Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Pelepasan Anggota Bloggem


__ADS_3

Sepanjang jalan Jammer dan Dinda hanya saling berbalas pandang serta senyuman, tak ada obrolan yang mereka lakukan. Laju mobil mulai melambat ketika sudah terlihat gang masuk rumah orang tua Jammer, ia memakirkan mobil di halaman rumahnya, sehingga diketahui oleh sang adik. Dengan mobil Lamborghini tak mungkin menutupi kedatangan sang pengemudi, terutama karena hanya Jammer yang biasa datang menggunakan mobil itu, keluarga dan tetangga pastinya mengira itu mobil Dinda.


"Kakak, wih bawa jajan gak?." tanya Dinar.


"Aduh penjaga gerbangnya minta suap." jawab Dinda pura-pura mengeluh.


"Kamu kalo segepok lembaran merah ada, mau gak gantinya jajan? Soalnya kita tadi buru-buru, Jammer mau ngambil tugas dadakan, ini aja aku mau nemenin dia di kafe depan gang." ratu Dinda berusaha untuk benar-benar menyuap Dinar.


Jammer hanya terdiam menunggu Dinar yang menghalangi pintu masuk rumah.


"Bukan main. Lamanya mikir." kata Jammer menyadarkan Dinar yang berpikir.


"Oke deh, kak berapa aja sini. Dan aku takkan mengganggu kalian." jawabnya.


"Oke kalo gitu Jammer biar masuk, kamu keluar sini, tawar-menawar dulu." kata Dinda menarik Dinar keluar ke kursi depan rumah yang dari kayu sederhana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di perjalanan Rendy pulang dari rumah tuan Devil. Dia sedang berkendara seorang diri, tak menyadari bahwa ada sebuah kendaraan berjenis SUV yang sedang mengikutinya. Hingga, mobil itu menabrak keras bagian belakang mobil Rendy, karena Rendy melaju dengan kecepatan rendah.


"****, ada apa ini, apa aku menyinggung mereka ya? Apa mereka dari musuh? Dari musuh mana?." batinnya melih dari spion mobil itu menggunakan palang besi di bagian depannya.


Tak terlihat pengemudi yang berada di dalam mobil itu, karena kaca yang digelapkan dan pada malam hari. Rendy terpaksa harus menambah kecepatan mobilnya, Dibandingkan mobilnya kecepatan mobil SUV standar tidak mungkin mampu mengejarnya, kecuali sudah di modifikasi. Dengan cepat jarak antara keduanya menjadi lebih jauh. Sedang sebenarnya mobil si penabrak itu sudah dimodifikasi setara dengan kecepatan mobil Rendy. Hanya saja jika setara berarti hanya kesalahan Rendy yang dapat membuat di dapat dikejar lagi.


"Cukup jauh juga mereka." teriak Rendy yang puas atas hasil yang dia inginkan terwujud.


"Jarak segini mana bisa mereka mengejar ku sekarang. hahaha.” batinnya


Rendy mengambil ponselnya, menghubungi anak buah yang berjaga di rumahnya.


"Hallo, bawa mobil dan anggota aku dikejar musuh bereskan mereka sebelum masuk perumahan dan sampai rumahku!." peringatannya.


"Siap bosku." tanpa menunggu anak buah Rendy mematikan telepon.


Mendekati kawasan perumahan tempat Rendy tinggal. Sebuah mobil SUV lain milik anak buah Rendy melaju kencang dari arah berlawanan.


Druuuaaaarrrrr....


Kedua mobil itu bertabrakan, terdengar suara tabrakan begitu keras hingga beberapa penghuni perumahan keluar, serta beberapa penghuni yang baru saja pulang dari aktivitasnya yang berhenti melihat kejadian itu. Rendy berlalu pergi meninggalkan tempat itu, sisanya biar anak buahnya yang urus. Semua anak buah Rendy turun dari mobil SUV yang memiliki pelindung depan lebih kuat itu, diikuti dua mobil anak buah dari markas terdekat yang dapat dihubungi oleh penjaga rumah Rendy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jammer dan Dinda sudah berada di kafe X5, mereka duduk di lantai dua dekat kaca agak di pojokan, agar dapat mengawasi jalan dan kerja anggota BC yang berkerja di toko-toko sebrang jalan. Seorang anggota Gerry yang bertugas menjadi koordinator kawasan ini memberi kode dari depan toko roti, toko samping gang masuk rumah.


