Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Dia Dengan Caranya.


__ADS_3

Setelah mengatakan dirinya telah mendapatkan kesempatan untuk merekam album pertama, Jammer kelanjutan perjalanan menuju mall untuk menyenangkan Dinda. Setelah memasuki mall, Jammer mengajak Dinda ke toko musik dulu untuk membeli gitar akustik supaya tidak bosan di salon tempat Dinda akan perawatan tubuhnya.


"Beb, lewat sini aja muter sedikit, aku beli gitar dulu biar gak bosen nunggu kamu." ajak Jammer.


"Beli lagi?" tanya Dinda heran.


"Iya. Udah ayo lewat sini beb." jawab Jammer menunjuk arah ke toko musik yang berada di lantai itu.


"Tunggu sebentar, dia manggil aku beb sampai dua kali tadi?" batin Dinda, melamun dalam perjalanan digandeng oleh Jammer.


"Udah sampai. Tunggu ya aku pilih-pilih gitar yang lumayan bagus, tapi gak mahal-mahal amat." ucap Jammer, membuat Dinda tersenyum sadar dari lamunannya.


"Iya siap baby, jangan buru-buru." ucap Dinda.


Setelah setengah jam, Jammer telah selesai memilih dan membayar. Kini mereka berdua memasuki salon kecantikan, Jammer memilih duduk di luar salon namun ditempat yang dapat terlihat dan melihat Dinda dari dalam. Ia pun mulai bernyanyi tanpa ragu, menyanyikan lagu-lagu yang akan di rekam, semua ada 12 lagu.


"Ih bagus banget ya." sanjung seseorang mendekati Jammer.


"Hhhmmm, duduk kak." ucap Jammer mempersilahkan Dhean duduk.


"Rendy duduk juga situ." tunjuk Dhean pada bangku kosong di belakang Jammer.


"Maaf nona saya berdiri saja, itu kelihatannya kita bakal di usir seseorang." tunjuk Rendy dengan matanya.


"Oh, tenang. Udah duduk aja, aku kasih senyum dari sini juga bakal jinak lagi." canda Jammer melihat Dinda melihat Dhean seakan mengisyaratkan untuk pergi.


"Coba buktinya!" tantang Dhean.


Jammer membuktikan kalau ucapannya walaupun berupa candaan tapi juga benar, ketika diberi senyum yang dituju membalas kemudian fokus kembali pada kegiatan perawatan tubuhnya lagi.


"Ahh saya kira cuma bercanda tuan muda." celetuk Rendy kagum.


"Makanya kamu cari yang kayak gitu, ingat 3 tahun untuk kamu menikah. Kalau mau ya sebelum aku lulus kamu sudah punya pacar." ucap Jammer mengingatkan.


"Baik tuan muda." jawab Rendy.


"Ehmm aku mau jalan lagi, nanti kamu nginap di rumah aja, pulang besok aja." pamit Dhean.


"Tunggu jangan pergi. Tuh ada Monika aku gak suka ketemu dia, lagi sibuk banget gini, disekolah ada There disini ada Monika. Maleslah guaaaa." ucap Jammer menahan langkah Dhean melihat Monika dari jauh mengarah ke arah mereka.


"Apa perlu saja panggilkan security tuan?" tanya Rendy.


Jammer menggelengkan kepalanya tanda tak setuju, memberi Rendy kode tangan untuk duduk.


"Tolong kalian jaga disini, aku masuk dulu." ucap Jammer.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di posisi Monika, ia datang dengan Diego, mereka bertemu di club malam tanpa sengaja. Monika sebenarnya malas karena harus jalan dengan Diego, ditambah sikap Diego berubah ketika diajak Monika berjalan mengarah ke Jammer, Diego pergi ke toilet dan meminta Monika untuk menunggu di tempat itu. Namun Monika memilih untuk berjalan ke arah Jammer, tapi malah yang ingin dituju masuk ke salon meninggalkan Rendy dan seorang wanita.


"Oh kabur ya!" batin jengkel Monika.


Ia tetap berjalan mendekati salon itu untuk mengejar Jammer.


...****************...


