Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Perang Hari Minggu.


__ADS_3

Kini tinggal gangster Indi-Super Hole yang masih di dalam markas BOAC. Tanah lapang ini seperti tanah lapang di kastil karena dikelilingi tembok tinggi dengan beberapa menara pengawas, tempat ini sebenarnya adalah area latihan beladiri milik BOAC.


"From the start I knew you guys had some snipers around this area. Those who came out were the ones who were afraid to die, not like me. I Supra is not afraid to die by his hands." ucap sombong Supra dengan nada tinggi.


"How much do you know?" tanya Dhean.


"Five and not more." teriak Supra.


"You are wrong. We have twenty people." jawab Kana sambil memekarkan seringainya.


"Hahaha, are you kidding me?" teriak sombong Supra.


Jammer dan kelompoknya pun pergi berlindung memasuki gedung markas, mereka akan memulai perang.


"Hahaha, mlebu o. Tak oyak sak matimu." kata Supra semakin keras tertawa.


"Strike!" teriak Supra mengacungkan pistol ke udara.


Dorr.. dorr.. dorr... Suara sniper menembak 20 orang anak buah Supra, kini hanya tinggal 18 orang yang tersisa termasuk Supra, setelah mereka menembak mereka menarik laras panjang mereka untuk pergi lenyap menuju bandara dan kembali pulang ke negara masing-masing.


Suara tembak menembak mulai berbalas-balasan. Dalam pertempuran ini jumlah anggota Jammer memang banyak, tapi Gangster Supra terkenal dengan pasukan yang tangguh di serangan darat baik jarak jauh, sedang, atau dekat. Tak hanya dengan senjata, tanpa senjata pun mereka tanggung, terutama Supra yang memiliki ilmu dari Jawa, ilmu yang dia pelajari dari orang tuanya.


"Hindari menembak Supra!" perintah Jammer.


"Sayang kita berdua keluar duluan." kata Dinda.


"Iya." jawab Jammer singkat tanpa menoleh.


"Hati-hati, aku tunggu di luar." ucap Dinda kemudian mencium pipi Jammer dan pergi meninggalkan mereka.


"Kana. Are you ready?" tanya Jammer.


"YEAAHHH..." jawab Kana bersemangat.


"Serbu!" perintah Rendy.


Lapisan tameng pun bergerak beraturan sesuai strategi Byan, disusul Gerry dan Kana menembak menggunakan AKA-47. Sesuai rencana Supra melangkah menghadapi tembakan seorang diri, sedang anak buahnya menembak dengan berlindung tembok, dengan demikian mereka akan terperangkap dengan pasukan yang muncul dari belakang mereka. Tiga puluh menit terlewatkan, tubuh Supra penuh darah tapi tidak pernah jatuh atau merasakan sakit, setiap darah yang keluar selalu dia hisap dan itu membuat lukanya menutup kembali.


Dorrr... dorrr... dorrr... Sebagian anak buah Supra terkapar di lorong. Sedang pihak Jammer yang muncul dari belakang mereka sebagian besar terkapar mati ditempat.


"Pisahkan Supra dengan anak buahnya sekarang!" perintah Byan melalui handy talky. Anak buahnya menekan tombol di lorong belakang Supra.


Setelah itu pintu dibelakangnya tertutup sehingga hanya Supra yang berhadapan dengan Kana, Gerry, dan Jammer.


Dorrr.. dorrr... dorrr... Kana menembak tangan dan pistol Supra sehingga pistol itu terlepas dari tangannya. Setelah itu dia menembak lagi sampai pistol itu terpental ke pojok ruangan.


"Mundur." perintah Jammer pada orang pembawa perisai.


Tembakan pun terhenti, senjata api semuanya telah di lempar ke pojokan ruangan. Kini Jammer maju bersama Kana memakai katana.


"You. Now are your die!" Kana mengacungkan katananya.


"Hahaha." dibalas tawa sombong Supra.


"Ojo suloyo lakumu." ucap Jammer belum mengeluarkan pedangnya.


Sementara di ruangan lain. Byan sedang was-was melihat pertarungan tersebut dari cctv.


