
Setelah itu Jammer pergi melanjutkan kerjaannya memeriksa laporan perusahaan. Setelah itu dia ingin pulang beristirahat.
Jammer, Rendy dan Silvi menuju ruangan khusus CEO PT Sri Manunggal Sejahtera. Seluruh laporan sudah berada di meja kerja Jammer dan ruangan sejak sore terkunci agar tidak ada orang yang masuk kedalam. Sesampainya di ruangan kerjanya, Jammer duduk di sofa dan mempersilahkan kedua asistennya untuk duduk juga.
"Rendy apa kau merasa ada masalah di keuangan?" tanya Jammer membuka obrolan. Sambil memeriksa laporan ditangannya.
"Tidak ada tuan, semua sesuai dan baik-baik saja." Jawab Rendy yakin.
"Kau Silvi apa ada sesuatu yang tidak beres?" tanyanya pada Silvi sebagai pemegang keuangannya.
"Iya tuan, saya rasa pemasukan bulan ini terlalu sedikit tuan." jawab Silvi.
"Ren, apa kau ada masalah?" tanyanya kembali pada Rendy.
Kemudian Rendy menjelaskan, sebelumnya dia mengeluarkan bonus untuk pencapaian 12 orang karyawan, tapi tidak memeriksa laporan pengajuan bonus dari HRD. Setelah Rendy mengambil salinannya dan dicek ternyata dua diantara mereka adalah kepala HRD dan staffnya, tiga orang dari bagian keuangan, dua orang pemasaran, 1 Orang kepala keamanan, dan kepala-kepala bagian yang lain.
"Kenapa bisa begini apa kau tidak becus Ren?" tanya Jammer tegas.
”Maaf tuan saya bersalah tuan" Rendy ketakutan.
"Apa kau mau hanya mengikutiku tanpa mengurusi perusahaan, begitu Rendy. Kau sudah capek mengurusi perusahaan, apa kau mau ku pecat saja aku gantikan orang lain tak usah lagi kau mengikutiku?" Bentak Jammer yang sudah naik darah.
"Maaf tuan, saya minta maaf atas keteledoran saya.” Rendy sudah bersimpuh dilantai memohon ampunan.
"Panggil besok semua HRD dan 12 orang yang kau beri bonus. Padahal perusahaan merosot performanya malah berani merampok" perintah Jammer tegas.
"Kau siapkan surah pemecatan tanpa nama besok aku tanda tangani saat mereka mengakui apa salah mereka." tambahnya.
"Baik tuan." jawab Rendy masih terduduk dilantai.
"Apa masih ada yang lain sehingga perusahaan turun performa?" tanya Jammer kembali.
"Pekerja mayoritas usia senja tuan, saat bulan lalu ada serangan pesaing perusahaan-perusahaan luar negeri, kami kesusahan menyaingi." Jawab Rendy.
"Oh kalo itu sudahlah aku juga sedang menyiapkan rencana." Jammer memegang kedua pundak Rendy dan mendudukkannya di sofa.
"Ada lagi Rendy?" Jammer bertanya dengan normal sudah menurunkan emosinya.
"Beberapa perusahaan dibawah kita ingin membelot tuan. Mereka ingin melepaskan diri dari kepemimpinan tuan, masih orang-orang itu lagi tuan yang menentang perpindahan kepada tuan Jammer. Padahal ada nona Dinda dan nona Dhean, apa lagi tuan Sam juga masih mampu memimpin sampai nona Dinda atau nona Dhean siap memimpin perusahaan ini." penjelasan Rendy.
"Saya sebenarnya tidak berani mengungkap ini karena ini adalah tugas saya tuan dan masalah seperti ini seharusnya tuan tidak usah turun tangan."
"Pengajuan bonus dari HRD juga baru saya periksa kemaren dan dalam penyelidikan, masalah pesaing juga dalam tahap perencanaan, kemudian masalah karyawan yang usia tua saya sudah merencanakan pemecatan dan rekrutmen bulan depan. Untuk CEO yang membangkang saya sudah memberi peringatan tegas tuan." penjelasan pajang Rendy.
