Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Hari Yang Ditunggu.


__ADS_3

Setelah meeting selesai Jammer segera pulang diantar oleh Gerry dan Rendy. Sementara Dinda dan Dhean diantar Kana dan anak buah Gerry.


Semua segera tidur setelah sampai di rumah masing-masing, terutama Jammer, si kembar dan Rendy. Sebentar lagi mereka berempat harus berangkat ke Amerika untuk menemui lawan mafia di sana yang terusik ketika Bayusuta Crew mulai berkembang, setelah telepon beberapa waktu lalu saat berbarengan dengan pulangnya Rony dari penyerangan yang dilakukan Boeggem, ketua perwakilan Bayusuta Of American Crew ( BOAC ) sering mengirim pesan ketakutan akan lawannya itu. Seandainya sekedar Rendy saja yang datang bisa selesai, pasti sudah dari hari-hari yang lalu Jammer lakukan. Tapi sayangnya harus Jammer sendiri yang menemui mereka.


Jam masih menunjukkan 2.15 pagi, anggota BC yang berjaga di sekeliling rumah ditambah sehingga memperketat pengawasan dan penjagaan. Seorang pemimpin datang mengetuk jendela kamar Jammer.


" Tuan muda." panggilannya lirih.


" Tunggu." jawab Jammer setelah mendekat ke jendela.


Kriyyeett. jendela dibuka.


" Kenapa Hendry?" tanya Jammer lirih.


" Tuan ada pesan dari Boeggem. Seorang anggota mereka ada di depan rumah Wanto tuan. Katanya Cegah perang, lepaskan orang mereka dan berunding bersama untuk kepentingan semuanya, baik BC atau Boeggem." ujar Wanto menjelaskan.


" Oke. Aku juga tidak butuh membunuhnya sebenarnya. Tapi aku tidak janji kalo Gerry yang membunuhnya, jadi tunggu kabar dariku, tinggalkan kontak untuk aku hubungi." jawab Jammer.


" Kontaknya besok kau berikan padaku di depan gang!" perintahnya.


" Baik tuan saya sampaikan, besok juga segera saya bersiap saat tuan berangkat sekolah." ucapnya mengerti.


Segera Jammer menutup jendelanya dan kemudian tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari mulai pagi, Dinar membangunkan Jammer dari tidurnya, sangatlah susah membangunkan orang yang baru 2 jam tidur, alhasil Dinar meniggalkan Jammer dalam keadaan masih terlelap. Tak lama sepeninggal Dinar, Jammer terbangun karena kaget melihat mimpi yang mengejutkan, mimpi dimana Fiux datang memberi senyumnya. Mengejutkan karena itu mimpi, serta tak mungkin itu terjadi. Karena sudah bangun Jammer akhirnya sholat subuh dan bersiap untuk berangkat sekolah.


Sedang di tempat lain, Fiux yang tidak tau apa-apa, merasakan kupingnya sedang panas. Merasakan itu ia memegangi kupingnya yang panas itu sambil bicara dalam hati.


" Kenapa ini ya. Apa ada yang mikirin aku." gumam Fiux.


Dia merasakan itu beberapa saat, namun teralihkan oleh pesan yang masuk menunggu dirinya menjawab. Sebuah pesan dari pacarnya, seperti umumnya kekasih memberi kabar sebelum mulai beraktivitas.


Setelah memberi kabar, Fiux bergegas bersiap-siap untuk berangkat sekolah, seperti Jammer hari ini ia ada ulangan. Semakin cepat ia sampai, semakin bagus bisa belajar atau membuat contekan. Dia berangkat lebih pagi dari biasanya, jam 6.15, mengantarkan adiknya dulu ke sekolahnya.


Pada saat Fiux sampai di gerbang sekolah, berbarengan dengan Jammer yang melewati gedung depan untuk menuju kelas. Sekilas Jammer memandanginya sambil terus berjalan dan tersenyum. Hal itu ia sadari karena ia harus terhenti oleh antrian masuk tempat parkir, sehingga ia tak sengaja melihat kehadiran Jammer dan hal yang dilakukannya.