"Aduh berhasil gak ya, aku gak pernah percaya takhayul kayak gitu." gumam Byan dengan muka cemas hebat.


"Aduh Gerry malah mundur, senjata mereka juga dilempar gitu. Ini berhasil apa gak ya Tuhan. OMG I hopefully. Aku akan pergi ke gereja besok Tuhan." gumamnya, namun kali ini terdengar operator cctv.


"What do you say?" tanya operator itu yang bernama Xia Fei.


"Take a pray." jawab Byan, wajahnya bercampur aduk cemas, malu, juga marah pada Xia jadi satu.


"Looked so amazing, baby." balas Xia menunjuk layar monitor.


"This is very fantastic fight, Byan." imbuhnya.


...****************...


Diluar gedung, kelompok BOAC di bantu Rendy sedang berjaga melindungi Dhean dan Dinda.


"Tighten guard, be prepared and alert." teriak Rendy mengepalkan tangannya ke atas.


"Lama sekali dia."ucap Dinda cemas.


"Tenang dia pasti menang." ucap Dhean menenangkan, walaupun dia juga cemas.


"Sebenarnya Byan dan dia merencanakan apa sih, kenapa kita malah disuruh keluar." gerutunya begitu cemas.


"Selama kita di sini dia dan Byan tak pernah bertemu tapi kenapa dia bisa paham strategi Byan?" tanya Dinda tanpa arah bicara.


" Kamu tanya ke siapa?" tanya Dhean bingung.


"Kalian semuanya." jawab Dinda kesal.


"Saya yang bertemu Byan." sahut Rendy sambil terus menyapu situasi dengan mata elangnya.


Setelah itu mereka diam dalam pikirannya masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Didalam ruangan pertempuran, belum ada yang bergerak menyerang.


"Attack me, stab me, stab my body, kill me if you can." tantang Supra sombong merentangkan tangannya.


"Kana." ucap Jammer memberi kode.


"Hahahaha..." tawa Supra menggema di ruangan.

__ADS_1


"Mati kau cu**t." teriak Gerry dibelakang.


Sreeettt.. sreeetttt... sreeetttt.... Kana menyayat tubuh Supra. Tapi Supra tidak merasakan apa-apa.


"Kana, kyodokodeki." teriak Jammer.


"Kana, serang bersama."


Kana pun mundur menyamankan kaki tumpuan yang akan dijadikan sebagai acuan gerakan kombinasi.


"Hahahaha... Just like your attacks?" Supra meremehkan.


"Wis tak kandani ojo suloyo polahmu!" balas Jammer.


"Sudah aku bilang jangan seenaknya tingkahku."


"Tak merem." ucap Supra semakin meremehkan.


"Kana, let's go." perintah Jammer.


Langkah kaki Jammer dan Kana senyap, hasil dari pelatihan samurai yang mereka jalani. Dengan secepat kilat mereka melakukan gerakan yang tak pernah diduga Supra.


Sreeetttt... suara pedang Kana yang menyayat dada kiri Supra.


Braakkk... suara pedang bambu kuning yang dipegang Jammer menyayat dada sebelah kanan.


Seketika Supra pun tersungkur bahkan terlempar beberapa meter, Kana yang fokus melakukan gerakan kombinasi hanya terbengong. Luka sayatannya sedikit demi sedikit menutup kembali, tapi luka akibat pegang Jammer merah menyala seperti bara api pada arang. Gerry yang melihatnya juga kebingungan, selama ikut dengan Jammer belum pernah dia melihat luka bisa menyala seperti itu.


"Wis tak omongi ojo neko-neko awakmu." ucap Jammer.


"What?" Kana kebingungan dengan apa yang harus dia katakan.


"That's just one wound." ucap Jammer.


"What is your sword?" tanya Kana mendekati pedang Jammer.


"Ivory." jawab Jammer singkat, kemudian mendekati Supra.


"F**kin ****." gerutu Supra, dengan susah payah bangun.


"Oh." Jammer hanya ber-oh ria.


"One more." Jammer menebas kaki kanan Supra.


"What's that thing?" celetuk Kana.