"Lihat kak, uang setoran sudah terkumpul aman." kata Jammer menerjemahkan kode anak buahnya.


"Tanya wilayah ini ada gangguan gak coba!" perintah Dinda.


Jammer pun memberikan kode dengan tangan menunjukkan empat jari kemudian di kepalkan. Dan anak buahnya memberikan kode mengangkat tangan kanannya kemudian berjongkok.


"Apa katanya?." Dinda menunjukkan raut penasaran.


"Katanya ada beberapa masalah tapi selalu di sisi yang di angkat tangannya, kalo dia jongkok artinya masih santai bisa di atasi." jawab Jammer.


"Lah lagi dong." pinta Dinda cengengesan.


"Gak mau ah, keterusan. Mentang-mentang aku yang hapal kode mereka." tolak Jammer.


"Yah kok gak mau sih. Mau dong... ayolah say-." bujukan Dinda terpotong.


"Maaf kak, pesanannya. Kakak pesan jus alpukat, steak....” pelayan yang membawa pesanan dengan menyebut satu persatu.


"Terimakasih ya mas." jawab Dinda ramah memberi senyum.


Jammer hanya menunjukkan wajah datar dengan meletakan tangan kiri dimeja menyangga dagunya.


"Maaf kak, senyumnya jangan manis-manis, saya diabetes." goda si pelayan.


"Ehhemm." Jammer mendehem untuk memperingati.


Dinda berbalik memandang Jammer, tersenyum tapi sedikit menyiratkan makna kurang nyaman dengan sikap Jammer.


"Ya oke, mas makasih." ucap Jammer menyadari kesalahannya.


"Waduh... Saya permisi kak." pamit pelayan itu.


"Kamu kenapa sih, cuma godain aja kok, gak juga bikin aku suka dia. Kan aku suka orang lain yang ada didepanku." kata Dinda.


"Gak kok, tenggorokanku kering jadi kan refleks aja." jawab Jammer.


Jammer memang tidak suka kalo kedua kakaknya di goda orang, tidak hanya pada Dinda tapi pada Dhean juga. Dinda juga tau itu tapi sering menggodanya.


"Kamu jangan gitu dong. Udah mulai cemburu buta ya?" goda Dinda.

__ADS_1


"Udahlah kak."


"Kok kak. Kita lagi ngedate loh." goda Dinda lagi.


"Ehmm... Iya. Iya kak Dinda sayang."


"Itu Silvi dan Byan, ngedate nya nanti lanjutin lagi ya, SA.YANG.” Jammer menekankan kata-katanya.


"Ih kok kamu manggilnya gitu." Dinda mencubitnya dengan gemas.


"Aarrgghh sakit tau." keluhnya.


"Selamat malam tuan muda." sapa Byan.


"Selamat malam juga nona Dinda." sapa Silvi.


"Eh, bukan nona Dhean?" bisik Byan kepada Silvi.


"Malam kalian berdua, lanjutin yang laporan tadi apa aja?" balas Jammer kepada keduanya.


Sedangkan Dinda hanya tersenyum membalas sapa mereka dan memerhatikan saat Silvi sedang menjelaskan semua laporan yang dia miliki. Termasuk laporan keuangan di perusahaan yang dipimpin Dinda. Waktu pun berlalu cepat, jam menunjukkan pukul 9 malam, rombongan anak buah Boeggem sudah berdatangan dengan pistol yang mereka tenteng di setiap tangan.


"Lihat deh babe, mereka yang berjaga di mobil itu dan itu." tunjuk Jammer kepada dua mobil yang berjaga di kedua sisi gang.


"Itu mereka yang paling hebat kan ya?" kata Byan.


"Yang itu kedua tangannya bisa menembak tanpa meleset bersamaan." imbuhnya menunjuk orang-orang Boeggem yang membawa pistol dikedua tangannya.


"Buat apa mereka gitu coba, gak bisa santai banget." ucap Dinda.


Drttt drttt


Ponsel Jammer berbunyi.


"Hallo, ada apa?" Kata Jammer.


"Bos mereka pake senjata dan tidak mau menurunkan senjatanya." kata penjaga dibawah.