"Untuk apa kau tutupi. Aku pimpinan tertingginya, dan kau adalah asistenku jika ada apa-apa kau bertanggungjawab kepada ku, mereka yang berdampak buruk harus disingkirkan, mereka yang berjasa harus dihargai. Copot semua pembelot, pembangkang, dan perampok dari perusahaanku. Untuk HRD dan 12 orang itu kau tetap panggil mereka, dan hari terakhir bulan ini kau kumpulkan seluruh karyawan aku ingin melihat siapa yang pantas bertahan dan harus dilepas, kirim semua data mereka berserta prestasi dan blacklist mereka. Kirimkan ke rumah papah, rekap semuanya setelah aku bertemu HRD dan 12 orang itu." tegas Jammer
"Baik tuan." jawab Rendy.
"Ya sudah ayo pulang aku capek." Jammer berjalan keluar ruangan.
Mereka berjalan ke lift khusus CEO untuk pulang. Jammer akan pulang kerumahnya, Karena kan sudah sehari semalam tidak pulang, pasti menimbulkan kecurigaan pada keluarganya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dirumah Sam datang dua orang gadis dalam keluarga mereka. Si kembar Dinda dan Dhean, mereka baru pulang dari perusahaan yang mereka pimpin berdua. Perusahaan mereka adalah perusahaan dibawah langsung milik Jammer, dan mereka juga memiliki mall terbesar di kota ini yang dipimpin asisten papah mereka, Tuan Sam.
"Malam pah, mah." ucap Dinda yang masuk langsung ke kamar papahnya.
"Jams gak kesini lagi pah?" tanyanya melihat rumah sepi.
"Gak sayang besok mungkin kesini lagi" jawab Sam.
"Ya udah aku nyusul Dhean ke kamar dulu." pamit Dinda meninggalkan orang tuanya ke kamar.
Sedangkan Dhean sedang mandi di kamar, merasa kalo besok pas untuk mengajak Jammer jalan-jalan, atau sekedar bertemu, mereka bertiga sudah lama tidak berjalan-jalan. Pagi tadi pun mereka hanya makan pagi kemudian pergi menuju perusahaan.
"Dhe, besok mau ketemu adik enggak?" teriak Dinda dari luar kamar mandi.
"Tau aja lagi mikirin itu." teriakan Dhean membalas kembarannya.
"Ya udah kamu telpon dong." teriak Dhean menyuruh Dinda.
"Ya siap adik." jawab Dinda.
Dinda membuka Watt Up untuk menelepon Jammer.
"Hallo sayang." Jammer diseberang telpon. Dengan itu dia memberi kode bahwa iya sudah dirumah.
"Besok ketemu yuk yang?" ajak Dinda.
"Iya bertiga ya." jawab Jammer.
Mereka mengobrol beberapa saat kemudian mematikan teleponnya. Jika dirumah orangtuanya Jammer akan berpura-pura pacaran dengan Dhean, karena memang sejak beberapa waktu setelah pengangkatan dia sebagai pemimpin BC keluarga Sam bersandiwara sebagai calon mertua Jammer dan Dhean sebagai kekasihnya. Sedangkan keluarga Jammer cenderung cuek, namun sandiwara itu tetap berjalan hingga kini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi datang Fiux hari ini akan berangkat sekolah diantar Iman untuk beberapa hari kedepan, dan lagi pula motornya masih di bengkel menunggu selesai perbaikan. Sementara hari galaunya telah usai, sekarang menuju move on ke hati yang baru. Beberapa hari ini dia ditemani oleh seorang yang menunjukan dirinya baik untuk menjadi pemilik hati Fiux.
__ADS_1
Setelah sampai di sekolah, Fiux langsung masuk ke kelasnya. Mengobrol, belajar, dan menjalani aktivitas yang biasanya dilakukan, namun terbatas karena dia masih sakit pada kakinya. Pulang sekolah Fiux dijemput oleh seorang cowok untuk pulang.
Disisi lain Jammer melihat Fiux yang pergi meninggalkan sekolah bersama seorang cowok, perasaannya pedih yang dalam sedalam-dalamnya. Dia sedang menunggu Dinda dan Dhean menjemputnya. Sedangkan kebetulan mobil Dhean berpapasan dengan Fiux dijalan dan si kembar itu sadar dengan yang akan dirasakan oleh adik mereka jika melihatnya.