" Apa dia masih menyukaiku?" batin Fiux


" Ehh apa sih yang aku pikirkan?" gumamnya pelan.


" Ehh Fiux. Kamu kenapa?" tanya Pras, satpam parkiran. Ia melihat aneh Fiux yang bengong diam.


" Gak apa-apa mas." jawab Fiux.


Fiux segera masuk parkir dan pergi menuju kelasnya melaksanakan persiapan untuk ulangan harian kali ini. Sebagian besar kelas memang hari ini ulangan. Mereka pun menjalani pembelajaran dengan serius dikelas yang terpisah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gerry sedang sarapan di outlet, ia selain melakukan penjagaan juga sedang menunggu seseorang. Semalam waktu ia sampai rumah, seorang sahabatnya mengirim pesan jika ia melakukan Turing And Charity ke Jogja, dan diperkirakan akan melewati jalan depan SMK pagi hari. Untuk itu sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya, sudah lama iya tak bertemu dengan sahabatnya itu semenjak Gerry memutuskan menerima tawaran Jammer memimpin diwilayahnya saat ini.


Selain menunggu ia juga terpikirkan oleh perkataan sahabatnya itu semalam, sahabatnya sudah memiliki seorang anak laki-laki dan istrinya sedang hamil, sementara Gerry sejak lulus SMA masih sekedar berpacaran. Di usianya yang ke 27 tahun ini Gerry belum mendapatkan pendamping yang pantas untuk dipersunting, beberapa kali iya berpacaran selalu terganjal statusnya sebagai salah satu mafia di Bayusuta Crew.


Setelah menghabiskan makan dan kopinya, dari kejauhan Gerry mendengar suara motor yang familiar di telinganya, Harley Davidson Ultra Limited dengan kemerincing rantai dan tujuh jenis mata pisau paling mematikan di dunia yang disematkan menghiasi bagasi belakang motor tersebut. Gerry menoleh mendengar suara motor itu semakin mendekat dan memasuki areal parkir outlet Bu Ina, tak lepas dan tak jenuh memandang motor gede yang ia hadiahkan untuk sahabatnya nampak kembali dihadapannya disertai sang sahabat yang mengendarainya. Gerry pun melangkah menghampiri sahabatnya itu.


" Guys, it's been a long time, we do not meet and hang out. I really miss you guys. Gimana perjalanan lancar?" sambut Gerry sambil memeluk sahabat lamanya itu.


" I've always felt a deep longing for you, guys." membalas pelukan Gerry dengan hangat.


" Perjalanan bertahun-tahun tak bertemu denganmu adalah hal yang berat, kita dulu berjuang bersama, nakal bersama, dan sukses dengan jalan yang terpisah bersamaan. Tapi kalo dari rumah ke sini fine aja lah, apalagi hadiah dari kamu tahun lalu ini bisa diandalkan." imbuhnya sambil melepas pelukan mereka.


" Hai, Olivia apa kabar?" sapa Gerry pada istri sahabatnya.


" Baik bang." jawab Olivia.


" Gimana si Barbar ini masih ciut di pelukanmu apa sekarang garangnya sampai rumah dibawa-bawa?" goda Gerry menyindir sahabatnya.


" Hsstt, jangan gitu. Garang diluar, lembut di depan istri. Good man gitu loh bang." jawab Olivia membela suaminya.


" Ahh. Udah ayo masuk aja cari makan, dengerin dia bisa bikin kita kelaparan sayang." ucap suami Olivia.


" Dasar bocah Bar-bar." Gerry menggeleng -gelengkan kepalanya keheranan.


