Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Liburan sekolah #2


__ADS_3

Setelah pusing mengurusi perusahaan, Jammer dan Dinda yang diantar oleh Rendy pergi ke toko sport untuk membeli perlengkapan olahraga yang dipakai waktu latihan setelah isya nanti, Jammer melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.23 WIB, kebetulan lapar perutnya telah melanda meskipun tidak ada bunyi.


"Sayang, nanti sekalian makan ya di mall." ucap Jammer kepada orang yang bersandar manja di bahu kanannya itu.


"Eemm, kamu lapar lagi?" tanya Dinda.


"Iya aku lapar lagi, gak tau nih mungkin masih masa pertumbuhan jadi bisa lapar mendadak." ucap Jammer memegangi perutnya.


"Hahaha, ya nanti cari makan sekalian di mall." kekeh Dinda, sambil menepuk-nepuk perut orang di sampingnya itu.


"Eh jangan di pukul, nanti aku masuk rumah sakit." goda Jammer.


"Habisnya gemas."


Tak lama setelah itu mobil yang dikendarai oleh Rendy telah memasuki areal parkir direksi perusahaan, mereka segera berjalan menuju lift di dekat akses kendaraan untuk masuk tempat parkir itu.


"Mau makan apa?" tanya Dinda sambil menunggu lift yang belum terbuka.


"Seafood mungkin enak." jawab Jammer enteng.


"Ya mungkin enak." balas Dinda.


Mereka kemudian terdiam dan ketika itu bersamaan dengan pintu lift terbuka, segera mereka berjalan masuk diikuti Rendy yang memencet tombol lantai tujuan mereka. Selama perjalanan mereka hanya diam tanpa kata bagai hutan sunyi senyap menyelimuti, bahkan suara perut Jammer sampai terdengar jelas di dalam ruangan lift ketika tanda perutnya minta diberi isi.


Buugghh . Suara perut Jammer di pukul Dinda.


"Aarrgghh... Kenapa sih dipukul?” tanya Jammer karena merasa sedikit sakit.


"Gak bisa ditahan apa gimana sih. Ini tinggal tunggu lift terbuka udah sampai lantai tujuannya." jawab Dinda.


"Maaf ya, aku cuma bingung, karena tiba-tiba tadi suasana jadi canggung kita berdua sama-sama diam." batin Dinda yang sebenarnya dia rasakan.


"Tapi gak perlu di pukul juga kali!" keluh Jammer.


"Abisnya kamu yang ngaco." sangkal Dinda.


"Udah, yuk kita cari makan ke restoran." imbuhnya.


Jammer hanya diam tanpa menatap kekasih dip


sisinya, ia merasa tidak ingin banyak bicara agar tidak menimbulkan hal lain. Canggungnya suasana semakin terasa, Rendy juga hanya dapat menahan semua ekspresi yang tidak ingin ia sesali, karena jika ia tersenyum atau tertawa pasti tuanya akan marah, jika ia membela tuanya maka nona cantik di belakangnya akan marah padanya. Rendy merasa waktu yang ditempuh lift seakan lebih lama dari biasanya karena pemukulan itu yang membuat rasa canggung di antara kedua sejoli yang ia kawal mempengaruhi pemikiran dia terhadap waktu.


Ting. Pintu lift terbuka setelah beberapa saat.


"Silahkan." ucap Rendy menahan pintu lift.


"Rendy, panggil beberapa anggota security kita di sini dan jaga jarak kami dengan pengunjung lain. Saat makan nanti arahkan mereka berjaga agak jauh dari kami berdua." intruksi Jammer, melangkah keluar dari lift.


"Baik tuan muda, akan saya kerjakan sekarang." jawab Rendy, mengikuti tuanya.


"Oh iya aku minta privasi, jadi kamu juga beri jarak dengan kami. Tapi jangan lupa pesan makan atau cemilan buat kamu dan mereka yang berjaga!" ucap Jammer menambahkan sambil terus berjalan.


"Baik tuan." Jawab Rendy seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya.


"Sayang, kamu marah." tanya Dinda, karena merasa dirinya didiamkan Jammer.


"Nggak." Jammer singkat.


"Kita makan dimana?" tanya Dinda.


"Ya cari." jawab Jammer.


"Iya." sahut Dinda kebingungan.


"Dia marah?" batin Dinda.


Mereka diam berjalan mencari restauran yang Jammer inginkan, tentu Dinda selalu memegang erat lengan Jammer, dengan rasa yang berkecamuk dalam benaknya. Satu demi satu outlet dilewati, Dinda tak tahan lagi dengan perasaannya, dia tak nyaman terlebih dengan diamnya orang yang ia gandeng. Kali ini dia sangat tak tahan lagi, Dinda menghentikan langkahnya dan menarik Jammer menghadap dirinya.


"Kamu marah sama aku kan?" tanyanya tegas.


"Enggak." jawab Jammer singkat.


"Tapi kamu dari tadi kenapa diam." tanya Dinda dengan mata mulai berkaca-kaca.


