
Perjalanan telah mencapai Sorong, untuk mengisi avtur pesawat jet pribadi sewaan tersebut. Sebuah telepon berdering namun tidak diangkat pemiliknya yang masih tidur, matahari belum terbit di sini, beberapa saat telepon itu tidak mengeluarkan suara, hingga secara bersamaan tiga telepon bernyi bersama, para memilihnya pun kaget terbangun. Mereka adalah Jammer, Dhean, dan Dinda, selama malam ini Dinda meminta untuk tidur bertiga seperti saat mereka masih kecil, dan itu hanya tidur memejamkan mata, masuk dalam mimpi karena Jammer tidak mengizinkan untuk lebih ( author juga belum mengizinkannya ).
"Sayang angkatan punyaku sekalian." pinta Dinda.
"Punya Dhean juga ya. Kita mau tidur lagi." imbuhnya.
"Iya." jawab Jammer sambil membuka ponselnya.
"Hallo, pagi sekali ya." kata Jammer menjawab telepon itu.
"Tuan, ada sesuatu yang perlu anda tau." ucap orang di sebrang telepon.
"Ada apa?"
"Fiux masuk rumah sakit karena di aniaya mantan pacarnya." kata Donny.
"Apa? Kau tau siapa dia?" tanya Jammer kaget.
"Tau tuan dia yang anak kuliahan, anggota Gerakan Garuda." jawab Donny
"Siapakah mobil dan jaketku di bandara, aku sendiri yang mengatasi dia." ucap Jammer marah dan menutup teleponnya.
Ucapan itu membuat Dinda terkejut, membuka matanya spontan, kemudian bangkit dari posisi tidurnya. Jammer hanya menoleh, matanya tidak merasa kantuk lagi, berubah menjadi tatapan emosi yang memburu.
"Kau kenapa?" tanya Dinda lembut.
"Tidak." ucapan lembut tapi matanya semakin memerah seakan emosinya telah menggebu.
"Sayang kau marah sepertinya ada yang sedang tidak baik-baik saja?" tebak Dinda sembari mengelus pipi lelaki dihadapannya berharap amarahnya reda.
"Aku tidak bisa." Jammer memperlihatkan dua telepon yang tidak dia jawab panggilannya. Dan mukanya sudah menampakkan puncak amarah.
"Dia?" ucap Dinda lemah, menurunkan tangannya lemah dada Jammer, menundukkan wajahnya. Tanpa jawaban dia tau hanya Fiux yang bisa membuat lelaki itu sampai bisa semarah itu dihadapannya.
...****************...
Setelah pesawat jet pribadi sewaan itu siap berangkat, dengan menempuh waktu lima setengah jam perjalanan akhirnya tibalah di Landasan tempat awal keberangkatan. Jammer dan Dinda pun masuk ke mobil jemputan yang dikemudikan oleh Donny didampingi Gusman disampingnya.
"Cepat sebelum dia ngamuk!" perintah Dinda, sedang lelaki disampingnya hanya diam menatap ke depan.
"Kau tenang dulu, aku takut." ucap Dinda dengan lembut memeluk lengan Jammer.
"Aku tidak bisa tersenyum sekarang, tapi aku masih bisa menahan marah. Kau jangan lihat diriku sekarang jika kau takut." suruh Jammer dengan suara pelan tapi tidak menurunkan sisi gelap emosinya.
"Don, apa yang terjadi sebenarnya." tanya Dinda sedikit terisak.
"Kemarin..." ucapan Gusman terpotong saat dirinya ditepuk pundaknya oleh Jammer.
"Maaf tuan." ucap Gusman singkat.
"Sayang." panggil Jammer menyentuk pipi orang yang membasahi lengannya.
"Sudah jangan menangis, aku sekarang sudah tidak terlalu marah." bujuk Jammer menyeka lembut air mata Dinda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lain sisi, Dhean di antar Kana menuju ruang tunggu bandara untuk melanjutkan perjalanan menuju Singapura, mereka tidak memakai jet lagi karena pihak pesawat jet menyatakan tidak dapat melanjutkan perjalan karena harus maintenance jet tersebut.
