
Hari ini Minggu yang cerah, Jammer terbangun sangat pagi. Jam 3 pagi dia sudah bangun dari tidurnya ada gelisah yang begitu besar dalam dirinya, sesuai dengan kesepakatan maka dalam dua tahun dia akan menikahi salah satu kakak angkatnya, sedangkan perasaannya masih mencintai Fiux begitu dalam, mungkin cintanya akan terbawa mati. Setelah sholat subuh dia ingin ke rumah Bara, anak buahnya yang juga merupakan guru spiritual, sebenarnya bukan untuk meminta sesuatu hanya saja dia tidak tau harus cerita pada siapa.
Pagi telah menjelma menjadi hari yang terang, mentari pagi menampilkan keindahan yang begitu nyata, dan motor Jammer masih menunjukkan gaharnya berlari kencang menyusuri jalan raya yang mulai akan sibuk dengan aktivitas. Jauh rumah yang dituju sehingga dia baru sampai pada pukul setengah tujuh pagi.
" Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatu ting tong " suara bel rumah Bara.
" Lama sekali bukanya " teriak Jammer dari luar pintu.
Terdengar langkah kaki berjalan cepat sesaat setelah dia berteriak.
" Iya tuan tunggu sebentar, saya tidak bisa lari cepat tuan. " jawab Bibi Jumi.
" Iya udah tak tunggu Bi tum. " teriak Jammer lagi.
Ceklek . Pintu dibuka Bi Jum. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, sedang mengatur nafasnya.
" Tuan kenapa tidak telpon atau mengirim pesan dulu? " tanya Bi Jum.
" Saya lagi kacau Bi Jum. Sorry lah " jawab Jammer.
" Silahkan duduk dulu tuan, saya panggilkan tuan Bara. " pamit Bi Jum untuk memanggil Bara.
Jammer duduk cukup lama, yang ditunggu belum juga datang hingga Jammer merasa bosan.
" Bi Jum. Bibi. " panggil Jammer.
" Iya tuan. " jawabannya. Kemudian berjalan menuju sofa ruang tamu.
" Mana tuanmu Bara? " tanya Jammer.
" Belum selesai dzikir tuan. " jawab Bi Jum.
" Ealah, ya udah aku pulang aja dulu. " ucap Jammer.
" Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatu " Jammer berpamitan.
" Ya sudahlah aku ke markas aja lah. " batin Jammer
Kemudian Jammer menjalankan motornya ke markas, dia melihat-lihat keramaian kota yang ada. Dia melewati mall papahnya, merasa ingin mampir ke kantor papahnya. Walaupun tidak ada papahnya tapi dia ingin main saja, lagipula ada Basoka di sana. Dia memutar motornya di persimpangan kemudian masuk ke halaman mall memarkir didepan pintu utama mall, belum ada satpam didepan.
Jammer masuk melewati outlet-outlet yang bersiap-siap untuk mulai buka, dia berjalan kaki tanpa menaiki lift. Dilihatnya satu-persatu outlet yang dilewatinya, dilihatnya karyawan yang bekerja, dilihatnya orang-orang yang beraktivitas di sepanjang jalannya. Beberapa orang yang mengenal dia sebagai anak CEO mall memberikan sapaan, sementara lainnya hanya memandang sekilas mungkin karena pakaiannya yang sangat sederhana.
" Maaf mas. " sapa orang yang menghampiri, menghentikan langkahnya.
" Ada apa ya? " tanya Jammer.
" Apa anda pekerja di sini, saya lihat anda tidak seperti kebanyakan pekerja yang baru berangkat? " ucapnya.
" Saya bukan pekerja, ada apa ya? " jawab Jammer.
" Maaf mas jam buka mall masih lama, sebaiknya anda tunggu beberapa menit lagi karena mungkin akan mengganggu persiapan mall. " suruh orang itu.
" Anda menajemen mall? " tanya Jammer.
" Iya saya Andi, kordinator lantai 2. Saya rasa sebaiknya anda menunggu karena mall punya aturan ketat. " jawaban Andi.
" Iya sudah kalo begitu, saya butuh teman. Tolong anda panggilkan Basoka untuk saya, saya tidak mau menunggu untuk bosan. " suruh Jammer.
" Apa maksud anda panggilkan Basoka? " tanya Andi bingung.
" Oh lupa, Bastian manajer utama mall ini. " jawab Jammer.
" Maaf mas ini punya hubungan dengan pak Bastian? " tanya Andi heran.
" Ya. Orang tua saya yang kenal. " jawab Jammer.
