Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Hari Sabtu-Minggu Yang Sibuk


__ADS_3

Setelah lusa kemarin Dinda tidur dengan Dinar, hari ini dia bersama Dhean mempersiapkan segala sesuatu yang akan di bawa ke Amerika, menggunakan jet pribadi yang berpenumpang maksimal 15 orang. Dan untuk itu sebagai sudah berangkat lebih dulu, menggunakan jet operasional BC dari Jepang, Jerman, Singapore, dan Thailand. Sedang Dinda, Dhean, Jammer, dan Kana akan berangkat menggunakan jet pribadi sewaan dari Sydney.


"Dhe, papa dan mama nanti bakal naik apa?" tanya Dinda.


"Belum tau, mungkin itu." tunjuk Dhean pada pesawat bergambar burung biru dari perusahaan plat merah Indonesia.


"Ya sudah. Kita tunggu persiapan anak buah dulu disini." balas Dinda.


"Maaf nona Dhean dan nona Dinda, jadwal kedatangan dan keberangkatan pesawat jet dari Sydney sudah kami konfirmasi, kita dapat jadwal keberangkatan jam 4 sore." kata anak buah mereka.


"Oke." jawab Dinda singkat.


Mereka berdua pun bercanda ria sambil menunggu kedatangan orang tua mereka yang akan ke Singapore untuk check up yang rencananya akan berangkat pukul 10.45 wib nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ditempat lain Gerry sedang berada di markasnya, mempersiapkan keberangkatan dirinya bersama Jammer, Dinda, Dhean, Kana, dan Rendy. Kana yang merupakan sahabat Jammer dari Jepang pasti akan ikut dalam satu pesawat dengan tuannya, Rendy dan Gerry yang merupakan tangan kanan dan kiri Jammer juga harus sepesawat, anggota lain yang sudah berangkat ke Amerika secara bertahap berjumlah 40 orang, 25 diantara adalah penembak jitu, seorang Byan sebagai pengatur strategi, dan seorang lagi Gusman yang lebih seperti detektif. Penjaga di sekolah memang tidak dikendurkan, walaupun tidak ada Gerry disana, semua anggota yang berjaga di sekitar sekolah siap sedia berjaga dan waspada.


...****************...


Waktu sudah menunjukkan pukul 13.35 WIB, bel berbunyi karena hari ini memang sudah hari terakhir tes, Jammer segera keluar dari lingkungan sekolah dan masuk ke sebuah mobil operasional perusahaan Dinda dan Dhean. Tak menunggu lama mobil sudah melaju kencang melewati beberapa rombongan siswa SMK yang mengendarai motor.


"Geng mana lagi ini tuan." tanya Gerry di samping pengemudi.


"Sudahlah kau juga hapal mereka semua." jawab Jammer malas.


"Ada apa tuan. Kenapa anda seperti malas sekali." tanya anak buat Gerry yang menyetir.


"Ah kemaren aku ditegur, kenapa bukan Dhean yang datang. Aku jawab saja, yang bisa datang Dinda, malah semakin banyak pertanyaan yang ditujukan padaku." kata Jammer.


"Sudah jangan banyak bicara!" tegur Jammer kesal. Ia pun memalingkan wajahnya ke kiri menuju jalan.


Waktu tempuh dari SMK ke bandara memerlukan waktu satu setengah jam, selama perjalanan Jammer hanya diam saja, sedang Gerry dan anak buahnya terus mengobrol dan bercanda tak kenal lelah.


"Tuan muda, sudah masuk ke landasan." ucap Gerry mengingatkan.


"Hhmm" hanya dibalas geraman.


"Apa baju untukku sudah kau siapkan?" tanya Jammer.


"Waduh lupa." batin Gerry.


"Nanti dibawa Rendy tuan." jawab Gerry.


"Oh." balas Jammer paham.


Mobil sudah berada di dekat jet mewah, tentu dengan fasilitas yang tak ada kurangnya, didalamnya ada empat kamar, sebuah meeting room, dan disertai empat pelayan.


"Silahkan tuan, satu jam lagi kita akan berangkat." ucap Gerry. Jammer pun melangkah masuk.


"Selamat siang tuan muda." sapa Rendy, dibalas anggukan Jammer.


"Gerry!" bentak Jammer tanpa membalikkan tubuhnya melihat Gerry.


"Hai sayang." sapa Dinda keluar dari kamar.


"Hai." jawab Jammer lesu, melempar tubuhnya kepada sofa yang empuk.


"Hai Jammer." sapa Dhean juga keluar dari kamar yang sama dengan Dinda.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Dinda sambil mengambil posisi di sebelah Jammer, menghadapkan tubuhnya ke hadapan Jammer.


"Gak kok gak ada masalah." jawabnya lemah.


