
" Soal Dinda kan. Dia kakak angkatku kan, gak masalah dong pacaran." jawab Jammer singkat masih terngiang jelas dibenak Galenka.
" Apa? Pacaran dengan kakak angkat?" Galenka masih bertanya-tanya di benaknya atas pengakuan Jammer.
Wajar jika Galenka kaget, kekagumannya pada Jammer tak diimbangi dengan informasi dan usaha yang sepadan untuk mendapatkan perhatian orang yang dikaguminya itu. Wajahnya begitu tergambar kecewa, sedih, dan rasa terkejut yang begitu besar, lamunannya tak jauh dari kecewa pada keadaan. Lama sekali Galenka tak bergeming, hingga tak sadar air matanya telah beberapa kali mengalir walaupun tak terisak-isak dalam lamunannya.
" Hai Lenka, kamu kenapa?" tanya Silvi. Namun yang dituju hanya diam.
" Lenka, Len... Galenka, kamu kenapa?" giliran Biyan yang kini telah mendekat dan memegang tangan Galenka untuk menyadarkannya.
" Sepertinya kita harus selesaikan laporan mu di tempat lain. Setelah aku shopping, kau dan Biyan ke Kafe X5, tau kan yang dekat rumahku. Siapkan laporan yang detail loh Sil!" perintah Jammer pada Silvi.
" Lenka, maaf. Sini yok nangis dulu." giliran Jammer yang berusaha menyadarkan Galenka.
Galenka pun menangis terisak-isak disamping Jammer, tak sepatah kata terlontar hanya suara tangisan. Silvi dan Biyan hanya terdiam dan sesekali memandang sekilas tak tau harus berbuat apapun. Galenka yang menangis tiba-tiba memegangi dadanya karena merasa sesak, lambat laun tubuhnya terhuyung ke arah Jammer, sedangkan Jammer yang menyadarinya segera memegang tubuh Lenka agar tak terlewat jatuh, dan akhirnya ia pingsan dalam dekapan Jammer.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedang di ruang kerja Sam. Rendy sudah menceritakan semua kejadian di kantor kepada Sam. Sedangkan Gerry hanya memperhatikan, sesekali juga mengangguk dan tersenyum menanggapi cerita Rendy, sebenarnya fokus pikirannya masih tersita oleh pembicaraannya dengan sahabatnya.
" Ya sudah Ren, biarkanlah Jammer yang mengurusi, dia pasti bisa atasi itu. Anak Sam Devil masak pusing dengan masalah sepele." ucap Sam setelah mendengar cerita Rendy.
" Baik tuan, saya hanya akan mengawasi saja. Selebihnya biar tuan muda yang memutuskan." Rendy setuju.
" Udah kita keluar. Kalian makan malam lah, aku juga ada permintaan untuk kalian." Sam beranjak dari sofanya hendak keluar ruangan.
" Ada apa tuan?" tanya Gerry.
" Nanti saja dimeja makan." jawab Sam singkat.
Ketika mereka tepat keluar dari ruang kerja Sam, mereka melihat Jammer menggendong Galenka menuju kamar tamu.
" Jam. Nak... Jammer... Kamu bawa siapa itu?" tegur Sam.
" Karyawan pah. Dia pingsan pa." sahut Jammer.
" Hayo kamu apain dia?" canda Sam.
" Gerry kamu bantuin dia. Pasti perlu bantuan dia!" perintah Sam.
Tanpa menjawab Gerry langsung menyusul Jammer. Di kamar tamu, Jammer dibantu Gerry membaringkan Galenka pada kasur kemudian menyelimuti tubuhnya.
" Ger udah yok pergi makan dulu. Kamu masih banyak pembicaraan denganku dan papa." ajak Jammer dan Gerry meninggalkan Galenka.
Setelah sampai dimeja makan, Jammer menyuruh bi Atun memberikan pelayan untuk menjaga Galenka di kamar tamu. Semuanya tak banyak bicara saat makan, hanya suara sendok dan piring yang terdengar hingga akhir selesai makan. Setelah itu Sam membuka obrolan dengan terlebih dahulu mengetuk gelas dengan sendok untuk meminta perhatian.
