
Sepulang dari mabes Bayusuta Crew Dinda, Dhean, Pelung, dan dibantu oleh penjaga rumah Sam membopong Jammer yang setengah tertidur dengan banyak bicara ngelantur itu ke kamarnya. Dinda kembali menangis karena perkataan Jammer.
"Aku minta maaf Beb." ucap Jammer dengan tingkah orang mabuk.
"Maaf betul, aku minta maaf Dinda." sambung Jammer.
Hanya ungkapan meminta maaf, kecewa dengan keadaan, menyesal, dan hal-hal lain yang tak jelas terdengar. Ucapan itu yang terus keluar dari mulut Jammer selama di bawa ke kamarnya.
"Hati-hati, Dinda masuk dulu, kita masuknya miring!" komando Dhean.
"Sekarang taruh dulu, biarkan dia duduk dulu." komando Dhean ketika sudah di ranjang Jammer.
"Lepas semua, biar Dinda yang tata tidurnya Jammer!" komando Dhean lagi.
"Sekarang kita keluar, biarkan dia tidur." ajak Dhean.
"Ayo kita ngopi dulu, ini tubuhku juga harus mandi. Abisnya darah siapa itu tadi, kotor banget muncratnya kemana-mana." ucap Dhean sambil beranjak keluar dengan Pelung dan para penjaga rumah.
Dikamar Dinda membetulkan posisi tidur Jammer, menyelimuti tubuh berlumur darah itu. Kemudian mencium kedua pipi Jammer dan akan beranjak pergi.
"Jangan pergi." ucap Jammer menggenggam tangan Dinda.
"Kenapa?" tanya Dinda walaupun ia merasa ingin pergi menenangkan pikirannya.
"Maaf." ucap Jammer.
"Iya sayang." jawab Dinda.
Dinda memandang Jammer yang melantur tak jelas dan tidak dapat di dengar, diam-diam meneteskan air mata.
"Kasihan kamu harus terpaksa menerima ku. Apa aku harus merelakanmu?" batin Dinda.
"Tapi aku merasa ada celah untukku, hanya aku yang dapat menetralkan detak jantungmu, menurunkan emosionalmu, sepertinya sampai saat ini hanya aku." batinnya lagi.
Dinda duduk di samping Jammer dan mengusap kepala Jammer lembut. Memerhatikan laki-laki itu tidak jemu ia pandang, tak ada lagi kelam yang terlihat dari wajah itu, hilang dari pandangannya.
"Hhwwwaahh." Dinda menguap karena merasakan kantuk yang tertunda hingga waktu hampir pagi begini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di markas besar Bayusuta Crew, beberapa penjaga mabes membersihkan tempat itu dari bekas kegiatan tadi malam hingga hampir subuh itu. Kejam itulah kebiasaan buruk mafia, walaupun dasar mereka kita telah berubah lebih baik namun membunuh masih belum bisa ditinggalkan, miris bila itu terus akan terjadi, diluar kelompok BC mungkin ada yang lebih sadis, bukan mungkin melainkan pasti ada yang lebih sadis. Dunia gelap memang sangat kejam, tanpa kekuatan untuk menang maka akan mati.
"Bang Tigor, nasib ya bang, jam segini harus repot-repot gara-gara cunguk ini." celetuk seorang ketika mengurusi para mayat itu.
"Ya sudah lah, memang pas jaga begini maunya sih gak ada kerjaan, malah datang penghianat dari sebrang jauh sana lagi tuh." jawab Tigor.
Mereka terus melanjutkan kegiatan kebersihan itu, hingga menangani mayat itu dengan di bakar. Dengan begitu jauh lebih efisien waktu dan tidak ketahuan masyarakat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari ketika matahari sudah menyapa, Pelung dan Dhean pergi ke markas untuk mengontrol keadaan di markas yang menurut mereka berdua, mungkin masih dalam pembersihan pikir mereka.
