Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Hukum Yang Mengalahkan.


__ADS_3

Ketika di meja makan, Jammer hanya diam dengan wajah yang penuh dengan pikiran. Dinda tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Jammer hanya saja dia tahu pasti itu ada hubungannya dengan hari kemarin. Dinda juga tidak nafsu makan karena melihat orang di sampingnya itu hanya melamun tidak makan.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Dinda.


"Hem. Apa?" tanya Jammer terkejut.


"Kamu kenapa ngelamun?" ulang tanya Dinda.


"Oh gak ada yang aku pikirkan kok. Ayo makan." jawab Jammer.


"Kalau mau cerita nanti bilang ya!" ucap Dinda setengah menyuruh. Jammer hanya mengangguk.


"Permisi." suara Rendy.


"Iya Ren, sini di ruang makan!" jawab Jammer.


"Sayang mau kemana?" tanya Dinda menahan tangan Jammer yang ingin berdiri.


"Cuma manggil Rendy dan Doni." jawab Jammer.


"Jangan pergi!" larang Dinda memelototi.


"Iya siap." jawab Jammer patuh.


Kejadian itu dilihat oleh Donny dan Rendy, tapi mereka berdua berusaha untuk tidak melakukan apa-apa yang dapat mengancam mereka, salah tertawa saja bisa di marahi. Mereka berdua hanya tersenyum kecil kemudian terdiam menunggu Jammer selesai makan.


"Sudah selesai, aku pergi ke kamar dulu ya?" ucap Jammer setelah menelan suapan terakhir.


"Iya. Ayo ke kamar kamu." ucap Dinda.


"Lah kok malah ngajak?" ucap Jammer heran.


"Udahlah ayo ke kamar kamu, mereka berdua ikut kan?" ucap Dinda.


"Iya ikut aku. Tapi buat apa kamu ikut ke kamarku?" ucap Jammer.


"Ya pengen aja gitu. Memangnya kenapa sih gak boleh ikut, kamu ada yang mau diomongin ke mereka tapi aku gak boleh tahu?" tanya Dinda yang sedikit menyudutkan.


"Gak. Gak. Gak ada." sangkal Jammer.


Mereka akhirnya ke kamar Jammer untuk membersihkan darah yang ada.


"Tuan muda dari mana kok bisa satu kasur begini ada darah." celetuk Donny.


"Penghianat dari Batam dan teman-temannya." ucap Dinda sambil merentangkan tangannya.


"Oh." ucap Rendy dan Donny bersamaan karena paham itu artinya sudah tertangkap basah.


"Kemudian otak yang menyuruh penghianat itu untuk berhianat sudah tuan?" tanya Rendy.


"Belum, kita malah dapat bantuan dari mana-mana untuk menangkapnya tapi sampai hari ini belum ada kabar keberadaannya kan?" ujar Jammer.


"Sudah sekarang kalian bertiga bekerja, aku awasi sebagai mandor kalian, kalau butuh minum bilang." sahut Dinda sambil memposisikan diri duduk di sofa kamar Jammer.


"Iya tuan putri." sindir Jammer.


Dengan cepat spring bed itu mereka angkat keluar kamar dan mencuci bed cover yang penuh darah bersama pakaian Jammer di kamar mandi.


"Terus spring bed nya mau dibersihkan dimana?" tanya Dinda dengan suara keras.


"Ganti saja ah, itu buat tiduran di markas saja." jawab Jammer.


"Haha. Dasar licik, yang susah bersihnya malah dibuang." sahut Dhean terkekeh kemudian duduk disamping Dinda.


"Ya sudah kamu mandi lagi setelah ini kita beli!" suruh Dinda.


"Aku ikut." sahut Dhean memohon.


"Iya. Aku juga ada yang mau diceritain ke kamu." jawab Dinda.


"Apa?" tanya Dhean.


"Nanti aja, aku mau ceritanya nanti." jawab Dinda.


"Apaan sih, kenapa gak sekarang aja?" tanya Dhean mendesaknya.


"Nanti." tegas Dinda membuat Dhean terdiam.


Sampai waktunya mereka pergi tidak ada lagi pembicaraan yang terjadi. Bahkan ketika berganti baju untuk pergi ke toko spring bed, Dinda tidak mengatakan apa-apa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kediaman keluarga Samad pukul 11 siang. Dinar pulang membawa beberapa temannya untuk belajar kelompok, diantaranya dua teman laki-laki dan tiga teman wanita. Dinar mempersilahkan masuk mereka dan duduk di ruang tamu. Kemudian Dinar berpamitan ke mereka untuk menyiapkan buku, serta mengambil makanan dan minuman untuk mereka semuanya.


"Dinar." panggil Pak Samad dari ruang tengah tempat menonton TV.

__ADS_1


"Iya pak." jawab Dinar datang menghampiri.


"Kamu dari mana kok pulang-pulang ada yang dibawa." tanya pak Samad.


"Dari gang depan pak jemput mereka, kan belum ada yang tahu rumah ini pak." jawab Dinar.


"Ya sudah, sana ambil makan dan minum buat mereka!" titah pak Samad.