Dilain sisi, Diego menghubungi Dinda karena melihat ada Rendi dan Dhean, ia pikir pasti disekitar mereka ada Dinda.


"Hallo Diego ada apa?" ucap Dinda dari sebrang telepon.


"Hallo, kak Dinda kamu di dekat salon sama kak Jammer gak?" tanya Diego tergesa-gesa.


"Iya aku sama dia, lagi didalam salon. Kenapa kamu mau ketemu sama Jammer?" jawab Dinda sedikit menahan tawa.


"Tolong kak Jammer suruh masuk dulu, aku sama cewek kalau dia tau aku takut sama kak Jammer malu dong kak." ucap memohon Diego.


"Udah nih masuk sendiri, tak pegangin deh biar gak pergi-pergi dari aku." jawab Dinda.


"Udah ya aku mau pacaran lagi." imbuh Dinda kemudian mematikan teleponnya.


"Tunggu pacaran?" gumam Diego heran, selama ini belum dengar Dinda pacaran.


Karena mendapat kabar baik ia pun pergi menghampiri Monika, namun Monika hampir saja sampai di depan salon yang kala itu masih ada Dhean dan Rendy di sisinya. Dengan segera Diego meraih tangan Monika supaya tidak terlalu dekat dengan kaca salon disamping Dhean, ia takut traumatisnya kambuh didepan Monika.

__ADS_1


"Eh tunggu Mon." tahan Diego memegangi tangan kiri Monika.


"Kenapa sih." pekik Monika karena tangannya dipegang erat.


"Maaf kalau terlalu erat. Tapi itu sepupuku dan di dalam ada pacarnya aku kurang suka bertemu pacarnya." ucap Diego tanpa ragu. Dia tidak tau Monika ada hubungan dengan mereka.


"Apaan sih. Udah ayo, aku kenal mereka, terutama tuh si Rendy songong." ucap Monika sedikit kesal.


"Oke baiklah. Tapi jangan sampai pacarnya lihat ada aku disana." pinta Diego.


"Memang kamu tidak tau siapa pacar dia?" tanya Diego heran.


"Apa maksudnya pacar dia itu Jammer?" tanya Monika tersenyum.


"Iya tuan muda Jammer." ucap Diego.


"Halah cuma sekedar bos perusahaan aja takutnya setengah mati." ucap Monika tertawa.


"Dia bukan sekedar bos perusahaan, tapi pemimpin kelompok mafia hampir setara dengan Zakuza, bahkan dia adalah murid master dari Zakuza. Itu yang perempuan anak dari Sam Devil. Pokoknya jangan berani-berani sama mereka." ucap Diego menakut-nakuti.


"Ah gak percaya tuh." ucap Monika menjulurkan lidahnya mengejek.


Tanpa menjawab Diego menggandeng tangan Monika, kemudian berjalan mendekati Dhean dan Rendy.


"Hai, Rendy. Hai juga kak Dhean." sapa Diego.


"Kamu kok akrap ya?" celetuk Monika heran.


"Hai adik sepupuku. Kamu sama siapa ini?" tanya Dhean.


"Oh jadi kamu gak mau aku ajak ke sini karena kenal baik dengan mereka ya, oh I see." ucap Monika mengangguk-anggukkan kepalanya seolah menerka.


"Bukan begitu, tadi ada kak Jammer aku tidak ingin bertemu dengannya." sahut Diego merasa tersindir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seorang melihat kekilas keributan Monika ketika dia dan teman-temannya akan masuk ke salon dimana Dinda dan Jammer berada. Ia tak menghiraukan perbincangan orang-orang yang ribut di depan salon itu dan melangkah masuk ke dalam, namun ia dan teman-temannya sejenak terkejut melihat siapa di depan mereka.


"Sayang nanti kita ke toko baju ya." pinta manja Dinda yang bisa mereka dengar. Dan melihat Jammer mengangguk, kemudian mencium kening Dinda.


"Ehh udah ayo kita mulai." ucap Fiux gembira.


