Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Liburan sekolah #4


__ADS_3

Perjalanan ke X4 dilalui dalam diam, Dinda hanya terus menerus memandang orang di sampingnya, sedang yang dipandang sibuk dengan ponsel di tangannya, kemudian Gerry sedang manjalankan perintah Jammer untuk mengurusi masalah dari Nicky. Setelah mendapatkan minuman Boba yang dicari, mereka mampir sebentar ke kantor Jammer untuk mengambil beberapa dokumen kontrak kerjasama agar dapat di pelajari di rumah, kebetulan malam ini Jammer akan berada di rumah Samuel. Sesampainya di lobby Jammer sudah disambut oleh satpam, resepsionis, dan Rendy yang sedang membawa dokumen kontrak kerjasama yang akan dipelajari oleh Jammer.


"Selamat sore tuan." sapa Rendy.


"Sore juga. Kalian pasti sudah ingin pulang kan?" tanya Jammer pada dua resepsionis dihadapannya.


"Tidak tuan muda." jawab keduanya bersamaan.


"Kami tidak berani berpikir ingin pulang dulu sebelum waktunya, apalagi tuan muda dan nona Dinda akan datang kami akan bertugas sampai anda berdua selesai." sambung senior resepsionis.


"Halah apaan itu?" ucap Jammer mengulurkan tangannya pada Rendy.


"Mana dokumennya Rendy. Kalau kau tidak sedang sibuk ikuti aku!" sambung Jammer.


"Lanjutkan kerjaan kalian, aku sudah selesai. Permisi." pamit Jammer.


"Hhhffftt... untung saja tidak lama, sudah waktunya untuk bersiap pulang." bisik senior resepsionis itu.


"Memang tidak bisa membuat 100% perusahaan itu bersih, paling baik 90% saja sudah cukup sulit dicapai." gerutu Jammer yang membuat Dinda tertawa di sisinya.


"Hahaha, jangan menggerutu begitu sayang. Bersabarlah" nasihat Dinda.


"Masuklah." ucap Jammer membukaan pintu mobil.


"Kita jadi ke pantai kan?" tanya Dinda memastikan sebelum dirinya masuk mobil.


"Iya sayang jadi. Kita sekarang pergi ke pantai. Nanti lihat matahari terbenam sekaligus makan malam di sana, baru pulang." jawab Jammer.


Segera Gusman mengendarai mobil keluar dari kompleks perkantoran itu, perjalanan yang ditempuh untuk mencapai pantai perlu paling tidak 30 menit dengan lalulintas lenggang. Hari ini kebetulan cukup padat dan mobil Jammer terjebak ditengah-tengah kendaraan lain. Ada empat mobil yang mengapit mobil Jammer, tidak membuka jalan meski sudah ada jalur yang terbuka didepan mereka.


"Pasti ada sesuatu dari mereka." batin Jammer.


"Gusman, ikuti kemana mereka berempat menggiring kita!" ucap Jammer.


"Baik tuan." jawab Gusman baru menyadari kehadiran empat mobil itu.


"Gerry, kumpulkan anak buahmu, aku tidak ingin meladeni mereka bertarung!" ucap Jammer dan di angguki Gerry.


"Sayang sekali jika kita tertahan oleh mereka, artinya kita tidak jadi ke pantai." gumam Jammer, namun terdengar oleh Dinda.


"Ehh jangan dong." pekik Dinda mengeluh.


"Tanya om Gusman dan Gerry coba, apa bisa diselesaikan dengan secepat mungkin." jawab Jammer.


"Semoga saja tuan muda." sahut Gerry.

__ADS_1


"Kami usahakan untuk cepat selesai tuan." Gusman menimpali.


"Sebentar aku share location kita ke Rendy biar dia juga bawa pasukan." sahut Dinda.


"Baiklah semuanya, kita harus bersiap dengan sengaja keadaan jangan sampai ada yang tidak diinginkan terjadi. Semoga kita dilindungi oleh Allah SWT, selamat tanpa luka semua." do'a Jammer.


"Aamiin." jawab semuanya bersamaan.


"Kita bakal dibawa ke mana ya? Apa kita akan dibawa ke Boeggem ya?" terka Dinda.


"Kalau kita hubungan dengan kejadian tadi itu dengan nona Nicky, bisa saja ini adalah suruhan Boeggem. Kaca mereka juga tidak dapat ditembus pandangan mata dari mobil ini. Sangat mencurigakan sebenarnya." balas Jammer ikut menimpali terkaan Dinda.


Setelah beberapa lama mereka di giring untuk menuju parkiran sebuah perusahaan pengelolaan dana investasi. Di lantai paling dasar terdapat sebuah gerbang yang tertulis selain petugas dilarang memasuki areal ini. Semakin membuat Jammer, Dinda, Gerry, dan Gusman heran. Meski mereka akhirnya dapat mempersempit ruang pemikiran mereka, yang dapat membuat lorong menuju suatu tempat bawah tanah berarti bukanlah dari kalangan rendah, pada dunia yang gelap dan kotor, hanya mafia dengan kekuasaan yang luar biasa yang bisa membangun markas bawah tanah, hanya BC yang dipimpin Jammer, Boeggem, Blade Knife, dan Sang Aji, namun Sang Aji sudah lama tak pernah muncul bahkan sangat tertutup informasi tentang kelompok mafia ini, sangat rapat hingga terlupakan keberadaannya. Sesaat setelah memasuki lorong itu, nampak beberapa orang berbadan besar kekar, dengan perlengkapan senjata dan rompi peluru lengkap seperti militer, dan seragam hitam-hitam berada di balik rompi anti peluru mereka.


