
Pagi-pagi sekali Dinda sudah siap untuk pulang ke rumah Sam, tinggal menunggu Jammer yang baru selesai mandi, ia juga harus berangkat lebih awal agar Dinda bisa segera pulang kemudian ke kantor.
"Sebentar ya." ucap Jammer ketika melewati Dinda di sofa ruang tengah.
"Kak Dinda ternyata tetap wangi ya. Semalam kan gak mandi abis pulang dari Amrik langsung tidur di sofa, begitu bangun langsung pergi sama kak Jammer sampe malem kayaknya." ucap Dinar, karena saat ia terbangun tadi malam Dinda sudah ada di sampingnya dengan piama.
"Kata siapa kakak semalam pulang dari belanja langsung mandi, cuma gak keramas aja." kata Dinda sambil mencubit hidup Dinar.
"Aauww sakit kak." keluh Dinar.
"Hahaha, gemes aku kok." kata Dinda kegirangan.
"Ini rasain juga." balas Dinar mencubit hidung Dinda.
"Aauww." keluh Dinda menghentikan tawanya.
"Eh udah kok malah pada cubit-cubitan." larang bu Tri.
"Bapak mana bu.?" tanya Dinda.
"Semalam masuk angin jadi masih di kamar, abis solat terus tiduran lagi." jawab Bu Tri.
"Oh, tapi gak perlu ke rumah sakit kan?" tanya Dinda lagi.
"Enggak kok. Minum obat warung juga sembuh." kata Bu Tri.
"Ehh nanti kalian sarapan dulu ya seadanya!" suruh Bu Tri.
"Gak usahlah Bu. Aku sama Dinda mau berangkat sekarang." potong Jammer yang baru keluar dari kamar. Dan di angguki oleh Dinda.
"Buk permisi dulu." ucap Jammer dan Dinda kemudian mencium tangan bu Tri bergantian.
"Masih jam setengah enam udah mau berangkat?" Bu Tri berusaha menahan.
"Nanti telah Dinda." jawab Jammer.
Dengan motornya Jammer membawa Dinda melaju kencang pada jalan yang masih lengang karena belum waktunya berangkat ke aktivitas masing-masing orang. Tanpa adanya perintah Dinda memeluk erat punggung Jammer untuk menghindari jatuh dan mengurangi dingin angin pagi. Kurang lebih dua puluh menit kemudian mereka berdua sampai di depan sekolah Jammer, untuk itu Dinda akan pulang membawa motor Jammer.
"Hati-hati ya dijalan." pesan Jammer ketika ia turun.
"Oke tapi ada syaratnya biar aku hati-hati!" pinta Dinda melepas helmnya.
"Apa." tanya Jammer sambil mengikat helm yang di pakai ke bagian belakang motor.
"Sini tak bisikin." tarik Dinda dengan memegang dagu Jammer.
Cup. Sebuah ciuman di bibir Jammer.
"Udah kan cuma satu aja syaratnya." ucap Jammer datar.
"Masih satu lagi. Nanti kamu jemput aku sore, tempatnya aku WA!" pinta Dinda lagi.
"Oke syaratnya kamu hati-hati." ucap Jammer masih datar, tapi mengelus pipi kiri Dinda dengan tangan kanannya.
"Ahh. Sayang aku gak mau pulang." rengek Dinda.
"Kamu harus pulang, gimana kerjaan yang kamu tinggal seharian kemarin kalo gak mau pulang?" bujuk Jammer, kini sikapnya melunak tak datar lagi.
"Nih anak gak peka amat, aku kedinginan nih, malah gak mau pergi." batin Jammer.
"Ya udah peluk." Dinda merentangkan kedua tangan.
"Manjanya." sindir Jammer, tapi yang disindir malah tersenyum di pelukan Jammer.
"Udah ya, ini sudah jam enam lebih seperempat." ucapnya melihat jam di menara jam sekolah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rendi masih berberes sepeninggal Jammer dan yang lainnya, kini Amerika berada pada waktu malam hari, pada pukul sembilan malam lebih sedikit.
"Have all been cremated?" teriak Rendy.
"Yes, Mr. Rendy has all been cremated." ucap petugas kremasi.
Semua mayat musuh sudah dikremasi di markas, dan itu adalah tugas akhir dalam rangka bersih-bersih serta berberes markas BOAC.
"Now listen to me!" teriak Rendy lagi.
"We are all the same. we are all one brotherhood. After this there is still another task that is to fulfill the wishes of the enemy that we promised." seru Rendy.
"Go spirit, go glory of business." serunya lagi mengepalkan tangan ke atas.