"Kenapa harus sama dia." Dhean melirik pria di sampingnya dengan malas.
"What do you say?' tanya Kana karena melihat Dhean seakan tak nyaman.
"I tired." Dhean ketus.
"Are you sure to going to Singapore?" tanya Kana.
"Hhhmmm." dehem Dhean malas.
...****************...
Sedang Gerry membawa pulang barang-barang Dinda dan Jammer, tentu dengan bantuan anak buahnya, termasuk sebuah pedang yang dia lihat digunakan Jammer untuk mengalahkan Supra. Dia selalu ingat pesan Jammer agak jangan sampai pedang itu terbuka biarpun hanya sejengkal agar tidak jatuh korban, untuk itu Jammer menali pedang itu dengan sabuknya.
"Segera pulang dan jangan sampai terhalangi oleh apapun, kalo perlu dilakukan penjagaan untuk melindungi pedang itu." pesan Jammer yang ia ingat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah universitas swasta ternama, dimana tempat keberadaan seseorang yang dicari-cari oleh Jammer, kini mobil yang membawa dirinya dan Dinda sudah memasuki kompleks gedung universitas itu.
"Donny, Gusman." panggil Jammer.
"Kalian tau dia ada dimana sekarang?" tanya Jammer.
"Ada di kelas tuan, jam segini dia sedang ada kelas, di gedung itu." tunjuk Gusman kepada gedung berlantai tujuh yang merupakan gedung tertinggi di kompleks itu.
"Panggil anak buah suruh mereka berpakaian lengkap dan suruh mereka memakai kendaraan sebanyak mungkin. Terserah mau apa saja, bus bisa, motor bisa, tapi jangan keluarkan mobil perang dan senjata karena kita hanya cari ayam saja tidak mencari Herkules atau Hulk." perintah Jammer.
"Maaf tuan tapi ini bukan dikota kita tuan, apa kita undang perwakilan kita di sini saja? tanya Donny.
"Maksudmu?" tanya Dinda masih terisak-isak.
"Di beberapa perusahaan sekitarnya sini dan beberapa wilayah ada anggota kita nona, termasuk yang di dalam sini ada dosen dari kita." jawab Donny sambil memperhatikan sekeliling mereka.
"Ehmm... suruh saja yang ada sesuai keinginanku!" perintah Jammer.
"Dan kumpulkan mereka di taman itu." tunjuk Jammer pada taman di sisi kanannya.
"Baik tuan."
Satu jam berlalu Jammer sedari tadi menenangkan Dinda yang kini memeluknya erat, sedang Donny mempersiapkan orang-orang ditanam dan Gusman berjaga diluar mobil, sesuai keinginan Jammer jalanan tempat ia berada ditutupi oleh kendaraan bermotor yang berserakan tak teratur posisi parkirnya.
Toktoktok. ketukan Gusman pada jendela mobil tempat Jammer duduk.
"Tuan sudah tuan." lapormya sedikit membungkukkan badan.
"Mari bersenang-senang!" Jammer, Gusman pun membukakan pintu untuk Jammer dan Dinda.
__ADS_1
"Jangan jauh-jauh." keluh Dinda manja kembali memeluk Jammer setelah keluar dari mobil.
"Sudahlah, biasanya kamu ikutan bersenang-senang kenapa sekarang jadi semanja ini sih."
"Mungkin cemburu tuan." batin Gusman menahan tawa.
"Baleh deh tetap melingkar tanganmu, tapi jangan terlalu erat, agar gak tersandung nanti." ucap lembut Jammer mengalah.
"Hhhmmm." Dinda mengangguk.
"Ayo." Jammer melangkah menuju depan barisan anggota BC.
"Selamat siang." sapa Jammer.
"Kenalkan saya pemimpin uatama Bayusuta Crew, bagi yang belum mengetahui saya menggantikan papa saya yang telah memilih untuk melepas jabatannya dan hidup selayaknya orang tua dengan mama saya dirumah." pidato singkat Jammer.
