
Di markas Gerry, kelompok mafia Blade Knife sudah dieksekusi hanya disisakan David yang masih ditutup matanya, dia hanya bisa mendengarkan apa yang terjadi di ruangan itu. Gerry hari ini puas bersenang-senang, sementara Jammer hanya memainkan gitar milik Sofyan, penjaga markas Gerry.
"Kuambil gitar dan mulai memainkan
Lagu lama yang biasa kita nyanyikan
Tapi tak sepatah kata yang bisa terucap
Hanya ingatan yang ada di kepala
Hari berganti angin tetap berhembus
Cuaca berubah daun-daun tetap tumbuh
Kata hatiku pun tak pernah berubah
Berjalan dengan apa adanya
Di malam yang dingin dan gelap sepi
Benakku melayang pada kisah kita
Terlalu manis untuk dilupakan
Kenangan yang indah bersamamu tinggalah mimpi
Terlalu manis untuk dilupakan
Walau kita memang tak saling cinta, takkan terjadi diantara kita." nyanyian lagu Jammer, sebuah lagu dari Slank - Terlalu Manis.
Argh argh argh argh. Suara kesakitan dan darah menghiasi seisi ruangan, semua orang yang dieksekusi di ikat satu sama lain di pinggang mereka, tangan mereka dan leher mereka sehingga mereka tidak akan bisa menghindari ayunan Katana dari Gerry.
"Tolong jangan bunuh aku." teriakan mereka sahut menyahut ketakutan.
"Tuan kalo kita habisi mereka tanpa sisa gimana nanti kuburannya penuh?" keluh Gerry.
"Syukur Gerry gak bunuh kita bos." ucap seseorang dari 2 orang terakhir.
"Gak juga gob**k. Dia cuma capek buka gak bakal bunuh kita." bentak Slash yang merasa ucapan anak buahnya membuatnya kesal.
"Gerry siksa aja mereka aku sepertinya suka suara merdu mereka kalo sedang bicara!" suruh Jammer.
"Oh iya tolong Sofyan, itu David bukain penutup matanya!" suruh Jammer lagi.
Jammer memainkan gitarnya.
"Ku cipta sebuah lagu
Tentang hati yang terus mencinta
Kepada gadis berparas ayu
Dimasa lalu yang telah silam
Ada pedih dan luka membelenggu
Didalam hatiku yang merapuh
Ada cinta dan sayang memekar
Di lubuk jiwa yang dalam
Aku buat satu noktah
Menjanjikan tempat untuknya
Bila suatu saat dia datang
Untuk kabar yang bahagia
Aku masih inginkan cintanya
Menjadi raja atas dirinya
Aku masih berhasrat
Mempersunting dia
Bila waktu telah tiba
Timbulnya rasa yang ku pendam
Keinginan memilikinya
( Menciptakan sebuah lagu "Menantimu Hingga Senja." , Kendal 2021 Imaduddin Jammer. )
Sebuah lagu tercipta pada hari ini, luapan hati Jammer dengan petik gitarnya. Diiringi suara Slash dan seorang anak buahnya mulai kesakitan, permohonan, dan hingga tangis. Sampai sore hari Jammer bernyanyi lagu itu mencari irama dan nada terbaiknya.
"Ger. Bising mereka, udah aku mau pulang,kamu kalo mau bunuh ya bunuh aja, kalo mau main-main lagi ya mainan lagi. Tapi tolong jaga kebersihan karena di Agama Islam kebersihan sebagian dari Iman!" ujar Jammer.
__ADS_1
"Oke bos." jawab Gerry, memberi hormat dengan tangannya yang penuh darah.
"Untuk David tawarkan kerjasama kelihatannya dia putus asa dengan kita!" suruh Jammer berjalan berlalu keluar markas.
Jammer pergi dengan diantar Sofyan dia pulang ke outlet sebentar untuk mengambil seragamnya, kemudian pulang ke rumah orang tuanya dulu. Setelah itu ingin berpamitan ke rumah Sam, berpura-pura nengokin adek ipar yang sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Roger marah mendengar anak buahnya tertangkap, padahal selama pengintaian tidak terlihat ada orang-orang Bayusuta Crew yang berlalu-lalang di sekitar sekolah, adapun hanya Gerry dan tidak mungkin untuk secepat kilat menyiapkan pasukan. Orang yang mengintai saja sampai kebingungan bagaimana jika ikut tertangkap pasti informasi penting tidak akan sampai ke telinga Roger. Bahkan pasukannya itu tidak dapat menemui Jammer pimpinan Bayusuta Crew.