"Lepaskan saja teman mereka, biarkan saja, kalo sampai perang fokuskan tembakan ke orang-orang yang membawa pistol di kedua tangannya. Aku ingin tahu sehebat apa mereka." jawab Jammer.


"Siap bos." mendengar perintah itu, ia menutup telepon.


Jammer, Dinda, Silvi dan Byan pun menyingkir dari meja itu ke tempat yang tersembunyi namun dapat melihat segala kejadian di bawah, di roof top lantai ketiga ada seperti taman gantung yang menampilkan tanaman panjang dari atas atap ke lantai roof top disana dapat bersembunyi namun tetap melihat keadaan di bawah.


"Berapa lama lagi mereka keluar?" tanya Silvi.


"Gimana sayang, mereka belum dilepas. Jangan sampai perang, aku gak bawa senjata. Tadi lupa di mobil." giliran Dinda mengambil kesempatan merangkul lengan Jammer bermanja pura-pura takut.


"Byan." panggil Jammer dan yang punya nama paham dengan maksudnya.


"Ini non Dinda." Byan menyerahkan sebuah pistol, tentu dengan sedikit disembuhkan.


"Ya, makasih.." sedikit kesal Dinda menerima.


Tak beberapa lama kemudian muncul Barakuda milih Bayusuta Crew berhenti ditengah jalan diantara mobil-mobil Boeggem. Mereka melepas tawanan anggota Boeggem, di sertai bom aktif yang ada di kontainer, dijadikan rompi pada tubuhnya tentu tertutup jaket juga. Mulutnya di bungkam lakban, tangannya di ikat. Tawanan itu dikeluarkan kemudian ditinggalkan saja oleh anggota BC.


"Sudah selesai sayang." ucap Jammer melirik Dinda.


"Iya udah selesai, ayo turun lagi." ajak Dinda tetap menggandeng lengan Jammer.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dalam perjalan mobil pembawa anggota Boeggem.


"Ggrrr... Ggggrrrrr ggrrr.." Si ahli bom yang tadi ditawan BC mengeram ingin dibukakan penutup lakbannya.


"Hahahaha...."


"Pffftt... Hahaha Gggaarrtt gggeerrttt. Diam biarin aja, biar bos tau dia begini."


Saut-sautan suara para rekannya yang menertawakan tingkahnya yang meronta-ronta minta dibukakan lakban. Mereka tidak mengetahui apa yang ada di jaketnya, sampai perjalanan mendekati pinggir kota, terdengar suara detak jam samar namun masih dapat didengar, awalnya mereka masih tertawa. Namun Agus yang berada di dalam mobil merasa curiga dan memerintahkan anak buah yang dekat dengan si ahli bom memeriksa.


"Bos Agus, ada bom di dalam jaketnya." kata orang yang memeriksa.


"Buka lakbannya suruh dia jinakkan bom nya!" suruh Agus panik.


"APA KALIAN GILA? SUDAH AKU KODE DARI TADI GAK DIBUKAIN." teriak si ahli bom saat lakbannya di buka, tanpa perduli sakit bibirnya saat lakban ditarik cepat.


"Tinggal berapa detik?" tanyanya.


"Empat puluh dua detik Yi." jawab orang yang membuka lakban. Si ahli bom itu biasa dipanggil Yayi.


"Kalo masih sesuai kabel yang aku rakit harusnya itu merah nomor dua sebelah kiri potong, Har!" perintah Yayi pada orang didepannya yang bernama Harto.

__ADS_1


"Ini kan?" tanya Harto sambil memegang kabel yang dia rasa benar dan akan memotong dengan pisau yang selalu dibawanya.


"Cepat bener itu!" Yayi mendesak.


"Udah, kelar." kata Harto.


" Bagus, lepaskan sekarang Har." perintah Agus.


Tik Tik Tik suara detak jam masih berbunyi.


"Tunggu, ada tulisannya keluar. COBA LAGI KAMI BERI 1 MENIT." kata Harto melihat layar digital pemicu bom.


"Wah udah di ubah." keluar Yayi.


"Pikir dulu Yi." perintah Agus.


"Hentikan mobilnya, kalian keluar biar kan aku yang mati, daya ledaknya cuma satu kontainer tidak akan mengenai kalian jika kalian sempat berlari." ucap Yayi.


