
Dinda menyiapkan masakannya di meja sofa, menatanya rapi, jika sesuai perkiraan waktu tempuh 15 menit dari markas. Jam menunjukkan pukul 12.20, waktu makan siang kantor tinggal 40 menit lagi.
Toktoktok.
"Masuk!" jawab Dinda yang duduk di belakang sandaran sofa, menghadapkan diri ke pintu.
"Maaf Bu Dinda, ada orang mencari." kata sekertarisnya itu.
"Siapa?" tanya Dinda.
"Kurang tau Bu, seperti belum pernah kesini." jawab sekertaris tadi.
"Saya nona yang ingin ketemu." muncul seorang pria dibelakang sekertarisnya, dengan menyeringai.
"Astaga tuhan, bikin kaget suaranya." teriak sekertarisnya.
"Jadi kamu Diego." sapa Dinda datar.
"Iya, aku rindu padamu." kata Diego tanpa ragu.
"Apa benar kau merindukanku, bukan perlu sesuatu?" tanya Dinda datar.
"Ya itu dia yang aku maksud. Aku rindu padamu yang selalu membantuku." jawab Diego.
"Tunda rindumu, sekarang kau pergi dulu, hubungi aku nanti sore." perintah Dinda datar.
"Oke, aku juga mencium aroma-aroma kau habis masak, bahkan kelihatannya kau menunggu seseorang. Tapi boleh aku minta sedikit uang?" ucap Diego seakan dapat mencium aroma masakan Dinda.
"Untukmu aku memberi uang, belum juga aku transfer bisa jadi kau sudah ada di Las Vegas bermain di Kasino." balas Dinda.
"Ehhemm, permisi." Suara Jammer melewati Diego. Membuat Dinda tersenyum kemudian memeluk Jammer.
"Selamat siang tuan muda." sapa sekertaris Dinda.
"Ka... kak... Kakak Jam... Hhmm kakak Jammer." ucap Diego gugup, karena ia sangat takut dengan Jammer.
"Diego, kau mau minta uang untuk membayar hutang atau mau untuk berjudi, atau malah minta perlindungan kakakmu?" tanya Jammer datar, dingin, dan tanpa menoleh ke arah Diego.
"A.. aa.. ak... aku." ucap Diego yang kemudian pingsan.
"Gusman, bawa dia ke ruang istirahat di dalam, kalau tidak kuat kau minta security pada sekertaris ini." perintah Jammer.
"Iya tuan muda."
"Sudah bicaranya?" tanya Dinda masih dalam posisinya tadi.
"Ya sudah, sekarang lepas dulu. Kita masuk." jawab Jammer.
"Gak mau." tolak Dinda dengan nada rengekan manja.
"Kalau ada hadiahnya." bisik Jammer.
"Oke siap bos." ucap Dinda tegas, kemudian berdiri tegak dan sedikit memberi mereka jarak.
Jammer pun masuk dan duduk di sofa tepat didepan masakan yang sudah mulai hilang kehangatannya. Tidak ada nasi juga hanya ayam kremes tanpa daging dengan saus di atas meja.
"Sayang." panggil Jammer, membuat semua yang mendengar menolehkan kepalanya melihat sumber as suara.
"Iya siap sayang." jawab Dinda berlari langsung karena dia yang masih tegak di depan pintu dipanggil.
"Ppffftt, itu lucu sekali kakak, adik kok manggilnya sayang-sayangan." gumam sekertaris yang bisa didengar sampai ke telinga Dinda dan Jammer.
"Gusman ayo cepat Dinda sudah tidak sabar ingin melihat aku makan masakannya." ucap Jammer berdiri membantu Gusman menggotong Diego ke ruang istirahat Dinda dan Dhean.
Setelah menidurkan Diego di kasur, Jammer menyuruh Gusman untuk berjaga di depan pintu ruangan Dinda. Untuk menahan semua orang yang akan masuk, harus seijin Dinda, termasuk sekertaris itu juga. Kemudian itu ia duduk di hadapan masakan Dinda, dengan lahap ia memakan masakan itu.
"Sayang." panggil Jammer membuat Dinda tersenyum gembira, walaupun si pemilik suara bersikap datar.
"Iya sayang." jawab Dinda.
"Ada satu syarat untuk kamu dapat hadiah, kamu harus makan denganku, jadi pesan makanannya aku masih lapar." usul Jammer dengan datarnya.
"Oke, aku akan pesan ke OB untuk membawakan kita makan sekarang." jawab Dinda.
"Tapi kamu mau makan apa?" tanya Dinda.
"Nasi lele sama tempe bacem, suruh cari warget paling enak." jawab Jammer masih melahap makanannya.
"Kalo kamu minta warteg terus aku minta kerestauran apa bisa ya?" celetuk Dinda.