Ia kemudian mengikuti sahabatnya kedalam untuk melepas kerinduan setelah lama tak bertemu bahkan setiap hari ulang tahun mereka hanya berkirim kabar dan hadiah. Sebagai orang kepercayaan dari bos mafia dirinya bisa stand by bekerja 24 jam, sekedar berpacaran saja harus menyesuaikan waktu dan kondisi, bahkan pacarnya yang sekarang pernah harus ikut ke hutan untuk menangkap seorang musuh karena waktu dan kondisi yang memaksa untuk terjadi. Selama dengan pacarnya yang sekarang memang dia sedikit lega kekasihnya bisa memahami pekerjaan hanya saja orang tua dari kekasihnya itu belum tau identitas dirinya, untuk bertemu saja baru sekali dan sekejap mata saat Gerry menyatakan cintanya 6 bulan lalu.


" Eh tunggu ada telepon bentar ya." ucap Gerry menyadari ponselnya berbunyi.


" Ya sana." jawab sahabatnya itu.


Gerry pun pergi agak menjauhi pasutri itu.


" Hallo, ini dengan siapa?" tanya Gerry ketika membuka panggilan telepon.


" Hallo ini Nicky Tazkiana dari perusahaan rekaman Star Nine Music, bisa bicara dengan tuan Imaduddin Jammer." balas Nicky


" Maaf tuan muda sedang sekolah, saya perwakilannya yang mengirim pengajuan rekaman. Ada perkembangan apa ya kalo bisa saya tau?" balas Gerry.


" Untuk pengajuan sudah disetujui. Mohon kirim seluruh lagu yang akan diproses. Nanti pembicaraan lebih lanjut kita bahas pada saat libur semester saja, mengingat tuan Jammer masih SMK." jelas Nicky panjang lebar.


" Siap, nanti lebih lanjut saya hubungi setelah bertemu tuan muda." jawab Gerry.


" Kalo begitu terima kasih. Jika ada pertanyaan kita bisa bicarakan lain waktu." Nicky.

__ADS_1


" Siap. Baiklah terima kasih." Gerry langsung menutup teleponnya sepihak.


Gerry pun kembali untuk melanjutkan obrolannya dengan sahabatnya. Tak lupa dia memberi komando melalui kode tangan pada anak buahnya yang berjaga disekitarnya agar tetap waspada kemungkinan yang tidak diharapkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, di kantor Jammer. Seorang wanita duduk di sofa ruang santai kantor, dihadapannya banyak makanan dan set cup es batu untuk wine. Dia adalah Monika, sudah ketiga kali sejak perjanjian itu Monika datang ke kantor, memang selama itu pula Jammer membiarkan Monika bertindak semaunya, bahkan di beri jamuan untuk menemani dirinya menunggu.


" Maaf nona, hari ini tuan Jammer tidak ada jadwal dan tidak ada urusan ke kantor." ucap Rendy yang baru datang ke tempat ini, setelah selesai rapat.


" Panggil dong!" ketus Monika.


" Wah masih jam segini gak bisa non. Nanti jam 3 atau 4 sore pasti ada kabar tuan sedang ada dimana." ucap Rendy.


" Kenapa gitu, lagipula mana ada bos yang gak pernah ke kantor?" Monika masih ketus


" Semua tanggung jawabnya saya yang mewakilinya, jika nona mau lebih baik ke rumah sakit pada jam 7 malam, tanya ke satpam hari apa saja tuan muda akan datang." tegas Rendy sedikit bernada kesal.


" Emangnya gak bisa kamu hubungi?" bentak Monika.


" Maaf. Jika bukan hal mendesak saya dilarang menghubungi tuan muda." jawab Rendy tenang.


" Lagian sampai hari ini gak ada yang ngasih aku nomer dia. Emang dia lupa perjanjian kita dirumah sakit." Monika semakin marah.


" Sampai hari ini belum ada perintah memberikan nomer tuan muda ke nona. Jika nona bersedia silahkan ke rumah sakit jam 7 malam. Tuan sedang mempersiapkan proyek di sana." Rendy tenang menjawab dan dalam hati tertawa melihat Monika marah-marah tak jelas.


" Tolong Rendy. Please tanyakan saja." Monika seketika berubah memelas. Penuh harapan terhadap bantuan Rendy.


" Kalo jadi sama Bos mu nanti kamu tak naikin gajinya deh." imbuhnya.