" Dengarkan semuanya, please a attention for me." Sam mengawali pembicaraan.
" Malam ini kita selesai makan dengan hikmat dan penuh kehangatan, puji syukur kehadirat Tuhan yang telah memberikan karunia-Nya kepada kita. Dalam kesempatan kali ini saya Sam Devil mengucapkan terima kasih atas dedikasi Gerry, Rendy, Biyan, Silvi selama bertahun-tahun bergabung dengan pekerjaan kita, atau lebih tepatnya yang sekarang dipimpin Jammer. Seperti resmi sekali ya hahaha." ucapnya.
" Halah papa. Cuma terima kasih aja panjang banget pidatonya. Udah aku dulu aku ngomong sebentar. Nanti sambung papa lagi pidato." celetuk Jammer.
" Ehh tunggu." balas Sam.
" Udah papa, aku sebentar banget." paksa Jammer.
" Udah gini, Gerry dan Rendy kalian segeralah cari pacar, terus sebelum 3 tahun harus nikah. Usahakan untuk menjalankan ini dengan baik, soalnya ini perintah dariku. Aku gak mau kehidupan kalian pribadi diforsir untukku saja, carilah beban juga biar seru!" imbuhnya cepat.
" Udah Jammer?" tanya Sam. Sambil mengerutkan keningnya. Jammer hanya mengangguk kepala.
" Saya lanjutkan, untuk hal yang kedua saya tidak perlu mengatakannya karena sudah dijelaskan anak saya Jammer. Kita memang sepikiran. Hahaha." ucap Sam.
" Kita sehati, sejiwa, sepemikiran bro...." Jammer dan Sam mengacungkan kepalnya berbarengan seperti dua sahabat yang akrab.
" Keren tuan muda dan tuan Sam akrabnya keren banget kaya sahabatan aja." Biyan takjub, bertepuk tangan.
" Papa kok bisa mikir samaan, padahal kita kan belum bicarain ini sebelumnya?" tanya Jammer.
" Hahaha namanya juga ikatan batin." jawab Sam.
" Yang ketiga, papa dan mama bakal ikut ke Amerika, sekalian sama Kana dan semua kelompok penembak jitu kita, sepertinya perlu di pakai untuk memusnahkan musuh. Pesawatnya dari Sydney bakal siap Sabtu pagi, jadi kita bakal berangkat siang." lanjut Sam.
__ADS_1
" Wah gak usahlah pa,ma. Masak papa sama mama ikut tempur lagi. Jammer ke sana juga kan buat berunding bukan mencari masalah." sahut Dhean.
" Hahaha. Papa cuma bercanda sayang. Mama kan juga mesti ke Singapura buat kontrol luka mama." sahut Amel. Sedari tadi dia diam hanya tersenyum-senyum.
" Ahh mengejutkan aku saya." Dhean.
" Ya sudah, nanti ke Amerika tetap pakai pesawat dari Sydney, papa sudah sewakan, nanti penerbangannya diurus Bastian. Dan bawa semua sniper yang ada." sambung Sam.
Setelahnya mereka membubarkan diri ke keperluannya masing-masing. Jammer dan Dinda pergi ke mall untuk berbelanja, meninggalkan Galenka di rumah. Gerry hari ini merasa ada dorongan semangat dari keluarga tuannya yang begitu ia hormati, kali ini satu-satunya penghalangnya adalah restu orang tua yang belum sama sekali ia tahu akan ia dapat atau tidak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah mansion diluar kota, 5 km dari perbatasan barat kota. Dalam sebuah mansion mewah yang bercorak klasik kerajaan. Seorang sedang menghadap pada bos besarnya, menunggu perintah dari seorang lelaki paruh baya yang tidak lain adalah pemimpin Gangster Mafia Boeggem. Hingga malam hari ini tugas terakhirnya adalah melepaskan anggota Boeggem yang ditangkap Bayusuta Crew kemarin.
