Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Pensi


__ADS_3

Dua hari setelah Dinda mentraktir salon itu, Dinda dan Dhean datang ke sekolah untuk melakukan sambutan, tidak seperti tahun lalu yang mewakili mereka berdua adalah Rendy kini mereka sengaja menyempatkan waktu untuk datang. Alasan utamanya adalah Dinda ingin melihat performance Jammer membawakan lagu ciptaannya yang akan direkam akhir liburan nanti, dan diluncurkan segera.


"Selamat pagi, selamat datang di sekolah ini. Terimakasih atas waktunya untuk datang ke tempat ini Bu Dinda, dan Bu Dhean. Kami sangat terhormat...." sambutan yang diucapkan kepala ketika Dinda dan Dhean keluar mobil.


"Selamat pagi bapak." balas sapa dari Dhean, sedangkan Dinda malah menoleh ke dalam untuk melihat Jammer.


"Ehm ini dengan bapak siapa ya?" tanya Dhean.


"Saya selaku sekolah, bapak Bunyamin." jawab pak Bunyamin, atau siswa biasa memanggilnya mang Yamin, karena mirip nama sebuah warung mie ayam.


"Oh pak Yamin." sahut Dinda.


"Iya Bu, mari kita masuk dulu ke ruangan saya sembari menunggu dimulainya acara." ajak mang Yamin.


"Baik pak, tapi ini parkir di mana ya, soalnya saya mau pergi sama pacar saya setelah dia tampil?" tanya Dinda.


"Oh itu supirnya suruh parkir di atas saja bu, nanti di atas ada satpam yang mengarahkan." jawab pak Yamin karena tidak melihat Jammer di dalam.


"Maaf itu pacar saya pak Yamin, kami berdua jarang bawa supir." ucap Dinda mendikte.


"Oh maaf kalau begitu." ucap pak Yamin.


"Ah sudahlah, ayo pak keruangan yang bapak sebutkan." ucap Dhean memotong Dinda yang akan mengumpat terlihat dari wajahnya yang marah.


"Sayang aku masuk dulu, kamu parkir ke atas ya. Nanti ketemu di back stage." pamit Dinda, dan Jammer pun mengangguk kemudian pergi memakirkan mobil.


...****************...


Waktu pembukaan acara telah tiba, dijadwalkan jam 8.10 Dinda akan mewakili perusahaan untuk menyampaikan sambutan, dan sekaligus membuka acara bersama dengan kepala sekolah. Setelah Dinda sambutan dan membuka acara kini waktu untuk penampilan perwakilan kelas sesuai undian nomor urut tampil masing-masing. Ada yang menampilkan drama, vokal solo, vokal grup, dance, tari tradisional, dan band. Ketika waktu telah mencapai pukul 14.37 WIB giliran Jammer dipanggil, di pensi ini Jammer naik panggung bertiga dengan Dinda dan Dhean, ritm guitar di pegang oleh Dinda, sedang Dhean membawa bass, serta dirinya membawa melody guitar baru warna putih yang dibeli beberapa minggu lalu sebelum ke Amerika, sedang Dinda menggunakan gitar kemarin lusa yang beli sebelum ke salon. Lagu yang dibawakan dibatasi 3 lagu, untuk itu Jammer dan Twin D memilih 2 lagu Jammer dan sebuah lagu Pelangi Di Matamu dari Jamrud.


"Dua lagi ini adalah lagu ciptaan saya, dengan seluruh inspirasi saya yang ada di sana." tunjuk Jammer pada Fiux yang berada di gazebo dekat UKS.


Ia kemudian menyanyikan kedua lagu itu sambil sesekali menoleh ke arah Dinda untuk sekedar memastikan wanitanya tidak sedang menangis. Sampai lagu berakhir riuh tepuk tangan sesekali terdengar mendengar kedua lagu itu yang berasal dari tafsir surat dalam Al Qur'an yang menerangkan tentang bagaimana cara mencintai seseorang. Kemudian pada lagu terakhirnya ia menghadap ke arah Dinda.


"Dinda, terima kasih atas semuanya, meski aku bukan yang terbaik kamu mau menerima diriku, dan Dinda terima kasih telah bersabar di sisiku, rasaku kini adalah apa yang tertuang dalam lagu ketiga, yaitu Pelangi Di Matamu." ucap Jammer dengan tulus, membuat semua penonton bersorak riuh dengan tepuk tangan.


