas tentang K Grup." Bara menepuk-nepuk buku itu. "Ayo cepat baca!"
"Ya ampun, bagaimana bisa aku membaca semua ini, kasian mataku. " protes Karin lagi.
Bara tak menjawab hanya menatap tajam ke arahnya seperti seorang guru yang sedang menatap muridnya yang malas.
Karin mendengus kesal, dia terpaksa mengambil bagian buku paling atas sambil terus menggerutu "Ya ampun, aku baru ingat kamu itu menyebalkan." Karin mulai membaca buku yang dia pegang sambil mengerucutkan bibirnya.
Bara tersenyum tipis dia paling senang melihat Karin mengerucutkan bibirnya rasanya dia ingin terus mencium bibirnya berkali-kali. Tapi menghadapi Karin yang tidak bisa di atur memang dia harus sedikit tegas kalau masalah dalam pekerjaan karena masa depan K Grup berada di tangan Karin.
"Hadiah apa?" Karin menjadi penasaran dengan hadiahnya.
Bara memperlihatkan foto motor sport Karin yang sudah dibenarkan, dulu Pak Tian pernah bercerita kepada Bara kalau motor itu adalah hadiah ulang tahun dari mamanya Karin, karena itu Karin tidak ingin mengganti motornya.
"Ya ampun kamu sudah membenarkan motorku!" seru Karin sambil memeluk Bara.
"Iya, motor itu ada di garasi tapi ingat jangan dulu di pakai sekarang dan kamu jangan main trek-trekan lagi!" Bara memperingatkannya, sikap Bara malah mengingatkan Karin pada papanya, dia begitu karena sangat menyayanginya.
Karin hanya mengangguk, dia menjadi bersemangat untuk membaca buku-buku yang bertumpukan di atas meja.
Sudah hampir tiga jam Karin membaca buku-buku tersebut sambil menguap. "Huammm... " Dia melirik Bara yang tak bersuara sedikitpun di sampingnya, rupanya dia tertidur, dia memang tidak bisa tidur semalam gara-gara Karin terus memeluknya semalam. Menahan hasrat itu rasanya sangat menyiksa diri.
__ADS_1
Bara tertidur dengan posisi kepala sedikit menunduk dan bersilang tangan.
Dalam posisi tidur pun dia masih terlihat keren. Karin memuji penampilan Bara, walaupun dia selalu berpakaian rapi tapi dia memang terlihat keren dan stylish.
Karin menyimpan berkas yang yang dia pegang, karena sudah selesai membaca semua buku disana. Dia dengan hati-hati mencium pipi Bara.
Cup!
Karin terkejut saat tangan Bara dengan cepat menahan pinggangnya.
"A-aku sudah selesai mempelajari semua buku itu." Karin mencoba mencairkan suasana saat Bara menahan pinggang Karin membuatnya tidak bisa bergerak.
"Baguslah, sekarang giliran aku mempelajari tentang apapun di dalam dirimu." Bara menatap Karin dengan intens.
Karin menelan saliva mendengarnya, di dalam situasi seperti ini dia bingung harus menolak atau mengiyakan. Antara mau atau tidak. Dan antara takut tapi penasaran.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...
__ADS_1