Beberapa saat akhirnya mereka sampai di sekolah, memutar arah kemudian Dinda berpindah ke belakang dan Jammer duduk didepan.
"Dek kamu kok cemberut?" tanya Dhean. Dan Dinda memperhatikan dari belakang.
"Gak apa-apa kak, cuma lagi badmood aja kak." jawab Jammer dengan lesu.
"Kamu tadi lihat dia pergi sama cowok?" tanya Dinda spontan.
"Ehmm iya kak. Ya tau kan kak rasanya?" jawab Jammer semakin lesu.
Beberapa saat mereka tidak ada percakapan hanya berkecamuk dengan pikirannya masing-masing.
"Kenapa kamu harus merasakan ini dek. Harusnya kamu bisa bahagia." batin Dhean
"Kenapa aku harus begini, aku seperti tak pantas, tapi juga tersiksa dengan ketak pantasan ku." batin Jammer.
"Andai kamu tau perasaanku, lebih indah harimu dalam dekapanku dari pada kamu dengannya." batin Dinda.
"Kenapa kamu tak menyadari adanya aku?" Dinda terus bergelut dengan pikirannya.
^^^Sambutlah aku dalam dekapanmu^^^
^^^Rengkuh aku pada peluk dan hangatmu^^^
^^^Berikan seluruh jiwamu untukku^^^
^^^Berbagi kasih, berbagi suka dan duka^^^
^^^Akan aku lucuti dukamu, jadi sukacita^^^
^^^Ku basuh lukamu dengan cintaku^^^
^^^Lumuri pedihnya dengan hasyatku^^^
^^^Satu dalam mencinta dan menyayang^^^
^^^( Imaduddin Jammer, 2021 )^^^
Mungkin itu yang dapat mewakili perasaan Dinda. Dia mencintai, namun tak terbalas. Dinda dapat memahami pedihnya rasa kecewa akan keadaan atas cinta yang begitu dalam, melihat keterpurukan adiknya dia dapat merasakan seberapa besar cinta adiknya untuk Fiux, cinta yang begitu megah dalam hati dikecewakan dengan begitu bertubi-tubi.
Tak terasa diam mereka sampai tempat parkir sebuah mall, mereka berencana untuk berbelanja bersama. Saat akan keluar Dinda merasa ingin untuk menyampaikan pesan untuk memperkuat adiknya berdua saja. Ketika mobil berhenti diparkir khusus pimpinan dan karyawan.
"Dhe, kamu duluan ya aku mau ngomong berdua sama adek." Suruh Dinda pada kembarannya.
"Dek, kakak Dhean duluan ya. Kamu pindah belakang gih biar ngobrol sama kak Dinda nya enak." suruh Dhean pada Jammer.
"Ayo dek." Dinda membuka pintu Jammer duduk dan menyadarkan lamunannya.
"Gimana kak?" tanya Jammer yang sudah masuk duduk di samping Dinda. Dia bersandar di mepet pintu, memegangi pelipisnya yang sedikit pusing karena terlalu memikirkan Fiux.
"Dek, kakak tau perasaanmu, kakak sebenarnya juga merasakan hal yang sama denganmu. Saat ini kakak merasa terluka karena cinta begitu dalam dikecewakan keadaan." Dinda membuka penjelasannya. Dibarengi tubuhnya mendekat pada Jammer.
"Sayang kamu harus kuat. Kakak dan kak Dhean ada didekat kamu. Apapun itu ceritakan kalo kamu perlu." Dinda terus mendekat dan kali ini menyentuh pipi Jammer sehingga membuatnya menghadap dirinya.
"Dek, kamu adalah pelita kami jadi apapun yang terjadi pada kamu bakal berpengaruh pada kak, kak Dhean, papah, mamah, dan seluruh anggota Bayusuta Crew." Dinda terus mendekat dan kali ini mencium bibir Jammer sesaat. Jammer hanya diam karena kaget dan tak tau harus apa dicium bibir sexy kakaknya.