" Baiklah untuk sekarang. Saya hubungi pengawalnya di samping tuan muda, nanti saya buatkan janji hari Sabtu sore sebelum malamnya tuan muda pergi ke Amerika." Rendy mengeluarkan ponselnya.


" Eettzz kena. Nama kontak dia siapa?" Monika merebut ponsel Rendy.


" Wah jangan nona. Nanti kalau tuan Jammer marah bisa gawat urusannya." ucap Rendy sambil mencoba mengambil kembali ponselnya.


" Rasakan ini." teriak Monika sambil menendang ************ Rendy keras.


Aarrgghh. Yang ditendang merintih kesakitan.


" Eh kontak mu sedikit sekali? Nah ini pastinya namanya tuan besar Devil. Berani ya bos sendiri di namai Devil. Kurang ajar sekali." sombong dan percaya diri Monika mengira nomer itu adalah milik Jammer.


" Tolong jangan telepon itu bukan nomer tuan muda." teriak Rendy berusaha menahan Monika.


Panggilan telah dilakukan oleh Monika. Sedangkan diseberang Sam langsung mengangkat panggilan dari nomer Rendy.


" Hallo. Ada apa, ada masalah dengan Jammer?" Membuka telepon dengan suara berat dan agak serak.


" Hallo ini bukan Jammer ya?" ragu tanya Monika setelah sempat terdiam beberapa saat.


" Maaf." Monika memutus telepon sepihak.


" Nona, berikan hp saya!." teriak Rendy meski menahan sakit.


Sedangkan Monika tak perduli dan memilih mencari kembali kemungkinan nama kontak yang sesuai dengan Jammer.


Dreettt dreettt dreettt. ponsel Rendy menerima panggilan Vidio grup dari Sam, Dinda, dan Gerry.


" Ehh kok telepon balik. Malah jadi Vidio grup gini. Nih Rend aku balikin baru sadar kok profil fotonya beda, bukan Jammer garang gitu kelihatannya." Monika menyerahkan ponsel Rendy.


" Nona jangan pernah sembarangan lagi. Tadi itu bos mafia, pelindung perusahaan tuan Jammer. Tolonglah nona sopan sedikit." ucap Rendy tegas.


Dreettt dreettt dreettt. telepon Rendy masih berbunyi dari panggilan yang sama.


" Hallo... Tuan Sam. ghug ghuug " Rendy terbatuk-batuk menjawab telepon dari Sam, karena sakit yang ia rasa sudah mencapai perutnya. Seakan perutnya ingin mengeluarkan isi yang ada.


" Rendy kamu kenapa?" tanya Sam melihat Rendy tengkurap dilantai melalui Vidio call.


" Tidak tun. Semua bisa saya atasi. Nanti saya hubungi lagi, permasalahannya sebentar lagi selesai." Rendy mematikan teleponnya.


" Nona sudahlah. Pergi ke ramah sakit saja, tuan tidak mau diganggu jam segini. Jika bukan tuan yang menghubungi saya juga tidak berani mengganggu. Tolong lah nona Monika." teriak Rendy, dengan berteriak sakit yang dia rasa bisa teredam oleh otot-otot yang menegang keras saat berteriak.


" Sudahlah aku ke mall saja. Bilang ke tuanmu penuhi janjinya memberi aku kesempatan!" Monika pergi meninggalkan kantor Jammer dengan begerutu sepanjang koridor kantor.


Sedang Rendy menghubungi Gerry untuk memberi tahu Jammer tentang kejadian di kantor kali ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kantor yang lain, Galenka sedang bersiap untuk makan siang, hari ini ia ingin memberi sesuatu untuk Jammer yang telah mengajaknya ke Jogja tempo hari. Sore nanti ada dokumen yang harus mendapatkan tanda tangan Jammer dan itu harus diantarkan ke rumah Sam sore ini, namun belum pasti yang akan pergi mengantarkan dokumen-dokumen itu siapa tapi Galenka berharap dapat ikut ke sana.