Toktoktok. Seorang penjaga mengetuk pintu sisi Gusman.


"Ada apa?" tanya Gusman, sambil membuka kacanya.


"Sudah masuk, benar kalian yang kami cari." ucap penjaga itu.


"Ada-ada saja, tidak mengatakan maunya apa malah tidak jelas." gumam Gusman.


"Sudahlah Gusman." ucap Jammer.


"Fokuskan diri kalian, saat ini kita masuk ke sarang musuh." tegur Dinda melihat ketiga pria didalam mobil itu terlihat tidak menganggap serius keadaan ini.


"Sayang aku takut." keluh Dinda di dalam dekapan Jammer.


"Tenang bala bantuan sedang dalam perjalanan." ucap Jammer menenangkan.


Mobil terus masuk, panjang dan melingkar turun ke dalam perut bumi. Sepuluh menit kemudian, mobil sampai di sebuah parkiran lapang yang penuh dengan puluhan mobil sport mewah dan ratusan mobil berbagai jenis dari anggota kelompok yang masih misterius bagi mereka. Tiba-tiba mobil didepan menghentikan jalannya, dan keluarlah 12 anggota kelompok mafia dari ke empat mobil dan mendekati mobil Jammer.


"Buka pintunya." suruh mereka.


"Ada apa dulu?" tanya Gusman.


"Sudahlah ikuti perintah saja." bentak mereka.


"Baiklah, kalian mundur semuanya." pekik Jammer dari dalam, diikuti kedua belas orang itu.


"Batalkan semua bala bantuan tadi, suruh mereka berjaga di luar saja, sekarang kamu hubungi Byan, dan hubungi guru spiritualku, suruh dia tundukkan setiap orang yang aku tunjuk, ini aku pegang cincin dari dia, dari cincin ini dia bisa menerawang dan mengirim ilmunya." titah Jammer kepada Gerry.


"Baik tuan muda." jawab Gerry sambil melakukannya.


"Cepat keluar!" teriak kedua belasnya.

__ADS_1


"Iya ini juga ingin keluar, sabarlah." sahut Gusman yang keluar lebih dulu.


"Silahkan nona." ucap Gusman setelah membukakan pintu mobil untuk Dinda.


"Silahkan tuan." sambungnya setelah mutar berganti membukakan pintu mobil untuk Jammer.


"Itu satu lagi keluar!!" bentak seorang yang mungkin pemimpin dari kedua belasnya.


"Ger, keluar dulu." ucap Gusman.


"Oke bang." jawab Gerry keluar dari mobil.


"Ikut kami bertemu tuan...." ucap mereka kemudian mengawal dengan seseorang di depan dan 11 orang dibelakang Jammer, Dinda, Gusman, dan Gerry.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rendy sedang memimpin pasukan dari markas besar dan kelompok anak Gerry, mereka sudah berada di depan halaman gedung dimana keberadaan Jammer kini. Rendy berdiri diatas mobil Barakuda yang Bayusuta Crew kerahkan, tak kurang dari 200 orang telah terkumpul untuk siap diperintahkan jika terjadi sesuatu.


"Siap-siap tunggu perintah tuan Jammer!!!" seru Rendy.


"Siap" sahut mereka semua berbarengan.


"Cek perlengkapan, yang tidak memakai jaket BC mundur!!" Seru Rendy lagi.


"Tidak ada yang mundur?!" seru Rendy menegaskan.


"Semua lengkap bos." sahut semua.


"Bagus. Kita tunggu perintah." seruan terakhir dari Rendy.


Lama mereka menunggu, tidak ada tanda pesan masuk ke ponsel Rendy maupun yang lainnya, waktu-waktu terus berjalan, hingga sore hari berganti senja. Suara kendaraan menderu keluar dari areal parkir gedung itu, mobil pertama kali keluar merupakan mobil dari kelompok mafia di gedung itu, kemudian dibelakangnya baru mobil Jammer. Ketika berhenti di depan mobil Barakuda milik BC Jammer langsung membuka kaca pintu mobilnya dan melambaikan tangan mengisyaratkan untuk mengikutinya ke suatu tempat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuan apa benar kita melakukan ini?" tanya asisten sekaligus penasehat itu.


"Kerjakan saja bagian kita dengan baik, sementara jadikan mereka kawan pada medan pertempuran dengan musuh yang sama." ucap bos kelompok yang mengiring Jammer ke markasnya.


Bos mafia itu adalah bos kelompok Sang Aji. Ia menatap dengan pandangan mata tajam namun terlihat jelas garis-garis raut wajah kekhawatiran pada wajah tuanya, sebagai salah satu mafia dengan kekuatan besar dan pengalaman ia merasa keangkuhan, namun begitu melihat kedikdayaan lawan-lawannya hatinya juga gemetar, jumlah anggotanya kurang dari Bayusuta Crew, alutsista pada kelompoknya sendiri sangat jauh tertinggal, hanya pengalaman, kekuatan fisik yang sudah menua dari anggota yang menjadi tumpuannya, bahkan keponakannya yaitu John Wong adalah penghianat terbesar baginya, kekuatan dari anggotanya tidak dapat membunuh John Wong, sedangkan jika di tambah setengah kekuatan anggota Bayusuta Crew dan juga alat-alatnya sebatas melumpuhkan hingga dapat di bantai oleh Sang Aji itu akan lebih mudah dilakukan. Ia masih memandang kepergian lawan yang sementara dijadikan sebagai kawan itu.


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2