"Kamu kan punya anak buah lain, security sini juga kan dari BC suruh mereka saja." sahut Jammer.
"Oh iya sih."
"Karena terlalu gelisah aku jadi kurang fokus." keluh batin Dinda.
Ketika Dinda sedang menelepon OB, Jammer menelepon Pradipta untuk membawakan wine yang ada di bagasi. Kemudian menunggu dengan sabar karena makanannya sudah habis, daging tanpa tulang dilumuri tepung yang kemudian digoreng kremes itulah masakan yang Dinda buat.
"Sayang." panggil Jammer, membuat yang dipanggil menoleh dengan segera.
"Kalo sudah selesai sini duduk. Aku nunggu makan, kamu nunggu hadiah kamu. Sini duduk samping aku." ucap Jammer menepuk-nepuk sofa di sisinya.
"Segera sayang." dengan segera Dinda mengakhiri teleponnya dan mengikuti arahan Jammer.
__ADS_1
"Sini tanganmu, karena sudah pesan makanannya aku kasih tau kamu lebih cepat, hadiahnya adalah seharian ini aku akan nemenin kamu." ucap Jammer meraih tangan Dinda.
"Maaf aku egois memaksa kamu untuk menjadi milikku, aku seharian ini merasa bersalah karena aku terlalu egois, hiks hiks hiks." ucap Dinda melingkarkan tangannya ke badan Jammer, kemudian menangis.
"Udah gak usah nangis, itu cuma perasan kamu, aku biasa aja kok." kata Jammer menenangkan.
Dinda mengangkat wajahnya dan mereka berdua saling pandang, diam tanpa bicara. Jammer mengerti apa dihari Dinda tertera, ia hanya cukup melihat mata Dinda lekat untuk memahami apa yang terjadi pada kakak angkat yang juga kini kekasihnya itu.
Toktoktok. Pintu diketuk Gusman.
"Maaf nona ada supir membawa pesanan tuan Jammer, ini juga makanan dari OB baru datang." ucap Gusman meminta ijin.
"Gimana boleh masuk semua apa aku bawa makanan, Gusman bawa wine?" tanya Jammer sedikit berbisik di telinga Dinda membuahkan geli pada pemiliknya.
"Hahaha geli ah. Udah kamu aja, gak boleh ada yang masuk, kamu bawa wine aku bawa makanan sekalian siapin di piring." kata Dinda mengatur rencananya.
"Siap Bu bos." ucap Jammer beranjak walaupun tidak tersenyum dalam hati ia lega Dinda dapat tertawa.
"Kamu terima dulu terus kasih ke aku!" suruh Dinda.
Klek. Jammer membuka pintu.
"Mana si nona cantik tidak mengijinkan kalian masuk biar aku saja yang bawa."
Dinda melongo sampai melotot melihat sebuah kardus yang ditutup rapat, tak besar tapi itu artinya tak mungkin hanya sebuah botol wine didalamnya.
"Sayang tutup pintunya!" suruh Jammer yang telah membawa kardus wine dan makanan diatasnya.
Brakkkk. Dinda menutup kasar pintu kemudian ia berlari ke meja, tempat kardus dari diletakkan.
"Udah kamu buka hadiah keduanya, itu sengaja aku simpan dari ultahku tahun lalu. Aku siapin makanan dulu, bukanya hati-hati." ucap Jammer melihat mata Dinda seolah tak sabar unboxing benda istimewa itu.
"Udah buka." Jammer pun pergi menyiapkan makanan mereka.
Dinda membuka kardus hati-hati, karena wine itu merupakan hadiah dari sahabat Samuel di Prancis, paman Lufdrick namanya seorang pembuat wine profesional dan pemilik salah satu wine termahal di dunia yang dilelang pada 1997, 1 botol Screaming Eagle Cabernet ini dihargai sekitar Rp. 6,3 Miliar. dan isi dari kardus itu adalah 3 botol didalam sebuah koper khusus dari tembaga dan kaca. Serta sebuah ucapan selamat ulang tahun.
"Udah kagumnya?" tanya Jammer yang datang membawa makanan mereka.
"Iya, ayo eksekusi." ajak Dinda.
"Kamu ada meeting hari ini, nanti malam aja kan kamu masih di rumah bapak, nah kita eksekusi sebelum pulang." larang Jammer.
"Segelas sayang ya, satu saja." mohonnya.
"Iya udah aku bukain satu gelas." Jammer pun mengalah.
Mereka pun makan dengan ditemani segelas wine, menikmati awan yang nampak masih cerah di hari yang sudah lewat dari tengah hari.
...****************...
"Sayang, kamu masih setahun ya sekolahnya?" tanya Dinda lirih.
"Iya kan kamu tau sendiri." Jawab Jammer.
"Aku takut." keluh Dinda lirih.
