Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Liburan sekolah #5


__ADS_3

Dinda sedang berganti pakaian di kamarnya, setelah kejadian di markas Sang Aji, Dinda meminta untuk pulang saja, membatalkan rencana yang sebelumnya. Ia akan makan malam saja di kafe milik anggota BC di dekat Jl. Anggrek dengan Jammer, beserta pengawalan Gusman dan Rendy, dia sudah merasakan malas karena keinginannya melihat matahari tenggelam harus terganggu oleh Sang Aji.


"Ehh kaget aku Din. Tadi kamu dari mana saja?" tanya Dhean yang baru keluar dari kamar mandi.


"Aahh Dhe, aku dari rumah Jammer, jogging, kemudian ke studio." jawab Dinda, sambil mulai me-make up.


"Kamu belum mandi?" tanya Dhean.


"Belum, aku malas. Jangan bilang-bilang ke orang lain ya!" jawab Dinda.


"Oh iya, besok kita rapat di kantor untuk proyek perumahan Jammer, jangan lupa beritahu sekertaris kita untuk membuat pengumuman!" perintah Dinda mengingatkan.


"Oke, tunggu aku di bawah!" balas Dhean.


Dinda yang sudah selesai make up pun keluar dari kamar menuju lantai bawah tempat Sam Devil dan Ana berada besama Jammer tentunya.


"Sore mama, papa." sapa Dinda dari tangga.


"Kamu mau kemana sama Jammer?" tanya mama Ana yang berjalan dari ruang kerja Sam.


"Ke kafe milik Andri yang dekat jalan anggrek." jawab Dinda.


"Ya nanti biarkan penjaga di sana papa hubungi, kalian tadi di culik Sang Aji kan?" balas Amel berhenti menunggu Dinda turun.


"Kamu tuh, kenapa tidak mencoba hubungi papa tadi? Sang Aji itu bukan lawan yang enteng, buat kalian yang muda dan penuh energi saja mereka bisa mengalahkan dengan mudah jika tidak dibantu oleh alat." imbuh Sam menambahkan khawatir.


"Iya ma, pa. Aku bakal jaga keselamatan diriku, lagi pula ada Jammer, Gusman, Rendy, Gerry, dan anak buahnya, mereka semua siap menyelamatkan aku dan Jammer. Maaf juga atas kejadian tadi itu tidak menghubungi untuk memberi tahu." jawab Dinda.


"Sekarang mama mau ke mana?" tanya Dinda mengalihkan topik, serta meraih tangan mama Ana untuk iya gandeng berjalan.


"Mau duduk di sofa sama papa." jawab Amel sambil meraih tangan Sam untuk berjalan bersama, namun melepas tangannya dari Dinda perlahan.


"Apa mama marah?" batin Dinda.


Ia mengikuti Sam dan Ana ke sofa untuk duduk di samping Ana. Dinda memeluk tubuh mamanya, memejamkan mata, dan meneteskan air mata.


"Mama, aku salah ya?" tanya Dinda.


"Enggak kamu gak salah, kalo kamu tidak mau memberitahu gak masalah, tapi jangan lupa mama dan papa khawatir. Iya sih Adinda ini kan sebenernya kakak angkat yang kuat dan adik angkat kamu adalah ketua BC saat ini." ucap Amel.


"Sudah-sudah hapus air mata." sahut Sam.


"Kita ngomong aja sama orang tuanya." celetuk Dhean ketika sampai belakang merek.


Semua diam, hening untuk sesaat. Mereka masih mencerna omongan Dhean yang baru saja terlontar, ada hubungan apa dengan orang tua Jammer sehingga perlu diberi tahu.


"Ehhmmm, kalian mau pergi semua?" kata Sam menyadarkan mereka.


"Iya kenapa kamu juga rapi?" tanya Dinda heran


"Iya Dinda dan Dhean pergi ke kafe, aku mau menemani Dinda, supaya tidak ada yang berani membuat air matanya menetes." jawab Dhean.


"Ini papa sama Mama hanya berdua?" tanya Sam meyakinkan.


"Iya begitulah." sahut Jammer.


"Mama ikut gak?" tanya Sam.


"Kita ikut tapi nanti pulang lebih dulu saja pa. Mereka kalau mau di sana sampai malam biarkan saja." jawab Amel


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gerry yang tidak ikut dalam acara malam ini sedang mengendarai mobil dengan sang pacar disampingnya, ia akan membicarakan tentang apa yang harus dijelaskan. Terutama ia yang sering di lapangan melakukan konvoi berjaket BC, alhasil cepat atau lambat orang tua pacarnya itu akan mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan BC. Belakangan ini juga ada peningkatan tekanan dari musuh, ditambah Sang Aji yang tiba-tiba muncul menawarkan kerjasama dan bahaya sekaligus.