^^^"Tiga puluh menit kita disini. Tanpa suara." Dinda membuka nyanyian mereka dengan suara lembutnya.^^^


^^^"Ada yang lain disenyumkan.^^^


^^^Yang membuat lidahku gugup tak bergerak.^^^


^^^Ada pelangi dibolah matamu.^^^


^^^*Yang memaksa diriku tuk bilang.^^^


^^^Aku sayang padamu*." raff pertama lagu.^^^


Sebagian siswa-siswi ikut bernyanyi dengan Jammer, sedang yang diatas panggung larut dalam perasaannya masing-masing. Jammer yang berjuang untuk mencintai Dinda sepenuhnya, Dinda dalam pikirannya mengharap perasaan kekasihnya itu selaras dengan lirik yang dinyanyikan, dan Dhean berharap agar kedua saudaranya itu menjadi benar keluarga, dalam arti Jammer menikah dengan Dinda.


Ketika reff terakhir, Dinda yang secara konsep yang lebih dulu selesai mengiringi lagu ya karena memang bagian dia berakhir satu baris lebih dulu dibandingkan Jammer. Ia melepas gitarnya kemudian memeluk Jammer dari belakang bersamaan dengan Jammer yang menyanyikan baris terakhir lagu ini.


"Yang memaksa diri tuk bilang." baris akhir Dinda mengiringi.


"Aku sayang padamu." nyanyian Jammer sedikit terkejut karena dipeluk Dinda namun suaranya tetap terjaga.


Kembali riuh tepuk tangan membahana dari penonton baik itu guru, siswa maupun tamu dan alumni yang baru saja datang untuk menghadiri acara malam yaitu ulang tahun sekolah bersama bintang tamu dari Jakarta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Samuel dan Amel berada di mobil menuju rumah Samad, mereka sengaja tidak mengabari anak-anak mereka, karena ini untuk membahas kelanjutan rencana pertunangan. Secara garis besar tentu tidak menyinggung tentang perubahan dari posisi Dhean ke posisi Dinda, lebih kepada masalah waktu dan apa saja yang akan dipersiapkan.


"Papa, ehm nganu. Kalau kita beritahu kepada mereka tentang Dinda bagaimana?" ucap Amel.


"Jangan, nanti pada saatnya mereka akan tau,. tapi bukan dari kita, itu dari anak-anak saja yang menjelaskan, lagipula mereka bertiga sebelumnya hanya bersandiwara, sedangkan sekarang mereka benar-benar nyata memerankan perjodohan. Tidak ada sandiwara lagi, kita akan segera menjadikan Jammer keluarga secara utuh, kita akan mendapatkan dirinya sebagai menantu bukan anak yang kita asuh tanpa pengakuan legalitas, melainkan hanya ucapan dan tindakan. Semua akan cepat tercapai, ditangannya kita akan bahagia." ucap Samuel melarang.


"Ehmm aku takut pa, menurut papa apa dia seperti papa yang banyak wanitanya?" Amel memeluk Sam.


"Oh tentu. Tapi dia tidak menganggap mereka." jawab Sam mengelus lengan wanita yang memeluknya itu.


"Jika bukan dengan menikahkan mereka apa tidak ada cara lain untuk menjadikan dia bagian dari kita secara utuh pa?" tanya Amel sembari mendangakkan kepalanya sedikit


"Bisa kita secara legal menjadikan dia anak kita. Dengan cara menghilangkan penghalang untuk itu." ucap Samuel tersenyum.


"Huh, malah bercanda, itu sama saja kita harus menyingkirkan orang tuanya, pak Samad dan istrinya." ucap Amel memukul lembut dada Samuel.


Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Sam dan Amel baru saja tiba di depan rumah Samad, mereka disambut oleh keluarga Samad dengan sangat gembira dan hangat. Mereka tidak langsung membahas tentang pertunangan, diawali mengobrol hal-hal ringan, perkembangan kesehatan Amel, keadaan yang dialami masing-masing keluarga, dan menempatkan topik utama diakhir pembasahan. Dua jam lamanya mereka berbincang-bincang tentu disela oleh kewajiban shalat, kemudian berpindah tempat berbincang.