Senyap tak ada pembicaraan, semua yang ada di ruangan itu terdiam, hanya sesekali saling melempar pandangan, menoleh ke sebelahnya dan terkadang menuju bos besar mereka. Bos besar mereka hanya mengusap dagunya yang sedikit ditumbuhi bulu, tak begitu tebal dan panjang hanya masih bisa dimainkan tangan untuk mengisi kejenuhan menunggu hal tak pasti.
" Ini masih lama ya Gus? Agus, harusnya kamu dari awal sampaikan kalo hari ini aku minta si siapa itu yang ditangkap dilepaskan. Kenapa kamu hanya ngasih nomer telepon tanpa ngasih mereka peringatan?" ucap kesal Bos mereka.
" Maaf bos, kemaren saya hanya berdua, saya gugup bos." jawab Agus.
" Yasudah kita tunggu saja. Kau tau yang tertangkap adalah satu-satunya perakit bom, dan bom di kontainer waktu itu belum diledakkan sampai sekarang. Artinya kamu sebagai pemimpi mereka gagal toh Gus." balas bos mereka semakin kesal.
Sedang percakapan mereka sedang di sadap oleh anak buah Roni. Tempo waktu Roni dikejar adalah waktu Roni melakukan penyelidikan dan mengalihkan perhatian keamanan mansion tersebut, agar anak buahnya bisa memasang beberapa penyadap suara di dalam mansion. Akhirnya pengorbanan Rony merelakan dirinya dikejar-kejar hingga masuk jurang membuahkan hasil, dengan cara ini pergerakan Boeggem yang paling sulit diatasi bisa berubah menjadi terantisipasi dengan baik.
Kembali ke ruangan itu, telepon Agus berdering tanda sebuah panggilan telah masuk ke ponselnya. Segara iya membuka telepon yang dilihatnya dari nomor tak dikenal.
" Hallo, ini siapa?." bentak Agus.
" Jemput teman-temanmu di depan gang rumah seperti semalam!" suara yang asing bagi Agus tapi iya paham siapa dan apa maksudnya.
" Oh, ternyata kau waras juga. Besok lagi sopan lah tuan Junior Devil." Agus menurunkan nada suaranya namun tak memberi kesan hormat pada lawan bicaranya itu.
" Sudahlah, aku sedang belanja. Kau ke sana jam 9 agar tak ada keributan. Dan jaga ketenangan ini. Walapun Boeggem adalah musuh yang berat, tapi tak membuatku takut. Lagipula kau bawahan Agus, jangan terlalu congkak denganku. Aku yang wajib sombong." Jammer mematikan teleponnya sepihak tanpa menunggu balasan Agus.
Agus yang mendengar lawan bicaranya telah diam dengan kencangnya membentak-bentak pada ponsel yang sudah tak menjalankan sambungan telepon itu, ia sesaat tak sadar telepon telah mati. Begitu tambah emosi ia saat tak mendapat balasan, kemudian Agus melihat ponselnya telah mati tanpa sambungan telepon. Secara refleks Agus membanting ponsel itu sehingga hancur layar dan terbelah menjadi dua ponsel itu.
" Kamu kenapa Gus?" tanya bosnya.
" Jammer sialan." teriaknya.
" Siap bos, saya pergi dulu." emosi Agus masih meluap-luap hingga ia menjawab atasannya ketus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lokasi lain, sebuah rumah sederhana namun memiliki beberapa orang penjaga di depannya, seorang setengah baya yang masih terluka memerah bekas-bekas luka ditubuhnya masih terlihat jelas, ia sedang menerima laporan dari anak buah kepercayaannya lewat telepon. Dia adalah Roni, setelah pemasangan penyadap suara itu Roni jadi lebih mudah mengawasi Boeggem, walaupun pengorbanannya belum sembuh, masih menjadi luka merah yang butuh waktu untuk pulih.
" Kalian awasi saja dari bukit itu. Dari Villa Anastasya kelihatannya sangat aman untuk pengintaian!." suruh Ronny.