" Oh. Lebih baik naik lift saja untuk menuju ruangannya dari pada melewati toko-toko yang sedang bersiap buka. " penjelasan Andi.
" Saya tidak tau caranya naik lift. " ucap Jammer.
" Maaf tuan muda, selamat pagi. Apa anda sedang melakukan pemeriksaan? Jika iya saya kan laporkan ke tuan Basoka agar anda tidak menunggu. " tanya Adam kepala satpam yang baru saja datang.
" Tidak Dam. Kau baru saja datang? " ucap Jammer, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Iya tuan, saya kebetulan dapat shif pagi. " jawab Adam.
" Kenapa seperti hormat sekali si Adam " batin Andi
" Maaf pak Andi saya mau berjalan-jalan dengan Adam saja, nanti biar diantar saja dengan dia ke ruangan Basoka. " pamit Jammer.
" Tunggu " Andi menghentikan langkah Jammer.
" Sebenarnya anda siapa sih? Saya bertanggung jawab untuk lantai ini, jika dalam persiapan ada yang terganggu bisa-bisa saya yang disalahkan. " tanyanya.
" Pak Andi lebih baik anda lakukanlah tugas anda yang lain saja. Jangan sampai dia marah " bisik Adam mendekati Andi.
" Memangnya dia siapa? " bisik Andi.
" Dia anak pak Samuel, pemilik mall ini. " bisik Adam.
" Aduh kenapa gak dari tadi kamu datengnya. " ucap Andi kaget.
" Sudah belum Dam? Aku mau jalan-jalan kau malah membuang-buang waktuku. " keluh Jammer pada salah satu anak buahnya itu.
" Maaf tuan, baik saya sudah selesai. " jawab Adam.
" Oh iya hari ini kau libur lah temani aku jalan-jalan. "
" Maaf tuan tapi... " ucapan Adam di potong Jammer.
" Baiklah aku sedang berbaik hati. " potong Jammer.
" Terimakasih atas kebaikan hati tuan. " ucap Adam.
" Maaf tuan muda, saya tidak tau anda pemilik mall ini, saya benar-benar minta maaf tuan. " permintaan maaf Andi takut terjadi masalah.
" Ayo pergi Dam. Lama sekali kau lah! " gertakan Jammer membuat Andi lebih ciut.
" Mati aku. Baru juga seminggu kerja, gak taunya malah masalah gini " batin Andi sudah pasrah.
Adam menemani Jammer berjalan menuju ruang Direktur mall. Sepanjang mereka mengobrol tentang mall, dan keluarga Adam. Satu-persatu outlet, satu-persatu lantai, semua yang Adam tau dijelaskan kondisinya. Di lantai 3 mall ada sebuah toko musik yang memajang gitar berwarna hitam bercorak Aurora hijau seperti di daerah Kutub.
__ADS_1
" Dam, kau tau toko ini bagus atau tidak barangnya?" tunjuk Jammer ke arah toko musik itu.
" Tidak begitu tahu tuan, tapi beberapa kali ada yang sengaja mencari toko ini ke bagian informasi lantai 1, karena toko ini beberapa kali pindah outlet di mall tuan, jadi saya kurang paham tuan. " jawab Adam.
" Carikan aku orang untuk menguji gitar, tolong jika bisa jangan lama-lama. Anak buah mu ada yang bisa tidak? " pinta Jammer.
" Saya sih main bisa tuan, tapi tidak tau gitar yang bagus seperti apa. Kalo tidak salah ada karyawan toko yang bisa tuan di lantai 2. Apa saya panggilkan sekarang " jawab Adam.
" Jangan Adam, kau suruh manajer tadi mencari orang itu. " suruh Jammer.
" Baik tuan. " jawab Adam sembari mengaktifkan handy talky nya.
Dia menyuruh keamanan kordinator yang sedang mem-briefing anggota agar menyampaikan pesan Jammer.
" Oh iya Dam kau bilang ke keamanan lantai 1 motorku ada didepan pintu utama mall, tolong tata lah seperti sedang dipajang, kalo perlu beri karpet merah dan hiasan bunga seperti Thailook! " suruh Jammer lagi.
" Hallo masuk pintu utama, masuk pintu utama, ganti " panggil Adam melalui HT.
" Pintu utama disini ganti. " jawaban anak buahnya.
" Buka WU aja aku males jelasinnya ganti " ucapnya membuat Jammer tersenyum geli.
" Dimengerti ganti. " jawab satpam di bawah.
" Kau ngapain pakai HT Dam kalo bisa pakai Watts Up. Kau sengaja ngelawak di depanku " ledek Jammer.