"Mari kita makan dulu sebelum melanjutkan pembicaraan." ucap Samad mempersilahkan semuanya menyantap makan malam terlebih dahulu.


Setelah dipersilahkan tak ada suara orang berbicara, mereka semua fokus pada makan dihadapannya.


"Baik, semua sudah selesai, mari berdoa untuk makanan yang telah kita makan. Dipersilahkan berdoa." ucap Samuel memulai doa dalam hati.


"Alhamdulillaahi robbilallamin."


"Pak Sam, bagaimana kelanjutan dari pembicaraan tadi. Sampai lupa sudah sampai mana." ucap Tri menginginkan.


"Ini jeng, soal pertunangan anak kita, rencana nunggu mereka lulus atau segera saja?" jawab Amel tanpa basa-basi ragu.


"Mama ini buru-buru sekali. Takut calon mantu kecantol cewek-cewek di sekelilingnya ya?" sahut Sam terkekeh.


"Ppffftt, iya itu. Terutama si manis rambut pendek itu." jawab Amel merasa ditanya.


"Ah sudah itu hanya sebuah kerikil diperjalanan yang tidak berarti. Tidak penting masalah siapa si dia, yang terpenting kita tetap sepakat merestui mereka, dan mereka tetap saling mencintai sampai hari pernikahan." ucap Samuel mengalihkan.


"Ya benar juga, anak kami kan tinggal setahun ini sekolah, kalau kita langsungkan pernikahan setelah tes nasional juga tidak masalah, kemudian kalau tinangan kita biarkan mereka memilih saja waktunya, yang penting kita ada andil bersandiwara memojokkan mereka segera bertunangan." sahut Tri.


"Iya benar juga jeng Tri, nanti kita harus kompak sebagai orang tua." ucap Amel sambil mengepalkan tangannya bersemangat.


"Baik istri kita sudah setuju, saya juga harus setuju. Sekarang caranya ada yang tau bagaimana untuk menyegerakan acara baik itu terlaksana cepat." ucap Sam.


"Ya coba kita mulai dari membicarakan di makan pagi atau malam, kalau disini dia jarang makan bersama. Mungkin bisa di usahakan saat mau berangkat sekolah dia ada waktu sebentar." sambung Samad.


"Ya kalau kita sih bisa bicara dengan mereka sekaligus dalam satu waktu, ya sudah kita putuskan begitu saja ya untuk sementara. Tapi jangan sampai bocor kita sudah bicara soal itu." ucap Sam.


"Ya mungkin kita cari dulu kelemahan atau kekurangan rencana kita, biar jangan sampai terjadi kejadian buruk, apalagi seperti yang ditakutkan Bu Amel." ucap Samad.


"Memang sih secara waktu cukup lama, dan lagi-lagi saingan paling berat ya dia." gumam Amel.


"Sudah mama." ucap Sam mengelus punggung Amel.


"Ya sudah lebih baik kita putuskan sampai di situ dulu, nanti saat perjalanan waktu ada masalah bisa kita saling berbagi pikiran lagi." kata Samad mengakhiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah penampilan yang menarik tepuk tangan, Jammer dan Dinda pergi ke tempat latihan di stadion musik milik anggota BC. Sedangkan Dhean dijemput oleh Rendy setelah jam kerja Rendy usai.


"Selamat sore nona. Ini nona Dhean atau Dinda ya?" sapa Wahyu Axle. Pemilik studio musik ini.

__ADS_1


"Sore. Aku Dinda dong." jawab Dinda.


"Oh, maaf ya nona Dinda. Memang benar berita kalau nona dan tuan muda berpacaran?" tanya Axle sedikit menunduk.


"Oh itu sih benar, memang kenapa?" jawab Dinda.


"Ya kalau dulu kan pura-pura itu kan dengan nona Dhean, kalo sekarang berganti kan kita yang di bawah terkejut nona. Hehehe." ucap Axle sedikit terkekeh.


"Oh." Dinda.


"Nona. Nona Dinda tidak ingin minum atau makan malam?" tanya Axle basa-basi.


"Nunggu tuh, nyanyi buat orang kok semangat banget, buat pujaan hatinya dulu itu. Untung raganya aku yang punya, masalah hati tinggal tunggu..." ucap Dinda sedikitnya ada curhatan.