" Kami belum kesana bos. Kami dari point 1, 3, dan 4 masih belum pindah. Lagi pula jarak villa Anastasya cukup jauh dari tempat Boeggem, sinyal yang kita tangkap tak jelas bos." balas anak buahnya.
" Terserah kalian saja, kalian gak usah terlalu banyak cari informasi, lebih baik kalian intai pergerakan saja kalo malem, lagi pula sudah tahu niat mereka." balas Rony.
" Siap bos. Kami jalankan dengan baik."
Setelah itu percakapan mereka berakhir. Roni sudah menyusun persiapan untuk menyambut Boeggem, ia mengirim pesan pada Biyan untuk segera mengatur strategi yang lebih matang dan segera memberitahukan kepada Rendy.
Roni hari ini akan melakukan kontrol kesehatan ke rumah sakit Soe-Hat, ia akan diantar oleh calon besannya dan calon menantunya, sedang Donny akan pulang setelah makan malam. Mereka akan berangkat sebentar lagi, menunggu Galuh yang sedang dijemput sekolah. Setelah pertemuan tempo hari hubungan keluarga Donny dan Galuh semakin dekat dan hangat, sesekali Galuh dan keluarganya datang menengok Roni dirumahnya. Kedekatan itu juga yang akhirnya membuat Galuh bergabung menjadi bagian Bayusuta Crew, hanya saja belum menemukan posisi pekerjaan untuknya.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.40, suara mobil datang memasuki pelataran rumah Roni, itu adalah Galuh dan bapaknya untuk menjemput Roni ke rumah sakit. Dibantu penjaga rumahnya Rony dipapah menuju mobil agar lekas bisa pergi ke rumah sakit, tentunya Galuh dengan kesediaannya membuka pintu mobil dan membantu Rony duduk dengan nyaman di kursi belakang. Kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan rumah Rony menuju rumah sakit Soe-Hat, melaju dengan kecepatan sedang karena waktu janji ketemu dokter yang terbilang cukup mepet.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dinda dan Jammer baru saja sampai di mall milik keluarga mereka, mobil Lamborghini milik Jammer yang ia bawa berjalan langsam menyusuri lorong parkiran yang hari ini sangat ramai karena banyak outlet mall yang mengadakan diskon besar-besaran. Sengaja Jammer tidak parkir di tempat khusus karyawan atau pun tepat khusus jajaran direksi mall yang biasanya ia pakai, sekaligus melihat keadaan parkiran yang hari ini penuh oleh kendaraan pengunjung, mereka tidak ingin ketinggalan besarnya diskon yang diberikan. Sepuluh menit sudah Jammer mengelilingi seluruh lantai parkir namun tak mendapati tempat kosong untuk mobilnya yang cukup lebar, tiba-tiba karena tak memperhatikan jalan Jammer hampir saja menabrak sebuah mobil yang mendadak mundur akan keluar dari tempat parkir, beruntungnya Dinda melihat dan mengejutkan Jammer, untung saja mobil tepat waktu berhenti sehingga tidak lecet salah satu mobil kesayangan Jammer itu.
" Kamu gak kenapa-kenapa?" tanya Jammer pada Dinda.
" Gak kok, cuma agak kaget kamu rem mendadak. Mundur aja dikit biar mobilnya pergi kita parkir disini aja." jawab Dinda dan menyarankan.
" Ok, I'll be doing that." jawab Jammer tersenyum. Dan dibalas senyum Dinda.
Saat Jammer memundurkan mobilnya, ternyata si pemilik mobil tadi keluar melihat keadaan. Si pemilik mobil malah marah-marah minta ganti rugi, menggebrak kap depan mobil, mengucapkan kata kotor untuk memprovokasi Jammer yang belum beranjak dari tempat duduknya. Tak lama seorang satpam mall menghampiri, dan menghentikan keributan itu.
__ADS_1
" Maaf pak, jangan bikin ribut. Anda kenapa marah-marah pak.? tanya satpam itu.
" Ini pak dia nyerempet mobil saya yang baru mau keluar parkir. Dari tadi gak mau keluar buat tanggung jawab." ucap si pemilik mobil dengan menunjukkan ke arah Jammer.