" Hahaha. Ya biar tuan ketawa hahaha " canda Adam. Sambil mengirim pesan ke anak buahnya.
Sementara dari eskalator Andi bersama dengan dua orang yang menurutnya dicari Jammer. Berjalan menuju Adam dan Jammer.
" Maaf tuan. Ini yang anda cari? " tanyanya.
" Bukan mereka, pak Andi apa anak buah saya tidak memberi tahu namanya? " sangkal Adam. Sedangkan kedua orang yang dibawa hanya bingung.
" Dia hanya memberi tahu ciri-ciri orangnya Dam. " jawab.
" Namanya Galenka, rambutnya pirang, kerja di toko Daniels Shoe kalo gak salah, kulit putih, dan tanya dulu pak, dia bisa ngetes gitar enggak. " penjelasan Adam
" Ya sudah aku cari lagi Dam " pamit Andi.
" Dam kau tau dia dari kapan kerja? " tanya Jammer.
" Baru seminggu tuan " beri tahu Adam sambil melihat kondisi mall dari lantai 3 itu.
" Tuan kalo di taruh tengah situ motornya, terus di kasih hiasan gitu tuan gimana? " canda Adam menawarkan ide nya.
" Mana? Kalo bagus kau sekalian siapkan 2 tempat dan hiasan lagi. Gerry baru keluar motornya, kayaknya aku dengar motornya Japanese version, dan motor Kevan juga kayaknya gak kalah sama punyaku. Siapkan untuk mereka. " tanggapan Jammer bercanda tadi wajahnya datar.
" Waduh ya cocok banget tuan. Hahaha kayak kontes jadinya " balas Adam tertawa, tapi dia takut atasannya malah setuju.
" Hahaha. Jalankan sepertinya cocok, dari pada aku gak punya kerjaan. Hahaha memang kau pintar membuatku tertawa, besok aku belikan tiket liburan kalo kau sudah bisa cuti. " tawa Jammer semakin mengembang di bibirnya, walaupun pikirannya dan hatinya masih penuh dengan beban.
" Tuan itu orangnya sudah datang dengan Andi. " tunjuk Adam pada eskalator.
" Ya " singkat balasnya, seperti merusak tawanya.
" Andi, kau pergilah urus pekerjaanmu. " usir Jammer. Tanpa jawaban Andi sudah pergi.
" Galenka, itu namamu? " tanya Jammer.
" Aku tidak suka namamu, tapi aku suka aku cantik dan bisa menolongku. Aku panggil kau cinta. "
" Apaan ini? Kau tidak tahu diri sekali. Kita belum kenal kau ganti nama saja " balasan ketus Galenka.
" Aku pemilik mall ini. " tegas Jammer. Membuat raut wajah Galenka.
" Kau Adam, urus rencana tadi, tapi jangan pergi kemana-mana. Atau kau lapor saja ke Basoka, bilang aku yang minta nanti biar dia yang lakukan. " suruh Jammer.
" Apa kau tak bisa sopan meminta seseorang membantumu? " Galenka menunjukkan wajah tak suka.
" Aku mohon maaf atas ketidak nyamanan nona Galenka. Tolonglah bantu saya yang tak berdaya ini, saya mohon dengan sangat. " ucap Jammer dengan wajah yang memelas.
" Baik aku akan lakukan. Tapi aku mau cuti hari ini, gara-gara kepala toko aku jadi tidak ke Gereja. Kau bantu aku " jawab Galenka memberi syarat.
" Oke. gini kau pindah saja. Nanti kau tulis surat pengunduran diri, minta surat telah keluar dari toko itu, dan datang kepadaku. Nanti aku kasih kartu namaku " jawab Jammer.
" Deal " ucap Galenka setuju dan mengulurkan tangannya.
" Ini " ucap Jammer saat menyambut tangan Galenka dan menyelipkan kartu namanya didalam salaman mereka.
" Apa ini? " ucap Galenka melepas tangan Jammer.
" Oh iya nanti aku hubungi " ucap Galenka melihat kartu nama ditangannya.
" Sekarang kau lihat itu gitar yang dipajang? " tunjuk Jammer pada gitar yang dipajang toko.
" Iya aku lihat. " ucap Galenka.
" Tes untukku. " suruh Jammer.
Mereka masuk ke toko. Jammer menghubungi Basoka untuk ijin, ya mau tidak mau Basoka hanya mengiyakan. Jammer menyuruh menyiapkan tempat, dan memanggil Gerry dan Kevan.
" Gimana Cintaku, bagus gak? " Tanya Jammer.