"Why do you look like so tired?" tanya Kana.


"No, don't looked so pity me. I'm fine, Kana." jawab Jammer.


"Ya sudah sini ada bahu untuk bersandar." ucap Dinda menarik Jammer ke pelukannya, memegang pipinya lembut. Memang kesempatan diambil pada waktu yang tepat, perlahan Jammer tertidur.


Saat pesawat akan berangkat Gerry dengan buru-buru masuk ke dalam dengan berlari, jika tidak ditahan Rendy pasti sudah terjadi kegaduhan di dalam pesawat itu.


"Kamu dari mana saja?" tanya Rendy lirih.


"Ini, tadi... a.. a.. aku lupa." nafas Garry tersengal karena kelelahan membeli pakaian di beutique dekat bandara. Untung saja mereka berada di bandara milik TNI bukan di komersial, sehingga cukup lengang jalan disekitarnya.


"Dasar kau, memang tidak takut mati." ucap Rendy mengejeknya.


"Hah, mati? Ya takut lah." balas Gerry menyenggol bahu Rendy dengan tubuhnya, sebelum duduk disamping Kana.


"Wah ini anak, cari masalah." canda Rendy.


"Ssstttt, kesempatan emas nih." potong Dhean dengan menempelkan jari di bibirnya.


"Ehh maksudnya kamu nyindir aku?" sahut Dinda yang membuat orang dipeluknya terbangun.


"Kamu kenapa sih berisik?" tanya Jammer lembut sambil memegang tangan yang sedari tadi di pipinya.


"Aku mau ke kamar nanti bangunkan aku kalo makan malam." imbuhnya sebelum ada yang mendahului.


"Tunggu kamu jangan sendiri nanti nangis." goda Dhean.


"Ya maka dari itu kita temenin." ajak Dinda.


"Udah aku pusing, ayo." ajak Jammer, seraya memegang kepalanya.


"Are you alright man?" tanya Kana mendekati mereka.


"I'm fine. Kana, please enjoy this trip." jawab Jammer.


"Ok, take your time to rest your body." nasihat Kana dan meninggalkan mereka untuk kembali menikmati perjalanan.


"Take a cheers, came on!" ajak Gerry. Diikuti oleh Rendy dan Kana.

__ADS_1


"Are you like miss Dhean?" tanya Gerry langsung.


"Hwwkkk... hhhwwkk.. who are you asking?" tanya Kana.


"Sir Kana, of course he meant you." sahut Rendy menjelaskan.


"Oh, yes of course, she is pretty girl and good person, who might not like a girl like that." jawab Kana.


"No. That's not what I mean. Do you love him?" kata Gerry memperjelas pertanyaannya.


"May be I love her, but itu is very hard to discribe." jawab Kana.


...****************...


Meninggalkan ketiga laki-laki yang sedang bercengkrama dengan pembahasan yang tak tentu arah. Di dalam kamar Jammer, yang memiliki fasilitas tempat tidur king size, kursi panjang untuk nonton TV, dan sebuah kulkas kecil tempat minuman, fasilitas itu yang ada di kamar Jammer dan kedua kakaknya, sedang kamar yang lain hanya kasur kecil dan sebuah kulkas.


"Din, ayo keluar." ajak Dhean.


"Kalo kita pergi siapa yang bangunkan dia." tolak Dinda.


"Dasar bucin." gumam Dhean lirih.


"Kamu nonton TV aja, aku tak ikut tidur juga. Nanti kalo mau pergi atau mau makan bangunin aku ya!" pinta Dinda.


"Bucin, bucin, bucin." ledek Dhean sambil memposisikan diri duduk di samping Dinda yang tidur.


"Geser sedikit." suruh Dhean dan mendorong Dinda dengan tangannya.


"Jangan didorong dong. Aku pindah aja lah." tahan Dinda. Diapun bangun kemudian melangkah ke sisi lainnya, kemudian kembali tidur.


Dhean yang menonton TV lama kelamaan malah mengantuk dan kemudian ikut tidur. Sampai ketika makan malam, Rendy masuk ke kamar Jammer yang tidak dikunci, dia heran dengan kehidupan Jammer saat ini, banyak orang ingin menjadi Jammer termasuk Rendy, tapi tak ingin juga merasakan asmara seperti Jammer yang susah untuk banyak orang mengalami, mungkin jika orang lain yang menjadi Jammer maka akan hilang dari dunia ini karena bunuh diri tidak kuat atas tekanannya yang tidak dibayangkan oleh orang.


"Tuan muda Jammer... Tuan... Waktunya makan malam tuan." kata Rendy, dengan menggoyang-goyangkan kaki Jammer, karena kedua tangannya dibuat bantal oleh kedua kakaknya, itu kebiasaan dari pertama Jammer hadir di tengah keluarga Sam Devil.


