
Saat mendengar Karin sering mual-mual, saat itu Bara langsung menyuruh Karin untuk diperiksa ke dokter kandungan di rumah sakit Jk, padahal Karin mencoba beberapa kali ini menolak karena menurutnya mungkin dia sedang masuk angin.
Dan benar saja, ternyata Karin kini telah berbadan dua walaupun mungkin usia kandungnya sekitar satu minggu.
"Selamat, akhirnya anda akan menjadi ayah, tuan Bara." ucap Dokter Erika.
"Jadi benaran, istriku hamil, Dok?" Bara sangat senang mendengarnya.
"Iya, tuan."
Setelah keluar dari ruang khusus tempat dokter kandungan itu, Bara langsung memeluk Karin, malah dia mengangkat tubuh Karin membawanya berputar, "Akhirnya aku menjadi seorang ayah."
"Yeah Bara, ini di rumah sakit. Turunkan aku!" Karin mencoba berontak, dia tidak ingin ada yang melihat Bara menggendong tubuhnya.
Bara segera menurunkan Karin dengan hati-hati, dia mengusap lembut perut Karin. "Sehat terus ya baby, delapan bulan lagi kita harus bertemu."
__ADS_1
Karin tersenyum menatap Bara yang sedang mengusap perutnya, dia mencium pipi Bara dan segera berlari karena malu.
"Aishh... hei mau kemana?" Bara membuntutinya, Karin memang selalu membuatnya gemas.
Sampai mereka tiba di ruangan Jesika, mereka sengaja datang kesan untuk menyaksikan sebuah ucapan ikrar janji suci yang mengikat Jo dan Jesika dalam sebuah pernikahan.
Jesika yang pura-pura koma, dia tidak bisa berbuat apa-apa, terjebak dalam permainannya sendiri yang harus berakhir menjadi istri Jo. Senang iya, tapi ada rasa gundah juga karena mereka menikah secara mendadak, bagaimana nanti Jo tau Jesika hanya pura-pura koma.
Ada insiden yang tidak terduga, begitu mereka resmi menjadi sepasang suami istri, tiba-tiba Jesika bersin, "Haciihhh... "
Membuat mereka yang hadir disana begitu kebingungan, Jesika terpaksa membuka matanya, dia telah ketahuan rupanya, dia mengacungkan kedua jarinya sambil berkata "Peace!" Kepada papa dan Jo karena dia merasa hanya membohongi mereka berdua.
Jesika belum siap untuk se rumah dengan Jo, dia takut Jo akan macam-macam padanya, apalagi dia sudah menjadi istrinya. "Tapi Pah!"
Bara mengajak Karin untuk keluar dari sana, begitu juga yang lainnya. Membiarkan Jo dan Jesika sedang berduaan, tapi sebelum itu dokter Cristian yang sudah tertangkap basah yang mengatakan Jesika koma, dia berbicara pada Jo di balik daun pintu "Kamu bisa membawanya pulang, hukum saja dia di rumah, jangan disini. Jesika baik-baik saja kok."
__ADS_1
Seketika wajah Jesika memerah mendengarkan ucapan Dokter Cristian, "Dokter Crist!" bentak Jesika.
Dokter Cristian langsung pergi, dia harus siap menghadapi pemilik rumah sakit ini, tadi dia juga yakin akan aman-aman saja karena Jesika akan siap membelanya karena dia sendiri yang meminta agar Dokter Cristian berbohong.
Jesika menundukkan kepala, dia tidak sanggup untuk menatap Jo yang terus menatap tajam padanya. "Apa kamu begini terinspirasi dari kisah tuan Bara!"
"Tidak, aku hanya ingin berniat agar pernikahan aku dan Raka gagal. Tapi Bara malah mengusulkan agar aku dinikahi olehmu biar aku memiliki semangat untuk hidup. Beneran aku tidak bermaksud menjebakmu untuk kamu menikahiku."
"Lalu apa rencanamu?"
"Aku juga tidak tau," Jesika tidak bisa berpikir jernih.
"Ya sudah, ayo kita pulang. Dokter Cristian bilang kamu baik-baik saja."
Jesika memelototkan matanya begitu mendengar kata pulang. "Pu-pulang?"
__ADS_1
"Iya, pulang ke apartemenku." Jo menarik tangan Jesika membawanya untuk pergi dari rumah sakit itu.
Aduh mati aku!