Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Langkah Bersamanya.


__ADS_3

Gerry yang di sudah beberapa hari diberi tahu jika pengajuan rekaman di salah satu label telah di setujui, mencoba mencari waktu yang sesuai agar tidak ada gangguan, baik secara eksternal Bayusuta Crew, maupun dari sirklus hubungan di dalam BC. Kini hari Kamis, Gerry sengaja menunggu Jammer ketika pulang sekolah di depan gerbang, sekedar memberi tahu kode untuk mengikutinya ke markas.


Tepat jam dua belas siang Jammer keluar bersama Galuh dan Theresia, karena hanya sekedar memberi kode dengan tangan tidak butuh waktu lama segera Gerry meninggalkan Jammer setelah mereka saling melempar tanda paham.


"Theresia, maaf aku mau pergi ke kantor, maaf ya aku duluan ya Theresia, Galuh." pamit Jammer.


"Yah, baru juga mau nebeng." keluh Theresia.


"Wah gak bisa, lagian pacarku juga kayaknya mau pulang kantor bareng kalo ada kamu gawat entar." ucap Jammer datar.


"Ehmm tunggu, emang pacar kamu kayak apa sih perasaan belum pernah lihat?" tanya Theresia putus asa.


"Ehm gini There, nanti itu kan ada pensi, sponsor utamanya anak perusahaan dia kalau lagi senggang dia bakal dateng." sahut Galuh.


Setelah itu Jammer lebih dulu berlalu sebelum Theresia mengajukan pertanyaan kepadanya, sifat There memang mudah ditebak, ia sangat ambisius dan tidak ingin kalah. Jammer pun hanya bisa diam dan tidak bisa banyak berbuat.


Setelah jam setelah meninggalkan sekolahnya, Jammer memasuki parkiran PT Sri Manung Sejahtera, kebetulan Rendy juga yang baru tiba. Mereka parkir bersisian.


"Selamat siang tuan muda." ucap Rendy sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Siang Rendy, kamu kenapa sudah disini dengan pakaian serapi itu?" tanya Jammer


"Saya tidak bisa meninggalkan tuan muda terlalu lama, saya lebih senang mengikuti tuan muda." ucap Rendy.


"Kalau begitu jaga perusahaanku dulu, nanti kalo sudah lulus aku handle sendiri, kamu tinggal ada di sampingku mengikuti apa perintahku. Ya walaupun aku juga masih harus banyak menangani beberapa hal karena keharusan." ucap Jammer sedikit tajam.


"Maaf tuan jika kadang saya masih merepotkan tuan muda, saya selalu berusaha keras namun terkadang saya melakukan kesalahan." ucap Rendy dengan tulus tidak tersinggung.


"Kau mau ikut aku atau mau ke kantor?" tanya Jammer.


"Karena saya masih dalam masa dicutikan saya ikut tuan Jammer saja, lagipula pekerjaan di kantor pasti belum menumpuk." ucap Rendy tersenyum lebar.


"Ehmm, suruh sekertaris siapkan rapat dengan semua menejerial perusahaan jam 2 nanti!" suruh Jammer.


"Baik tuan saya akan telepon sekertaris." jawab Rendy dan melakukan perintah Jammer sambil terus mengikutinya masuk ke markas.


"Tigor." panggil Jammer pada penjaga markas.


"Siap tuan muda, Tigor menghadap." jawab Tigor menghadap.


"Carikan baju ganti untukku, sebuah kacamata, dan topi Fedora warna putih atau senada dengan bajunya!" suruh Jammer.


"Baik tuan muda." jawab Tigor walaupun bingung, tapi itu tidak masalah karena di toko dia tau ada pelayan toko yang bisa disuruh.


"Eh tunggu Tigor, kamu lihat Gerry?" tanya Jammer.


"Sedang ke toilet tuan muda." jawab Tigor.


"Ya sudah pergi sana, tolong ya minta dipilihkan oleh pelayan toko yang paling cocok untuk datang meeting." Jammer kemudian pergi menuju sofa.


"Suruh orang bawa minum Ren!"


