
Karena hari ini Karin diperbolehkan untuk pulang. Di rumah sakit itu Doni menceritakan semuanya pada Karin tentang kematian Pak Tian dan pernikahan dia dengan Bara, juga kecurigaannya pada Elsa dan Bu Zora yang mungkin saja menjadi penyebab kematian sang papa, walaupun terasa berat tapi Karin harus siap mendengarkannya.
Tentu saja Karin menangis histeris saat mendengar kematian sang papa. Hatinya terasa begitu sangat perih dan sesak, seakan dia menyesal telah tersadar dari komanya karena orang yang paling penting dalam hidupnya kini telah tiada.
"Papa... Papa... " Karin tiada hentinya memanggil-manggil sang papa.
Butuh beberapa jam dia berhenti menangis, dia sadar dia tidak bisa terpuruk seperti ini, dia harus balas dendam dan menjebloskan ibu dan kakak tirinya jika benar mereka yang telah membuat papanya meninggal. Walaupun dia tidak menyangka sama sekali kalau ternyata orang-orang yang selama ini dia anggap menjadi ibu dan kakak yang baik ternyata telah tega membunuh papanya.
"Karena itu saya harap nona tidak membenci tuan Bara, dia yang sudah menolong nona, Taun Tian sangat mempercayakan nona padanya, Karena itu Tuan Bara yang menjadi Direktur sementara di K Grup agar K Grup tidak jatuh ke tangan Elsa. Tuan Tian meminta Tuan Bara untuk menjaga dan melindungi nona." Doni sebagai orang kepercayaan Pak Tian telah menjelaskan semuanya.
Karin hanya terdiam, dia tidak bisa berfikir jernih saat ini, dia sangat terpukul dengan keadaan ini, sebuah kenyataan pahit yang harus dia terima tentang kematian papanya dan sekarang dia telah menjadi istri seorang Bara, sebuah pernikahan yang tidak diharapkan.
Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat. Aku tidak boleh menangis.
****************
Karin diantar Doni ke rumah Bara, awalnya Karin menolak untuk tinggal bersama dengan Bara, dia merasa tidak nyaman hidup bersama dengan seorang pria. Dia juga belum tau bagaimana menjelaskan semua ini pada Revan nanti sementara dia belum sempat membeli ponsel.
"Saat ini status nona adalah istri Tuan Bara, orang-orang di K Grup sudah tau itu. Jika kalian tinggal di tempat berbeda akan terasa aneh."
Akhirnya Karin menurutinya.
Dan malam ini, Bara dan Karin duduk di kursi yang berbeda, mereka hanya terdiam dan tidak mengucapkan satu patah katapun.
Oke, rilekskan dirimu Karin. Kau harus kembali ke sikapmu lagi. Jangan cengeng dan jangan jadi wanita yang lemah. Karin menyemangati dirinya sendiri.
Karin memperhatikan Bara yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya.
"Ehmmm... " Karin mencoba mencairkan suasana. Membuat Bara menoleh ke arahnya.
"Terimakasih sudah banyak membantuku selama ini, aku baru tau ternyata papa sudah menikahkan kita. Sungguh membuat aku shock sampai sekarang. Emm... masalah ciuman yang kemarin, aku ingin kita melupakannya... "
__ADS_1
Bara malah memotong perkataan Karin, dengan polosnya Bara menjawab ucapan Karin "Mengapa harus melupakannya bahkan kita sah-sah saja melakukan lebih dari itu."
Glek!
Karin menelan salivanya mendengar tanggapan dari Bara.
"Masalahnya aku sudah punya pacar, dia sangat setia padaku , tidak mungkin aku melukainya."
Bara menutup laptopnya karena pekerjaannya sudah selesai, "Apa kamu yakin dia setia? Jangan mempercayai orang seratus persen yang ada kamu akan terpuruk jika kepercayaamu itu telah dikhianati."
"Tentu saja aku mempercayainya." Karin sangat mempercayai Revan.