" Tunggu pak sabar biar saya tengahi, jangan bikin gaduh disini." kata satpam itu.
' Tok tok tok ' satpam mengetuk kaca samping kemudi mobil Jammer. Dengan begitu Jammer membuka kacanya.
" Maaf bisa turun sebentar. Ini saya lihat anda tidak turun dari tadi." suruh si satpam.
" Ya oke, saya turun. Anda satpam baru ya?" balas Jammer.
" Ya mas saya baru 2 Minggu. nama saya Farhan" jawab jawab si satpam.
" Ayo sayang turun." ajak Jammer.
" Iya oke deh." jawab Dinda.
" Pak Farhan, bisa lihat itu mobil saya tidak lecet." ucap Jammer.
" Iya kok gak ada yang lecet." kata Farhan setelah melihat ke depan mobil.
" Tapi punya saya lecet pak dan dia yang nyerempet." si pemilik mobil bersikeras.
" Bapak yakin ini lecet baru saja?" tanya Farhan.
" Yakin pak. Itu dia yang melakukan." jawabnya.
" Tunggu saya bukakan CCTV mall saja. Sekalian pak Farhan tolong panggilkan kepala satpam." kata Dinda.
" Maaf mbak kok punya akses CCTV sini?" tanya Farhan.
" Kami berdua yang punya mall ini makannya punya akses lengkap mall ini." jawab Dinda.
" Tunggu sebentar boss saya panggil satpam lain." kata Farhan sedikit gugup.
" Gimana ini mobil saya lecet lho, punya mall kok ganti lecet kayak gini gak mau sih." ketus pemilik mobil.
" Heh tunggu ya, aksesnya bakal keluar sebentar lagi." balas ketus Dinda.
" Nih sudah bisa dilihat." bentak Dinda.
Meski mengetahui CCTV telah bisa diakses tapi pemilik mobil itu masih bersikeras, hingga kepala satpam datang pun masih berusaha memeras uang dari Jammer. Si pemilik mobil yang berniat menipu ini terkejut seluruh kejadian dapat dilihat dan diperjelas dengan baik. Si penipu ini terus saja berkelik mengatakan berbagai pembelaan, bahkan mengancam akan menjelek-jelekkan mall ini. Jammer pun tak tinggal diam, sejak awal keluar dari mobil ia sudah merekam seluruh percakapan hingga akhirnya si penipu mengatakan bahwa ia mengancam jika tidak diberi uang.
" Anda memang tak tau diri. Bisa lihat gak logo di lengan saya." ucap kepala satpam. Terpampang logo Bayusuta Crew di lengan kirinya.
" Oh, BC yang punya sini ya?" ucap penipu terkejut.
" Itu yang kamu tantang boss besar tempat ini. Dan teman baik boss besar BC, kamu memang dari tadi cari mati." bentak kepala satpam.
" Pergi sana, kasihan aku lihat kamu dari tadi. Dan gak usah menjelekkan mall ini, aku punya rekaman suaramu." kata Jammer singkat.
Setelah kejadian itu Jammer mengajak Dinda untuk pulang saja dan mengganti acara shopping nya di lain hari. Sepanjang jalan tak ada obrolan hingga keluar area mall, Dinda menunjukkan ekspresi wajah kesal karena tidak berbelanja hari ini. Sedangkan mobil mengarah ke kafe dekat rumah Jammer.
" Kamu marah gak ngemall?" tanya Jammer membuka percakapan.
" Gak sih cuma kecewa sama keadaan aja." jawab Dinda.
" Udahlah lain kali kita bisa kesini kan, lagian juga ini punya kita mall nya." ucap Jammer sambil meraih tangan Dinda.
" Iya deh, besok aku jemput pagi ya. Kamu sekolah sama aku." Dinda menggenggam tangan Jammer.
Sepanjang jalan menuju kafe tangan mereka tak pernah lepas, saat pindah gigi perseneling pun Dinda yang memindahkan menggunakan tangan kirinya, sedang tangan kanannya terus erat memegang tangan Jammer.
.
.
.
.
__ADS_1
.