Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Yang Sebalik Lagu.


__ADS_3

Setelah Rendy menemui orang-orang asing itu, ia menemui Jammer di kantin.


"Maaf tuan muda jika lama." ucap Rendy.


"Sudah selesai kan?" tanya Jammer.


"Sudah tuan, tapi..." ucap Rendy terputus.


"Tapi apa? kamu beri mereka waktu setelah aku selesai malam ini, bisa nanti tengah malam juga aku layani, besok juga lebih baik. Mereka tidak ada jadwal denganku, bilang diminta menungguku ada urusan dulu!" ucap Jammer. Dan ia pun berdiri ingin pergi.


"Tuan muda, mereka ingin meminta perlindungan di hotel atau markas kita." perkataan Rendy menghentikan langkah Jammer.


"Suruh ke hotel saja, nanti malam aku temui mereka jam 10 malam." ucap Jammer. Rendy hanya mengangguk.


Rendy dan Galenka pun mengikuti Jammer dengan menggunakan mobil Rendy, sedang Jammer menggunakan mobilnya di depan mereka dengan kecepatan tinggi. Sesekali Jammer hampir menyerempet kendaraan lain ketika mendahului, Rendy dan Galenka yang mengikutinya hanya dapat mengkhawatirkan keselamatan tuannya itu, tidak dapat melakukan hal apapun karena Rendy sudah tahu kemana dan untuk apa tuannya itu pergi.


"Maaf ya Lenka." ucap Rendy, namun suaranya kalah oleh deru mesin mobil yang bising.


"Apa kamu bicara Ren?" tanya Galenka.


"Maaf untuk melibatkanmu." ujar Rendy setengah teriak.


"Is ok, I feel so fanny." Jawab Galenka.


...****************...


Beberapa menit berlalu, mobil Jammer dan Rendy memasuki tempat parkir sebuah restauran di Jalan Jenderal Sudirman, kota XXXX. Jammer keluar dengan setelan jas lengkap yang ia pakai dari kantor, topi Sailorman Army warna merah keluaran terbaru butik Amel, dan Sebuah kacamata Classic Retro Black Mafioso buatan tangan salah satu designer ternama. Di ikuti Rendy dan Galenka dibelakangnya, Jammer memasuki restauran itu dengan langkah yang pasti dan tegas.


"Maaf mbak, ada anak cewek seumuran SMA berambut sebahu, blow sama temannya cewek juga pakai jaket jeans putih berkerudung. Mungkin sekitar satu ini datang?" tanya Jammer pada kasir restauran.


"Sepertinya ada mas, belum lama tadi datang. Makanan mereka juga baru diantar." jawab si kasir.


"Disebelah mana meja mereka mbak?" tanya Rendy.


"Sebelah sana di saung nomer delapan." jawab di kasir menunjukkan arah.


Jammer berjalan lebih dulu berharap agar ada tempat kosong di dekat mereka, agar Jammer bisa mendengar suara gadis itu. Sampai saung nomer lima terlihat saung lima sampai dengan sepuluh penuh oleh pelanggan, Rendy menyarankan di belakang saung delapan ada Gasebo nomor tiga, lebih rendah karena terasering lahan restauran ini tapi suara di dekatnya masih dapat terdengar, sedang Galenka berpikir untuk bergabung saja dengan mereka karena mereka juga termasuk teman Jammer, bilang saja tidak sengaja lewat habis perjalanan kerja.


"Ambil saung nomer sembilan, mereka kelihatannya sudah akan selesai!" ucap Jammer.


"Baik tuan saya kosongkan nomor sembilan." ucap Rendy.


Jammer pun berjalan melewati saung delapan tanpa menoleh, tapi dipanggil Galuh ia pun mau tak mau berbalik menyapa Galuh yang sudah nongol di ambang pintu saung.


"Hai Galuh, sama siapa?" tanya Jammer seolah basa-basi.


"Ini sama ayang tercinta dan Fiux." jawab Galuh.


"Bos, dari mana?" sahut Donny.


"Perjalanan perusahaan dengan Lenka dan Rendy." jawab Jammer.


"Gabung sini Jam." ajak Galuh.


"Wah seru sebenarnya. Aku tunggu Rendy saja biar tempatnya di jaga Lenka, Rendy sedang pesan makan." tolak Jammer.


"Ah sampai lupa. Fiux selamat ulang tahun ya." ucap Jammer.


"Ah iya makasih ya." ucap Fiux tersenyum.


Deg... Degdegdeg. Detak jantung Jammer seperti terhentak kemudian lebih kencang seperti genderang mau perang.


"Aku disini karena kamu. Aku ingin ada dihatimu." batin Jammer.


"Jam. Jammer." panggil Galuh.


"Iya gimana?" tanya Jammer.


"Kamu lupa gak bawa hadiah?" tanya Galuh.