"Ok. I have to go home, I hope you guys can take care of the rest of the work left behind." Pamit Rendy.
Setelah memberi semangat dan sedikit pengarahan Rendy pun pergi ke bandara dibantu oleh pemimpin BOAC untuk segera ke bandara dan pulang. Karena menggunakan pesawat komersial, diperkirakan perjalanan akan memerlukan waktu tempuh tiga puluh tujuh jam, transit di Honolulu dan Sorong Papua Barat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Halo, bersiap di posisi!" perintah Gusman.
"Baik bos." jawab anak buahnya melakukan telepon.
Tak begitu lama mobil anak buah Gusman sudah berada dipertengahan jalan melewati hutan-hutan yang kemarin hampir mencelakakan Gusman dan Donny. Dan ternyata metodenya berubah, orang yang kemarin ditendang Donny kini berpura-pura sedang menyebrang kemudian menabrakan diri ke mobil anak buah Gusman.
Brak.
"Aarrgghh sakit." pekik pria yang menabrakan diri.
Kini mobil yang kemarin datang dari arah berlawanan, berpura-pura menjadi penolong.
"Ada apa ini?" pekik seorang dari dalam mobil dengan lebih dulu membuka kaca mobilnya.
"Ini dia menabrakan diri ke mobil saya pak." tunjuk anak buah Gusman.
"Jangan fitnah, kamu yang nabrak." kata orang yang menabrakan dirinya.
"Saya rasa yang benar mobil nabrak orang, mana ada orang menabrakan dirinya sendiri kalo tidak sedang bunuh diri." kata orang di mobil. Ia kemudian turun dan menghampiri kawannya.
__ADS_1
"Pak dia yang menabrakan dirinya, saya gak bohong." ucap anak buah Gusman mengikuti alur mereka.
...****************...
Dari tempat Gusman mengamati, iya menyeringai karena mangsanya memakan umpan.
"Bergerak!" seru Gusman kepada anak buahnya yang telah menyamar di dalam semak ataupun dibawah tumpukan daun kering yang jatuh dari pohon.
Gusman dibonceng anak buahnya pun datang.
"Ketemu kalian lagi." kata Gusman.
"Pagi bang." sapa anak buah Gusman.
"Pagi." ucap datar Gusman.
"Kalian yang kemarin cari masalah kan?" tanya Gusman. Namun lama tidak ada jawaban.
"Kalian ada kelebihan apa berani beroperasi di sini?" tanya Gusman lagi.
"Pak komandan kita bawa saja ke kantor." bentak anak buah Gusman yang menyamar di dedaunan kering di tanah.
"Kamu tau mereka adalah unit khusus kepolisian sini." ucap bohong Gusman.
"Kalian pilih ikut aku apa ikut mereka?" tanya Gusman.
Keduanya bingung karena mereka sudah di todong laras panjang dengan jarak hanya beberapa meter tidak sampai sepuluh meter. Lama mereka semua bertahan dalam posisi diam tanpa suara dan pergerakan.
"Kami ikut polisi saja, paling tidak bisa cari pengacara di kantor polisi." ucap orang yang menabrakan dirinya.
"Sebelum pergi aku bisa tau nama kalian?" tanya Gusman.
"Saya Hilmi dan dia Ateng." jawab orang yang membawa mobil.
"Ya sudah saya pergi dulu. KOMANDAN." pamit Gusman sekaligus menegaskan kata komandan.
"Ringkus mereka!" seru orang yang dipanggil komandan.
Mereka di borgol menggunakan Plastic handcuffs, dibawa ke markas pusat di bawah PT Sri Manunggal Sejahtera. Tentu untuk jadi mainan anggota BC, karena BC paling anti dengan pencurian, perampasan, dan mematikan generasi bangsa, maka haram juga memalak, mengedarkan narkoba, dan merusak generasi muda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sekolah kini sedang waktu remidial, seperti biasanya Jammer tidak ada remidi tes, walaupun nilainya tidak menonjol juga. Jammer sedang duduk di gazebo dekat ruang UKS, kebetulan di dekat itu juga ada taman kecil dan beberapa siswi sedang berada di sana.
"Dia siapa?" tanya Theresia, anak baru jurusan Teknik Mesin Industri.
"Dia Imaduddin Jammer, anak TKRO." jawab Mia yang baru juga mengenal Theresia.
"Kok aku sebulan disini belum pernah lihat." celetuk There.
"Udah jangan bahas dia, mending kita ngobrol hal lain." sahut Galuh yang juga ada dalam gerombolan itu.
"Kalian ngobrol dulu. Aku ada urusan." pamit Theresia.
"Tunggu aku temani." sahut Galuh.