Mendengar itu Jammer hanya melirik melalui kaca, itu juga mereka lihat. Tak ada kata yang mereka dengar dari sepasang kekasih di belakang mereka itu, sejenak semua seakan hening hanya suara alat yang menggema. Tak lama kemudian Dinda telah selesai menikmati pelayanan salon itu dan pergi tanpa sepatah katapun hanya memberi kode kepada manajer yang mereka tak tau artinya.


"Ehh ternyata di sini juga ya dia perawatannya." ucap Sinta.


"Hehe ehmm iya ya." sahut Fiux dengan tertawa menunjukkan sisi manisnya.


"Permisi maaf mengganggu." ucap manajer salon yang bertuliskan nama Qwenta dan jabatannya di nametag.


"Iya mbak. Ada apanya?" tanya Sinta.


"Maaf apa ada yang kenal dengan tuan Jammer?" balik tanya Qwenta dengan ramah.


"Kami semua kenal dengan dia, kita teman sekolahnya. Memang kenapa ya mbak?" sambung Fiux.


"Ehmm tunggu sebentar itu tuan Jammer masih diluar dengan nona Dinda, saya permisi dulu saya tanyakan. Maaf karena saya takut salah, maaf sebentar ya." ucap Qwenta, dan buru-buru menanyakan perihal ada yang diinginkan Dinda.


"Maaf, anda sekalian dipersilahkan kedalam untuk ke ruangan VVIP, sekaligus dengan full service-nya. Semua sudah dibayarkan oleh nona Dinda." ucap Qwenta setelah kembali.


"Wah apa dibayarin full service di ruang VVIP?" ucap Sinta terkejut, sedang yang lainnya hanya termenung kaget.


"Iya ternyata tadi nona Dinda mengisyaratkan untuk memindah kalian berempat ke ruang VVIP, kurang lebih karena full service sekitar 3 jam di dalam." ucap Qwenta menjelaskan.


"Wah gila nih Fiux, cuma ngajak kamu aja bisa di kasih sebegitunya, ini pacar Jammer bener-bener baik hati banget, sering-sering bisa keenakan nih kita jadi temen kamu." celetuk Nahya.


"Sin, emang masuk VVIP berapa sih?" bisik Fiux.


"Kalo disini sih 4,8 juta perorang, itu baru masuk belum pelayanannya kalo full service sekitar 3 juta perorang, itu yang aku dengar dari pacarku, mantannya kan kerja disini." bisik Sinta.


"Bagaimana kakak-kakak, mau ikut ke ruang VVIP atau mau di sini saja premium class?" tanya Qwenta.


Mereka pun ngikutin arahan Qwenta dengan senang hati.

__ADS_1


"Kenapa ya malah baik banget?" tanya di batin Fiux.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kana baru saja pulang setelah mengontrol ketiga kasinonya di Tokyo, Shibuya, dan Yokohama. Sejak mewarisi kasinonya di Shibuya ia bisa membuka lagi dua kasino dengan bantuan orang tuanya dan Sam Devil. Kini dirinya sedang berada di balkon apartemennya di Yokohama, menggenggam secawan anggur merah ditangan kanannya, dan tangan kirinya dimasukkan ke saku celana chinosnya.


"Dhean, nanishiteruno?" batin Kana memikirkan Dhean.


"Dhean, kamu sedang apa?". terjemahannya.


Memang sudah lama ia mengagumi Dhean, secara fisik mungkin memang Twin D kembar walaupun tidak seratus persen identik, tapi Dhean orang yang mampu memikat hatinya. Bahkan ia tak pernah menyentuh gadis selama ini demi mencintai Dhean, namun demikian Dhean hanya terus mengabaikan perasaannya.


"Baka, baka, bak..." maki Kana.


...****************...


Waktu semakin malam namun aktivitas manusia di bawah apartemen Kana belum juga berkurang, lalu-lalang manusia bisa ia lihat dari balkonnya yang menghadap ke arah kasinonya. Iya sudah tiga jam berdiri diam melihat keramaian manusia dibawah namun dengan pikiran yang berada di Indonesia, ingin rasanya ia mencoba untuk menghubungi Dhean akan tetapi dirinya takut kepada Dhean yang selalu menerkamnya bila terlalu dekat.


