
Karena terus didesak akhirnya omnya David berkata jujur pada Jo kalau David baru dua hari tinggal di rumahnya, dia tidak tau permasalahan David secara detail, hanya tau saat ini David memiliki masalah yang serius sampai bersembunyi di rumah omnya membawa sang adik.
"Lalu dimana David sekarang?" tanya Jo.
"Di-dia sedang ke pasar, kemarin dia dapat pekerjaan disana." jawab Omnya David dengan terbata-bata.
David memang saat ini ada di pasar, tepatnya di halte bis dekat pasar untuk menunggu Elsa yang akan memberinya uang.
Jo dan Detektif Anan segera pergi ke pasar untuk mencari David, karena kondisi pasar yang begitu luas, mereka memutuskan untuk berpencar mencari David.
Jo memang tidak memberitahu Bara soal ini karena dia tau Bara sedang ada dalam masalah juga harus mengurus dua perusahaan. Dia hanya meminta izin pada Bara dengan alasan ada kepentingan pribadi.
Ternyata kios di pasar itu banyak sekali, belum lagi banyak bangunan yang besar disana sampai mereka kesulitan untuk mencari keberadaan David padahal mereka sudah mencarinya lebih dari satu jam.
Jo melihat ada halte bis di depan pasar sana, dia melihat ada seseorang yang duduk memakai jaket biru sambil terus menunduk. Jo sangat penasaran dengan orang itu dan terus berjalan mendekatinya, iya benar dia David, David saat itu merasa ada orang yang sedang berjalan di belakangnya.
Sementara itu Bima sudah tiba di sebrang halte bis itu dengan memakai pakaian serba hitam dengan wajah yang ditutupi masker hitam.
David yang merasa ada seseorang yang mengawasinya dari belakang segera berdiri dan menoleh ke belakang, dia melihat Jo yang jaraknya semakin dekat dengannya. Dari tatapannya Jo, David tau bahwa Jo sedang mengincarnya. Tanpa berfikir panjang David segera berlari ke area pasar agar mudah bersembunyi.
"Arrghh... sial!" Jo mengumpat dan segera mengejar David.
Bima yang melihat semua itu hanya mengerutkan dahinya, ternyata ada yang mengincar David selain dirinya. Dia memasukkan pisau lipatnya ke saku jaket dan turun dari mobilnya, dia harus memastikan David tutup mulut untuk selamanya. Bima meraih pipa besi yang dia simpan sudah dia sediakan di mobil.
Sementara itu Jo masih terus mengejar David, dia terlalu fokus mengejar David sehingga tidak sempat menghubungi Detektif Anan.
Jo melewati kios buah-buahan disana, dia langsung membawa buah durian sambi terus berlari "Nanti aku bayar " teriaknya sambil berlari kepada pedagang penjual buah-buahan itu. Pedagang buah-buahan itu hanya bisa melongo karena ada orang yang sedang belari dan langsung membawa duriannya dengan cepat.
Jo dengan kekuatan penuh melempar durian itu ke punggung David. Saat itu mereka ada di belakang pasar yang agak sepi di daerah sana.
Buukk...
__ADS_1
"Arrghh... " David meringis kesakitan sampai dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh, dia merasakan ngilu di bagian punggungnya.
"Kamu siapa? Untuk apa mencariku?" tanya David dengan nada tinggi.
Jo tidak langsung menjawab dia menelpon Detektif Anan dulu, "Saya sudah menemukan David di bagian belakang blok khusus buah-buahan."
Barulah Jo menjawab pertanyaan David, "Jika kamu ingin hidup, kamu harus ikut denganku."
Tanpa Jo sadari David membawa sebuah batu di dalam kepalan tangannya untuk melemparkan baru itu ke Jo, namun dengan cepat Jo menahan tangannya dan menendang tubuh David.
"Menurutlah, kalau kamu tidak ingin aku bertindak kasar padamu." ancam Jo dengan tatapan menusuk.
Jo menyadari David sedang memperhatikan ke belakang Jo, Jo merasa ada orang yang sedang berjalan di belakangnya, Jo segera menoleh dan...