Jammer hanya diam dan memalingkan wajahnya seolah mencari sesuatu yang sebenarnya juga tidak bisa ditemukan, yaitu restauran seafood.


"Hikkss, hikkss, hiikkss, kamu pasti marah kan." kata Dinda mulai menangis.


"Enggak." ucap Jammer mengalah, ia mengarahkan pandangannya ke Dinda.

__ADS_1


"Kebiasaan nangis jadi senjata." batin Jammer.


"Kamu... Ehhhaaa." Dinda mengeraskan suara tangisnya.


"Udah, aku minta maaf kamu jangan nangis." ucap Jammer.


"Iya." Dinda langsung berhenti menangis, meski sudah terlanjur terisak sehingga masih ada sisa isaknya.


"Udah ya, itu anak buah kita udah dateng." kata Jammer melihat beberapa ora dengan pakaian security datang.


"Iya." ucap Dinda sambil menghapus air mata yang terlanjur keluar.


"Sini aku bersihkan." ucap Jammer lembut mengusap kedua pipi hingga mata Dinda.


"Aku minta tissue." pinta manja Dinda.


"Iya, nanti kita cari." jawab Jammer.


"Tuan biar saya suruh mereka cari outlet seafood yang tuan inginkan." sahut Rendy berinisiatif.


"Iya bener." sahut Dinda.


Rendy pun mengoordinasi para anak buah itu. Sedangkan Dinda hanya menatap wajah orang didepannya, dan tak ingin wajah itu lepas memandanginya. Si pemilik wajahnya pun tak menolak untuk memberikan penglihatannya menatap dua bola mata Dinda, menenggelamkan Dinda kepada fantasi di dalam benaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di pelabuhan turunlah sebuah mobil sedan klasik berwarna hitam. Didalamnya ada seorang bertubuh gempal dengan sebuah bekas luka besar di pipi kirinya, dia adalah Johanes Edison Chen Wong atau John Wong, seorang bandar narkoba yang dijuluki Jaguar dari tahan hitam. Dia orang Afrika yang menetap di Batam untuk mengedarkan narkoba dari berbagai negara di Indonesia, kebiasaannya yang pergi seorang diri tanpa pengawalan, bertarung melawan banyak orang sendirian, tanpa rasa takut membuat ia mendapat julukan itu. Tapi hanya mafia kalas atas yang mengetahui kebenaran bahwa dia adalah pengedar narkoba, kerapatan rahasia atas informasinya dan ketidak adaan bukti yang cukup di mata hukum menjadikan ia tak tersentuh peradilan.


"John Wong sudah turun dari kapal bos." kata anak buah Gusman melalui sambungan telepon.


"Ikuti, jangan sampai lolos, peringatkan dia karena berani menggunakan anak buah tuan Jammer dalam bisnisnya!" perintah Gusman dan mengakhiri teleponnya.


Kendaraan yang di isi enam orang itu berjalan mengikuti mobil John Wong, mencari kesempatan di tempat sepi untuk mendahului dan menghentikan kendaraan John Wong untuk menyampaikan pesan dari Gusman. Sejam lamanya mereka menunggu kesempatan, akhirnya pada jalan sepi area tambak dimana itu adalah wilayah persembunyian John Wong di kota ini mobil John Wong dapat dihentikan. Segera dan dengan cepat mereka berenam menyampaikan pesan kepadanya setelah itu langsung pergi dan tak memberikan kesempatan John Wong bereaksi. Mobil berjalan pergi meninggalkan John Wong yang tercengang, dia tahu Bayusuta Crew merupakan kelompok mafia besar, tapi tidak tahu jika ia akan kembali berurusan dengan Gusman di kelompok yang berbeda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Samuel dan Amel sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tua Jammer, mereka menjadi lebih sering berkunjung, beberapa tas belanjaan juga mereka bawa sebagai hadiah, beberapa oleh-oleh dari Singapore mereka belikan untuk keluarga kandung Jammer itu.


"Papa, sekarang anak-anak kita sedang apa ya?" tanya Amel penasaran.


"Dinda pasti dengan Jammer, sedangkan Dhean mungkin sedang jalan-jalan atau pulang ke rumah." jawab Samuel asal.


"Begini mama." ucap Samuel menarik Amel dalam dekapannya.


"Dhean mungkin sedang bimbang, dalam beberapa waktu lalu Kana dekat dengannya. Papa mengetahuinya itu dari foto-foto yang di beri waktu itu saat pengintaian Dinda dan Jammer." sambung Samuel.


"Nanti setelah pulang mungkin kita bicara dengan Dhean ya pa." sahut Amel.


"Baiklah mama Amel." jawab Samuel setuju.


Mereka kemudian diam sampai tiba di rumah orang tua Jammer. Mereka mengetuk pintu, mengobrol banyak hal, berencana beberapa hal tentang anak-anak mereka, dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Suara ketuk pintu memecahkan kehangat obrolan, disertai suara yang familiar bagi mereka, suara dua orang yang menjadi topik utama pembahasan mereka.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh." ucap Jammer.