"Why are you giving me this feeling? Oh my God bless me, I am pray to exchange engagement ring with Dhean. I am hopefully." gumamnya dengan rasa kesal kepada keadaannya, namun begitu besar harapan untuk terwujud cintanya pada Dhean.


Ddyaaarrr. petir menyambar penangkal petir di gedung kasino milik Kana.


"Oh my God. I am so sorry, if you don't like it." ucap Kana menangkupkan tangannya memohon ke atas langit.


Ketika ia lihat kasinonya orang-orang berhamburan keluar, bagian depan kasinonya terjadi percikkan bunga api, dan dalam hitungan detik lampu depan serta neon box kasino yang begitu besar mati seketika. Untungnya bahan di bagian luar bukan benda mudah terbakar sehingga meminimalkan bahaya. Ia pun turun dari apartemen untuk mengecek apakah ada hal yang buruk lain terjadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pemimpin BOAC datang ke kamar rawat Supra, kini pamor Supra sedikit terkikis akibat dari kekalahan dari Jammer. Penjagaan di ruang rawatnya juga longgar hanya ada seorang asistennya yang selamat setelah dibawa oleh BOAC ke rumah sakit bersama Supra, dan dua orang anak buahnya. Didalam Supra di temani orang berkulit putih dengan pernak-pernik mistis di tubuhnya.


"Excuse me, can I speak to Supra?" sapa Pemimpin BOAC ketika masuk.


"Of course, came here." ucap orang berkulit putih itu.


Kemudian pemimpin BOAC menjelaskan tentang pendirian BOAC di California untuk membuka pintu penjualan produk PT Sri Manunggal Sejahtera di Amerika, jika Supra dari awal tidak memulai masalah bukan seperti ini jadinya. Jammer dan Kana merupakan pasangan pedang yang sangat baik, salah jika Supra datang ingin mengobrak-abrik BOAC yang tidak menggangu kelompok Supra, karena sebegini besar kegiatan mereka tidak bersinggungan, hanya club malam, penjualan senjata dan amunisi yang pasti akan ada singgungan. Setelah menyampaikan itu ia pergi meninggalkan rumah sakit, kemudian menelepon Rendy untuk melapor.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rendy yang mendapat telepon dari Amerika membuka teleponnya.


"Hallo." ucap Rendy.


"Oh, eehhhmm, ya, oke." ucap Rendy


"Oke, can you are take over right now?" tanya Rendy.


"Ok, good." ucap terakhir Rendy menutup teleponnya.


Dhean yang melihat Rendy dari kursi belakang mobil bertanya-tanya di benaknya.


"Telepon dari siapa Rendy, bukan dari anak Jepang itu kan?" tanya Dhean.


"Bukan nona, dari BOAC. Mereka melaporkan kondisi di sana." jawab Rendy.


"Oh, ya sudah lebih cepat lagi, aku ingin istirahat cepat Rendy." pekik Dhean..


"Baik nona, sebentar lagi sampai." jawab Rendy.


...****************...


Disini lain Dinda dan Jammer membawa Diego untuk pulang karena dia langsung kambuh traumatis yang dialaminya, seperti efek ketakutan yang berlebihan. Monika sempat melihat Diego gemetaran ketika melihat Jammer namun sebelum ia bertanya Diego sudah dibawa oleh Rendy dan Dhean dengan di papah pergi, diikuti oleh Jammer dan Dinda di belakangnya. Namun yang pikirkan oleh Monika, Dinda melakukan kesalahan karena di hampiri manajer salon ternyata hanya ditanya sebuah lah yang jawaban Dinda singkat namun membuat terkejut.


"Maaf nona Dinda, tadi nona memberi isyarat untuk apa ya, karena saya takut terjadi kesalahpahaman jadi saya pastikan kepada nona." ucap Qwenta.


"Beri VVIP dan full service, semua tagihan beri ke tagihanku." jawab Dinda dan kemudian mengajak Jammer berlalu.


"Apa VVIP disini kan mahal banget, cuma tempatnya aja mahal masih ditambah full service." gumam Monika, dia yang cukup kaya saja mikir dua kali untuk itu, lebih memilih untuk biasa saja di salon ini.


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2