
"Melihat Bara seperti itu membuat aku sakit, Jo. Aku berusaha buat merelakannya, tapi aku tidak rela jika dia sakit hati. Dia tidak pernah jatuh cinta, tapi kenapa sekalinya jatuh cinta malah menyakitkan buat dia. Dan aku juga sakit melihatnya tapi aku pura-pura tegar didekatnya." Jesika terisak , dia memikirkan Bara yang baru keluar dari ruangan Direktur Rumah Sakit itu 10 menit yang lalu.
Jo menghela nafas dengan pelan, "Dulu aku mengkhawatirkannya, karena dia tidak bisa hidup normal seperti manusia lainnya, dia lebih senang hidup sendirian, menghindari setiap wanita yang mendekatinya. Aku khawatir dia tidak akan menikah. Apalagi Tuan Ferry, dia begitu sangat mengkhawatirkan Tuan Bara memiliki gangguan kepribadian. Tapi setelah aku melihatnya seperti ini, aku bisa bernafas lega sekarang. Aku yakin Tuan Bara bisa mengatasi masalahnya."
Jesika menarik nafas,lalu menghembuskannya dengan pelan, "Aku malas pulang ke rumah. Aku pusing setiap pulang ke rumah, pasti di suruh untuk bertemu dengan Raka. Aku tidak mau dijodohkan."
Jo malah mengacak-acak rambut Jesika, "Harusnya kau nurut sama orang tuamu. Mereka begitu karena sangat memikirkan masa depanmu."
"Jo!" Protes Jesika, dia membereskan kembali rambutnya yang berantakan, baginya Jo sudah seperti kakak yang selalu melindunginya.
"Jo, malam ini menginap di apartemen kamu lagi ya?" Jesika mengedipkan matanya.
Tapi Jo malah menolak "Ah tidak bisa. Aku takut ketahuan sama Om Gani, nanti di kira aku macam-macam sama kamu."
"Ya ampun Jo, masa kamu mau macam-macam sama aku, gak mungkinlah." Jesika memang pernah beberapa kali menginap di apartemen Jo, karena disana ada dua kamar. Jo tidak terlihat seperti pria dewasa baginya karena pandangannya datar-datar saja. Mungkin Jo tidak memiliki otak mesum sama sekali.
Jesika juga tidak pernah pacaran karena dari dulu dia fokus mengejar cinta Bara. Jadi dia juga polos dalam masalah percintaan.
Aku pria normal, Jesika.
"Nanti tinggal bilang aku menginap di rumah teman, beres kan? Nanti aku masakin spagetti buat kamu. " Jesika memang bisa memasak Spagetti saja, makanya hampir tiap hari mengirim spagetti buat Bara, karena itu Bara bosan dan tidak mau memakannya lagi padahal dulu dia suka sekali spagetti, tapi Jo selalu setia memakannya sampai habis untuk menghargai usaha Jesika.
__ADS_1
Drrtt... Drrtt...
Jo mendapatkan pesan dari Detektif Anan.
[Saya sudah menemukan data dan alamat orang-orang terdekat David,]
Jo segera membalas pesan dari Detektif Anan.
[Oke, nanti saya ke kantor anda sebentar lagi]
"Jesika, sepertinya aku harus pergi." pamit Jo.
"Ya ampun, bagaimana denganku? Kamu tidak ingin membantuku?"
Akhirnya Jo sampai di Kantor milik Detektif Anan.
"Sepertinya David sering berpindah-pindah tempat makanya susah untuk ditemukan. Saya baru cek sebagian tempat, nanti besok saya sambung pencariannya lagi." Detektif Anan memberikan data itu ke Jo.
Jo terperangah ternyata orang terdekat dengan David banyak juga, ada juga dari luar kota. Di mulai dari beberapa saudara ayah dan ibunya, juga teman-temannya.
"Padahal aku sudah mengerahkan anak buahku untuk mencarinya ." sambung Detektif Anan.
__ADS_1
"Oke, biar nanti aku bantu mencarinya juga." Jo memperlihatkan obat yang dikonsumsi oleh ayah mertuanya Bara.
"Menurutmu bagaimana caranya meracuni seseorang dengan obat? " tanya Bara .
Detektif Anan meraih obat itu dan memperhatikan dengan seksama "Dengan membuat racun itu mirip sekali dengan obat yang asli, otomatis tidak ada yang curiga. Saya pernah menangani kasus seperti ini, ada sebuah racun yang mematikan dengan perlahan bahkan bisa sampai tahunan, akibatnya si korban mengalami sakit-sakitan dalam waktu yang lama."
"Itu artinya kita harus menemukan obat palsu itu untuk membuktikannya? " tanya Jo.
"Ya tentu saja, itu menjadi bukti yang sangat penting. Terkadang obat itu setelah masuk kedalam tubuh, tidak terdeteksi adanya racun, apalagi pembuatnya sangat pintar. Yang paling utama harus menemukan racun itu dulu,"
...****************...
Jo memasuki apartemennya, dia ingin segera memakan spagetti buatan Jesika, tapi ternyata orang yang menjanjikan untuk memasak spagetti itu malah tertidur di sofa, dengan kondisi televisi yang masih menyala, juga di meja berserakan bahan-bahan spagetti yang masih mentah.
Jo hanya tersenyum tipis melihatnya, Jesika pasti kelelahan sekali, Jo memindahkannya ke kamar dengan menggendong tubuhnya dan berjalan dengan pelan agar dia tidak terbangun.
Jo membaringkan tubuh Jesika diatas kasur, namun tiba-tiba Jesika menarik kerah bajunya sambil mengingau "Pokoknya aku tidak mau dijodohkan, papa!"
Sampai tak sengaja bibir Jo menempel pada bibir Jesika, Jantung Jo berdegup begitu kencang seakan jantungnya itu akan segera copot, dengan gugup Jo segera melepaskan tangan Jesika dan bangkit. Wajahnya sangat pucat sekali karena baru pertama kalinya dia merasakan kelembutan bibir itu. walaupun hanya sekedar menempel tapi ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.
Jo segera menyelimuti Jesika dan terburu-buru meninggalkan kamar itu, bagaimanapun dia pria normal, tidak bisa lama-lama berada di kamar wanita.
__ADS_1
Jo memegang bibirnya dengan wajah yang semakin terlihat pucat, "Ah tidak, itu bukan ciuman. Hanya menempel saja." Jo tidak ingin merasa bersalah kepada Jesika karena telah merenggut ciuman pertamanya.
Jo ingin menghubungi Bara masalah kabar terkini dari Detektif Anan, tapi rasanya dia tidak ingin mengganggu Bara yang hatinya sedang terluka.