"Sayang kamu mikirin apa?" tanya Tasya, pacarnya.


"Apa orang tua kamu bakal benar-benar mengerti aku apa adanya ya sayang?" tanya Gerry dengan raut wajah antara bingung dan canggung.

__ADS_1


"Entahlah sayang, kita jalani saja." jawab Tasya asal.


"Iya sudahlah." balas Gerry gusar.


"Tenang sayang, positive thinking dong jangan pesimis." ucap Tasya menyemangati.


Kendaraan Gerry jalankan ke sebuah roof top sebuah kafe berkonsep bawah tanah, seperti bangunan di dalam tebing yang menampilkan pemandangan lampu kota. Itu merupakan hadiah ulang tahun untuk Tasya beberapa hari yang lalu, pengelolaannya dilakukan oleh manajemen PT Sri Manunggal Sejahtera untuk sementara waktu sebelum Tasya menyelesaikan gelar Masternya.


"Malam bos besar." ucap anak buahnya di area parkir di roof top itu.


"Malam juga Roy, berapa orang yang tugas?" balas Gerry.


"Pengamanan dan jaga malam nanti ada delapan bos." jawab Roy tanpa banyak berpikir.


"Oke. Lanjut tugas!" perintah Gerry.


Beberapa saat kemudian Tasya dan seorang waiters datang membawakan cemilan dan minum untuk seluruh pengamanan yang sedang bertugas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi keesokan harinya, Rendy dan Gerry menjemput Jammer di rumah Sam untuk menuju proyek renovasi hotel di pinggir pantai. Mobil sudah siap di depan pintu utama rumah dan keduanya menunggu Jammer yang sedang berpamitan dengan Sam, Amel, dan Twins D.


"Bey..." suara Jammer terdengar di ambang pintu utama.


"Silahkan tuan muda." ucap Rendy yang membukakan pintu mobil untuk Jammer.


"Berapa cepat kamu bisa sampai lokasi Ger?" tanya Jammer sembari masuk duduk di kursi belakang.


"Mungkin sekitar 30 menit tuan." jawab Gerry segera.


"Ganti pakai mobilku!" ucap Jammer kembali keluar mobil.


"Ren, ayo bawa dokumennya." sambungan Jammer.


"Wah baik tuan." ucap Rendy.


"Baik tuan muda saya keluarkan dulu mobilnya." sahut Gerry.


"Kenapa pindah tuan?" tanya Rendy.


"Ya buat ngerjain saja sih." ucap Jammer enteng.


"Hfftt." Rendy menahan tawanya.


"Jangan ketawa dulu, nanti kalau orangnya sadar baru diketawain!" bisik Jammer.


Beberapa saat kemudian, Gerry telah mengeluarkan mobil yang memiliki spesifikasi paling tinggi diantara mobil di garasi Jammer.


"Ayo pindahkan semua barang-barangnya!" pekik Jammer.


"Siap tuan." jawab Gerry.


"hahaha." tawa Jammer dan Rendy. Sedangkan Gerry hanya diam tak mengerti.


"Kamu gak sadar ya dikerjain tuan Jammer." ucap Rendy menahan tawanya.


"Gak. Kenapa sih?" balas Gerry heran.


"Coba kenapa ganti mobil, padahal pakai mobilmu juga gak masalah." ucap Jammer menjelaskan.


"Oh belum paham saya tuan." ucap Gerry masih bingung.


"Baguslah ayo berangkat!" perintah Jammer.


Segeralah kemudian mereka pergi menggunakan mobil Jammer tadi, menembus ramai jalan menuju lokasi proyek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Dirumah sakit Jarot membawa beberapa dokumen pasien yang memerlukan penanganan khusus diluar spesialisasi dokter-dokter yang ada di rumah sakit Soe-Hat. Hari ini manajemen rumah sakit akan mendiskusikan tentang para pasien itu agar dapat di carikan solusi bagaimana nasib mereka. Jarot telah sampai di depan para jajaran manajemen rumah sakit, dengan Stevani duduk di tengah sebagai pimpinan rapat.


"Selamat pagi semua, semangat bekerja dan semoga tetap berdedikasi tinggi." sapa Stevani.


"Selamat pagi dan luar biasa semangat." jawab Jarot seorang diri.