"Hhhooaaammm." Jammer menguap begitu merasa ada yang membangunkannya.


"Ren. Keluarlah, biar aku yang bangunkan mereka." suruh Jammer.


"Tidak tuan biar saya tunggu." tolak Rendy dan dia pun berjalan mundur ke pintu.


Jammer pun mengangguk, ia kemudian mengangkat kedua lengannya sehingga kepala kedua kakaknya akan terangkat, terus diulangi sampai mereka berdua terbangun.


"Kalo gak bangun aku benturin kalian nih." canda Jammer.


Mereka pun bangun, setelahnya Jammer berdiri lebih dulu dan melangkah pergi.


"Dasar kalian berdua kebiasaan, enak ya tidur di tanganku?" goda Jammer sambil keluar menuju kamar mandi untuk membasuh wajah agak sedikit lebih segar.


"Hhhooaaammm. Dhean tidur lagi yuk." ajak Dinda.


"Hhhooaaammm, gak ah aku mau makan malam." tolak Dhean dan pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sam dan Amel baru saja sampai di mansion, setelah mereka di antar oleh Dhea dan Dinda di bandara, mereka segera berangkat ke Singapore dan hanya menitip salam untuk Jammer.


"Selamat malam. Kamar kami sudah siap?" tanya Amel. Sedang Sam hanya mengangguk.


"Sudah nyonya, baru saja kami bersihkan sore ini agak tidak banyak debu dari proyek taman belakang rumah. Belakangan ini angin cukup kencang sehingga debu sering berterbangan masuk ke kamar nyonya." jawab kepala maid.


"Lalu kapan tamannya jadi." tanya Sam.


"Sudah selesai tuan, baru saja kontraktor tamannya pulang." jawab maid itu lagi.


"Ya sudah sekarang antar saya ke kamar!" pinta Amel.


"Ayo sayang, sampai lupa kelamaan disini." sahut Sam, yang juga memberi kode dengan mulutnya menunjuk pintu pada maid lain.


"Silahkan tuan dan nyonya." kepala maid membantu memapah Amel.


...****************...


Sam yang khawatir dengan Amel meminta kepala maid untuk membawakan makan malam ke kamar saja, sehingga Amel tidak perlu berjalan lagi, karena itu terlihat melelahkan bagi Sam.


"Ini buka mulutmu." suruh Sam menyuapi Amel.


"Aaakk, amu bagi ana?" tanya Amel dengan mulut penuh sehingga seperti lucu ucapannya.


"Ini." jawab Sam menyuapi dirinya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tanah air, Stevani sedang diajak berdebat dengan seorang wanita seksi dan cantik, dia adalah Monika.


"Kenapa sampai hari ini dia belum menemui ku. Aku akan tetap mencari ribut sampai dia datang kesini!" bentak Monika.


"Aku rasa jawaban kami semua yang dekat dengannya sama. DIA SEDANG PERGI." jawab Stevani dengan nada keras dan penuh penekanan.


"Apa maunya. Berani sekali dia meremehkan diriku." keluhnya dengan berteriak.


"Diamlah ini rumah sakit." peringatan Stevani.


"Usir dia, tak tau malu, tak tau tempat!" perintah Stevani pada security yang berjaga-jaga.


"Tunggu, suruh dia menemui ku Senin siang di perusahaannya!" suruh Monika pada Stevani.


"Ok, I am tell him. Tapi jika aku ingat." jawab Stevani.


"Bapaknya masih dirumah sakit ini kan?" tanya Stevani pada Jarot.


"Iya masih, tapi sudah ditekan oleh Rendy sehingga dari saat pengalihan itu tidak berani macam-macam."


"Bagus, tinggal tunggu komando dari Tuan muda bagaimana selanjutnya dengan wanita j*l**g itu." Stevani sinis walaupun tidak ada orangnya.

__ADS_1


"Masih ada Bu Desi untuk ****** bagaimana mau sekarang atau tunda saja?" ucap Jarot mengingatkan.


"Sekarang kalian kembali ke pekerjaan masing-masing termasuk aku kontrol Bu Desi!" perintah Stevani.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keluarga Donny dan keluarga Galuh sedang makan malam, mereka sedang merayakan kepulihan Rony dari lukanya, meski masih harus beberapa kali kontrol ke rumah sakit lagi, tapi saat ini Rony sudah bisa beraktivitas normal tidak bergantung pada alat lagi. Mereka bercengkrama dengan pembahasan yang tidak berat, kadang bercanda, dan mengenang kisah muda.


"Tunggu sebentar." pamit Rony ketika melihat sebuah telepon masuk.


"Hallo, ada perkembangan?" kata Rony setelah sedikit menjauh.


"Hallo, bos mereka baru menyelundupkan narkoba cukup besar." jawab si penelepon.


