
Di sebuah apartemen terdapat dua sejoli yang sedang bergulat dengan panas hingga terdengar suara de sa han yang menggema di dalam sana.
Sang pria dengan begitu gagah menguasai wanita yang berada di bawahnya dengan sebuah gerakan yang indah membuat sang wanita yang berada dibawahnya terus meraung keenakan. Dan akhirnya terdengar suara erangan begitu kuat saat keduanya sama-sama menumpahkan sesuatu di bawah sana.
"Argghhh... "
Wanita yang bernama Jihan itu dibuat tidak berdaya oleh sang kekasih hatinya, Raka. Mereka harus menumpahkan seluruh hasrat mereka karena jika Raka sudah menikah nanti, mereka tidak akan bebas bertemu.
Di balik selimut itu Jihan memeluk erat kekasihnya, "Aku sangat sedih karena besok kamu akan menikah."
Raka membalas pelukan kekasihnya itu, "Jangan sedih, aku tidak akan meninggalkan kamu, apalagi disini ada calon bayi kita." Raka mengusap perut Jihan yang masih ramping itu, rupanya Jihan sudah mengandung sekitar 1 mingguan.
"Tapi kamu janji ya begitu kamu mendapatkan warisan dari papa kamu itu, kamu akan segera menceraikan wanita itu." Jihan mengatakannya dengan penuh tuntutan.
"Iya, sayang." Jawab Raka sambil tangannya tidak bisa diam memainkan kedua aset berharga milik kekasihnya itu.
Raka diberi syarat akan mendapatkan warisan jika dia menikah dengan gadis pilihan papanya, yaitu Jesika. Membuat Raka tidak bisa menolak perjodohan itu.
"Tapi kamu juga janji, selama kamu menikah dengan wanita itu, jangan pernah menyentuhnya." Jihan tidak rela jika Raka menyentuh Jesika nanti.
Seketika Raka menghentikan aktivitasnya, dia juga tidak tau apa bisa dia tahan jika tidak menyentuh wanita itu, apalagi setelah beberapa kali bertemu dengannya, dia mulai ada ketertarikan kepada wanita yang dijodohkan dengannya itu. Apalagi Raka sudah mengungkapkan soal isi hatinya pada Jesika tadi.
...****************...
Jesika dan Jo sedang menonton film action romantis di apartemen Jo, mereka begitu asik menonton sambil ngemil popcorn yang sengaja mereka beli agar suasananya seperti di bioskop.
Jesika sebentar-sebentar melirik Jo yang tengah asik menonton, Jesika merasa mereka tidak seperti sedang berkencan tapi terasa seperti hari-hari biasa yang sering mereka lalui.
__ADS_1
"Hmm... apa seperti ini bisa dikatakan berkencan?" tanya Jesika, dia malah bertanya begitu pada Jo padahal dia juga tau Jo tidak pernah berkencan dengan siapapun.
"Memangnya kenapa?" tanya Jo, tidak mengerti.
"Ah tidak, lanjutkan saja menontonnya." Jesika tidak mengerti malah bertanya seperti itu pada Jo, bagaimana kalau Jo mengira dia ingin bermesraan dengannya.
Mata mereka terfokuskan begitu saja saat melihat adegan mesra di film itu, membuat mereka panas dingin melihatnya, apalagi saat di Film itu mulai membuka pakaian mereka satu persatu, membuat Jesika malu sendiri.
Dengan sigap Jesika mempercepat durasi pas adegan ranjang itu, "Hmm kita percepat saja, lebih baik langsung ke inti ceritanya aja."
"Tapi jadi gak seru Jes, aku malah tidak mengerti dengan rencana mereka." Karena sepasang kekasih di film itu membicarakan rencananya sambil berhubungan badan.
"Ya kan nanti tau di endingnya."
Jo mengeluh, " Ya sudah kita nonton endingnya saja."
"Ya gak akan seru lah, masa cuma nonton endingnya saja."
"Ya ampun, aku pikir kamu masih polos, Jo. Tapi ternyata... " Jesika tidak meneruskan perkataannya begitu menyadari dengan apa yang sudah dia ucapkan kepada Jo, membuat dia mengerutkan dahinya begitu menyadari ucapannya tersebut.