"Ah hadiahnya aku traktir aja. Nanti bill-nya kasih ke saungku aja." ucap Jammer menggaruk tengkuknya.


"Nah mantap." ucap Donny dan Galuh berbarengan.


Fiux dan pacarnya hanya memperhatikan percakapan itu, mereka melongo melihat percakapan itu.


"Eh iya kamu di tempat magang jadi bagian apa?" tanya Fiux.

__ADS_1


"Asisten komisaris utama." jawab Jammer.


"Wah tinggi dong uang jajan dari perusahaan?" tanya pacar Fiux.


"Ya lumayan, kalau disyukuri dan tidak boros cukup mas." ucap Jammer.


"Haha, bos mana ada orang yang tidak bersyukur jadi bos Jammer, punya nona Dinda, disayang tuan Samuel dan nyonya Amel." celetuk Donny.


"Tapi tetap ada yang kurang bagi aku. Kalian berdua kan tau." ujar Jammer mengarah ke Galuh dan Donny.


"Omong-omong, perjalanan ke mana kok bisa anak SMK ikut perjalanan bisnis?" tanya pacar Fiux lagi.


"Ke Yogyakarta mas." jawab Jammer.


"Jangan tanya-tanya terus, mending kita makan." bisik Fiux pada pacarnya.


Setelahnya Jammer memisahkan diri, karena Rendy dan pesanannya sudah sampai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam pun berlanjut, sepulang dari restauran Jammer memacu mobilnya ke hotel dimana para orang asing itu berada, ia menunggu di meeting room di lantai dua. Sepuluh menit kemudian tiga orang asing tadi datang, masih dengan wanita tadi pula.


"Hai, Gentleman and an Pretty lady." sapa Jammer.


"How are you?" jawab seorang botak dengan tubuh gempal dan brewok panjang.


"I'm well. Who are you guys looking for my father?" *Jawab Jammer.


"Are you a Jammer?" Tanya orang botak itu*.


"Iya betul sekali." ucap Jammer.


"Yes, he is Jammer." terjemahan si wanita.


"Langsung saja, saya Susan dari PT BRD. Perusahaan kami bergerak di sektor tambang di lepas pantai Kalimantan, ini Mr. Alex, ini Mr. Colin, ini Mr. Iwaidja." ujar Susan.


"Kenapa kalian mencari perusahaanku?" tanya Rendy.


"Kami butuh perlindungan, banyak preman yang mengganggu kami." jawab Susan.


"Pemegang saham sekaligus founder." Jawab Susan.


"Begini, aku akan beri nomor orang kepercayaanku, kalian minta bantuan dia untuk penjagaan kalian, dan untuk kerjasama dengan perusahaanku lain kali saja, kami baru memulai banyak proyek belum cukup orang untuk mengurusi." ucap Jammer.


"Baiklah saya akan beri tahu mereka bertiga." ucap Susan.


"Maaf ini sudah malam, sekertaris saya juga harus pulang. Saya permisi dulu." pamit Jammer diangguki Susan.


"Sorry sir, I have to go now it's too late. excuse me go first." ucap Jammer kemudian pergi meninggalkan mereka diikuti Rendy serta Galenka.


Kemudian mereka berpisah di parkiran, Jammer pergi ke arah rumahnya sedang Rendy mengantarkan Galenka pulang. Diperjalanan Rendy mengajak ngobrol Galenka, mereka belakangan ini telah dekat, dengan pekerjaan dan ruangan mereka yang berdekatan dan berkaitan menjadikan kedekatan terjalin begitu saja. Rendy tahu mungkin jika saat ini ia diterima maka itu hanya akan menjadikannya pelarian Galenka setelah tidak mendapatkan Jammer.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Non Dinda." panggil Bi Atun.


"Kenapa bi Atun?" tanya Dinda yang sedang nonton tv di ruang keluarga karena belum bisa tidur dan gelisah.


"Anu non, ada anak buah tuan Jammer kesini." jawab Bi Atun.


"Siapa? Apa Gerry atau Rendy?" tanya Dinda.


"Bukan non, namanya Pelong katanya harus bertemu nona." jawab Bi Atun.


"Suruh ke sini!" titah Dinda.


"Baik nona." ucap Bi Atun, dan selanjutnya memanggil Pelung.


"Kenapa ya malam begini." batin Dinda.


"Selamat malam non Dinda." sapa Pelung.


"Malam. Ada apa kamu cari aku?" tanya Dinda.


"Tuan muda ada di markas besar dalam kondisi mengamuk." jawab Pelung.


"Kenapa dia ngamuk-ngamuk di sana?" tanya Dinda terkejut.

