
Dalam perjalan menuju mansion, Donny sadar diikuti oleh sebuah mobil, yang itu ternyata Monika
"Bang?" isyarat tanya Donny.
"Lanjut, kita beritahu tuan di rumah tuan Samuel!" suruh Gusman.
"Oke, mari ngebut."
Dua puluh menit kemudian mobil memasuki mansion. Donny dan Gusman pun membangun tuannya itu.
"Tuan bangun, kita sudah di rumah." ucap Donny membangunkan.
""Eehhhmm, sudah sampai ya?" tanya Jammer masih memejamkan mata.
"Maaf tuan, ada Monika mengikuti kita. Sekarang tertahan digerbang." kata Gusman.
Tanpa kata, Jammer keluar dari mobil kemudian menggendong Dinda di tangannya seperti bridal masuk menuju rumah besar itu.
Setelah mengetahui Monika pergi dari rumah itu, Jammer dan Dinda diantara oleh Donny berserta Gusman ke rumah Samad, karena di rumah Samuel pasti sepi dan itu membuat Jammer khawatir meninggalkan Dinda sendiri. Jammer membiarkan Dinda tidur dipundaknya, sedang Dinda masih tertidur pulas karena kecapekan yang dia alami bukan hanya badan tapi juga hati, melihat lelaki yang menjadi kekasihnya masih memerhatikan wanita lain.
"Don, bukankah kau harusnya..." kata Jammer terputus, ia merasa tak perlu mempertanyakan pekerjaan terakhir yang di berikan kepada Donny itu apa.
"Tuan, saya mendapat kabar dari Galuh." ucap Donny seperti mengerti maksud Jammer.
"Oh." Jammer hanya ber-oh ria.
"Don aku tidur dulu, kalo ada masalah jangan sampai mengganggu tidurku, bangunkan aku kalo kalian tidak bisa menyelesaikannya, atau kalo sudah sampai rumah bapak!" detail Jammer sebelum akhirnya ia terlelap mengingat perjalanan pulang perlu waktu lebih dari sejam.
"Baik tuan."
Perjalan menyentuk waktu tempuh 30 menit, mobil perlahan memasuki kawasan hutan dengan jalan yang berliku, ada sebuah mobil lain menyalip dan memepet kemudian,.
Brak. tabrakan di sisi kanan mobil Donny.
"Bang Gusman." Donny melirik Gusman yang sigap keluar menuju mobil tersebut.
"Tu...tuan." lirik Donny pada Jammer dan Dinda.
"Untung gak kebangun." kata Donny lega. Ia pun keluar mobil.
"Serahkan mobilmu! Minggir!." pekik seseorang saat Donny membuka pintu mobil.
"An*¿№g." pekik Donny dengan sebuah tendangan menyasar ************ perampok itu.
"Sialan, kalian siapa?" bentak Gusman penuh amarah.
Tak ada jawaban mereka kabur meninggalkan lokasi, tempat ini memang sepi jika aja kendaraan pasti beriringan dengan beberapa pengguna jalan lain, namun jarang ada perampok sekarang, karena wilayah hutan ini sudah menipis tergerus pemukiman.
"Ayo Don, biarkan mereka. Nanti aku selidiki." kata Gusman kemudian masuk ke mobil.
"Sepertinya bukan orang sini, wajah dan logat mereka seperti luar Jawa." kata Donny melajukan mobilnya lagi.
Tak butuh waktu lama mobil sudah memasuki kawasan pemukiman, ketika itu mobil yang tadi mencari masalah sedang keluar dari gang pemukiman itu, namun kemudian mengarah ke kembali ke lokasi tadi.
"Nah itu mereka putar balik, mungkin mereka memang mengincar daerah sini." ucap Donny ketika mobil itu melewati mereka.
"Tunggu, berhenti disini." pinta Gusman, Donny pun memberhentikan mobil di depan sebuah warung.
Gusman keluar dan bertanya pada penjaga warung. Kemudian masuk membawa belapan bungkus rokok.
"Tadi itu orang-orang Sumatera, kurang tau pasti dari mana, baru semalam sampai sini, mereka memang sudah dari pagi mondar-mandir bawa mobil itu." kata Gusman langsung.
"Wah buat korban enak nih." celetuk Donny.
"Mereka sebenarnya terlalu bodoh jika beroperasi di sini." sahut Gusman.
Setelah perjalanan menempuh waktu 30 menit mereka telah sampai di depan rumah Samad.
"Tuan muda." panggil Gusman membangunkan Jammer.
"Hwwooaahhh.” Jammer menguap dan meregangkan tubuhnya.
"Aauuhh." keluh Dinda karena Jammer membuatnya terbentur tangan kanan Jammer yang sedang diregangkan karena pegal tidur dari tadi.
"Kamu gak apa-apa sayang." tanya Jammer melihat wanita disampingnya sedang memegangi jidatnya, kata itu membuat Dinda tersenyum sesaat.
"Sakit aauuuhh, sayang sakit..." keluh Dinda semakin merengek.
"Udah sini kasih obat." Jammer memegang kedua pipi Dinda kemudian mendekati wajah Dinda dan mencium kening Dinda.
"Mataku juga pegal sayang, kasih obat dong." keluh Dinda.
"Ah gak kalo ini bukan aku yang buat." jawab Jammer.
"Tapi tadi aku menangis karena cemburu sama kamu." rengekan Dinda.
"Ya udah deh." balas Jammer mengalah.
"Ini." tunjuk Dinda pada bibirnya.