"Baik tuan muda."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kantor Roger, sedang menganalisa kekuatan bisnis Bayusuta Crew, beberapa kali ia mencari celah di berbagai bidang, setiap kali dicoba belum sampai meyakinkan diri bahwa itu adalah celah mengusik Bayusuta Crew disitulah muncul kekuatan yang sangat tidak diduga. Memang ia secara kekuatan bisnis dan dunia mafia masih jauh dari seimbang dengan Jammer, tapi sebagai pemimpin ia tidak bisa merasa tenang jika kelompok mafianya dikalahkan, bahkan sekarang seakan menyerah pada mereka.


Tok.. toktoktok.. toktoktok. Ketukan pintu kantor


"Masuk." persilakan Roger.


"Siang tuan Roger." sapa seorang wanita.


"Siang Nyonya Queen keluarga Ivasha." balas sapa Roger.


"Apa aku boleh masuk?" tanya basa-basi Queen.


"Silahkan duduk di sofa ruang yang tidak semewah kandang kuda anda ini." jawab Roger. Mereka berduapun duduk di sofa.


"Apa yang tidak semewah kandang kudaku, ini sih dengan tempat sampah depan rumah juga masih mewah tempat sampahku." ucap Queen.


"Maaf anda memuji saya atau merendahkan tempat sampah ya?" Roger sedikit mengeraskan suara.

__ADS_1


"Kita langsung saja, kegiatan-kegiatanku sekarang terpengaruh kelompok si itu anaknya Sam Devil. Kemarin aku dengar anak buahku ditangkap karena tidak sengaja membegal anak buah si anaknya Sam itu. Kalau kamu bisa atur tolong aku." ucap Queen tak ada basa-basi.


"Wow, who I am?" Roger sedikit kesal.


"Apa maksudmu, pakai bahasa Indonesia saja!" pinta Queen karena tidak bisa bahasa Inggris.


"Kamu itu bos besar togel dan banyak menguasai jalur perdagangan ilegal, banyak pangkal jatah, banyak menguasai wilayah pembegalan. Lalu untuk apa menemui diriku." ucap Roger.


"Aku memang kaya raya, tapi kekuatanku tidak ada apa-apanya dengan dirimu." ucap qyeem.


"Apa keuntungannya?" tanya Roger langsung.


"Uangku cukup untuk membuat kamu merenovasi ruangan ini." Kata Queen dengan angkuhnya.


"Kalau begitu, siapkan 1 buah liang lahat di tempat anak buahmu di tangkap, nah jika sudah selesai panggil aku kita cek bersama-sama. Kalau pas pasti muat untuk dirimu." ucap Roger pelan supaya dipahami.


"Maksudnya apa dengan mencoba untuk diriku?" tanya Queen kebingungan.


"Kamu tidak paham? Aku tidak berani mengambil resiko, Ganco adalah orang dibalik keberanian kelompokku untuk melawan BC, sekarang dia sudah mati dan kawan-kawannya tidak pernah lagi berhubungan denganku." penjelasan Roger.


"Saranku kau temui Boeggem mereka rival yang setara dengan BC di Indonesia. kalau kekuatan di seluruh Asia ya tidak ada kecuali sahabat mereka Zakuza." imbuhnya. Sedang tanpa jawaban atau pamit Queen pergi begitu saja dengan menggerutu marah tak jelas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suasana di kantor Dinda masih banyak dokumen yang menunggu pengecekan data dan revisi sebelum akhirnya akan ditandatangani oleh Dinda dan Dhean selaku dua pemimpin perusahaan.


"Dhean pekerjaan kamu masih banyak gak?" tanya Dinda.


"Masih tadi pagi kamu kan lihat dari SDM dan Proyek di Salatiga banyak tambahan dari tadi pagi. Revisinya juga banyak, laporan-laporannya masih banyak kejanggalan, banyak rancu, dan gak rapi. Kamu tau kan yang aku pikirkan soal laporan yang aku maksudkan?" ucap Dhean dengan penuh nafsu, karena mereka sedari pulang belum juga ada waktu bercerita atau ngobrol panjang.


"Aku suruh pacarku bawa makan sama minum ya Dhean?" tanya Dinda.