Theresia pun mengajak Galuh bergandengan tangan, menuju Jammer.
"Hai, Jammer ya?" sapa Theresia.
"Iya." jawab Jammer tapi juga melirik Galuh memberi kode wajah bertanya-tanya.
"Kamu anak TKRO kan ya?" tanya Theresia lagi.
"Iya, kamu siapa kita. Sepertinya kita baru pertama kali ketemu?" tanya Jammer.
"Aku Theresia, ya sebulan ini aku pindah dari Jakarta." jawab There.
"Oh, nah Galuh sama Theresia duduk sini." tunjuk Jammer pada kursi disampingnya.
"Gak dulu deh, aku mau ke toilet." tolak Theresia, menarik Galuh pergi.
Galuh hanya mengikutinya saja.
"Untung saja dia pergi, kalo sampai Jammer marah bisa gak ke pelaminan sama Donny aku." batin Galuh.
"Galuh kamu lihatkan ekspresi dia kayak masih bertanya-tanya gitu, dengan ditinggal gitu pasti momen keduanya besok bisa lebih cepat akrab." ucap There bangga.
"Mending kamu jangan deket-deket sama dia, aku yang ketakutan kalo sampai pacar dia tahu terus kesini bisa-bisa remuk jantungku." ucap Galuh serat makna.
"Pacar?" Theresia pun sinis.
"Mana ada yang bisa ngalahin aku kalo urusan beginian, gak Galuh gak bakal ada yang berani sama aku soal cowok." sambung There dengan angkuhnya.
"Terserah kamu aja aku udah ngasih tau." ucap Galuh.
Tibalah waktu pulang sekolah bagi yang tidak remidi diberi waktu pulang lebih awal 2 jam. Theresia yang pamitnya mau ke toilet pun berjalan kembali ke tempat dimana Jammer tadi berada. Namun ternyata Jammer sudah pergi keluar sekolah, Theresia yang tak mau kehilangan kesempatan pun mengejar Jammer yang berjalan lambat tidak seperti siswa lain yang buru-buru pulang.
"Hai lagi, kamu mau pulang kan?" tanya jaluh menyamakan langkahnya.
"Gak sih, aku mau ke suatu tempat." jawab Jammer.
"Di mana?"
"Didekatnya daerah jalan lingkar Soekarno-Hatta." jawab Jammer.
"Deket dong sama rumahku. Gimana kalo kita bareng aja kesana." kata Theresia senang.
Jammer tak menjawab hanya terus berjalan hingga tiba di gerbang. Ada sebuah mobil yang langsung berhenti di hadapan Jammer, kemudian muncul Gusman dengan tubuh yang penuh darah, bukan darahnya melainkan darah penjahat yang tadi pagi ditangkap.
"Selamat siang tuan muda, anda ditunggu oleh yang lainnya, ada satu mainan sebagai hadian untuk anda. Anggap saja sebagai pengganti kemarin." ucap Gusman sambil membuka pintu belakang, Theresia hanya mengikuti arahan Jammer dengan kode tangannya menunjuk There agar lekas masuk.
"Eehhhmm. Cepat pergi dulu!" suruh Jammer.
"Apa mainannya kalian bongkar sampai terkena pewarna seperti ini." ucap Jammer
"Maaf tuan muda." ucap Gusman.
__ADS_1
"Kami sampai lupa diri saking serunya bermain." imbuh Gusman.
"Theresia, kamu kenapa diam saja?" tanya Jammer menyadarkan lamunan There.
"Aku mau turun." teriak Theresia.
"Kenapa?" tanya Jammer.
"Aku ingin turun." pinta There sudah menangis.
"Tenang There, kamu itu kenapa tiba-tiba histeris" tanya Jammer.
"Aku takut darah." Rengek There.
"Ini bukan darah, ini cat." kata Gusman membohongi.
"Walaupun memang baunya seperti darah." sahut sopir disamping Gusman.
" Theresia, There, bangun There." panggil Jammer melihat There sudah pingsan.
"Gusman, kita ke markas saja, kamu siapa namanya kebanyakan anggota sampai sering lupa..."
"Namanya Pradipta tuan." potong Gusman.
"Pradipta, tolong antar There ke rumah dia. Tapi mungkin kamu harus tenangkan dia." suruh Jammer.
"Udah, gak usah terlalu takut. Itu cat bukan darah. Atau gini deh, kamu tutup mata terus cari posisi biar gak takut lagi." saran Jammer menenangkan Theresia.
"Oke." jawab There yang mendekati bahu Jammer untuk bersandar.