"Bambu kuning?" gumam Gerry melihat sekilas benda yang keluar dari sarung pedang Jammer.


"Gerry, bawa dia!" suruh Jammer.


Mereka pun membawa keluar Supra ke depan gedung markas. Disana masih ada beberapa anggota gangster yang di tinggalkan untuk informan gangster-gangster tadi. Tanpa aba-aba Gerry dibantu anggota BOAC memasukkan Supra ke mobil.


"Bawa dia ke depan markasnya, dan ini berikan padanya. Biarkan dia dikira menjadi anggota kita." suruh Jammer, ia juga memberi jaket anggota yang terluka untuk di beri pada Supra.


"Ini pedang dari mana?" tanya Dhean.


"Byan nona Dhean." jawab Rendy yang kini berubah posisi ke belakang tuannya.


"Rendy urus mereka, kau nanti pulang pakai pesawat komersial ya. Sekaligus liburan seminggu kedepan." suruh Jammer.


"Ayo pulang." Jammer meraih tangan Dinda. Dan tanpa jawaban Dinda memeluk lengan Jammer. Diikuti Dhean, Kana, dan Gerry dibelakangnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Singapore, Amel baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. Hasil ronsen akan keluar sore ini, sehingga opservasi bisa segera dilakukan.


"Pa, mereka baik-baik saja atau tidak ya?" tanya Amel cemas.


"Pasti mereka baik-baik saja ma." sambung Sam menenangkan.


"Ah, mereka belum ada kabar apapun. Coba papa WA." pinta Amel.


"Baik mama Amel." jawab Sam membuka ponselnya.


"Minta mereka jaga diri baik-baik." imbuh Amel.


"Papa cepetan dong ah."


"Udah belum."


"Mana sini mama aja." ucap Amel emosi.


Sedang Sam hanya diam menekan telepon kepada Jammer. Namun tidak terjangkau.


"You are namber calling is out of range area..." suara operator.


"Kok gak bisa sih pa?" keluh Amel pada Samuel.


"Nah makanya sabar. Kita tunggu mereka."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Bandara Internasional Los Angeles. Jammer, Twin D, Gerry, dan Kana sedang menyiapkan penerbangan untuk jet pribadi sewaan Samuel. Rencananya delapan belas jam kedepan akan sampai di Indonesia, kemudian Kana, dan Twin D akan bertolak ke Singapore untuk menunggu Amel di sana.


"Excuse me sir. We got a flight schedule at two o'clock in the afternoon." ucap Manajer jet pribadi yang sekaligus co-pilot ke pada Gerry.


"Ok. We also prepare." jawab Gerry.


"Sniper kita sudah pulang semua belum ya?" tanya Jammer.


"Sudah sepertinya tuan." sahut Gerry.

__ADS_1


"Kana. Who do you remember among them?" tanya Jammer.


"Who do you mean?" Kana bingung


"The snipers who helped us earlier?" Jammer.


"Oh, I think what you need in this whatsapp group." jawab Kana menunjukkan ponselnya.


"Add me up!" suruh Jammer.


Setelah Kana memasukan Jammer kenapa grup para sniper, Jammer mengirim pesan agar mereka mengirim nomor rekening mereka ke pesan pribadi Jammer untuk di beri hadian atas kinerja mereka di Indonesia dan Amerika.


...****************...


Waktu perjalanan pulang ke Indonesia telah tiba, semua sudah berada didalam pesawat jet pribadi sewaan itu tanpa terkecuali, pilot sedang memposisikan pesawat untuk meluncurkan di landasan pacu untuk mulai mengudara. Perlahan pesawat mulai melaju menyusuri landasan dan telah menuju langit meninggalkan Bandar Internasional Los Angeles, akan meninggalkan California dan transit di Papua untuk mengisi avtur. Dan setelah 20 menit kemudian, pesawat jet itu sudah mengudara pada posisi stabil di jalur khusus pesawat jet di ketinggian empat puluh ribu kaki di atas permukaan laut, didalam pesawat jet pribadi Manajer jet itu menyapa pada penumpang, menanyakan apakah akan makan sekarang atau nanti sekaligus makan malam.