" Ehh Lenka kamu kenapa?" tanya Silvi yang hari ini sedang kunjungan untuk laporan keuangan perusahaan dikawal Byan. Dia melihat Galenka melamun di meja kerjanya.


" Ehh mbak Silvi, udah kelar mbak?" balas Lenka.


" Malah nanya balik. Kamu ngelamunnya kenapa?" Silvi kembali bertanya.


" Enggak kok mbak, cuma lagi mikirin sesuatu. Hehehe." tersenyum kecil Lenka merasa malu.


" Lah. Mikirin lapar kan?" celetuk Byan yang ikut Silvi di belakangnya dari tadi.


" Hahaha iya mbak mikirin perut lapar." jawab Lenka


Jawaban itu membuat sekitarnya yang mendengar ikut tertawa, termasuk Byan dan Silvi di depan Lenka. Setelah kelucuan itu Silvi dan Byan pergi ke tempat lain, hari ini Silvi ada 3 perusahaan yang harus dikunjungi untuk pemeriksaan keuangan, termasuk perusahaan induk Jammer. Lenka sendiri segera pergi ke tempat makan di luar kantor untuk makan siang, seharusnya jam 3 nanti ia udah bisa tau siapa yang di minta mengantar ke rumah Sam, sehingga kedatangannya tak canggung setelah kejadian di Jogja tempo hari.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu terus bejalan, kini Jammer tengah berjalan menuju outlet Bu Ina. Hari ini kelasnya banyak waktu kosong, karena ulangan beberapa guru hanya mengambil dua pertiga jam pelajaran normal. Hari ini seperti begitu membosankan, banyak waktu luang sehingga kelas sepi karena siswa yang memilih keluar kelas dan pergi ke kantin sekolah, yang lainnya tidur di bangku-bangku kosong yang ditinggalkan penghuninya.


Jammer melihat Gerry menatapnya namun dengan tatapan yang seperti terpecah, antara memperhatikan dan memikirkan hal lain. Semakin dekat ia berjalan semakin jelas terlihat, Gerry sedang memikirkan sesuatu saat berjaga. Dengan sengaja Jammer menghentakkan kakinya di hadapan Gerry yang kini tinggal berjarak 2 meter dari ia berjalan masuk outlet.


" Eehh tuan," spontan Gerry celetuk kaget.


" Ke rumah." perintah Jammer lirih. Ia terus berjalan masuk ke outlet untuk jajan sebelum pulang.


Gerry yang sudah beberapa menit sampai sedang duduk menunggu Jammer bersama Byan, Silvi, Rendy, dan Lenka. Mereka menunggu untuk satu orang yang mereka perlukan untuk urusan yang berbeda-beda. Lenka yang tak mengerti kebiasaan Jammer merasa gelisah karena senja telah menguasai hari ini, sedangkan ia juga tak membawa kendaraan, sementara yang lain hanya berbincang hal-hal yang ia sendiri tak mengerti. Setelah lama menunggu akhirnya Jammer datang dari ruang makan bersama dengan Dinda dan Dhean, selama ini Lenka tak pernah melihat mereka berdua bersama Jammer, hanya pernah dengar Jammer memiliki dua kakak kembar yang begitu cantik.


" Selamat sore semua, maaf ya Jammer aku culik tadi, soalnya aku lapar sih." sapa Dinda dengan senyuman manis.


" Tidak masalah nona Dinda." Rendy mendahului yang lain agar tidak ada yang menjawab asal-asalan.


" Kalian sudah lama?" tanya Dhean juga dengan senyuman manis. Lenka yang memperhatikan mereka berdua merasa tertegun, betapa sempurnanya kembaran ini.


" Tidak nona, kami dari tadi mengobrol, saya rasa tidak lama." Rendy cepat menjawab lagi. Sedang yang lain masih terdiam dan menggelengkan kepala.


" Oke aku ke atas dulu, urusan kalian selesaikan dengan Jammer dan Dinda. Dinda pasti senang menemani Jammer di sini apa lagi ada wanita cantik disini, harus protektif. Hehehe." celetuk Dhean sambil berjalan menuju kamar.