"Iya terserah, tapi kamu mah setelah sama dia jadi apa-apa minta dia, cari dia, panggil dia, dan setiap bisa selalu dia muluk. Dasar budak cinta." ledek Dhean.


"Ya emang, aku mendapat raganya sih mudah, tapi soal hati, dia aja begitu turun dari pesawat ngajak aku ngasih pelajaran buat ayam universitas, tau aku seberapa cemburunya?" cerita Dinda semangat.


"Emang masalahnya apa dan kenapa kamu cemburu?" tanya Dhean.


"Gini jadi kemaren itu saat transit di Sorong, Jammer ditelepon Donny, nah kan cuma kamu sama Kana yang ke Singapure. Setelah mendarat aku diajak masuk ke mobil Donny terus Gerry ada mobil lain, setelah itu kita pergi ke kandang ayamnya, maksudnya mantannya Fiux, terus setelah ditangkap di beresin deh sama anak-anaknya Pelong. Aku kan cemburu makannya Jammer aku pegangin sampai gak bisa ngasih pelajaran sendiri tangannya bersih. Tapi dia jadi marah sama aku sampai kemaren ada gantinya orang gak tau kenapa dihajar." ucap Dinda menceritakan


"Lah. Kamu udah tau sifatnya gimana kok malah dipegangi terus sampai gak bisa ngapa-ngapain." sahut Dhean, dengan tatapan meledek.


"Ah gak masalah akhirnya kemarin juga digendong kan dari tempat meeting itu aku digendong." sahut Dinda tak mau kalah.


"Sudah, kamu hubungi pacar kamu itu, katanya kamu kan mau minta dibeliin minuman sama makanan." kata Dhean.


"Iya sampai lupa ngobrol terus." Dinda pun menghubungi Jammer untuk melakukan keinginan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karena diminta untuk ke menemui Dinda, maka Jammer membatalkan rapat managerial.


Sejam setelah ditelpon yang dimaksud datang bersama Rendy membawa pesanan kesukaan Twin D, ia pun hanya menunggu mereka berdua berkerja di sofa, ia mengontrol beberapa perusahaan lewat laporan-laporannya di email.


"Rendy, kalau sudah tidak cuti panggil pemimpin perusahaan ini, minta penjelasan proyek di Salatiga kenapa terlalu menghamburkan uang, tanya kira-kira uang perusahaan kita aman atau tidak!" ucap Jammer sambil memutar pandangannya ke beberapa sisi ruangan. Randy hanya diam sesaat karena bingung perusahaan yang dimaksud itu yang mana.


"Eehhhmm tuh kan Din, perasaan baru sejam kita ngomongin soal itu." bisik Dhean pada Dinda meja mereka berdekatan.


"Tunggu, aku yang atasi." ucap Dinda menepuk bahu Dhean dan kemudian menghentikan pekerjaannya untuk menghampiri Jammer, duduk di sisinya memeluk erat lengan Jammer.


"Kamu kenapa kok cemberut kayak mau sedih-sedih gitu, itu cuma akting atau memang lagi sedih?" ledek Jammer kepada Dinda yang sudah menempel pada dirinya.


"Aku mau memohon soal proyek di Salatiga kamu jangan turun tangan, itu kan proyek pembangunan di ranah tanggung jawabku dan Dhean, aku janji deh uang perusahaan aman, besok aku sama Dhean bakal beresin deh, hiks hiks hiks." ucap Dinda meneteskan air mata.


"Rendy tissue!" pinta Jammer.


"Ini tuan muda." jawab yang diminta.


"Jangan nangis dong, kan aku cuma nyuruh Rendy aja, kalau mau kalian atasi sendiri ya silahkan." ucap Jammer lembut.


"Oh jadi maksudnya perusahaan ini adalah itu toh." batin Rendy dengan menganggukkan kepalanya.


"Emang gila Dinda aktingnya natural, tapi dia benar juga kalau sampai Jammer turun tangan bisa gawat, nanti mama sama papa bakal kecewa, citra perusahaan bisa turun, nanti pekerjaan disana bisa tisiksa semua kalau memang sedang emosi." batin Dhea

__ADS_1


Setelah diusap air mata Dinda, ia pun memeluk Jammer tanpa mengatakan sepatah kata pun, dan itu pelukan penuh makna.