"Pakai motor saja biar nanti bisa masuk ke lift, aku malas pagi begini jalan." ucap Dhean ketika
berada diambang pintu utama.
"Maaf non, dimana ya tempat motornya?" tanya Pelung.
"Tanya satpam rumah." ujar Dhean.
__ADS_1
Setelah Pelung meminjam motor satpam, mereka berdua segera ke mabes. Diperjalanan tidak ada kata yang keluar dari keduanya, hanya fokus untuk sampai ke markas. Ketika di markas, kondisinya masih dibersihkan, tapi sudah tinggal sedikit lagi untuk kembali bersih seperti semula, hanya menghilangkan air yang masih bercampur darah, menimbun sisa air yang sudah bersih dari darah dengan tanah, memadatkan tanah dengan selender kecil yang memang sudah ada di peralatan markas, kemudian membersihkan bau amis darah dan membuang abu pembakaran mayat. Itu bagi Dhean tidak lama dengan anggota yang ada mungkin sebelum waktu sarapan Dhean bisa pulang untuk ikut makan.
"Tigor, bagaimana bakar-bakarannya sudah selesai atau belum?" teriak Dhean.
"Belum non. Ini baru matang belum jadi abu." jawab Tigor juga berteriak karena ia di dalam sejenis ruang kremasi tapi tidak mengkremasi.
"Kalau begitu nanti urus dengan yang lain, buang sekaligus kamu pulang!" suruh Dhean.
"Pelung ayo pulang!" ajak Dhean.
"Baik non." ucap Pelung.
...****************...
Sesampainya di rumah, Dhean langsung masuk mengajak Pelung untuk makan sarapan.
"Hai semuanya." sapa Dhean dengan wajah sumringah.
"Sayang duduk, itu siapa?" ucap Amel.
"Saya Pelung nyonya, anggota tuan muda di Semarang." ucap Pelung memperkenalkan diri.
"Silahkan duduk Lung. Kamu kenal saya kan?" ucap Sam.
"Saya sangat kenal, dan sangat kagum dengan tuan Devil." jawab Pelung dengan raut wajah kagum.
"Silahkan ambil makanannya." ucap Amel.
"Sayang Dinda dan Jammer dimana?" tanya Amel.
"Dikamar Jammer mungkin, aku belum ngecek lagi setelah aku tinggal mereka ke markas." jawab Dhean enteng.
"Sebentar nyonya." jawab Bi Atun.
"Ada apa nyonya." tanya Bi Atun setelah meletakkan sayur asem di tengah meja makan.
"Tolong Bibi ke kamar Jammer!" suruh Amel.
"Tunggu mah. Biar aku saja." ucap Dhean memotong respon Bi Atun.
"Temenin Bibi ya sayang." saran Sam.
Dhean hanya mengangguk dan berjalan terlebih dahulu naik ke kamar Jammer. Ketika di depan kamar Jammer, Dhean memberi kode dengan tangan agar Bi Atun tidak ikut masuk. Ketika pintu di buka, bau anyir perlahan keluar karena ruangan yang ber-AC itu tidak menggunakan pewangi ruangan sehingga bau-bau yang terperangkap di sini akan terakumulasi di dalam menunggu ruangan di buka maka bau itu akan menyeruak ke luar kamar Jammer.
"Dasar Dinda." pekik Dhean.
"Malah ikut tidur, pakai peluk-peluk tangan adik lagi tuh." imbuhnya.
"Bagun Dinda. Dicari mama di meja makan!" teriak Dhean dengan menggoyangkan pinggul Dinda.
"Ah." suara Jammer dan Dinda berbarengan karena terganggu Dhean.
"Ada apa sih, aku masih ngantuk." keluh Dinda, dan malah mempererat peluknya.
"Biar dulu kak ah. Aku juga mau tidur dulu." ganti keluh Jammer.
"Ok, I am understanding for what is it." ucap Dhean dan berlalu pergi ke bawah lagi.