"Kamu harus semangat, jangan terpuruk karena Fiux mu. Kakak cinta padamu, walau hanya akan jadi kenangan biarkan ini jadi kenangan terindah untuk kakak." Dinda sudah tak tertahan lagi. Dia naik ke pangkuan Jammer dan ******* bibir Jammer tanpa perlawanan hingga dirinya puas.
Setelah kejadian itu tanpa kata mereka keluar dan menuju lift untuk menyusul Dhean. Didalam lift Jammer mencium kening Dinda sebagai tanda terima kasih atas perhatiannya pada Jammer. Dinda yang mendapatkan itu merasa sangat senang, hari ini dia mendapatkan first kiss dari Jammer ( tidak lebih ), menyatakan perasaannya, dan mendapatkan hadiah ciuman dikenangnya.
Dhean menunggu disebuah butik yang sangat mewah. Mereka bertiga akan membeli pakaian untuk ke kantor, untuk pergi ke acara-acara penting, dan hadiah untuk Dinar. Hampir 30 menit Dinda menunggu sambil memilih-milih pakaiannya.
"Dhe, sorry lama tadi curhatnya panjang." sapa Dinda sengaja mengagetkan Dhean.
"Oh gpp. Tapi kamu marah-marah apa gimana kok bibir agak bengkak an terus agak belepotan lipstik mu?" jawab Dhean sedikit terkejut.
"Ehh masak sih?" Jawab Dinda sambil melihat dirinya di kaca dekat mereka.
"Ehh tunggu tak cari adek dulu. Kayaknya ada yang kelupaan." Ucap Dinda panik.
Disisi lain butik. Jammer sedang duduk di sofa dengan dinding kaca didepannya, memberikan pemandangan pengunjung berlalu-lalang. Hingga seorang datang menyadarkan lamunannya.
"Dek, ayo cepetan ke kamar mandi." tarik Dinda.
"Ehh ada apa kak?" Jawab Jammer menahan dirinya di sofa.
"Nih." Dinda mengelap lipstik di bibirnya, memperlihatkan pada Jammer. Membuat Jammer terkejut.
"Itu membekas juga di kamu. Ayo cepat lah." paksa Dinda.
Mereka ke toilet untuk menghapus bekas kenakalan Dinda.
"Ahh pakai lupa lagi kalo ini bisa membekas kalo ciuman kan kayak diusap lap." gerutu Dinda di depan wastafel.
__ADS_1
"Ehh iya remover nya belum tak kasih Jammer, sama tissue nya." batin Dinda. Dia pun berlari ke kamar mandi pria.
"Dek, Jammer sayang." Dinda langsung masuk saja. Tanpa mencari-cari Jammer karena wastafet berasa di dekat pintu. Sementara didalam banyak pria yang terkejut dengan kedatangan Dinda.
"Sayang ini remover nya lupa tadi." Dinda menyerahkan remover, bukannya keluar malah dia membantu Jammer menghapus makeup tanpa memperdulikan yang lain.
"Sayang keluar yuk." Jammer menegang pundak Dinda dan mengajaknya pergi.
"Udah selesai dek." ucap Dinda setelah selesai menghapus bekas lipstik nya.
"Kamu make up ulang gih, nanti bicarakan ini ke kak Dhean." suruh Jammer.
Setelah mereka berdua selesai, keduanya berjalan kembali ke butik. Jammer duduk sendiri di sofa sementara Dinda menghampiri Dhean.
"Ehh itu kan cowok kaya raya dulu." gumam seorang gadis di luar butik.
"Hai, boleh aku temenin?" tanya gadis itu setelah mendekati Jammer. Sementara Jammer diem aja.
"Kenalkan aku Mia." dia memperkenalkan diri terlebih dahulu, sambil melangkah duduk di samping Jammer.
"Jammer Devil." Jammer hanya menoleh kemudian mengabaikan lagi.
Beberapa saat kemudian Dhean melangkah menuju sofa dari kejauhan dilihatnya Jammer terganggu oleh seorang wanita. Setelah agak dekat dilihatnya Mia adalah brand ambassador salah satu perusahaan dibawah naungan PT SMS milih Jammer.