"Hai semuanya." sapa Dinda dengan semangat.


"Hai yang ditunggu umat di rumah ini sudah datang." sahut Dinar.


"Loh. Loh. Loh kok bisa nunggu?" kata Dinda bingung.


"Sini duduk dulu." ajak Amel.


"Ada apa sih mama?" tanya Dinda penasaran sambil melangkah duduk di samping Amel yang memang kosong.


"Kamu sini Jammer samping papa." sahut Samuel.


"Siap pa." ucap Jammer.


"Bagaimana kegiatan kamu sekarang?" tanya Samuel.


"Masih baik-baik aja pa. Proses latihan juga akan baru mulai, beberapa hari lagi bakal coba evaluasi teknik vokal dan body language, supaya nanti waktu rekaman vokal dan video lebih menghayati." jawab Jammer.


"Memang berapa banyak lagu yang mau di rekam?" tanya Amel.


"Sepuluh sampai tiga belas ma. Nanti lihat dulu materi lagu mana yang siap buat direkam waktu akhir bulan nanti." jawab Jammer lagi.


"Semoga maksimal ya hasilnya, tidak menhianati proses yang kamu lewati." doa Amel.


"Aamiin." sahut semua orang.

__ADS_1


...****************...


10 Hari kemudian...


"Selamat pagi." sapa wanita kepada pria yang baru bangun dari tidurnya.


"Pagi juga." balas pria yang baru membuka mata.


"Bangun, mandi sana. Kamu bau.” suruh wanita itu.


"Ahhh nanti." Tolak pria itu.


Kkrrrriiiiing kkrrrriiiiing. Suara telepon genggam si pria.


"Halo." sapa pria itu.


"Kamu dimana?" tanya lawan bicaranya di telepon.


"Hotel." jawabnya.


"Diego." bentak si penelepon.


"Apa sih kak Dhean?" jawab Diego seakan tak merasa dirinya salah.


"Kenapa kamu ke hotel lagi?" tanya Dhean.


"Ya aku takut di rumah om Sam." jawab Diego.


"Mumpung kamu di sini harusnya tinggal di keluarga kita, jangan takut dan kabur ke hotel begini." nasihat Dhean.


"Sudahlah kak. Kamu kan tahu aku masih trauma." ucap Diego.


"Terserah kamu aja." kesal Dhean kemudian lasung memutus telepon itu.


Wanita yang berada di samping itu pun terdiam dan memasang wajah bertanya-tanya. Langsung saja setelah Diego meletakkan telepon genggamnya ke meja ia memeluk Diego serta menenggelamkan wajahnya ke rengkuhan lengan Diego.


"Siapa sayang?" tanya wanita itu.


"Kakak sepupuku. Dia ingin aku pulang ke rumahnya." jawab Diego.


"Selama beberapa hari kita kenal dan sampai kita berdua berpacaran kenapa kamu gak pernah kenalkan aku dengan keluargamu di Indonesia?" tanya wanita itu.


Tanpa menjawab Diego memilih untuk mencium kening wanita itu kemudian meneruskan ke sekujur wajahnya, serta memainkan tangannya menjamah pacar baru yang belum lama ia peroleh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di jam tangan milik Dinda ia melihat arah jarum menunjuk pukul 8 pagi, ia sedang menemani Jammer joging di taman dekat rumah Jammer. Hari ini Dinda sengaja cuti agar dapat mengikuti kegiatan Jammer hari ini. Rencananya ini adalah hari evaluasi sebelum menentukan lagu-lagu yang akan di masukkan dalam album.


"Sayang tunggu sebentar, istirahat dulu ya aku capek." keluh Dinda menahan langkah Jammer.


"Iya beb, ayo duduk dulu." jawab Jammer mengulurkan tangannya.


"Gusman!" teriak Jammer memanggil pengawal hari ini.


"Iya tuan." balas Gusman sambil berlari membawa sebuah tas cukup besar di tangannya.


"Minuman." pinta Dinda ketika Gusman sudah dekat.


"Ini nona Dinda." kata Gusman menyerahkan sebuah minuman dari tas di tangannya.


"Gerry!" ganti Gerry yang Jammer teriaki.


"Siap tuan muda." jawab Gerry tapi tidak berpindah dari tempatnya berjaga.


"Gusman masukan lagi minumannya." kata Jammer.


"Semua dalam kendali tuan muda." teriak Gerry dari sisi taman memberi laporan kondisi taman.


"Beb, ayo berdiri lagi, semangat lari." kata Jammer.


"Baik siap baby." jawab Dinda manja.


Mereka melanjutkan joging hingga 2 jam lamanya. Kemudian Jammer mengajak Dinda untuk pulang ke rumahnya untuk istirahat sekaligus bersih-bersih diri mereka. Sesampainya di rumah Sahud, karena hanya ada Danar, Dinda tanpa permisi langsung ke kamar mandi di belakang.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2