Ketika keluar kamar, bau anyir itu sudah keluar dari kamar Jammer membuat mual Bi Atun.
__ADS_1
"Kenapa Bibi Atun mau muntah ya?" tanya Dhean.
"Bukan non, hanya mual sekujur tubuh tuan muda Jammer berlumuran darah." jawab Bi Atun.
"Memang non Dinda tidak jijik ya non Dhean tidur di samping orang berlumur darah begitu. Maunya juga seperti baru beberapa jam begitu darahnya." sambung Bi Atun.
"Hahaha, anak papa Samuel tidak boleh jijik dengan darah." canda Dhean.
Mereka pun melanjutkan makan sarapan di bawah, dan melanjutkan kerjaan mereka setelahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jarum jam dinding di kamar Jammer menunjukkan pukul 9.30, Jammer terbangun oleh gerakan Dinda yang malah berpindah menjadikan tangan Jammer bantalan tidurnya. Jammer tersenyum sesaat, karena tahu pasti sebelumnya Dinda sudah terbangun tapi tidak ingin turun dan malah berubah posisi tidurnya. Jammer hanya diam dan memiringkan tubuhnya ke arah Dinda, dan berbisik ditelinga Dinda.
"Kamu harus bangun." bisik Jammer, beberapa saat tidak ada jawaban dan gerakan.
"Aku mau mandi kamu juga harus mandi, kena darah kan dari badanku." bisik Jammer lagi.
"Ah nanti." keluh Dinda.
"Ok. Aku bangun duluan." ucap Jammer menarik tangannya yang ditindih Dinda.
"Iya, nanti habis mandi bangunin aku ya." ucap Dinda, tapi tidak di balas Jammer.
Dua puluh menit kurang lebihnya kemudian Jammer keluar kamar mandi, ia berganti di walking closed. Dia membangunkan Dinda, tapi putri Devil itu tidak mau bangun mengeluh terus-terusan. Karena tak sabar ia mengendong Dinda dan membawanya ke kamar Dhean dan Dinda, menaruh Dinda di kasurnya.
"Mandi aku tunggu di sofa kita sarapan!" perintah Jammer, tanpa menunggu dijawab ia keluar dan turun.
"Bi Atun." panggil Jammer dari tangga.
"Siap den." jawab bi Atun spontan.
"BI dimana?" tanya Jammer mendengar suaranya dari luar rumah.
"Di sini tuan muda Jammer. Bibi dari samping rumah bersih-bersih kaca jendela." jawab Bi Atun.
"Bibi tolong buatkan aku brongkos ayam." suruh Jammer.
"Baik tuan muda." ucap Bi Atun.
Kemudian setelahnya Jammer duduk di sofa menunggu Dinda selesai mandi dan membuka ponselnya untuk melihat akun media sosial Fiux. Sekali, dua kali, di ketiga kalinya ia menstalk, ia teringat harus meminta bantuan untuk membuang darah di kasurnya.
"Hubungi siapa ya?" gumam Jammer berpikir.
"Ah hubungi Rendy dan Donny, Gerry biar pacaran mungkin dia." gumam Jammer lagi.
Ia mengirim SMS ke Rendy dan Donny, hari munggu begini sebenarnya Jammer malas berjibaku untuk memindahkan tempat tidurnya dan membersihkan darah yang ada, tapi itu sudah keharusan yang wajib di lakukan, yaitu tanggung jawab karena mengotori. Jammer berencana hari ini ia akan dirumah saja tidur dan bersantai sebelum bekerja lagi, kemungkinan juga bercanda dengan Twins D, tanpa berpergian ke mana-mana lagi. Bagi yang melihat mungkin akan bosan, tapi bagi Jammer sudah sejak lama tidak bersantai di rumah, karena harus melakukan banyak hal hingga tidak memberikan kesempatan untuk bersantai sejenak di tempatnya akan pulang.
.
.
.
.
...
__ADS_1
...