"Intai saja, kalo mereka dirasa merugikan tinggal laporan ke tuan muda dan Twins D." perintah Rony.


"Siap bos." jawab anak buahnya.


"Mereka lewat jalur mana?" tanya Rony.


"Laut bos, tapi masuk Indonesia lewat mana kami belum bisa pastikan." anak buahnya.


"Masih ada GPS?" Rony.


"Habis bos." ucapnya sedikit mengeluh.


"Putar balik ambil saja, nanti saat mereka kembali pasang saat ada kesempatan." perintah Rony.


"Siap bos." jawab anak buah itu kemudian memutus telepon.


Rony pun melanjutkan aktivitasnya bersama keluarga dan calon keluar besannya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari sudah menjadi pagi jam menunjukkan pukul 10.30 pagi, jet yang membawa Jammer dan yang lainnya sudah memasuki wilayah perairan dekat California, kurang lebih tiga puluh menit lagi pesawat jet itu akan mendarat bandara internasional Los Angels.


...****************...


Pendaratan telah di lakukan, penerbangan selama sembilan belas jam itu akhirnya usai kali ini, karena masih ada perjalanan kembali ke Indonesia nanti. Untuk mempersingkat waktu merekapun sudah ditunggu oleh anggota yang menjemput mereka termasuk pemimpin BOAC.


"Welcome to Los Angeles, was your trip tiring?" tanya pemimpin BOAC pada Jammer ketika mereka baru saja bertemu.


"Not tiring at all." jawab Jammer.


"How about Miss Dinda and Miss Dhean, are you tired?" kata pemimpin itu lagi.


"Immediately proceed to the meeting place instead!" potong Jammer, merasa terlalu lama basa-basi itu.


"Ok, came on. The pickup car is ready in front of the airport." kata pemimpin itu.


Perjalan tak begitu lama, rombongan sudah sampai di markas BOAC yang memang berada tak jauh dari bandara. Byan yang lebih dulu sampai sudah membagi tugas seluruh anggota yang ada, serta mengatur strategi pengamanan, menurut penjelasan pemimpin BOAC, jumlah kelompok yang akan datang ada tujuh kelompok, mereka yang terkuat dan memiliki pengaruh di Amerika, waktu pertemuan adalah jam 12 tepat, dan itu tinggal hitungan menit.


...****************...


Waktu pertemuan telah tiba, semua kelompok tengah duduk melingkar pada sofa yang telah ditata pada sebuah tanah lapang, semua bos dari setiap kelompok dipayungi oleh anak buahnya, tak terkecuali Jammer dan kedua kakaknya, kana memegang payungnya sendiri.


"So what do you want to do to allow BOAC to develop in your territory?" tanya Jammer tegas.


"I want to a territory on Thailand." kata seorang laki-laki tua dengan badan gempal dan hitam legam.


"Rendy." panggil Jammer. Rendy pun menelepon ke Thailand.


"Ada wilayah di sebelah timur cukup jauh dengan Bangkok." jawab Rendy kemudian.


"I can give you one of my territory, but you don't have changed the best territory. I can give you territory east of Bangkok." Jawab Jammer untuk permintaan lelaki tua itu.


"I want to be in Thailand too." ucap pria paruh baya berkulit putih.


"Rendy bilang ke dia suruh berkerjasama sama saja, bilang gitu. Aku malas banget ngomong bahasa Inggris mulu." suruh Jammer.


"He told you to be made network with him gangs. Because we have just one territory on Thailand." terjemah Rendy.


pembahasan terus berjalan tinggal tersisa penguasa California, dipimpin oleh orang Indonesia kelahiran Suriname, Suparyono dari gangster Isuh atau Indi-Super Hole.


Prokprokprok. tepuk tangan Jammer dan di ikuti anggotanya.


"Aku ngerti koe wong Suriname. Wong tuamu Yo seko Negoro ku." Jammer membuka obrolannya.


"Aku tau kamu orang Suriname. Orang tuamu juga dari negaraku." tertemahan ucapan Jammer.


"Karepmu jaluk opo?" tanya Jammer.


"Kamu mau minta apa?"


"Jaluk opo?" tanya Supra biasa dia dipanggil.


"Minta apa?"


"Hahaha... jaluk lungo cu**t mu iki!" bentaknya.


"Hahaha.. minta pergi ( menyebutkan hewan tikus got sebagai umpatan ) kamu ini."


"Rendy suruh pergi orang yang sudah beres, tinggalkan seorang ini dengan anak buahnya." suruh Jammer. Rendy pun mengusir kelompok gangster yang sudah selesai urusan dengan tuan mudanya.


Lapangan itu mungkin akan jadi medan pertempuran pertama Bayusuta Crew di Amerika.


.


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2