Sebentar saja Dinar menyiapkan keperluan tugasnya kemudian membawa cemilan dan minum ke ruang tamu. Kemudian mereka mengerjakan tugas IPA kelas satu SMK yang di berikan guru kemarin. Pak Samad sesaat mendatangi mereka untuk sekedar basa-basi menyapa, dan mengamati bahwa mereka tidak mencurigakan atau berpengaruh buruk. Setelah setengah menyelesaikan tugas, ada pertanyaan yang membuyarkan fokus semuanya.


"Dinar, kamu cuma berdua sama bapak aja di rumah ini?" tanya seorang.


"Ada ibuku kok tapi lagi pergi ke luar kota, dan kakakku lagi di luar, dari kemarin belum pulang." jawab Dinar.


"Assalamu'alaikum Dinar." suara Dinda terdengar sesaat setelah Dinar terdiam.


"Wa'alaikummuussalam." jawab semuanya.


"Itu mungkin kakakku." ujar Dinar sumringah.


"Kak Dinda kok gak masuk?" Tanya Dinar merasa yang ditunggu tak kunjung masuk rumah.


"Tunggu kakakmu lagi ngambil barang di bagasi." jawab Dinda.


"Tunggu ya guys." pamit Dinar keluar karena tidak sabar.


"Kak Dinda." sambut Dinar ketika membuka pintu.


"Dinar lagi apa kok rame?" tanya Dinda melirik ada beberapa anak yang duduk di ruang tamu.


"Belajar kelompok." jawab Dinar.


"Yasudah kak aku mau masuk dulu kakak saja yang tunggu kakak Jammer." sambung Dinar.


Sekembalinya Dinar mengerjakan tugas, semua teman-temannya melirik dia yang kembali fokus sendirian. Sedangkan lainnya sedang penasaran dan bisik-bisik mengosipkan kedatangan Dinda dan status Dinda di kelurga Dinar.


"Hai, kalian teman-teman Dinar kan?" tanya Dinda.


"Iya kak." jawab semuanya.


"Kakak ini, kakaknya Dinar ya?" tanya salah satunya.


"Oh iya sebentar lagi, tunggu kakaknya Dinar itu melamar kakak Dinda." sahut Dhean di belakang.


"Nah yang itu kak Dhean, kalo itu namanya kak Jammer." ucap Dinda menunjukkan.


"Sudah kenalannya kita kerjakan dulu nanti cerita lagi sepuasnya!" pekik Dinar yang ingin segera menyelesaikan tugasnya.


"Wow, ketua jangan marah-marah." canda Dinda.


"Ayo masuk saja." ucap Jammer.


Mereka bertiga pun bergabung dengan pak Samad di ruang tengah.


"Assalamu'alaikum pak." sapa Jammer menyalami tangan bapaknya. Diikuti Twins D.


"Wa'alaikummuussalam." jawab pak Samad.


"Kamu semalam dari mana saja?" tanya pak Samad.


"Ada acara kantor, papa Samuel minta aku untuk ikut ke acara kantornya." jawab Jammer enteng.


"Iya pak, semalam pulang jam tiga pagi." sahut Dhean.


"Kalian berdua juga ikut?" tanya pak Samad setengah curiga menuju Dinda dan Dhean.


"Wah kalau saja tidak ada pekerjaan ikut pak. Kemarin banyak proyek yang harus di evaluasi." jawab Dinda.


"Sebentar aku bawa ini ke belakang." sela Jammer membawa belanjaan di tangannya ke belakang.


"Ibu dimana pak?" tanya Dinda.


"Katanya ada acara dari kantor." jawab pak Samad.


"Kalian dari rumah atau habis dari mana?" balik tanya pak Samad.


"Tadi dari rumah mampir ke minimarket terus langsung ke sini. Kita gak tau kalau banyak teman-teman Dinar jadi cuma beli sedikit." jawab Dhean.


"Apa kita ke mall saja sekalian beli spring bed untuk ganti yang rusak dirumah?" sahut Dinda.


"Jangan nanti saja." sahut Jammer sekembalinya dari meletakkan belanjaan.


"Iya nanti saja, bapak juga nanti jadi sendiri tidak ada yang ngajak ngobrol." sambung pak Samad.


"Maksudnya sekalian bapak ikut." ucap Dinda dengan senyuman.

__ADS_1


"Ah tidak usah, bukan menolak tapi bapak capek. Kalo di mall kan harus jalan kaki keliling mall, apalagi sama kalian yang muda-muda ini bisa ditinggal kecapekan jalan." ucap pak Samad membuat ke empatnya tertawa.


...****************...


Waktu berjalan cepat ketika sedang tertawa-tawa, tak terasa jam menunjukkan pukul 14.10 WIB, teman-teman Dinar juga baru saja pulang setelah ikut ngobrol dengan Dinda, Dhean, Dinar, dan Jammer, sedangkan pak Samad memilih beristirahat setelah shalat Dzuhur.


"Assalamu'alaikum." suara bu Tri.


"Wa'alaikummuussalam." jawab semua yang di ruang tamu.


"Bu, baru pulang?" sapa Dhean mengalaminya.