"Selanjutnya kalian cari orang yang bernama..." ucapannya terhenti melirik Donny dan Gusman.
"Rizky Aditya Pratama, anak manajemen. Fotonya sudah saya kirim tadi, dan sesuai arahan tadi telusuri setiap lantai secara bersamaan, satu kelompok menyebar ke setiap pintu lift, supaya tidak lolos!" sambung Donny.
"Kemudian seret dia ke sini!" sambung Jammer.
"Sekarang apa ada yang kendaraannya masih bisa di masuki ayam yang bernama Rizky itu?" tanya Gusman.
"Ppffftt." mereka menahan tawa mendengarnya.
"Tinggal pilih saja bang." kata Iwan Pelong datar. Ia adalah pemimpi di kota ini.
"Sekarang serbu!" seru Donny dan Gusman bersamaan.
Mereka yang berjumlah puluhan orang pun menyerbu masuk ke gedung itu, sebagian juga berinisiatif mengepung gedung tersebut. Pihak universitas tidak menyangka bahwa Bayusuta Crew akan menyerbu ke dalam gedung mereka. Tak butuh waktu lama mereka turun kembali setelah menemukan si ayam yang bernama Rizky tersebut, Pelong mengambil alih untuk menyeret Rizky kehadapan Jammer.
"Lapor, ayam sudah dibawa keluar dari kandang, selanjutnya menunggu perintah." kata Pelong.
"Bawa ke markas!" perintah Jammer.
"Ada apa ini?" teriak seorang dari gerbang gedung tadi.
"Nangkep ayam pak." jawab anggota di belakang barisan.
"Semuanya kembali ke markas, bubar jalan." komando Pelong. Dengan buru-buru mereka meninggalkan lokasi menuju ke markas mereka.
"Ada apa ini?" tanya seseorang itu lagi.
"Kan tadi sudah dibilang. Kami melakukan penangkapan ayam di dalam." jawab Donny.
"Terus bapak ini siapa?" tanya Donny balik.
"Saya dekan di fakultas ini." jawab nya emosional.
Prokprokprok. tepuk tangan Donny dan Gusman.
"Wow amazing." sahut Gusman.
"Maaf kamu mau mengurus ayam tadi, kami permisi dulu ya." pamit Jammer, mulai pergi melangkah.
"Baik kamu akan kembalikan setelah dia minta maaf pada seseorang." kata Dinda membuka mulutnya yang sedari tadi lelah dengan tangis terisak-isak.
Tanpa memperdulikan dekan itu mereka pergi menuju markas Pelong. Disana risky sudah di tali berada di tengah-tengah aula gedung markas menunggu Jammer datang. Dan tak butuh waktu lama, sekitar sepuluh menit Jammer sudah masuk dengan masih di peluk Dinda, dia pun duduk di sofa menghadap Rizky ditemani Pelong di sofa kanannya terpisah dengan Jammer dan Dinda yang duduk dipangkuan kaki kanan Jammer. Sedang Donny dan Gusman berdiri di belakang Jammer.
"Menyusahkan kalo lagi cemburuan gini." batin Jammer.
"Rizky, kau mantannya Fiux." ucap Jammer membuat Dinda memilih memejamkan mata didadanya.
"*Aku berharap segera tidur, aku lelah menangis dari dari." batin Dinda.
"Dia siapa kenapa dia tau?" batin Rizky.
"Apa dia juga tau aku menyakiti Fiux kemarin?" tanya dalam diri Rizky*.
Tentu jawabannya iya, Jammer menunggu Rizky membuka mulutnya bicara, sampai emosinya hilang karena merasa detak jantungnya berpadu dengan detak jantung gadis dipangkuannya.
"Pelong berapa jumlah anggotamu di dalam sini?" tanya Jammer sedikit berbisik namun tetap terdengar oleh Rizky.
"Kawan-kawan, berhitung jumlah kalian berapa!" komando Pelong.