"Tunggu apa nona." tanya Axle yang tak sabar mendengarkan kelanjutan ucapan Dinda yang dijeda.


"Tunggu kalau nanti sudah menikah, aku terkam setiap hari. Mana mungkin kuat hati dia." ucap Dinda penuh ambisi.


"Awwwuu, keras sekali nona Dinda, seperti singa betina yang memburu singa jantannya." canda Axle.


"Hahaha kalau tidak diterkam nanti dia menerkam yang lain, ini saja aku rencana untuk fokus menjadi manajernya, kamu tau gak dia diam saja, tidak bicara ada 3 orang sainganku, apa lagi ini dia punya album sampai bisa laku. Wah itu bisa membuat semua lebih berat, tadi saja waktu pensi di sekolahnya, dia mempersembahkan dua lagu buat wanita lain, untung si ceweknya gak baper." ucap Dinda.


"Wah kok berani sekali tuan muda begitu. Memang tidak takut pada tuan Devils?" tanya Axle sedikit terkejut.


"Gak masalah, dia kini masih milikku. Dan papa tahu semuanya, siapa saja yang mendekatinya juga papa tahu, tapi biarkan saja asalkan tuan mudamu itu tidak menanggapi semua bukan masalah." jawab Dinda.


Tiba-tiba Jammer keluar, membuat obrolan itu berakhir.


"Sayang, ayo kita pulang, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku juga belum makan malam, dari tadi kan cuma minum air putih." ajak Jammer dan diangguki oleh Dinda.


"Kami pulang dulu ya. Sukses buat studionya, semoga makin ramai." pamit Dinda.


"Bangu Yu Axle Li, tagihannya sekalian ya seminggu lagi. Kita berdua pulang dulu." ucap Jammer sambil mengulurkan tangannya beradu kepalan.


Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu untuk makan malam, sepanjang perjalanan menuju tempat makan mereka berdua hanya diam dengan bergandengan tangan disatu sisi tangan mereka, tangan kanan Jammer memegang kemudi, tangan kiri Dinda memegang tuas transmisi, wajah Jammer fokus ke jalan, dan wajah Dinda fokus ke laki-laki yang ada disampingnya itu.


"Setahun lagi kamu lulus. Pokoknya tidak ada yang boleh masuk ke dalam hubungan kita, begini saja sudah berat, jangan sampai terjadi aku kehilanganmu. Untuk saat ini biarkan hatimu bukan untukku tapi setelah kamu lulus, aku akan minta kita menikah. Pensi tadi saja sudah cukup untuk memenuhi hatiku dengan cemburu." batin Dinda berkecamuk cemburu.


"Sayang kita sudah sampai." ucap Jammer membuyarkan lamunan Dinda.


"Eehhhmm iya sudah sampai, tapi aku pengen makan malam ditempat lain." ucap Dinda.


"Sebenarnya cuma ingin beberapa saat tetap duduk seperti ini saja." batin sebenarnya Dinda inginkan.


"Ok, kita pergi ketempat lain, tapi mau makan apa biar gak salah tempat lagi?" tanya Jammer.


"Ehh terserah kamu aja." jawab Dinda sedikit tersentak, tidak siap ditanya begitu.


"Oh kamu capek ya?" ucap Jammer mengelus pipi Dinda.


"Ehm iya beb." jawab Dinda.


"Ya udah deh, kita cari tempat dulu." ucap Jammer kembali menyalakan mobil.


"Tunggu, disini saja gak usah kemana-mana lagi. Gak jadi cari tempat lain." tahan Dinda.


"Yakin kamu gak mau cari lagi?" tanya Jammer.


"Iya sayang aku yakin, kasihan kamu kalau cari lagi nanti ke maag." jawab Dinda.

__ADS_1


"Yes, berhasil." batin hati Jammer.


Sebenarnya Jammer berniat hanya untuk membuat Dinda tersentuh oleh sikap dia, supaya tidak pindah lagi. Terutama ketika wanita ditanya kok jawabnya terserah kamu aja itu tandanya akan ada kesulitan dibaliknya. Merekapun makan malam dan ngobrol sepanjang perjalanan pulang kerumah Sam, setelah berpamitan dengan Sam dan Amel, Jammer pulang menggunakan SUV-nya.


__ADS_2