"Apa kalian tau ada beberapa orang yang tidak dapat ditangani oleh dokter dari dalam rumah sakit ini, namun mereka ada di dalam perawatan kita dengan harapan menunggu kepastian kita dapat menjalankan tindakan atau tidak?" tanya Vani membuka rapat.


"Tahu pimpinan." jawab mereka serentak.


"Bagus sekali. Sekarang apa kalian tau kapan kepastian itu bisa kita berikan?" tanyanya lagi.


"Tidak." jawab para manajemen serentak.


"Sekarang hubungi teman sejawat untuk mencari berbagai macam cara agar ada yang bisa di pastikan dilakukan pengobatan total di sini!" perintah Vani.


"Jarot mana dokumennya?" tanya Vani.


"Ini nona." jawab Jarot.


"Jelaskan ke mereka Rot!." suruh Vani.


Jarot menjelaskan detail permasalahan pasien yang diluar kemampuan dokter di Rumah Sakit Soe-Hat. Para peserta rapat hanya diam tidak mendengarkan dan sibuk dengan ponsel mereka, juga tidak ada solusi dari mereka semua. Kebuntuan itu sudah di prediksi oleh Vani dan Jarot karena mereka yang hadir bukan dari pihak BC ataupun orang-orang kompeten di bidang manajemen rumah sakit, diam-diam Vani memperhatikan gelagat mereka satu persatu untuk menjadi catatan tersendiri agar mereka bisa disingkirkan dari jajaran manajemen rumah sakit, sehingga pertanggungjawaban nanti di depan dewan direksi rumah sakit lebih mudah.


"Jika semua bisa bekerja dalam diam maka kita bubarkan rapat ini dan laporan perkembangannya saya tunggu nanti jam 5 sore. Selamat pagi semua." ucap Vani, berdiri dan pergi dari ruangan.


Pertemuan ini Vani lakukan untuk mengetahui apakah ada hubungannya hambatan rumah sakit Soe-Hat dengan orang-orang yang dia curigai. Setelah pergi dari ruang pertemuan, Vani melanjutkan tugasnya dirumah sakit untuk pemeriksaan rutin para pasien.


...****************...


Stevani sedang makan siang di kantin setelah menyelesaikan jadwal pemeriksaan rutin pasien. Sebagai seorang dokter umum Stevani lebih sering memeriksa dan menangani pasien dengan penyakit umum. Saat sedang asyik mengisi perutnya, suara seseorang yang datang ke hadapannya dapat membuatnya sedikit tersentak.


"Stevani." sapa Gerry.


"Eh kaget." ucap Vani.


"Terkejut ya?" tanya Gerry cengengesan.


"Iya astaga." jawab Vani.


"Sudah, aku mau medical check up hari ini. Tolong siapkan semuanya Van!" ucap Jammer menyela.


"Baik tuan muda, tunggu disini aku persiapkan." ucap Vani.


"Nanti telpon kalau sudah siap, aku makan dulu." ucap Jammer.


Jammer melakukan pemeriksaan untuk persiapan dirinya sebelum recording yang sudah dijadwalkan esok hari. Menghitung ketahanan nafasnya, kekuatan jantung dalam keadaan kegiatan berat, kekuatan paru-paru dalam menampung oksigen, dan kelainan yang mungkin dapat mempengaruhi performa bernyanyi. Setahap demi setahap dijalankannya pemeriksaan berdurasi empat jam, ditemukan beberapa keanehan di jantung, paru-paru, dan hati. Stevani tak yakin untuk memutuskan kesimpulan dari pemeriksaan itu adakah pengaruh terhadap kemampuan bernyanyi atau tidak, namun seharusnya Jammer tidak dapat bertahan pada pertarungan fisik untuk waktu lama dengan kelainan detak jantung, peningkatan volume oksigen pada paru-paru yang kurang baik, itu seharusnya membuat Jammer mudah lelah, tapi selama ini kenapa tidak terlihat olehnya.


"Bos, hasilnya akan lebih baik jika kamu tidak tahu." ucap Stevani.


"Lah memang kenapa?" tanya Jammer.


"Seharusnya kamu tidak dapat bernyanyi untuk waktu lebih dari sejam, tapi selama ini kamu bernyanyi lebih dari tiga jam, menurut pemeriksaan mustahil untuk melakukan kegiatan memaksa paru-paru seberat itu." jelas Vani.


"Ya sudah. Semua baik, nanti aku MCU lagi bulan depan, tentukan jadwalnya ya." ucap Jammer santai.


"Oh iya mama dan papa jangan lupa kamu periksa waktu dekat ini." imbuhnya.


"Kami pamit dulu." pamit Jammer.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah sakit.


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2