"Shhtt, jangan keras-keras, pacarku sudah tidur." kata Jammer. Mendengar itu spontan yang dimaksud memperdalam pelukannya.
"Bos, semua enam puluh delapan orang." lapor seorang maju ke dekat Pelong.
"Bagi mereka untuk hompimpah tiap empat orang!" komando Jammer.
"Gimana dari tadi gak ada jawaban, kau tidur?" sindir Pelong.
"Iya aku memang yang kau maksud." pekik Rizky, membuat Dinda yang baru terlelap terkejut.
"Jangan teriak!" perintah Jammer pelan.
"Kau menyakiti dia kemaren kan?" tanya Jammer.
"Iya aku emosi, dia tidak mau balikan." jawab Rizky tertunduk.
"Pelong kumpulkan anak buahmu yang menang hompimpah!" suruh Jammer.
"Baik tuan." Iwan Pelong berdiri mengomando anak buahnya untuk berkumpul terpisah antara yang menang dan yang kalah.
"Sudah tuan." lapormya.
"Yang kalah lebih banyak atau lebih sedikit?" Jammer.
"Lebih sedikit tuan." Pelong.
"Kau punya kesempatan dua pukulan, mereka masing-masing satu pukulan. Kau urus jangan sampai mati, cukup masuk rumah sakit." Jammer menyeringai.
"Baik tuan." seringai Pelong mendapatkan kesempatan.
__ADS_1
Mereka yang menang maju berganti dari yang kalah ada yang maju memegangi Rizky agar tetap berdiri. Ada yang memukul kepala, perut, dada, dan menendang kaki, sampai giliran Pelong, ia memukul perut dan pipi kanan Rizky membuat Rizky muntah darah dan kemudian pingsan.
"Sekarang bawa ke rumah sakit!" perintah Pelong.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedang di universitas tempat Rizky berkuliah, kepolisian resort kota ini sedang menggali keterangan dari beberapa saksi mata, di pimpin langsung oleh Kasatreskrim AKP Lukman Badaruddin.
"Mereka bilang Bayusuta Crew datang hanya mencari seorang mahasiswa, kemudian menyeret kelapangan, setelah itu mereka pergi tanpa ada keributan dari mereka. Kemudian saat dekan fakultas menemui mereka, tidak ada kekerasan yang terjadi. Jadi ini murni urusan pribadi?" pikir AKP Lukman menyimpulkan hasil wawancara saksi awal.
"Brigda Anisa." panggil Lukman.
"Siap ndan." jawab Anisa menghadap.
"Coba kamu telepon Pelong!" perintah Lukman. Anisa pun sedikit menjauh agar tidak terdengar anggota lain.
"Hallo sayang." suara di sebrang.
"Hallo sayang.." sapa Anisa lirih.
"Kenapa nih?" Pelong.
"Ini aku di universitas XXX, kamu tadi ikut di kasusnya mahasiswa sini?" tanya Nisa.
"Itu dari pimpinan pusat BC, aku ada di markas sekarang." jawab Iwan Pelong.
"Apa jadi itu dari pemimpin pusat?" ucap Anisa terkejut.
"Kamu hati-hati ya kalo kerja, jangan lupa makan dan istirahat." kata Pelong.
"Iya sayang, kamu jaga diri." ucap Anisa.
"Sudah dulu, aku mau ke rumah sakit ada ayam terluka jadi harus diobati ke rumah sakit." pamit Pelong.
"Iya sayang, bey." Anisa menutup telepon.
"Bagaimana Brigda Anisa?" tanya Lukman ketika melihat Anisa menutup telepon.
"Siap AKP Lukman, sesuai informasi dari informan. Kegiatan ini merupakan urusan pribadi yang tidak diketahui motifnya, dilakukan oleh pimpinan pusat BC dari luar kota, sedang informan sedang berada di markas saat saya telepon." jawab Anisa.
"Tarik anggota, ini bukan ranah kita. Lempar langsung ke Mabes Polri." perintah Lukman.