"Karena kamu istriku kamu harus menuruti semua aturanku. Yang paling utama kamu harus menjaga sikap, kamu ahli waris K Grup, banyak mata yang tertuju padamu, artinya kamu tidak boleh mencemarkan nama baikmu dengan berkencan sama pria lain sementara kamu memiliki suami." Bara menyikapi Karin dengan santai .
Karin hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat, mau tidak mau perkataan Bara ada benarnya.
"Hmm... baiklah, setelah aku menjadi direktur nanti, kamu boleh menceraikan aku. Lagian pernikahan kita ini kan tidak kita harapkan. Aku tau dulu kamu menolak juga perjodohan itu. Mungkin kamu merasa tidak enak menolak permintaan papa untuk menikahiku."
Karin membulatkan matanya mendengarkan jawaban dari Bara, dia harus membuat Bara ilfil padanya. "Aku ini tidak ada bagus-bagusnya. Jadi tidak layak untuk dipertahankan. Aku wanita yang susah diatur."
"Tidak masalah." Bara sama sekali tidak keberatan dengan hal itu.
"Aku tidak bisa memasak." Karin menambahkan apa saja kelemahan dirinya.
"Tidak apa-apa, aku bisa memasak untukmu."
Karin menghela nafas, dia fikir pria seperti Bara akan membutuhkan wanita yang sempurna, dia berfikir lagi untuk mencari kekurangan dirinya sendiri. "Aku juga tidak suka berdandan."
"Tidak apa-apa, kamu sudah terlahir cantik."
Bukannya membuat Bara ilfil , malah hidung Karin yang terbang mendapat pujian dari Bara.
__ADS_1
"Aku juga sangat boros." Karin yakin hampir semua pria biasanya tidak menyukai wanita yang boros.
"No problem, aku punya banyak uang. Kamu boleh membeli apapun yang kamu mau. "
Karin sangat frustasi karena Bara tidak mempermasalahkan kelemahannya itu, dia mencari cara lagi agar Bara ilfil padanya dan segera menceraikannya jika dia sudah menjadi direktur nanti, walaupun kadang jantungnya berdetak hebat saat di dekat Bara atau ada sekilas ada bayangan di saat dia bersama Bara, tapi dia tidak ingin terlalu memikirkannya mungkin dia fikir itu hanya ada dalam bagian di mimpinya saja. Dia bisa gila jika berusaha memikirkankan yang jelas-jelas dia yakin tidak ada masalah di dalam ingatannya.
Akhirnya Karin menemukan sebuah ide gila, ada satu hal yang pastinya semua pria akan ilfil dan pasti akan menceraikannya, "Aku sudah tidak perawan lagi."
Bara membulatkan matanya saat mendengar pengakuan dari Karin. Sampai Bara mematung tak berkata apa-apa.
Karin terkekeh melihat reaksi Bara yang terkejut mendengarnya, "Aku tau sekali kamu pria yang sangat baik, kamu tidak pantas mendapatkan wanita nakal dan kotor seperti aku."
Karin sangat puas melihat Bara yang terdiam seperti itu. Dia segera berjalan menuju kamarnya.
Yes akhirnya aku berhasil membuat dia ilfil kepadaku. kata hati Karin sambil membuka pintu kamar. Dia terkejut tiba-tiba Bara menahan pintu saat dia akan menutup pintu kamarnya.
"Perkataan saja tidak cukup, kamu harus membuktikannya kalau kamu memang tidak perawan lagi."
Karin membelalak mata saat mendengar tantangan dari Bara, bagaimana bisa dia membuktikan ucapannya sementara dia masih perawan, yang ada keperawanannya akan terenggut.
Bara malah balik ingin mengerjai Karin karena dia yakin Karin masih perawan, dulu saja di menjerit histeris saat melihat handuknya melorot, membuktikan bahwa dia tidak pernah melihat 'itu' sama sekali. Walaupun iya dia tidak perawan, Bara tetap tidak akan mempersalahkannya karena yang dia butuhkan dan dia inginkan bukan perawan tapi Karin.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...
__ADS_1