" Kenapa hatiku bergetar mendengar dia memanggilku cinta " batin Galenka.
" Kalo bukan ini yang aku sarankan, kau tetap mau beli ini? " dia malah berbalik nanya.
" Ya kalo Cinta gak suka, gak usahlah. " Jammer.
" Gitar itu coba. Dari merk-nya bagus. " tunjuk Galenka pada gitar lain.
" Ini nona. " Penjaga toko menyerahkan gitarnya.
" Ini palsu an***g " spontan celetuk Galenka.
" Ya udah bagusan ini. " Galenka menunjukkan gitar pertama.
Melihat bandrol harga dari gitar itu membuat Galenka terkejut, dia belum pernah lihat gitar merk itu jadi tidak tau harganya, tapi suaranya nyaring tanpa listrik, dan tertulis jelas buatan Indonesia.
" Merk lokal semahal ini? " celetuk Galenka.
__ADS_1
" Lah emang kan merk ini mahal. Kan udah biasanya juga mahal, lagipula ini original. " ucap Jammer merespon gadis di sampingnya.
" Mas bungkus. " suruh Jammer.
" Mas saya denger toko ini udah pindah-pindah di mall ini. Emang kenapa mas? " tanya Jammer dikasir toko.
" Gak sih, cuma cari tempat yang enak gitu. " jawabannya.
" Oh, ya saya do'akan semoga betah di outlet ini. " ucap Jammer.
" Ini gitarnya sudah selesai packing, ada lagi? " tanya kasir.
" Kabelnya, pick gitar, efek nya, dan fret gitarnya sekalian. " ucap Jammer.
Selesai itu Jammer dan Adam mengantar Galenka ke tokonya, kemudian turun ke tengah lantai 1. Di sana sudah disiapkan karpet dan biasanya, dan tertulis di dengan menggunakan sebuah penanda besar berbentuk plakat akrilik " Selamat Datang Tuan Muda Imaduddin Jammer. Atas kedatangannya kami berterimakasih sedalam-dalamnya " Ditulis menggunakan tinta emas memenuhi atad lempeng akrilik yang sengaja buram, terbingkai bunga.
Sesampainya di lokasi motor Jammer sedang didorong oleh satu satpam, diikuti motor Gerry dan anak buahnya yang akan menjaga motor-motor yang dipajang. Saat sedang menghias tempat motor ada Kevan datang bersama Donny, Galuh, fotografer dan crew kontesnya.
" Hai Tuan muda Devil. " Celetuk Donny.
" Hai diam kau Don. " bentak Gerry.
" Don, kau cari mati? " celetuk Kevan, sambil memposisikan motornya.
" Don kau bersama siapa? " tanya Gerry.
" Galuh Ger namanya. Kalo tidak salah dia ketemu di rumah tuan muda kemaren. " celetuk Kevan.
" Oh aku gak tahu ada cewek cantik di sana, selain nona Dinda dan Nona Dhean. Hahaha " canda Gerry. "
" Apa kalian pernah coba aksi jahit mulut? " tanya Jammer, dengan tetap fokus menghias tempatnya.
" Maaf tuan, jangan. Kami minta maaf " ucap Gerry.
" Dam. Anak buahmu panggil beberapa orang. Suruh mereka beli sofa untuk duduk kita semua, meja yang sesuai untuk hiasan, vas bunga beserta bunganya, hiasan meja, keluarkan bendera perusahaan ku juga dan menatanya di belakang motor-motor ini. " Suruh Jammer, sambil menyerahkan black card-nya.
" Baik tuan. " ucap
" Tunggu aku telpon Silvi saja. Mana black card ku " Jammer meminta kembali.
Silvi datang ke mall setelah ditelpon. Dia ditugaskan untuk membayar biaya perlengkapan duduk mereka, malah melakukan inisiatif untuk lampu dan beberapa hiasan yang memerlukan listrik serta perlengkapannya. Dalam satu jam semuanya sudah tertata, dengan begitu mereka semua bisa duduk, bahkan ada beberapa tambahan kursi yang diberi oleh pemilik toko.
" Wah tuan muda, selera anda bagus juga. " celetuk Kevan, melihat Silvi yang memposisikan diri memeluk tangan Jammer yang duduk di tengah-tengah.
" Kau Van, diamlah " bentak Silvi.
" Hahaha " tertawa semuanya.
" Sebenarnya siapa mereka dan Jammer ini siapa mereka " batin Galuh yang hanya menyimak tanpa suara.
" Tuan, Silvi ingin ke toilet, boleh tuan mengajak gadis disampingnya Donny? " bisik Silvi ditelinga Jammer. Diangguki Jammer.
