Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Mauju Qolbu.


__ADS_3

Setelah pulang dari kantor dan mempersiapkan diri, Jammer dan Dinda pun menggunakan Lamborghini Aventador milik Dhean untuk pergi ke tempat yang diinginkan Dinda.


"Kita ke kafe baru di hotel Dahlan jalan Anggrek. Katanya itu kafe di lantai paling atas gedungnya jadi bisa lihat kota dari atas, dan tempatnya romantis." ujar Dinda di perjalanan.


Jammer hanya menurut saja mengendari mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, sepanjang jalan mereka hanya diam, Dinda bermain ponsel sesekali juga melempar pandangan ke Jammer yang muram memandang fokus ke jalan. Jammer sendiri tak menghiraukan bila Dinda memandangnya, pikirannya sendiri sedang rumit dan kompleks untuk diurai serta di katakan.


"Nah itu dari sini kelihatan lampu kafenya." ucap Dinda melihat posisi kafe yang terlihat terang di atas gedung yang berlampu kuning kurang terang.


"Oalah itu yang kamu maksud?" tanya Jammer.


"Iya, aku lihat di sosmed katanya sih bagus." jawab Dinda.


"Aku juga minta pengawalan Gerry." imbuh Dinda.


"Kenapa kok minta dia, kan dia sedang tidak tugas jaga aku?" sontak Jammer bertanya keheranan.


"Ya aku pikir untuk memberi jarak kita dengan pengunjung lain, kalau kamu keberatan nanti minta Gerry dan anak buahnya pulang saja." jawab Dinda. Dengan dada berdebar kaget.


"Ya sudah, kita pakai pengawalan mereka, yang terpenting kamu senang." ucap Jammer lembut. Sambil mengelus puncak kepala Dinda.


Tak lama mereka sampai di lobby hotel Dahlan, disambut Gerry dan anak buahnya yang membukakan pintu, Jammer terlihat gagah dengan setelan jas, sepatu, sarung tangan dan kacamata serba hitam berpadu topi fedora dan kemeja putih. Sedang Dinda memakai gaun Skinny Vintage Cheongsam hitam, membuatnya mencolok karena kulit putihnya semakin terekspos, dengan gelang emas yang menyerupai sarung tangan di tangan kanannya membuatnya semakin menawan, sedang tangan kirinya menenteng dompet kulit dari Crocodiles yang mungkin saat ini sudah tidak ada karena perusahaannya sepertinya bangkrut. Jammer memberikan tangannya untuk gandengan dengan Dinda, sedang mobil mereka di parkir oleh anak buat Gerry.


"Selamat malam tuan muda, nona Dinda." sapa Gerry.


"Malam Gerry. Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Jammer.


"Terkendali dan aman tuan." jawab Gerry.


"Mari tuan." ucap Gerry mempersilahkan.


"Siap depan dua, belakang tiga!" komando Gerry.


Mereka memasuki lobby hotel dengan dua orang di depan, Gerry disamping Jammer, dan tiga orang di belakang. Namun ketika di lobby, ada seseorang yang membuat Dinda sontak terkejut, Fiux ternyata sedang ada di lobby hotel itu bersama beberapa orang dan peralatan shooting.


"Sayang nanti kalau di atas kita foto ya untuk kenangan." pinta Dinda, yang sebenarnya hanya alasan agar Jammer menoleh dan tidak melihat Fiux.


"Ya terserah saja." ucap Jammer.


"Tapi di sosmed itu semua pakai latar belakang meja di pinggiran gitu. Padahal aku lihat dari akun resmi kafe gak ada tempatnya, masak mereka angkat-angkat meja sendiri ya." ucap Dinda sambil sedikit melirik kearah Fiux yang mereka lewati.


"Ya gak lah, paling juga itu belum di unggah ke sosmed resmi kafe nya." jawab Jammer.


"Iya sudah." ucap Dinda lega karena melewati Fiux dengan aman batinnya.


Sebelumnya Jammer sudah tahu ada pemotretan di hotel itu dan Fiux yang menjadi salah satu modelnya, ketika dilobby juga dia tahu Dinda hanya ingin mengalihkan pandangannya supaya tidak melihat Fiux duduk di lobby itu. Ketika mereka semua sampai di depan lift secara kebetulan ada beberapa orang wanita keluar dengan blazer senada dan dua orang laki-laki membawa kamera, itu membuat Dinda terhentak.


"Wah malah ketemu model-model lain. Kalau Jammer menoleh ke belakang bisa langsung lihat Fiux ada di sofa." batin Dinda, sambil mengikuti langkah kaki Jammer masuk lift.


Tapi Jammer yang merasakan kekhawatiran Dinda dan mengerti ketika masuk lift tidak langsung berbalik melainkan memojokkan dirinya ke sudut lift, supaya Dinda merasa nyaman. Beberapa saat kemudian mereka akhirnya sampai ke lantai dua puluh satu tempat beradanya kafe tersebut, ketika keluar lift suasana romantis sangat terasa dari dekorasi kafe yang berlantai dua itu dan sebuah taman outdoor yang cukup luas di luar ruangan kafe.