"Pradipta bisa cepat, Dinda sepertinya perlu segera istirahat, tapi hati-hati." kata Jammer mengerti wanita di sampingnya perlu bicara.
"Baik tuan." jawab Pradipta.
"Sini, sabar ya sebentar lagi sampai rumah." ucap Jammer sambil mengubah posisi Dinda direngkuh kedalam pelukannya.
Tak lama mereka masuk ke halaman luas rumah Samuel, berbarengan dengan mobil Kevan dan mobil Donny yang menggantikan tugas papanya Roni. Kedua mobil itu membawa Samuel dengan Amel dan Donny membawa Dhean.
"Hai, papa, mama." ucap Jammer melambaikan tangannya.
"Tunggu sayang." ucap Dinda lemah membuat Jammer kembali tersadar kalo Dinda sedang ada masalah kesehatan.
"Pradipta, tolong bawakan koper kecil yang tadi itu, yang ada botol wine itu. Bawa dan ikuti aku." perintah Jammer, kemudian ia mengendong Dinda.
"Sayhhang, hwwokk." Dinda mual. Membuat Samuel dan Amel terkejut.
"Dhean, ikuti mereka." perintah Sam sambil menunjuk ke arah Jammer.
Donny yang tidak dapat perintah, memilih mengeluarkan barang-barang Dhean dan membawanya masuk ke rumah Sam. Sedang Amel sudah dibantu oleh beberapa art.
"Mama dibantu mereka ya, papa mau nyusul mereka bertiga." pamit Samuel, ketika ia melewati mobil Pradipta, ia melihat Pradipta mengeluarkan wine milik Jammer dari bagasi yang salah satu botolnya telah berkurang.
"Tadi mereka minum?" tanya Sam pada Pradipta.
"Iya tuan, saya kurang tau persis tapi setelah minum pada saat meeting nona Dinda mengeluh sakit kemudian menunda meeting." jawab Pradipta.
"Sini biar aku yang bawa." rebut Samuel.
...****************...
Dikamar Dinda dan Dhean. Jammer sudah kotor terkena muntahan Dinda, pada saat sampai kamar mandi Dinda malah muntah di baju Jammer, Dhean yang melihat itu tertawa terbahak-bahak, baru saja pulang dari Singapure sudah mendapat hal konyol untuk di tertawakan. Samuel dengan langkah terburu-buru langsung masuk ke kamar Dinda, dimana Jammer sedang menunggu Dhean mengurusi Dinda di kamar mandi.
"Jams." bentak Sam.
"Siap papa." jawab Jammer bercanda.
"Kau ini, kakakmu sampai begitu bisa-bisanya kamu biarkan dia minum sebegitunya." Sam tidak marah karena memang dia lega Dinda mual karena minum bukan yang lain.
__ADS_1
"Mana pa, katanya kak Dhean mau nyoba, nanti malam minum bertiga. Hahaha." canda Jammer.
"Ah bisa saja." balas Samuel tersenyum.
"Ini bawa ke kamar kamu." Samuel menyerahkan koper itu.
"Kak aku bersih-bersih dulu ya, nanti aku kembali lagi kalo diperlukan." teriak Jammer pamit.
Dua jam kemudian Dinda dan Dhean turun ke meja makan, mereka terlambat makan malam karena ya perlu waktu untuk mengurusi Dinda, walaupun masih sedikit sempoyongan Dinda tetap ingin ke meja makan sendiri tanpa bantuan.
"Dhean, ini jam berapa sih?" tanya Dinda.
"Jam delapan kayaknya, udah pada ke kamar juga. terutama mama." jawab Dinda datar.
"Jammer kemana ya kira-kira." celetuk Dinda sambil menyendok makanan ke mulutnya.
"Mungkin pulang." Dhean
"Ah gak pamit kok, berarti belum pulang." Dinda
"Iya sih, dia bilang kan cuma bersih-bersih." Dhean.
"Apa dia malah dikamar ya?" terka Dhean.
"Iya coba aku lihat ya." Dinda mempercepat makannya, yang kemudian ia berlari menuju kamar Jammer.
Dibukanya kamar oleh Dinda, sedang yang dicari tidak ada di tempat. Karena tidak menemukan orang yang dicari-cari ia pun turun untuk menemui Dhean. Baru saja sampai tangga Jammer terlihat dengan Samuel berjalan menuju ruang keluarga, dan kemudian duduk di sofa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersamaan dengan Dinda yang mencari Jammer. Sebenarnya Jammer sedang bersama dengan Samuel berada di kamar menemani Amel dan mengobrol beberapa hal.