" Donny, pacarmu aku bawa ke toilet dulu, disini yang cewek kan cuma kita berdua. " ucap ketus Silvi.
" Kau mau menemani dia? " tanya Donny.
" Ini kesempatan untuk tanya tentang Jammer " batin Galuh.
" Iya boleh " jawab Galuh.
Mereka ke toilet. Saat kembali Galuh memasang muka takut, cemas, dan terkejut dengan begitu dalam. Dia diberitahu semua tentang Bayusuta Crew, serta memperingati Galuh untuk hati-hati bertindak. Jika Bayusuta Crew tersinggung maka bapaknya pun tak bisa menolong meski dia adalah anggota BC. Dan juga Donny yang tersinggung maka anak buah Donny akan mencarinya. Dan yang paling penting tutup rapat-rapat tentang Bayusuta Crew dari halayak umum.
" Galuh kau jangan cemas, bersikap seperti biasa saja. " bisik Silvi saat mendekati sofa.
Saat mereka telah dekat, Galenka mendekat dari belakang Jammer dan menutup mata Jammer dari belakang.
" Hayo tebak siapa? " ucap Galenka centil.
" Cinta, kau kenapa turun ke sini? " Jammer menebak dan bertanya heran. Masih ditutup matanya dari belakangnya.
" Yah ketahuan, aku turun karena sudah dikeluarkan kepala toko. " jawab Galenka.
" Sini duduk dulu " Jammer persilahkan Galenka untuk duduk disampingnya.
" Gerry, kau pesankan makan untuk kita, di restauran situ saja. " tunjuk Jammer kepada deret restauran di sisi mereka.
Mereka memesan makan dan minum dicatat oleh Gerry dan anak buahnya. Tapi Gerry menunggu Silvi dan Galuh datang, setelah mereka berdua memesan dia segera berangkat. Tempat duduk yang ditinggal Gerry diduduki Silvi.
" Maaf tuan muda, saya sering melihat anak ini bekerja di toko sepatu, sedang apa dia disisi tuan? " tanya Silvi.
" Oh tadi dia menolongku untuk memilih gitar, terus dia malah dipecat, ya sudahlah aku juga janji untuk memberinya pekerjaan baru. " jawab Jammer datar.
" Ya sudah tuan saya pergi dulu. " pamit Silvi, dia langsung berdiri dan pergi.
" Terima kasih Silvi. " ucap Jammer dengan melambaikan tangan kepada Silvi.
" Disini nama kamu panjang sekali. Aku harus panggil apa? " tanya Lenka pada Jammer.
" Terserah kau saja, asal menyenangkan " jawab Jammer.
" Panggil Bee saja nona " celetuk Kevan.
" Iya sepertinya bagus, aku panggil Wolf aja lah ya, mau kan aku panggil wolf. " tanya Lenka.
" Oke terserah kamu aja " jawab Jammer.
Mereka semua mengobrol hingga malam menjelang, semua aktivitas dilakukan di mall, mulai makan, minum, shalat, dan yang ngantuk tidur begitu saja di sofa yang memang sengaja beli yang sekaligus bisa untuk tiduran. Bahkan mandi pun dilakukan di spa dalam mall. Galuh dan Lenka juga berbelanja, dengan Donny dan Jammer, pacar-pacar anak buah Jammer berdatangan dan pergi silih berganti.
Seluruh anak buahnya dengan setia menemani Jammer. Walaupun mereka hanya duduk-duduk dan tidak terlalu banyak kegiatan, selain ngobrol, foto-foto, belanja, membantu pengunjung berfoto. Galuh yang terlihat gelisah sebenarnya disadari Donny, Gerry dan Jammer. Tapi bagi mereka bertiga lebih baik mengundang Galuh ke rumah Sam saja suatu hari.
Hari telah larut, jam sudah menunjukkan 8 malam lebih. Donny mengantar pulang Galuh, sedangkan untuk Lenka diantar pulang oleh anak Donny yang dipanggil atas perintah Jammer, hal itu bagi Lenka bagai perhatian, dan sejak di toko tadi dia merasa berdebar disisi Jammer. Hari ini begitu melelahkan, Jammer pulang membawa gitar, tapi belum dibukanya, langsung menuju kamar dan tidur.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Semoga anda semua senang, minta dukungannya ya, tolong banget, nanti kalo ada wakt u membalas dan kemampuannya Insya Allah saya balas kebaikannya. Dukungan yang diberikan bisa berupa like, comments, following, voting, dan share. please loh ya.