Brak. Roger meninju meja dihadapannya. Kemarahannya meluap-luap dengan muka memerah, tangan mengepal kuat, mata pun memerah dan otot-otot yang tegang menyeruak dari tubuhnya. Dia ingin menyerang tapi kekuatan yang dimiliki sangat jauh dari cukup.
"Kekuatanku hanya pada mantan anggota Angry Doggy yang meloloskan diri dari Jammer, kelompokku yang berani mati tinggal David itupun sudah tidak begitu berguna!" teriak Roger kesal.
"Bos apa kita menyerah pada mereka?" tanya asistennya.
"Tidak, aku belum menang, tak pernah ingin mengalah." jawab Roger penuh emosi.
"Bagaimana kalo kita serang saja, lagipula ada orang-orang dari angry doggy yang ikut kita. Pasti mereka bisa mengimbangi Jammer." ucap asistennya.
"Iya benar, mereka pernah berhadapan dan mereka menang bisa lolos, hanya satu diantara mereka yang masuk penjara, sekarang dia jadi penjambret, mungkin dia bisa diajak saat ini." balas Roger.
"Kau cari informasi dimana tempat dia menjambret, Kalo sudah ketemu kau ajak dia bergabung dengan kita!" perintah Roger.
"Baik bos." ucap asistennya.
Asisten Roger mencari keberadaan Gusman yang terakhir kali diketahui dari teman-temannya mantan anggota Angry Doggy di jalan Soerjono, sebuah jalan sepi saat malam hari. Namun hingga hari berganti sebatang hidung orang pun tak ada yang lewat, bahkan saat pagi tiba pun tak ada yang lewat. Dengan kebingungan iya berpikir, saat mentari menyiram mobilnya dengan sinar yang bercahaya cerah.
"Apa mungkin teman satu selnya dulu tahu keberadaannya ya? Coba lah aku ke sana." gumam asisten Roger.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seroang pria paruh baya sedang duduk minum kopi pagi ini, mencari informasi keberadaan temannya yang lama sudah tak ada kabar. Ganco menjadi gelisah tak kala ada berita burung teman-teman Gusman yang jadi bekal telah mati tanpa diketahui pembunuhnya siapa, lebih-lebih bila berita itu sampai terdengar ke telinga Roger, bonekanya untuk mendapatkan posisi Bayusuta Crew. Dia ( Ganco ) adalah salah satu dari kelompok Angry Doggy yang berhasil lolos dari hukuman Jammer 3,5 tahun lalu dalam pertempuran melawan Bayusuta Crew. Namun dari kejadian itu Gusman berulang kali ingin bergabung dengan Bayusuta Crew bila di ampuni oleh Jammer, itu membuat Ganco marah, namun dia memilih diam karena merasa tak mungkin ada orang yang bisa diampuni Pemimpin muda Bayusuta Crew itu.
Tok tok tok. Pintu rumah Ganco diketuk tamu. Ganco yang ada diruang tamu segera membukakan pintu.
"Hai ayo masuk!" sapa Ganco mempersilahkan tamunya masuk.
"Bang, kabarnya Gusman ilang ya?" tanya tamuu itu.
"Iya Ren, Terakhir ada yang bilang dihadang Bayusuta Crew waktu membekal, tapi anehnya kedua temannya terbunuh. Tapi Gusman hilang tanpa jejak." jelas Ganco.
"Tapi Ren, yang lebih-lebih aneh lagi, bekas pembunuhan kedua teman Gusman sama sekali tak menunjukkan kelompok manapun, Boeggem yang pernah berselisih dengan kawannya Gusman, Anton namanya juga tidak menunjukkan tanda-tanda menghilang mereka, BC juga tak sedikitpun mencurigakan. Malah dari sobekan pisaunya seperti anggota kita Ren." tambahnya.
"Sedikitpun jejak gak ada bang?" Tanya Reno.