"Selamat malam, bisa saya bantu?" sapa waiters pria.


"Reservasi atas nama PT Sri Manunggal Sejahtera." jawab Gerry.


"Silahkan saya antarkan." ajak waiters itu.


Setelah berjalan menuju taman di luar, mereka diarahkan duduk di sisi dekat dengan pagar kaca menampakkan pemandangan kota di malam hari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Meninggalkan mereka yang sedang makan malam, di lantai bawah Fiux sedang sibuk sendiri dengan ponselnya, merambah beranda sosmednya untuk menghilangkan bosannya. Sesi pemotretan untuk dirinya manyisakan dua sesi setelah makan malam, dan setelah para seniornya selesai.


"Tadi mereka sengaja begitu?" gumam Fiux.

__ADS_1


"Kamu kenapa Fia." tanya kameraman di depannya.


"Gak kak, cuma heran lihat ini sosmed." jawab Fiux menyunggingkan senyum.


"Ya sudah, ayo makan malam dulu, itu yang senior-senior sudah selesai makan malamnya." ajak kameraman tadi.


Ternyata acara ini merupakan kontes Photography dan Modelling coaching yang diselenggarakan oleh pihak hotel dan kafe untuk memeriahkan rangkaian acara grand launching kafe dari seminggu lalu. Salah satu dari puncak acaranya adalah pemotretan di areal kafe di jam delapan sampai sepuluh malam, dimana saat proses itu kafe akan ditutup untuk umum kecuali pengunjung yang reservasi, yang secara tidak langsung ada Dinda dan Jammer di dalamnya. Objek foto di seluruh rangkaian acara ini bukan hanya model-model yang ikut serta melainkan benda, suasana, dan pengunjung hotel serta kafe, dengan tidak mengganggu aktivitas hotel. Di acara ini rupanya ada sepuluh komunitas photography dan dua puluh empat model yang berpartisipasi, secara perhitungan bisnis hotel itu mungkin akan mendapat peningkatan beberapa persen setelah acara ini, sedang kafe di puncak gedung akan memperoleh keuntungan lebih banyak sebagai tempat baru di kota.


...****************...


Setelah makan malam selesai, Fiux yang dibawa oleh sebuah komunitas photography mendapat waktu pertama di area kafe. Segera mereka pergi membawa peralatan yang dibutuhkan ke lantai dua puluh satu, bersama empat komunitas lain yang membawa model sendiri dengan total 18 photographer dan sebelas model. Dengan dua lift mereka menuju ke area kafe, sesampainya di dalam kafe mereka dikumpulkan untuk briefing sistem pembagian waktu setiap spot photo. Disaat inilah mata Fiux tak sengaja beradu pandang dengan Jammer melewati kaca kafe yang bening.


"Kenapa mesti ketemu lagi?" batin Fiux.


Sesaat pandangan mereka tak terhalang, namun Gerry menghalangi pertemuan pandang itu dari hadapan Jammer.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beralih ke meja Jammer dan Dinda.


"Ah, Gerry." sontak pekik Jammer karena pandangannya terhalang.


"Kenapa Gerry?" tanya Dinda yang masih makan membelakangi Fiux di dalam.


"Iya tuan Jammer ada apa?" tanya Gerry tak merasa salah.


"Gak ada, sudah sana kembali lagi nempel kaca!" jawab Jammer setengah kesal.


"Baik tuan." ucap Gerry.


"Oh ada Fiux didalam. Pantas saja marah aku menghalangi dia." batin Gerry ketika berbalik kembali ke posisinya berjaga.


Jammer akhirnya sesekali bisa melirik ke arah dalam setelah Gerry berpindah posisi berdiri, sedang Dinda yang belum menyadari masih nyaman memakan makanannya sendiri.


"Ini sambil dimakan kok." jawab Jammer.


Bersamaan dengan itu beberapa model dan photographer masuk untuk pemotretan. Dinda sontak menengok ke arah mereka, dan penasaran dengan keberadaan mereka, alhasil ia pun mendekati seorang photographer dan menanyakan kederadaan mereka di area kafe, sebelum di jawab, datang seorang berjas dan memperkenalkan dirinya.


"Maaf, kak. Kami dari pihak kafe, nama saya Aji, manajer kafe ini." ucap pak Aji.


"Iya pak Aji. Ini kok ramai sekali ada pemotretan ya di sini?" tanya Dinda.


"Iya ada acara di hotel, dan salah satu sesi pemotretan di area kafe, tapi kami jamin tidak mengganggu aktivitas pengunjung di sini. Jika kakak merasa tidak nyaman kami mohon maaf karena hanya pengunjung yang reservasi yang kami terima hari ini, artinya kakak juga salah satunya yang sudah reservasi." ucap pak Aji.


"Yasudah lah tidak masalah. Saya kembali lagi ke meja makan saya, masih ada menu yang belum datang." ucap Dinda berjalan kembali. Namun pak Aji mengikuti sampai ke meja.