"Iya, kalian sudah lama?" jawab Bu Tri.


"Belum Bu, belum ada sehari." jawab Dinda membuat semuanya tersenyum, Dinda juga menyalami tangan Bu Tri, diikuti Jammer dan Dinar.


"Ibu masuk duluan ya, capek mau mandi." pamit Bu Tri.


"Iya sudah Bu, kita sekaligus pamit mau ke mall, Dinar juga ikut." pamit Dhean.


"Iya, tapi hati-hati ya. Jangan malam-malam nanti pulangnya. Besok juga Dinar dan Jammer harus berangkat pagi." nasihat Bu Tri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ditempat lain, Fiux sedang merayakan acara ulang tahun kecil-kecilan di salah satu restauran di mall bersama dengan teman-teman dekatnya, ditambah pacar mereka masing-masing, kecuali Fiux. Pacarnya minta Break semalam setelah mendengar penjelasan Fiux tentang Jammer. Tidak ada raut sedih di wajah Fiux, karena pacar yang ini bukan untuk ia seriuskan melainkan untuk antar jemput dia, terutama di waktu magang, pacarnya itu sering menghampiri dia padahal mereka di kota yang berbeda, pulang ke rumah juga di antar karena mereka berasal dari kota yang sama.


...................™...................


POV Fiux.


"Terima kasih semuanya, aku jadi senang lagi." ucapku.


"Iya sama-sama lagian putus hari ini juga bisa dapat lagi besok-besok." ucap Sinta.


"Hahaha. Iya kan kamu cantiknya gak ketulungan." sambung Ayudia.


"Eh tunggu itu bukannya anak pak Samad?" potong Pacar Shinta.


"Iya. Hubby kamu kenal?" tanya Shinta.


"Dulu sebelum pindah rumah, ayahku pernah kerja dengan pak Samad, aku gak tau nama dia tapi heran saja kok terlihat beda saja sama waktu kecil. Dia sekarang lebih baik." jawab pacarnya.


"Lebih baik dari mana?" tanyaku.


"Sudahlah, kita senang-senang lagi saja bahas yang lain." potong Ayudia.


"Aku penasaran apa yang dia maksud lebih baik?" batikku.


Walaupun penasaran aku lanjutkan lagi acaraku, mengobrol dan gosip banyak hal. Di dalam hatiku masih bertanya-tanya, seperti apa sih yang tidak aku tahu dari orang bernama Imaduddin Jammer itu, dan kenapa Jammer itu sering menyejukkan, tidak terduga, di kerumuni orang jahat ada yang menolong, kemudian setiap hari ada orang di sekitar sekolah seperti mengawasinya, ada yang melindunginya, dan semuanya rumit. Aku tidak memperlihatkan kepada teman-temanku penasaran ini, lagi pula dia punya pacar dan sepertinya sangat dekat dengan keluarganya.


Seusai merayakan ulang tahunku, Shinta dan pacarnya pamit pergi dulu untuk pulang. Sedang aku dan yang tersisa memilih untuk berjalan-jalan, nonton film, dan makan malam di restauran yang sama nanti setelah nonton.


...................™...................


POV Author.


Dikala Fiux bersama dengan teman-temannya berjalan-jalan keliling mall, terdapat satu momen menarik perhatian mereka, dilihatnya Jammer bersama ke tiga wanita yang mereka lihat tadi memasuki toko perlengkapan rumah tangga. Heran mereka saling membicarakan hal ini, ketika mendekat dan dilihat dari toko itu, Jammer sedang melihat katalog produk didampingi oleh pegawai berjas, sedang tiga wanita lainnya berkeliling didampingi pegawai setelan biasa.


"Kok itu Jammer sama orang berjas ya, sebenarnya pacar Jammer itu siapa sih kok seperti orang terpandang?" ucap Ayudia.


"Yang jangan lihatin terus, mending kita lanjut lain. Sebentar lagi filmnya bakal mulai kita harus beli tiket juga kan." saran pacar Ayudia.


Mereka pun meneruskan perjalanan ke bioskop. Meski sepanjang perjalanan masih juga membahas mengenai hal tersebut. Sesampainya di bioskop mereka memilih film horor yang baru realis untuk di tonton, selama kurang lebih dua jam mereka berjeritan menyaksikan film itu dengan penuh ketegangan, setelah film selesai mereka kembali ke restauran tadi untuk makan malam, tapi sebelum sampai mereka berpapasan dengan Jammer dan ketiga wanita yang menenteng belanjaan dari merk ternama di mall ini. Ayudia pun basa-basi menyapa.


"Eh hai, Jammer." ucap Ayudia.


"Hai." jawab Jammer.


"Wah belanjaan kalian banyak banget." ucap Ayudia.


"Ya nih, mumpung lagi ada waktu, dan kebetulan habis dari luar kota jadi ada sisa uang saku perusahaan." sahut Dinda, tetap memberi senyum.


"Maaf kita duluan, mau pulang besok juga kan harus berangkat ke kantor." sela Dhean.


Mereka berempat pun pergi meninggalkan rombongan Fiux.


.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2