Jesika mencoba mengalihkan pembicaraannya, dia segera bangkit "Emm... aku mau ambil cemilan lagi."
Namun Jo menarik tangannya sehingga dia terduduk kembali, jantungnya dag did dug saat Jo memandang kedua bola matanya, membuatnya terhipnotis dengan tatapan Jo yang mampu membuatnya terpaku, apalagi dia baru menyadari saat kedua bibir mereka menempel.
Jesika menghayati ciuman itu, dia membukakan mulutnya membiarkan Jo masuk ke dalam, lidah itu kini berbelit dengan mesra mengbsen di setiap sudut bibirnya, jiwanya begitu terhanyut membuat Jesika membalas ciuman Jo. Ciuman itu semakin terasa panas karena mereka telah saling berbalas, membuat mereka saling menekankan tengkuk leher mereka untuk terus memperdalam ciuman itu.
Suara decapan saat kedua bibir mereka yang saling berpagut terdengar begitu sangat indah, begitu sangat menggairahkan. Jo melepaskan ciuman saat merasa badannya terasa panas, seakan ada dorongan di dalam tubuhnya ingin berbuat lebih dari itu, dia menatap Jesika dengan tatapan lembut dan memegang wajahnya. "Aku cinta kamu, Jes. Dari dulu perasaan aku tidak berubah. Kamu adalah cinta pertamaku."
__ADS_1
Mata Jesika berkaca-kaca mendengarkannya, "Maaf, aku tidak pernah menyadari perasaan kamu, Jo. Tapi sejujurnya saat ini di hatiku ada kamu, aku selalu memikirkan kamu, dan rasanya aku hampir gila jika dalam satu hari aku tidak bertemu dengan kamu apalagi tidak mendengar kabar tentang kamu." Jesika menangis mengatakannya, dia terisak-isak, "Aku tidak tau bagaimana jadinya hidupku nanti tanpa kamu, Jo. Selama ini kamu yang selalu menemani aku dan melindungi aku."
Jo memeluk Jesika membiarkan dia menangis di dalam pelukannya. Jo juga tidak bisa membendung air matanya, dia juga tidak tau hidupnya bagaimana nanti tanpa kehadiran Jesika. Jika waktu bisa diputar kembali, dia pasti akan memperjuangkan cintanya pada Jesika. Namun semuanya sudah terlambat.
Malam itu, mungkin karena rasa cinta mereka begitu sangat menggebu dan apalagi malam ini adalah malam terakhir untuk mereka bisa sedekat seperti ini, mereka sama-sama terbaring di atas ranjang yang sama walaupun tidak melakukan apa-apa, Jo menahan diri karena tidak ingin menghancurkan masa depan Jesika, dia tidak ingin wanita yang selama ini jaga dia hancurkan begitu saja dalam satu malam walaupun dia memiliki peluang besar untuk melakukannya. Jo hanya memeluk Jesika yang sedang tertidur di dekapannya. Jesika memang sangat merasa nyaman setiap bersama dengan Jo. Sementara Jo, dia tidak bisa tidur, dia ingin terus lebih banyak memandangi Jesika dalam waktu yang lama dan merasakan hangatnya pelukan Jesika yang tidak akan dia dapatkan lagi.
Namun saat mendekati waktu pagi, rasa ngantuk mulai menguasainya, tanpa sadar dia terlelap dengan terus mendekap tubuh Jesika.
Sekitar jam 7 pagi, Jo terbangun, dia kaget saat tidak mendapati Jesika disana, padahal dia semalam memeluknya dengan erat.
Jo mencari keberadaan Jesika di apartemennya, rupanya Jesika sudah pergi dari sana. Seketika tubuh Jo terasa lemas saat menyadari hari ini adalah hari pernikahan Jesika dengan Raka, dia menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan wajah yang memancarkan kesedihan, sampai dia terduduk di sudut apartemen itu, kedua tangannya memegeng erat kepalanya sambil menunduk. Dia belum bisa merelakan Jesika kini harus menjadi milik orang lain.
Drrrrtt... Drtttt...
Ada panggilan telepon dari Bara.
Jo segera mengangkat telepon dari Bara, "Hallo... "
"Jo, Jesika kecelakaan."
...****************...
...Besok bonchap terakhir...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
__ADS_1
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...