"Maaf kak, ada berapa menu yang belum sampai?" tanya pak Aji dengan cukup panik.


"Empat menu, tapi tidak masalah pak, saya masih banyak waktu apalagi pacar saya sedang ada waktu untuk makan malam." jawab Dinda, sedang Jammer hanya mengangguk-angguk saja.


"Tunggu sebentar lagi, mungkin chef sedang sibuk sehingga lupa." ucap pak Aji.


"Baik kalau begitu saya pastikan dulu. Permisi." pamit pak Aji.


"Sayang ternyata hari ini ada acara pemotretan di sini. Artinya firasatku benar kita harus bawa pengawal." ucap Dinda.


"Hmhmhm. Firasat kamu mungkin cukup kuat." balas Jammer kerkekeh.


"Sayang kita sering gandengan tangan, tapi kenapa disini kok aku pengen banget kamu gandeng lagi ya?" ucap Dinda seakan terheran.


Tanpa menjawab dengan kata-kata, Jammer meraih tangan Dinda kemudian berjalan mendekati Dinda dan berlutut kemudian mencium punggung tangan Dinda.


"Hehehe, kok bisa ya geli." ucap Dinda kegirangan.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, semua akan indah pada saatnya. Tapi kamu juga harus tahu, walaupun kita semesra apapun aku tidak bisa menjamin hilangnya seorang yang kau tahu siapa itu." ucap Jammer membuat kegembiraan Dinda sontak berubah.


"Bisa kita nikmati saja gak sih. Buat apa kamu bahas dia disaat suasana yang baik ini." ucap kesal Dinda.


"Karena semesta yang di atur Allah masih mempertemukan aku dengannya, dengan rasa cinta yang sama setelah setahun ini." jawab Jammer.


"Sudahlah." kesal Dinda menarik tangannya kemudian menepi ke pagar kaca.


"Sayang." panggil Jammer, tapi tidak digubris oleh Dinda yang tetap berpegangan di pagar kaca itu.


"Maaf, bukan maksudku menyakitkan hatimu. Tapi aku gak mau kamu mengetahui semua dari orang lain, aku harus mengatakannya sampai perasaan ini hilang sepenuhnya." ucap Jammer menghampiri Dinda dan merangkulnya.


"Aku tahu kamu seperti apa. Tapi jangan katakan itu di waktu yang tidak pas. Kita sedang menikmati waktu tapi kamu rusak begi saja." ucap Dinda menyandarkan kepalanya di bahu kiri Jammer.


"Ya nanti gak akan terulang." ucap Jammer.


"Kamu gak usah janji, lakukan saya dan ingat kita sudah direstui keluarga kita. Dhean juga tidak masalah, hal-hal yang aku lalui itu sangat berat bagi diriku. Tolong ketika kita sedang berada di keadaan nyaman jangan kamu rusak!" pinta Dinda mulai terdengar berat menangis.


"Kamu mau nangis?" tanya Jammer.


"Hehem. Hiks, hiks, hiks." jawab Dinda dengan tangisannya.


"Ya sudah puaskan dulu. Kita makan lagi nanti, itu makanannya datang." ucap Jammer.


"Suruh bungkus saja, kita pulang. Hiks hiks hiks." pinta Dinda.


"Mas, bisa minta di kemas saja, kita mau pulang?" tanya Jammer pada waiters.


"Maaf tidak bisa di bungkus, karena takut berubah rasa dan kualitasnya." jawab waiters tadi.


"Kalau begitu bill saja, saya bayar. Nanti beri ke itu model yang sedang pemotretan." tunjuk Jammer ke arah Fiux.


"Pulang?" tanya Dinda.


"Ini pakai tutup wajah, kamu makin mempesona kalau sedang begini, jangan biarkan laki-laki lain melihat." goda Jammer menyerahkan topi fedoranya.


"Haha, bisa saja." ucap Dinda tertawa walaupun masih menetes air dari matanya.


Ketika mereka akan ke luar bersamaan dengan itu, Fiux dan rombongan komunitas photographernya akan berpindah ke area taman outdoor.


"Fiux." sapa Jammer.


"Hai." jawab Fiux datar, memandang Dinda yang benar-benar menutupi wajahnya.


"Aku duluan ya." ucap Jammer.


"Itu kenapa?" tanya Fiux berhasil menghentikan langkah mereka.


"Ah bukan apa-apa. Semangat ya modelling." ucap Jammer.


"Ayo cepetan." rengek Dinda.


"Iya beb sabar." Jammer.


Mereka pun meninggalkan tempat itu, dan Gerry membayarkan sejumlah uang yang termasuk tips untuk waiters. Uang yang pastinya adalah bagian dari keuntungan saham Jammer di perusahan pengamanan milik Gerry. Tapi biasanya nanti akan ditranfer sebagai gantinya, supaya tetap utuh bagi hasil sahamnya dikemudian hari.


.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2