"Satu hal yang mencurigakan aja agak ada, malah mengarahkannya seperti ini kelakuan kelompok kita sendiri, padahal selama ini tidak ada yang mau mengusik Gusman kan." jawabannya
"Iya juga, mereka bahkan belum resmi jadi kelompok J malah beberapa kali melangkah sendiri. Akhirnya ketemu BC tanpa memandang kita yang lebih tahu dari mereka, ya sudahlah mereka juga sudah lenyap di bantai Jammer." tanggapan Ganco menguatkan ucapan Reno.
Sementara di luar rumah Ganco, Gusman sedang mengawasi gerak-gerik Ganco dan kelompoknya. Kelompok Ganco sengaja menyusup ke dalam Blade Knife untuk melawan BC dengan menggunakan Blade Knife sebagai pion. Sedangkan Ganco dan kelompoknya memainkan peran menteri, kuda, setter dan Ganco adalah rajanya, sedang Roger adalah benteng yang diperalatnya.
"Tuan muda, Ganco kelihatan tidak paham dengan permainan tuan Gerry, sepertinya permainan akan lama." pesan yang dikirim Gusman ke Jammer.
"Aku telah memilih menikmati kesetiaan kepada tuan Jammer, jika bukan karena dia suka kemampuanku tak mungkin dia berbaik hati." batinnya .
"Lebih baik aku pergi dari sini, alat pengintai ku juga sudah terpasang sempurna jadi istirahat saja dulu di markas besar." gumam Gusman.
Gusman berjalan dengan sangat mengendap -endap, menghilangkan diri menjauh dari rumah Ganco. Untung rumah Ganco berada di pedesaan pinggir kota jadi dengan mudah Gusman menyusun rencana pengintaian dan penyelidikan disekitar Ganco.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dinda bangun dari istirahat panjangnya, tubuhnya sudah sembuh dari sakitnya, sekarang ini Dinda sedang mandi. Dia memikirkan bagaimana cara untuk menghilangkan perasaannya pada adik angkatnya itu. Selama mandi banyak terlintas pikiran-pikiran tentang perasaannya, ketakutan jika ketahuan orang lain bisa menjadi masalah besar, kalo dia paksakan untuk memilikinya malah keluarga yang bisa bermasalah. Alhasil memilih diam dan menunggu keadaan untuk yang paling aman.
Setelah selesai mandi Dinda berganti baju untuk turun ke ruang keluarga. Ketika melewati kamar Jammer yang sedang dibersihkan pelayan, Dinda melihat gitar milik Jammer ada rasa kerinduan dan juga kehancuran saat melihat benda milik adik angkatnya itu. Karena perasaan yang sangat tidak karuan maka Dinda memilih untuk mengambil gitar itu dan memainkannya untuk mengurangi beban hati.
Dinda duduk di kasur Jammer, mengabadikan pelayanan yang masih membersihkan kamar Jammer. Dinda menyanyikan lagu dari Jamrud, berjudul Rasa Cinta Padamu.
"Ku buka jendela dan sambut mentari
Hangat terasa didada
Seakan membelai manja aku tak peduli
Ku mainkan gitar namun tetap sepi
Ku coba bertanya dihati
Apakah gerangan ini yang sedang terjadi
Memang kusadari aku rindu padamu
Ku yakin kau mengerti
Memang ku miliki rasa cinta padamu
Ku akui semuanya ..."
(Penggalan lirik lagu Jamrud - Rasa Cinta Padamu)
__ADS_1
Pelayan yang tak mau mengganggu tuannya, memilih keluar meninggalkan Dinda seorang diri di kamar Jammer. Dinda menyanyikan lagu-lagu galau yang dihapalnya, mulai dari penyanyi dalam dan luar negeri, baik laki-laki atau perempuan, baik lagu lama atau lagu baru. Semua bertema cinta yang tak dapat terbalas.
Tok tok tok. Amel yang baru tida dari Singapura menghampiri Dinda.
"Mama." panggil Dinda terkejut melihat orang tuanya yang datang mengetuk pintu kamar. Dia langsung berlari memeluk Amel.
"Kamu lagi apa?" tanya Amel pada Dinda yang sudah ada dipeluknya.