" Oke Kak Dhean sudah menyerahkan waktu kepadaku. Mulai dari Rendy dan Gerry jelaskan pada papa masalah tadi siang. Perasaan kalian belum menjelaskan pada papa kan?" Jammer memberi arahannya.


" Baik tuan muda." jawab Rendy dan Gerry.


" Silvi secara singkat pemeriksaan tadi ada kendala atau masalah lain?" tanya Jammer, dia dan Dinda baru akan duduk di antara Lenka dan Silvi.


" Semua aman terkendala, hanya saja beberapa laporan keuangan masih ada yang mencurigakan. Di perusahaan DLC." Jawaban Silvi singkat.


" Oke tahan nanti kita lanjutkan." perintah Jammer.


" Lenka giliran kamu!" ucap Jammer mempersilahkan. Namun Lenka terdiam melihat pemandangan dihadapannya.


" Kenapa seperti janggal. Mesra sekali, dia kan kakaknya kenapa seperti nempel dari tadi. " batin Galenka.


" Lenka. Galenka." panggil Jammer.


" Eehh sadar." Dinda membantu dengan melambaikan tangan dihadapan Lenka.


" Ehh maaf. Gimana, giliran saya?" Galenka terkaget menyadari panggilan dari Dinda dan Jammer.


" Iya Len. Giliran kamu. Apa yang kamu perlu laporkan silahkan." Jammer kembali mempersilahkan Galenka.


" Ini ada dokumen yang membutuhkan tanda tangan kamu." jawab Lenka berusaha tenang.


" Oh, mana saja? " tanya Jammer.


" Sebelah sini, aku sudah kasih pembatas supaya mudah mencari. Sebelah sini, di sini juga, dan sini." Galenka membuka satu persatu Lemar pengesahan yang perlu tanda tangan Jammer.


" Sebentar biar aku cek." ucap Jammer.


" Sayang aku bantu cek juga?" tanya Dinda.


" Iya sayang, kamu dua ini ya." Jammer menunju dokumen untuk diperiksa Dinda.


Sementara ketiga wanita disekitar mereka berdua merasa tercengang, kedekatan Jammer dan Dinda tak seperti layaknya adik dan kakak. Terutama Galenka, hadiah yang ia bawa sekarang ada di sisinya, hanya tinggal menyerahkan pada laki-laki didekatnya namun pemandangan didepan matanya seakan menggoyahkan niatnya. Galenka terus memandang Jammer yang masih terus membaca setiap lembar dokumen, memerhatikan Jammer yang menandatangani di setiap lembaran yang ia tunjukkan, dan memerhatikan kemesraan yang ditunjukkan Dinda.


" Udah Lenka, ini dokumennya. Kamu tunggu sebentar, setelah ini aku antar kamu pulang, sekalian aku mau pergi. Tunggu ya." ucap Jammer.


" Ah gak usah, lagian masih sore. Aku gak enak." ucap Galenka.


" Gak usah gak enak. Sekalian aja sih." ketus Dinda.


" Udah tunggu ya bentar, sekalian makan malam juga disini." tambah Jammer.


" Mandi sana sayang." suruh Jammer pada Dinda


" Ok gorgeous, you also don't stay long meeting here, we have to shop at the mall. " balas Dinda, kemudian melayangkan ciuman di pipi Jammer.


" Udah sana. Jangan lama-lama." Jammer


" Bales dulu dong." pinta Dinda manja, mendekatkan pipinya di depan Jammer.


" Nanti aja. Jangan bikin mereka canggung." tolak Jammer, sebenarnya ia tidak enak pada Galenka.


" Hmm Iya sayang. " Dinda mencubit pipi Jammer kemudian pergi.


" Tuan, boleh nanya gak soal barusan?" tanya Biyan


" Soal Dinda kan. Dia kakak angkatku kan, gak masalah dong pacaran." jawab Jammer singkat dan jelas.


" Apa?" celetuk keras Galenka karena terkejut atas pengakuan Jammer.


.


.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2