"Right now because we are hungry." jawab Dhean.


"Kakak sebenarnya kita perlu pulau di samudera Pasifik, nanti kita buat bandara untuk transit supaya lebih cepat, kalo kita pakai bandara kita harus menunggu jadwal lagi untuk lepas landas." kata Dinda membuka obrolan.


"Apa kita sekalian buka maskapai saja Din?" tanya Dinda.


"Ya mungkin bisa." sahut Jammer.


"Kana, kokukaisha o kaisetsu shimasen?" tanya Jammer.


"Kana, apakah kau ingin membuka maskapai penerbangan?" (terjemahan).


"Anata wa kokukaisha o hiraku koto ga dekimasu." jawab Kana tersenyum.


"Anda yang dapat membuka maskapai penerbangan."


"Ya sudah kita cari kerjasama untuk membentuk maskapai." celetuk Jammer.


"Kata Kana dia senang kalo kita punya maskapai, bisa lebih mudah ketemu kak Dhean." imbuhnya.


"Eh apa maksudnya?" bentak Dhean spontan.


"Tunggu deh kak." tahan Dinda saat Dhean akan beranjak memarahi Kana.


"Apa?" tanya Dhean dengan emosi.


"Seperti kakak salah paham." jawab Dinda.


"Sayang dia omong apa yang benar, jangan bikin marah kak Dhean!" tegur Dinda melotot.


"Ah iya, iya aku bercanda. Dia bilang kita setuju saja kalo kita buka maskapai." jawab Jammer cengar-cengir.


"Tuh kan Dhe, dia emang ngeselin kadang." tunjuk Dinda pada Jammer.


"Maaf makanan sudah siap." ucap seorang pelayan yang berasal dari Indonesia.


"Kok ganti mbak pelayanannya." tanya Gerry.


"Iya yang pelayan kebenaran liburan di Amerika, nah saya temannya kebetulan juga mau pulang dari sini." jawab pelayan itu.


(note: ini emang bukan pramugari ya readers, karena pesawat jet jadi Sam minta untuk tidak pakai pramugari yang kerjanya kompleks, ini hanya khusus pelayanan saja.)


"Silahkan, masakan kali ini adalah steak daging sapi dari Swiss, dengan level medium...." penjelasan pelayan tadi.


"Seperti tugas dari manajemen saya akan memberikan pelayanan selama delapan jam." imbuhnya.


Mereka pun makan dengan hitmat tanpa ada suara selain alat makan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di markas Blade Knife, Coki sedang melaporkan peristiwa terjadinya pertempuran BC dengan Isuh.


"Bos dari anggota kita yang kebetulan sedang mengurus bisnisnya di Amerika, ia melihat Jammer keluar dari markasnya dengan seorang yang di anggap paling kuat di California, mereka mengalahkan dia." ucap Coki.


"Siapa dia yang kamu maksud?" tanya Roger.


"BC mengalahkan gangster terkuat di California. Dia mengalahkan Isuh." jawab Coki membenarkan.


"Oh, terus sekarang mereka menguasai Californi?" tanya Roger dengan penasaran.


"Tidak tau bos, seperti mereka tidak berniat menguasai seluruh California. Tapi belum pasti juga." jawab Coki asal seadanya yang dia pikirankan.


"Sangat cocok, posisi kita jika terus diatur oleh Ganco pasti tidak sebagus ini." gumam Roger, ia pun menyeringai.


"Kenapa bos?" tanya Coki melihat senyum Roger.


"Hahahaha." tawa Roger.


.


.


.


.



Untuk pembaca yang budiman, apa saya sudah membuat kalian senang? Semoga susah ya....


Kalian mau lihat gak kembaran Dhea dan Dinda itu gambarannya seperti apa? Jawab lewat komen ya, nanti kalo sudah ada yang minta saya bakal carikan yang sesuai dengan ciri-ciri Twin D ( Dhean dan Dinda). Thanks for reading.


Semoga disenyumkan di hari-hari kalian.


Salam,-

__ADS_1


PENGRAJIN KATA.


__ADS_2