__ADS_1


"Tadi jam sebelas tuan masuk bar tidak sengaja bertemu saya. Kebetulan saya ada kerjaan di sini, kemudian kita minum, tapi tuan minum terlalu banyak. Setelah itu ada telepon dari Batam, mereka sudah di pelabuhan dan membawa penghianat di Batam. Buru-buru kami berdua ke markas." ujar Pelung.


"Jelaskan nanti lagi, aku panggil Dhean dulu. Tunggu di mobil!" Perintah Dinda.


Segera mereka bertiga pergi menuju markas besar. Dengan berlari terburu-buru mereka menuju mabes BC, dengan di sambut Tigor dan diwanti-wanti untuk mereka berhati-hati.


"Sayang." teriak Dinda memanggil Jammer.


Di hadapan mereka terpampang Jammer yang mabuk dengan penuh darah di sekujur tubuhnya. Bukan darah dari dalam tubuhnya, tapi darah dari beberapa orang, dari seorang penghianat, tiga teman si penghianat, ia menggenggam samurai tanpa ada meja dan kursi yang biasanya ada untuk menyiksa lawan. Dhean dan Dinda tercengang belum pernah mereka melihat Jammer begitu, sangat kuat frustrasi yang memancar, sangat kejam kali ini karena Jammer melumurkan darah yang memuncrat dari lawannya itu ke sekujur tubuhnya.


"Tulisku sak wijine kidung ingkang memelas.


Sak jeroning ati nelongso, jeru sawijining ngelara. Sapa sing bisa ngerti, sapa sing kuat nambani. Lara ati Iki kadung kepati.


Gawe aku wuta,


ora ngerti siji lorone mala,


ora ngerti lakune becik lan ala..." senandung Jammer tak dengan beraturan.


"Sayang." teriak Dinda dan Dhean berbarengan.


"Ayo tahan dia." pekik Dhean menarik Dinda.


"Sudan sayang, hiks hiks hiks, say... Sayang." ucap Dinda memanggil-manggil Jammer sambil memeluknya, diiringi air mata yang sudah tak terbendung.


"Dek, sadar dek." panggil Dhean juga memeluk Jammer disamping Dinda.


"Sopo sing iso kuat nyanding aku.


Ngilangi lara kang kinaris ning ati.


Rungakno aku ngucap janji.


Setyaku kanggo Widosari iku." senandung Jammer berlanjut.


"Astaga sambil membantai dengan kondisi mabuk parah, masih sanggup bernyanyi, walaupun tidak merdu. Memang pantas jadi ketua." celetuk Pelung terkesima.


"Diam!" ucap Jammer mengacungkan pedangnya ke arah Pelung, yang dituju langsung tertunduk dan mengkerut.


"Maaf sayang." ucap Jammer sambil menancapkan samurainya ke tanah.


"Hiks hiks hiks. Kamu jang... Jang... Jangan beg.. hiks hiks hiks, jangan begini." ucap Dinda terbata.


"Maaf. Maaf. Maaf." bisik Jammer memeluk kedua orang dihadapannya.


Jammer masih menyisakan si penghianat dengan digantung terbalik, mulutnya disumpal kaus kaki serta di lem, matanya dijahit atas dan bawahnya sehingga tidak dapat menutup, sesekali ada anak buahnya yang beri obat tetes mata sehingga tidak kering, supaya melihat teman-temannya mati di cabik-cabik samurai dihadapannya.


"Kak Dhean tinggal satu itu tolong selesaikan!" suruh Jammer.


"Siap." ucap Dhean mengambil pedang di sisi Jammer.


Jammer pun semakin mengeratkan pelukannya, memberi ruang Dinda untuk menangis, dan Jammer hanya diam dingin menyaksikan penyiksaan Dhean. Ditebas kedua telinganya kemudian penghianat itu berusaha teriak, ditebas kedua pergelangan tangannya yang terikat kemudian berusaha teriak kesakitan lagi.


"Kamu termasuk salah satu yang beruntung, mendapat kehormatan untuk menyaksikan kemarahan Jammer, sudah lama dia tidak marah." ucap Dhean menahan.


"Dhean cepatlah, aku ingin pergi dari sini." pekik Dinda membuat Jammer melepas pelukannya untuk menggoda Dinda.


"Jangan dilepas sayang." ucap Dinda mendangak ke wajah Jammer.


"Kalian bermesraan saja kenapa sih, ini biar urusanku." ucap Dhean.


Hwok. Jammer mual..


"Ah sudahlah, bos besar sudah ingin muntah, mari akhirnya dengan diantar doa' yang terpaksa." ucap Dhean kesal.


Akhirnya riwayat hidup penghianat di akhir dengan menggorok kepalanya. Setelah itu ketiganya pulang ke rumah Sam, karena tidak mungkin membawa Jammer ke rumahnya dengan penuh darah di malam yang hampir berganti pagi. Bisa-bisa jadi masalah baru nanti di rumah keluarga kandungan Jammer.


.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2