"Sayang temenin milih gaun aku bingung sayang." Dhean menarik manja Jammer.
Jammer berdiri dan mengikuti Dhean.
"Makasih kak." bisik Jammer.
Mia kesal karena usahanya digagalkan.
".Seharusnya dia milikku, lagi pula aku lebih sempurna, model ternama dan cantik luar biasa, siapa sih orang itu ganggu." sombong Mia dalam gumamnya.
"Dinda, kau mau bantu ngerjain orang gak?" tanya Dhean saat sampai depan Dinda.
"Kenapa?" Dinda malah berbalik nanya karena penasaran.
"Ada Mia BA Perusahaan mamah gangguin adek." jawab Jammer.
"Lah terus gimana?" Dinda masih belum paham.
"Kamu sama adek keluar dulu beli minum tiga, terus pinjemin black card ke adek nanti biar adek yang bayar belanjaan kita. Adek bawa belanjaannya yang banyak, nih punya kakak Dhean juga bawa dulu. Nanti balik ke butik aku tunggu di sofa." Dhean mengarahkan Dinda dan Jammer dengan jelas.
"Oke laksanakan." Dinda memberi hormat.
Kemudian Jammer dan Dinda membayar duluan, kemudian keluar membeli minuman. Sengaja mereka memperlihatkan kemesraan sampai tubuh mereka tak terlihat oleh Mia yang masih duduk di sofa. Saat Mia akan beranjak Dhean datang, mengejutkan Mia, karena belum tau kalo mereka kembar.
"Bukannya kamu keluar barusan?" Mia kaget
"Enggak. Aku malah nyari Jammer kemana sih kamu lihat gak?” jawab Dhean duduk sudah memakai gaun pesta.
"Maaf ya, tadi dia keluar sama cewek. Aku kira itu kamu." jawab Mia mengompori
"Hiiihh kebiasaan." suara Dhean sedikit keras pura-pura kesal.
Beberapa menit mereka mengobrol, Dhean menelepon Jammer memberi kode untuk segera kembali. Dhean sudah memperkenalkan diri, memberitahu dia bekerja dimana, memberitahu Jammer adalah pemilih perusahaan untuk dari produsen kosmetik tempat Mia menjadi BA. Kemudian Mia melihat Jammer bersama Dinda masuk butik.
"Kamu dari mana." Dhean memarahi Jammer yang masih digandeng Dinda.
"Aku sama dia beli minum, ini juga buat kamu beb.” Dinda menyodorkan minuman kesukaan Dhean.
"Ohh ya udah duduk dulu, ternyata Dia BA perusahaan mamah beb " Dhean meraih minumannya dan duduk duluan. Disusul Jammer dan Dinda sehingga Jammer duduk ditengah. Dhean memegang tangan kiri Jammer dan Dinda tangan kanannya.
"Mbak Mia kalo sama cewek itu sih gak papa. Kita emang selalu berbagi." umpan Dhean agar Mia terus emosi.
"Oh iya kenalkan saya Dinda." dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Dibalas Mia dengan senyum terpaksa.
"Apa kalian tidak berebut jalan bertiga gini." Mia berpura-pura menjadi baik didepan Jammer.
"Enggak sih kalo rembukan, cuma ribet aja kalo belanja." jawab Jammer.
Cukup lama mereka ngobrol. Kemudian Jammer membayar gaun yang dipakai Dhean, menunggu Dhean ganti baju kemudian pulang. Sementara Mia menggerutu sepanjang jalan karena kesal baru kali ini dia gagal, bahkan sekedar menjabat tangannya saja tidak bisa.
"Aku akan sering ke perusahaan milik Jammer." Mia memberikan semangat kepada dirinya sendiri, dia bukan orang yang gampang menyerah.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Selamat bertemu episode selanjutnya reader. Saya selaku author meminta dukungan like, komen, favorit, vote, dan share untuk menjadikan semangat saya menggebu-gebu 🤣🤣🤣
Semoga disenyumkan di setiap waktu kita 🤲🏻🤲🏻🤲🏻 Aamiin.