"Aku selesaikan dulu ya pekerjaanku, nanti aku pulang sama kamu pakai mobil Dhean, dia biar diantar Rendy, aku mau perawatan biar gak kalah sama..." bisik Dinda ketika melepas pelukannya. Namun terjeda karena ada hal lain yang mengganjal hatinya. Dinda pun menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


"Hhsshh, biar gak salah sama Fia." ucap Dinda setelah membuang nafas kasar.


"Apaan sih, kamu lebih dari dia, udahlah jangan gitu." sahut Jammer mengelus rambut Dinda dari belakang.


"Gini, nanti kita ke mall yang kemaren kan gak jadi karena ada pengacau itu, nanti kita parkir di tempat stakeholder, biar gak ada masalah." imbuh Jammer untuk menghibur Dinda.


"Ya udah aku selesaikan pekerjaannya, nanti aku mau kamu temani aku sampai malam." pinta Dinda.


Waktupun berlalu kini jam menunjukkan pukul 5 sore dimana jam kerja kantor telah usai, Dhean dan Dinda menutup laptop mereka masing-masing.


"Dhean, aku pinjam mobilmu, mau ke mall sama dia." tunjuk Dinda pada Jammer.


"Terus aku pulang naik taksi?" tanya Dhean.


"Rendy, antar kak Dhean." sahut Jammer.


"Oke aku naik mobil Rendy tapi aku mau ke mall juga, refreshing sesekali." ucap Dhean.


"Tapi jangan ngikutin kita loh, aku mau berduaan. Biasanya kan kamu ngikutin aku hehe." ledek Dinda.


"Iya, aku nanti gak ngikutin kamu, kecuali kalo penasaran aja." canda Dhean.


"Ayo jalan sekarang." ajak Jammer.


Merekapun pergi beriringan dengan mobil masing-masing. Di mobil yang di bawa Jammer, Dinda tak melepas pandangannya ke pada pujaan hati yang ada disisinya itu.


"Sayang." panggil Dinda tersenyum manis.


"Apa sayang?" jawab Jammer datar, berfokus pada jalan.


"Sayang." panggil Dinda manja.


"Mau apa sayang." ucap Jammer menoleh.


"Pengen manggil aja. Abis gemes kalau kamu jawab." ucap Dinda tersenyum.


"Memang ada apa kalo aku jawab. Apa lucu gitu?" tanya Jammer.


"Gak sih, ya cuma seneng aja. Kamu pasti sayang banget sama aku, aku juga pakai banget yang paling mentok." ucap Dinda menyandarkan kepalanya ke lengan Jammer.


"Walaupun sampai sekarang perasaan kita belum sama, kamu masih sayang ke aku sebagai kakak angkat kamu, sedangkan aku menginginkan lebih." lirih Dinda.


"Jangan bilang begitu, aku sayang kamu, sampai kapanpun itu. Biarkan perasaan itu mengalir saja. Sekarang kamu bisa mendapatkan aku sebagai pacar kamu bukan lagi adik angkat, dan aku masih terus berusaha mencintaimu." ucap Jammer dengan penuh kasih.


"Aku akan menunggu kamu." Dinda tak sadar air mata menetes di jas Jammer.


"Aku perlu bicara dengan kamu." Jammer menepikan mobilnya dan mengubah badannya menghadap Dinda.


"Ada apa?" tanya Dinda dengan air mata yang masih terlihat di pipinya.


"Sini aku hapus dulu air mata kamu." ucap Jammer mengusap bekas air mata Dinda dengan kedua tangannya.


"Ehhemm maaf karena aku terlalu mencintaimu." ucap Dinda menggenggam kedua tangan Jammer.


"Gak masalah, aku malah berterima kasih tentang itu."


"Sekarang begini, aku dapat kesempatan rekaman album pertamaku. Ya kalau kamu mau temani aku latihan setiap malam di studio BC, nanti juga pada saat rekaman." ucap Jammer serius.


"Baiklah aku akan selalu ada untukmu." ucap Dinda dan merentangkan tangannya untuk meminta sebuah pelukan.


.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2