"Lagi bosen aja mah, tiduran muluk beberapa hari ini." jawab Dinda jujur karena tidak tahu kalo Dhean dan Jammer menutupi sakitnya.
"Emang kamu sakit?" tanya Amel lagi.
"Mah, Dinda emang sakit, cuma papah gak mau mamah khawatir jadi cuma bilang kalau perusahaan ada masalah." sahut Samuel dari belakang Amel.
"Ih papah, kenapa gak bilang? Harusnya kita pulang dari lusa kemaren!" ucap Amel emosi
"Papah gak mau mamah khawatir aja. Kalo mamah udah sembuh kayak gini kan anak-anak juga seneng mah." jawab Sam.
"Tapi anak kita yang satu ini kalo sakit lama, harusnya kalo orang biasa 2 hari cukup, Dinda ini bisa semingguan papah." ucap Amel masih emosi dengan tetap memeluk Dinda.
"Ya kan mah, sebaiknya mamah sembuh dulu." ucap Sam membela diri.
"Tapi Sam, ini anak kita Sam." ucap Amel.
"Iya udah mamah Amel. Papah minta maaf." Sam kalah, lebih baik minta maaf dari pada panjang urusan.
"Ya udah ayo turun mungkin Dhean dibawah." ajak Dinda.
"Gak ada sayang. Emang gak di kamar kalian?" tanya balik Sam.
"Gak ada dikamar, ya mungkin sekarang udah dibawah kan." ucap Dinda.
"Yuk turun aja biar tahu." ajak Dinda lagi.
"Ya ayo." jawab Sam dan Amel bersamaan.
Mereka bertiga berjalan menuju ruang tengah untuk mencari Dhean.
"Kok masih gak ada ya pah?" tanya Amel heran.
"Emang tadi mamah sama papah gak lihat sama sekali?" tanya Dinda.
"Gak tuh sayang. Apa pergi ke perusahaan ya dia?" jawab Amel.
"Tanya pelayan aja mah." saran Dinda
"Iya lah pah nanya aja, pada lihat enggak coba!" suruh Amel.
"Alah akhirnya papah yang nanya padahal kalian manggil aja juga bisa." keluh Sam.
Mereka akhirnya duduk di sofa, ternyata Dhean pergi ke mall untuk refreshing, pikirannya Dinda kan juga sudah mendingan dan pasti akan sembuh hari ini sudah seperti Dinda yang kuat dan energik seperti biasanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dhean berada di butik baju, memilih-milih baju untuk kerja. Ada sebuah jas yang dipajang di depan, cukup mahal dan branded tapi gayanya terlalu mencolok karena kancingnya bertahtakan berlian. Tak sengaja dirinya melihat Monika sedang memilih pakaian juga.
"Monika." sapa Dhean
" Ah Hai." jawab Monika namun ketus.
"*N*gapain sih ketemu dia? Harus banget gitu? Pakai ada nyapa lagi tuh." batinnya seraya terus memilih-milih pakaian.
"Ketus amat Mon. Gimana kabar nih?" tanya Dhean.
"Ya baik. Eh iya sebelumnya aku minta maaf ya, kayaknya pacar kamu bakal jadi milikku." ucapan Monika menyombongkan dirinya merasa bakalan unggul.
"Ah masak iya sih?" balas Dhean lebih sombong.
"Iya aku udah dapet kesempatan langsung dari Jammer, aku yakin dia bakal jadi milikku dalam sebulan. Pasti sebelum itu juga kamu bakal nangis ditinggalin." jawab Monika sombong sekali.
"Ah sombong banget lu!" bentak Dhean.
"Biasa aja lah, namanya juga model." ucapnya semakin sombong.
"Bey." ucap Dhean pergi ke ruang VIP butik.
Dhean kesal adiknya tak memberitahu bahwa dia memberi kesempatan pada Monika.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
***Maaf yang 2 hari ini nungguin. Selamat atas kebahagian reader yang sudah membaca kelanjutan ini. Semoga sudi diri anda memencet like, komen, vote, favorit, dan share ya reader.
Semoga disenyumkan di setiap kegiatan reader dan juga salam dari saya PENGRAJIN KATA , Imaduddin Jammer***.