Buukk...
Orang itu memukul kepala Jo dengan pipa besi. Membuat kepala Jo terluka dan mengeluarkan darah.
Ini kesempatan untuk David berlari namun Bima langsung menendang tubuh David, David ingin melawan tapi Bima berhasil membungkam mulut David dengan sapu tangan yang dicampuri bius. Bima segera membawa David yang tidak sadarkan diri dengan memangku tubuhnya di bahunya yang kekar.
Sementara itu Jo tidak bisa berbuat apa-apa karena kepalanya terasa begitu sangat pusing sampai tatapannya samar-samar karena darah terus mengalir di kepala bagian belakangnya. Sampai tubuhnya ambruk tak sadarkan diri.
****************
Besoknya...
"Maaf tuan, aku gagal menangkap David " itulah yang pertama kali Jo katakan saat Jo tersadar, dia melihat Bara yang sedang duduk di sampingnya, dia baru menyadari rupanya dia sedang berada di rumah sakit.
Bara menghela nafas berat, dia merasa kecewa pada Jo bukan kecewa karena tidak bisa menangkap David tapi tidak memberitahunya kalau kemarin dia izin untuk mencari David.
"Lain kali kamu harus memberitahuku, aku bukan tuan muda yang kecil lagi, aku sudah dewasa, kamu tidak perlu melindungiku seperti ini. Kamu harus mulai memikirkan diri kamu sendiri."
__ADS_1
Jo sengaja tidak memberitahu Bara karena takut Bara akan ikut mencari David juga, itu akan membahayakan nyawanya. Apalagi dia tau Bara sedang sibuk mengurus dua perusahaan dan harus menemani Karin juga.
"Kamu pernah melatihku bela diri, aku bisa sedikit-sedikit walaupun aku tidak pernah bisa mengalahkan kamu, Jo"
"Aku minta maaf, lain kali aku akan memberitahumu."
Ceklek!
Terdengar seseorang membuka pintu, dan dia adalat Jesika. Jesika bernafas lega karena akhirnya Jo tersadar juga, "Oh Jo, kamu sudah sadar. Pasti kepalamu sakit sekali ya."
"I-iya" jawab Jo kikuk. Tanpa mau menatap Jesika. Setiap kali menatap Jesika, dia selalu dibayang-bayangi ciuman yang tidak disengaja itu.
"Ya ampun Jo, sampai kapan kamu mau cuekin aku terus." keluh Jesika saat melihat Jo yang tak mau menatap Jesika.
Bara memperhatikan dua sejoli itu, "Kalian sedang marahan?"
"Tidak!" jawab Jo dan Jesika hampir bersamaan.
Jesika menambahkan perkataannya "Tidak, cuma Jo menghindariku gara-gara aku bercerita malam itu aku bermimpi dicium kambing." cerita Jesika dengan polosnya.
"Kamu menginap lagi di rumah Jo?" tanya Bara kepada Jesika.
"Iya," Jawab Jesika singkat sambil duduk di kasur yang Jo tidur.
Bara terkekeh, "Asal kamu tau ya Jes, Jonathan itu pria normal, jadi sekali-kali kamu harus melihat Jo sebagai pria dewasa, kamu akan tau bagaimana pesona Jo nanti," Bara mengatakan itu sambil mengedipkan mata pada Jo, dia tau sebenarnya Jo menyukai Jesika walaupun Jo tidak pernah mengatakannya.
Bara segera pergi dari ruangan itu agar mereka bisa berduaan, kini hanya tinggal Jo dan Jesika. Jesika memandangi Jo dan memperhatikan wajah Jo, dia baru menyadari ternyata Jo sangat tampan, membuat Jesika salah tingkah karena ketahuan sedang memperhatikan wajahnya.
"A-aku harus pergi dulu. Masih banyak pasien yang harus aku urus." ucap Jesika dengan gugup, Jo hanya menangguk saja.
Jesika segera pergi dari ruangan itu, dia memegang dadanya entah mengapa hatinya jadi berdebar-bedar.
__ADS_1