
"Arrrghhhh...sakit, Bara!" teriak Elsa, saat Bara mengcengkram tangannya dengan kasar saat Elsa mencoba membuka kancing kemeja Bara.
Elsa berusaha untuk merayunya apalagi dia sekarang ini berpenampilan sangat seksi. Dia pikir dia sudah berhasil memprovokasi Bara dengan memperlihatkan foto Karin dan Revan.
"Jangan memprovokasiku! Aku sangat mempercayai Karin!" Bara mengatakannya dengan emosi, dia segera menarik Elsa menjauhkannya dari daun pintu dan tanpa berpikir panjang lagi Bara langsung pergi dari ruangan itu.
"Aargggh... sial. Awas ya kamu Bara!" teriak Elsa, seperti sedang kerasukan.
Rupanya hari sudah mulai gelap, Bara pulang dengan menumpangi sebuah taksi karena dia tidak ingin mengganggu waktu istirahat Jo yang padahal sudah menyuruhnya untuk menghubunginya jika dia akan pulang dari sana.
Di dalam taksi, Bara terus memandangi foto Karin dan Revan, hatinya bertanya-tanya mengapa Karin bertemu dengan Revan secara diam-diam. Tentu saja dia sangat cemburu sekaligus marah melihat foto itu.
Setelah sampai rumah, tidak ada sosok Karin yang menyambut kepulangannya. Bara mencari keberadaan Karin, dia mengira Karin di kamarnya tenyata Karin tidak ada disana, Bara semakin frustasi di buatnya, dia memutuskan untuk pergi ke kamar mengganti pakainya dulu lalu mencari Karin lagi.
Ceklek!
Begitu Bara membuka pintu, dia terkejut karena kondisi kamarnya begitu sangat gelap, dia segera menyalahkan lampu kamar dengan menekan saklar.
Bara semakin terkejut saat melihat Karin yang ternyata ada disana, "Surprise!" kata Karin sambil memeluk Bara, rupanya dia memakai lingerie yang dulu dia tolak habis-habisan untuk memakainya.
Karin merasa aneh karena Bara tidak bereaksi apa-apa padahal dia dulu sangat ingin membeli lingerie itu untuknya dan juga bukannya dia sudah tidak tahan menantikan malam pertama mereka.
Bara melepaskan pelukan Karin, "Aku gerah, aku mau mandi dulu." ucapnya dengan datar.
__ADS_1
Karin belum sempat menjawabnya karena Bara langsung meraih handuknya dan pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
"Dia kenapa?" Karin merasa sikap Bara begitu dingin padanya. Padahal sebenarnya dia tidak nyaman memakai lingerie yang dipakai, apalagi dia sudah tidak memakai pakaian dalam sehingga kelihatan jelas seluruh tubuhnya di balik lingerie yang dia pakai. Dia hanya ingin mencoba menjadi istri Bara yang baik.
Setelah sekian lama Bara mandi, akhirnya dia keluar juga, dia melihat Karin yang sedang menonton film di sofa, sejujurnya dia sangat terangsang dengan pelukan Karin tadi apalagi begitu terlihat sangat jelas tubuh polos Karin walaupun dia memakai lingerie.
Karin mencoba merayu Bara lagi, dia memeluk Bara yang tubuhnya hanya dibaluti handuk dari pinggang ke paha, dia sangat terlihat mempesona membuat jiwa kaum para hawa bergetar melihat postur tubuh yang begitu sangat sempurna dengan kondisi perut yang begitu sangat memperlihatkan bagian otot-ototnya disana. Apalagi sekarang dia dalam keadaan tubuh yang basah karena habis mandi.
"Kamu marah?" tanya Karin sambil terus memeluk Bara, membuat area sensitif di bawah sana bergesekan karena tidak memakai pakaian dalam, hanya terhalang handuk dan lingerie saja, Karin merasakan ada yang sedikit menusuknya .
Bara melepaskan pelukan Karin, dia memperlihatkan sebuah foto pada Karin, Karin terkejut saat melihat foto dia sedang bersama Revan, rupanya Bu Zora sengaja menyuruh Revan ke rumahnya karena dia ingin membuat Bara marah padanya. "Mengapa kamu bertemu dengan Revan?"
"Apa kamu mempercayaiku?" Karin malah balik nanya.
"Aku percaya, tapi aku tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita." Bara mengatakan dengan tatapan dingin.
Bara hanya diam dan terus memandanginya dengan tatapan dingin.
"Aku rasa mama Zora menjebakku, tanpa sepengetahuan aku dia menyuruh Revan datang ke rumah, karena itu aku sudah menyelesaikan hubungan aku dan Revan. Apalagi lagi yang ingin kamu tanyakan?"
Bara sejujurnya sangat kecewa karena Karin tidak memberitahunya atau bahkan malah pergi tanpa sepengetahuannya, "Kenapa kamu tidak memberitahuku?Bagaimana kalau mereka berbuat jahat padamu?"
Karin mencoba mencairkan suasana, dia memeluk kembali tubuh Bara dan mengecup bibir Bara sebentar, lalu menjawab pertanyaan dari Bara, "Bukannya kamu yang bilang sendiri tidak keberatan dengan sikapku yang tidak bisa diatur."
__ADS_1
"Untuk itu, aku mengecualikannya mulai sekarang, aku tidak keberatan kamu tidak bisa memasak, hidup boros, tidak bisa dandan atau apapun itu, tapi untuk tidak bisa di atur, aku tidak bisa, aku tidak ingin kamu pergi dan pulang semau kamu tanpa meminta izin padaku."
Karin mengerucut bibirnya, "Jadi kamu akan meninggalkan aku kalau aku tidak bisa diatur juga?"
"Tidak akan, aku akan terus menghukummu jika kamu tidak bisa di atur juga."
"Ya ampun, aku bukan akan kecil Bara untuk apa dihukum?"Karin melepaskan pelukannya.
"Aku akan mengukummu secara dewasa."
Karin mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti dengan hukuman yang diberikan oleh Bara walaupun dia sedikit menebak pasti ka arah adegan ranjang.
"Ada satu hal yang kamu lupakan, bagaimana kalau aku tidak perawan lagi? Apa kamu akan menerimaku?" Karin hanya ingin tau arti keperawan bagi seorang laki-laki, sementara kebanyakan kaum wanita tidak mempermasalahkan keperjakaan pasangannya.
"Tidak masalah, aku akan tetap menerimamu." ucap Bara dengan mantap, dia menarik tangan Karin dan melingkari pinggang Karin membuat tidak ada jarak sedikitpun diantara mereka, dia memang sangat tergoda dengan penampilan Karin, tidak bisa menahannya lagi "Apalagi sekarang aku akan membuat kamu tidak perawan lagi."
lanjut nanti malam... salam es batu 🙌🙌 yang pernah membaca ranjang balas dendam sang mafia pasti mengerti 😁😁
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
__ADS_1
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...