Sebenarnya ini masih ranah hukum yang terdapat pada wewenang kesatuannya, tapi jika urusannya seberat itu, polisi juga manusia punya rasa, punya intuisi dan tidak ingin mati konyol. Kasus seperti ini bisa ada di dunia nyata, polisi memilih keselamatan dirinya dan anggota karena pertimbangan melepas satu kasus untuk keselamatan dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai kasus lain, sepertinya juga masyarakat Indonesia lebih paham itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Roger baru saja sampai di kantornya, setelah meeting di sebuah cafe untuk pengadaan alat berat pada proyek pembangunan rumah sakit Soe-Hat. Baru saja dirinya meletakan bokong di kursi kerja.
Toktoktok. ketukan pintu.
"Masuk!" ujar Roger.
"Siang bos, ada kabar absurd, gak tau ini baik atau buruk." ucap Coki ketika membuka pintu.
"Sebutkan nanti aku yang menilai!" perintah Roger tetap fokus pada lembaran dokumen di hadapannya.
"Tadi jam sepuluh BC kota sebelah menyerbu gedung fakultas ekonomi universitas XXX. Dan bos tau mereka dipimpin siapa?" ujar Coki.
"Ya bos besar mereka lah siapa lagi." jawab Roger asal.
"Kok bos tau." balas Coki heran bosnya benar.
"Ehh apa dia menyerang ke sana, tumben BC menyerang orang biasa." pekik Roger terkejut dengan pikirannya sampai berdiri.
"Ini berarti ada urusan pribadi di universitas itu." imbuhnya.
"Iya ada mahasiswa yang di seret keluar dan dibawa pergi." kata Coki menjawab penasaran bos nya.
"Hubungi Gerry kita akan mendapatkan keuntungan dari mereka di suasana seperti ini!" suruh Roger.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Monika sudah tiga hari ini menunggu di rumah sakit di ruangan papanya yang kini menjadi kecil, sesekali membantu papanya saat diperlukan. Tujuan utamanya adalah menemukan keberadaan Jammer yang entah kemana, tidak dapat ditemui.
"Pa, aku pulang duluan ya. Bosen banget." pamit Monika.
"Iya hati-hati." jawab papanya.
Ketika mobil Monika akan keluar dari parkiran, seseorang lewat didepan mobilnya dengan setelan jas abu-abu rapi, tubuhnya tinggi kekar tapi tidak terlalu besar.
"Siapa itu." gumam Monika terus memandang kagum.
"Wow ada yang keren lagi di sini." gumamnya lirih.
"Sudahlah Monika, kamu harus fokus." katanya menyadarkan diri.
"Tapi gateng." gumam Monika sambil melajukan mobilnya pergi.
...****************...
Di lampu merah alun-alun kota, Monika melihat jam menunjukkan pukul 14.20, ia menoleh ke kiri ada anak kecil memainkan gitar bersama beberapa orang dewasa yang membawa kotak bertuliskan 'Baksos', ia hanya tersenyum, kemudian mengikuti arah anak itu berjalan menuju sela-sela mobilnya dan mobil di sebelah kanannya, ada seorang laki-laki yang mengulurkan tangan dengan menggenggam sebendel uang merah.
"Wah itu orang yang aku cari-cari." pekiknya pada kesempatan itu.
Beberapa detik kemudian lampu manjadi hijau, iya melajukan mobilnya melewati beberapa mobil, karena mobil yang dia ikuti juga melaju kencang. Sepuluh menit kemudian, mobil yang ia ikuti, masuk ke sebuah rumah mewah. Keamanan menghalangi mobilnya untuk menerobos masuk, sehingga hanya tinggal pandangannya yang bisa melihat Jammer dari gerbang yang belum tertutup, Jammer keluar dari mobil kemudian menggendong perempuan di tangannya masuk menuju rumah itu. Monika menggebrak setir yang tidak bersalah, waktunya hanya tinggal beberapa hari lagi kurang dari dua minggu.
.
.
.
.
.
__ADS_1