"Oh iya Gusman bisa tolong tanya Rendy. Minta nomor Monika, ini kan tinggal beberapa hari kasihan kalo dia tidak mendapat kesempatan yang adil!" suruh Jammer.
"Monika itu siapa?" tanya Theresia masih memejamkan mata.
"Cuma orang seperti kamu. Kenalan yang baru saja ketemu." ucap Gusman.
"Ya juga sih." celetuk lirih Jammer.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Diperusahaan Dinda sedang gelisah mondar-mandir didalam ruang kerjanya, kadang menatap keluar ke awan, kandang menatap dokumen yang menanti Dinda membelai tiap lembarnya, kadang menatap layar ponselnya yang terpampang foto dirinya, Dhean, dan Jammer sedang gembira.
POV Dinda...
"Kenapa aku merasa seperti ini. Batinku sangat gelisah, ada apa sebenarnya?" gumamku.
"Rasanya tadi pagi begitu nyaman." gumamku lagi.
"Andai awan bisa jadi pemberi pesan."gumamku lagi dan lagi.
Aku mondar-mandir sejak istirahat makan siang, namun tak tau kenapa dan ada kejadian apa.
"Coba aku hubungi Jammer." ucapku lirih.
Lama panggilan dariku tidak ada jawaban, hingga telepon ke delapan kalinya ada jawaban dari Jammer.
"Hallo, ada apa?" ucap Jammer.
POV Author.
"Aku kangen, kamu kapan pulang?" rengek Dinda.
"Ini aku sudah di mobil." ucap Jammer datar.
"Aku tunggu di ruang kerjaku, kamu jangan buru-buru, pokoknya kamu sampai sini aku adalah versi terbaik buat kamu" ucap Dinda.
"Ehmm, aku tutup ya." tanpa menunggu jawaban.
"Kenapa dia kok gini?" pekik Dinda walaupun tidak ada orang di ruangan itu, namun bising kantor untuk sesaat seakan senyap dari telinganya.
"Tunggu, kemarin dia aku tahan bahkan satu pukulan saja dia tidak bisa melakukan ke si ayam itu." gumam Dinda mengingat kembali.
"Ah bodohnya aku, aduh Dinda kenapa kamu tahan kemarin, kalo gini bisa jadi dia marah. Buruan kemarin kan punya dia kenapa malah kamu tahan-tahan dia Dinda. Bodoh sekali." gerutu Dinda semakin gelisah, semakin cepat langkahnya menyetrika ruangan.
"Tunggu Dinda. Kamu bisa memperbaiki semuanya, tunggu sekarang masakan kesukaan Jammer dulu." ucap Dinda menenangkan diri.
Dinda pun melangkah menuju ruangan istirahatnya di ruang sebelah, dengan fasilitas kitchen set lengkap, meja rias, tempat tidur, dan tempat tidur ruangan ini lebih pantas disebut apartemen di kantor dari pada ruang istirahat. Dua puluh menit lamanya hingga tepat waktu makan siang, masakan Dinda hampir selesai. Ia melihat keluar jikalau mungkin Jammer sudah datang, namun belum ada orang, ia menelepon lagi Jammer.
"Hallo, kenapa?" suara di sebrang telepon.
"Sayang, kamu lagi dimana, masih lama ya?" tanyanya.
"Aku ke markas sebentar, tadi juga kan harus kerumah ngambil seragam. Ini cuma ngambil dokumen di kantor tunggu sebentar lagi." jawab Jammer. Padahal dirinya sebenarnya sedang menghukum sampah masyarakat yang disisakan Gusman.
"Iya kamu tenang aja, jangan buru-buru." ucap Dinda sambil membalikkan ayam goreng kremes kesukaan Jammer.
"Ada lagi?" tanya dengan datar.
"Boleh titip cari wine, di sini tinggal punyanya Dhean punyaku habis." pinta Dinda.
"Aku bawakan dari markas. Nanti malam beli. Udah ya aku beresin dulu yang disini nanti biar cepat-cepat ke kantormu, katanya kamu ada meeting sore ini." lagi ditutup tanpa jawaban dari Dinda.
"Padahal aku ingin minta kiss Bey. Walaupun cuma suara dari telepon, tapi dia sepertinya sedang bad mood." gumam Dinda.
"Malang sekali nasipku Oh my God, why?" keluh Dinda.
.
.
.
.
Saya selaku author, hanya untuk sekedar gambaran bucin itu mungkin asyik tapi jangan overtaking, pakailah feeling, karena sepengalaman saya baik dari diri sendiri atau curhatan orang, overtaking lebih besar kemungkinannya merusak hubungan, ketimbang feeling. Tapi itu hanya saran saja dari saya PENGRAJIN KATA.
__ADS_1