"Kamu harus hati-hati ya sayang, menurut informasi paman Lufdrick, di Eropa sedang menguat kembali kekuatan lama, dulu waktu papa masih muda pernah bertemu orang-orang sebelumnya mungkin sekarang mereka banyak yang sudah tua atau meninggal, kekuatan mereka dulu tidak bisa di saingi, tapi papa datang menerobos jalur perdagangan mereka, ketika papa di halangi di Eropa maka mereka tidak bisa memasukkan barang ke Asia, makanya bisa berkembang beberapa perusahaan di Eropa, memang tidak besar dan harus mengikuti beberapa hal untuk tetap berlangsung, tapi juga tidak pernah merugi, seperti paman Lufdrick dia mengawasi anak-anak yang memimpin perusahaan kita, ya hanya seorang anak gadisnya yang tidak mau memimpin perusahaan kita, ia memilih meneruskan usaha wine paman." cerita Amel.
"Memang kekuatan mereka melemah karena papa ya ma?" tanya Jammer.
"Sebenarnya sih tidak sepenuhnya karena papa, mereka sendiri punya banyak penghianat di kelompok mereka, beberapa juga ada yang bertobat, ada juga yang saling serang hingga lupa ada papa yang ingin memasukkan sedikit kepentingan ke Eropa, tapi dengan membiarkan papa mereka juga tidak kesulitan di wilayah milik papa. Ya lebih mirip simbiosis mutualisme." penjelasan Sam.
"Sayang kamu juga harus jaga kedua kakak kamu, apalagi dengan Dinda, tadi papa dan mama terkejut kamu menggendong Dinda seperti bridal style, dan keadaan Dinda begitu, kami kan jadi mengira yang tidak-tidak." pesan Amel.
"Nah tuh, dia tadi makannya papa buru-buru ke kamar Dinda, untung masih aman." kata Sam menambahkan.
"Iya, selama aku punya kekuatan baik dari diriku atau dari kekuatan BC, aku akan sekuat mungkin menjaga mereka. Oh iya ngomongin itu aku jadi ingat, kemungkinan Kana yang bakal menggantikan aku menjaga kak Dhean." kata Jammer.
"Kana?" ucap Sam dan Amel terkejut.
"Ya itu sedang dalam kemungkinan sih, kak Dhean labil kadang marah-marah, kadang suruh diamin Kana, kadang juga gak mau Kana aku peringatkan. Aku juga bingung sih." ucap Jammer menjelaskan.
"Nak, sekarang kamu yang disini, kalau Kana nanti datang dan membawa Dhean kamu masih ada satu orang, ingat bahwa perjodohan yang merupakan sandiwara berkemungkinan akan jadi serius. Kamu pernah janji untuk memilih salah satu dari mereka, jadi kamu harus konsisten beri pilihan." ucap Sam.
"Eehhhmm sebenarnya begini aku dan kak Dinda sudah serius sekarang. Dan kak Dhean sudah menyetujui. Ya secara tidak langsung juga ada sebuah insiden beberapa hari lalu ketika kita bertiga dan mengajak Kana jalan-jalan di pantai." ucap Jammer ragu-ragu.
"Apa insidental sekali sampai harus terjadi?" tanya Amel sambil melirik Sam untuk memberi kode.
"Ya aku juga sulit menjelaskan." Jammer menggaruk tengkuknya bingung.
"Apa insiden itu membuat kalian begini." ucap Samuel sambil meletakkan foto yang diambil dari bawah bantalnya ke hadapan Jammer.
"Mati ini, mati." batin Jammer.
"Iya keadaannya terlalu cepat, disana..." ucapan Jammer dipotong.
" Karena disana akhirnya tak sengaja ada Fiux membuat kamu salah tingkah kemudian Dinda cemburu dan terjadilah insidennya. Apa papa benar? potong Sam dengan cepat.
"Iya itu dia, jadi aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi, terima kasih kepada om siapa itu orang suruhan papa pas di pantai aku lupa. Hahaha." canda Jammer.
"Jadi kamu tau mereka ada disana?" tanya Sam sedikit tertawa.
"Hahaha ya iyalah, mata-mata kok kelihatan mata." singgung Jammer dengan kinerja kedua orang suruhan Samuel.
"Ppffftt. Salah papa menyuruh dia untuk ke dua kalinya. Harusnya pada suruh Donny dan Rony." timpal Amel menambahkan.
"Sudah-sudah sekarang mama harus istirahat, kita keluar saja nak." ajak Sam.
Ketika Samuel dan Jammer keluar kamar dan menuju ruang keluarga, Dinda baru akan turun dari tangga. Setelah ketiganya bertemu di ruang keluarga, Sam membiarkan Dinda menikmati waktu sesaat sebelum Jammer pulang.
.
.
.
.
Saya selaku author memberi pesan mohon jangan tiru untuk minum wine, Vodka, dan alkohol lainnya. Biarpun itu enak tapi kalau tidak terkontrol menjadi mudarat ( keburukan ), lagipula menurut ulama haram.
Salam dari saya,-
PENGRAJIN KATA
.
.
__ADS_1
.