"Hentikan mobilnya, ayo lari!" perintah Agus.


Mereka pun berlari sekuat mungkin dengan waktu yang sudah lebih sedikit dari EMPAT PULUH DUA DETIK itu. Kamudian.


Dddoouurrr


Bom meledak, mengeluarkan asap hitam dengan bau kotoran sapi, dan mereka pun tertawa.


......................


...Flash back on...


Di markas BC, si penjinak bom dari sisi Bayusuta Crew. Sedang menganalisa bom yang dirakit oleh anggota Boeggem. Beberapa menit dia menganalisa, hingga menemukan satu ide. Dia buang semua bahan peledak di dalam selongsongan bom yang berjumlah elapan buah itu, kemudian memasukkan bom asap yang bila meledak akan mengeluarkan asap hitam pekat dengan bau kotoran sapi menyengat. Serta mengatur ulang memicu agak saat kabel merah yang seharusnya berupa asal daya listrik dari pemicu, di ubah menjadi saklar on pemicu tadi dan mengubah setelan digital menjadi waktu berulang sebelum kabel merah di cabut.


"Hahahaha... pasti lucu nih, senjata mereka jadi mainan buat kita." tawanya membuat beberapa orang di markas BC menoleh padanya.


"Kenapa woy?" tanya mereka berbarengan.


"Ini kita kerjain Boeggem. Bom ta* sapi." jawabnya tersenyum puas.


"Pinter juga nih anak." kata salah satu dari mereka.


"Ayo bareng kita rakit di rompi."


........... Flashback Off...........


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam sudah larut jam menunjukkan pukul 23.38 Jammer pulang berjalan kaki bersama Dinda dari kafe, sementara Byan dan Silvi sudah pulang dari tadi setelah Boeggem pergi. Sesampainya di rumah bapak Samad sudah berada di depan duduk pada kursi kayu.


"Malam sekali kalian." suaranya agak tinggi menegur mereka.


"Maaf pak, baru selesai." jawab Jammer.


"Iya pak, saya juga tadi hampir ketiduran di meja kafe." imbuh Dinda.


"Ya sudah, Dhean kamu tidur sini saja sama Dinar. Besok pagi-pagi baru pulang." kata pak Samad menawarkan.


"Kalo boleh sih pak. Ini sudah malem saja juga ngantuk banget." jawab Dinda.


Mereka pun masuk, Jammer mengunci pintu depan, Dinda berjalan ke kamar dunar, dan pak Samad pergi ke kamarnya dengan Bu Tri. Mereka tertidur tak lama setelah itu, hinggagga pagi tiba, semua mempersiapkan diri untuk beraktivitas.


"Loh kok kak Dhean disini?" tanya Dinar pelan pada dirinya sendiri ketika bangun melihat ada orang disisinya yang masih tidur.


"Kak bangun, kakak udah pagi ini." kata Dinar sambil mengumpulkan kesadaran dirinya sendiri juga.


"Hhhooaaammm... Dinar udah pagi ya?" sapa Dinda dengan suara khas bangun tidur.


"Loh.. Kok kak Dinda ternyata." Dinar sadar kalo yang tidur adalah Dinda dari suaranya dan bentuk wajahnya. Selain itu Dinda dan Dhean susah untuk dibedakan.


"Iya, kamu mau sholat kan? Ayo aku mau mandi sekalian." jawab Dinda.


Setelah semua selesai bersiap-siap memulai pagi mereka berkumpul di meja makan, hidangan yang disajikan agak lebih mewah dari biasanya, karena Dinar berbelanja semalam dari uang yang diberi Dinda.


"Din, terimakasih ya sudah baik dengan Dinar. Tadi malam Dinar cerita kalo ada kamu ngasih uang, bapak kira kamu pulang terus yang semalam menginap itu Dhean kok ternyata kamu ya Din." kata pak Samad.


"Ya pak, Dhean belum bisa kesini. Semalam saya yang menemani Jams." kata Dinda.


Setelah obrolan itu mereka melanjutkan aktivitasnya, terutama Dinda yang mengantarkan Jammer sekolah kemudian berangkat ke kantor, tentu pulang ke rumah dulu untuk berganti baju.


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2