Jammer mendekati wajah Dinda yang sudah memejamkan mata, tapi dia bukan mencium Dinda malah keluar dari mobil untuk masuk ke rumah.
Semua kejadian tadi di lihat oleh Donny dan Gusman, mereka menggelengkan kepalanya heran.
"Bisa-bisa nona Dinda sebucin itu kepada tuan Jammer, padahal tuan sangatlah cuek sekali. Sampai sekarang sebenarnya apa juga yang diinginkan tuan Jammer, padahal nona Dinda sebegitunya cinta." batin Donny.
"Aduh tuan masih saja menjaga diri." batin Gusman.
"Tuan Jammer, memang the best". ucap Donny dan Gusman ketika mereka telah beradu pandang. Seakan benar-benar satu pikiran. Itu membuat mereka beradu kepalan tangan karena merasa sefrekuensi.
"Huh, ditinggal." keluh Dinda namun dirinya tersenyum senang, diperlakukan lembut seperti itu.
__ADS_1
"Nona, kami boleh pergi?" tanya Gusman.
"Boleh, silahkan saja. Pergi ke rumah dan bawakan aku mobil untuk pulang!" jawab Dinda.
"Baik nona Dinda." jawab Gusman sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Tunggu, gak jadi. Kalian pergi saja biar aku bisa naik motor berdua dengan Jammer." kata Dinda setelah mendapatkan ide untuk berduaan dengan Jammer malam ini.
"Baik kami permisi." kata Donny kemudian mereka berdua pergi.
"Dinda, woi." panggil Jammer. Menyadarkan Dinda dari lamunannya.
"Iya sebentar tunggu aku." jawab Dinda berlari mengejar Jammer yang hampir masuk rumah.
"Assalamu'alaikum aku pulang." ucap Jammer memasuki rumah.
"Wa'allaikumsalam." Bu Tri.
"Ibu, ibu Tri." panggil Jammer.
"Iya sini didapur."
"Ini ada Dinda, dia mau nginep lagi karena ditinggal ke Singapura sendirian." kata Jammer.
"Loh bukannya kalian habis dari Amerika kok malah Dinda ditinggal ke Singapura?" tanya Bu Tri sedikit teriak karena Jammer berada diruang tengah.
"Mama Amel sakit." jawab Jammer sedapatnya.
"Wah Dinta maaf ya ibu gak bisa menjenguk di Singapura." kata Tri.
"Tidak masalah bu, lagian juga sebentar lagi pasti pulang." jawab Dinda.
"Nanti kalo mama pulang aku jemput ya Bu, biar ketemu dirumah?" tawar Dinda.
"Iya boleh." jawab Bu Tri.
"Kalian sekarang mandi dulu terus makan nanti istirahat aja kan capek." sambung Tri.
"Iya Bu, sebentar lagi." jawab Dinda.
Padahal di ruang tengah Jammer sudah berada di alam mimpi, dan Dinda akan mengikutinya tidur juga bersebelahan, Jammer di pojok kanan sofa sedang Dinda dipojok kiri sofa. Ketika bu Tri datang ia melihat anaknya dan Dinda malah tertidur pulas.
"*Kok tumben gak ada oleh-oleh." batin Bu Tri.
"Coba aku telepon pak Samuel." batinnya lagi*.
"Hallo pak Samuel, ibu Amel sakit di Singapura ya?" tanya Bu Tri.
"Sudah baikan kok. Ini juga menunggu pemeriksaan kalo dirasa bisa kami ingin pulang." jawab Sam di seberang.
"Saya turun prihatin atas kondisi kesehatan bu Amel yang sedang sakit. Dan maaf karena tidak bisa menjenguk ke sana, mungkin nanti jika sudah pulang saya akan ke rumah pak Samuel saja." kata panjang lebar Tri.
"Tidak masalah bu. Saya hanya titip Dinda jika ada waktu tolong tengokkan dia di rumah. Karena dia tidak ikut ke sini." kata Sam.
"Wah malah sudah disitu saja, maaf ya jadi merepotkan." ucap Sam tak enak.
"Tidak merepotkan, malah senang." kata Bu Tri.
"Kalo begitu, saya kirim beberapa orang untuk membawakan makanan ya Bu?" ucap Sam.
"Tidak perlu, ini masih banyak makanan di rumah. Kemaren waktu Dinda mengajari anak saya belajar sampai kemalaman itu dia memberi uang ke Dinar masih banyak untuk beberapa Minggu masih cukup." ucap Tri dengan polosnya.
"Oh iya lupa." jawab Sam. Sebenarnya dia lupa belum bicara dengan anak-anaknya bukan tentang uang.
"Saya permisi dulu ya Bu Tri, ini ada dokter ingin bicara." kata Sam memutus telepon. Padahal yang sebenarnya ingin bicara dengan Amel.
"Iya pak."
"baru bicara mengiyakan sudah keburu ditutup." gumam Tri.
"Eh lupa masakannya." pekik Tri pada dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah sakit Singapore, Amel mengeluh ingin pulang ke Indonesia, namun dicegah Samuel, diminta untuk menunggu sampai dokter menyatakan boleh kembali kerumah.
"Huh, papa gak peka." keluh Amel tak jelas maksudnya.
"Kok gak peka, itu kan kata-kata dari dokter jadi papa hanya menyampaikan." bela Sam untuk dirinya sendiri.
"Mama mau Jammer dan Dinda disini?" sahut Dhean menyadari ekspresi wajah mamanya.
"Nah itu kakak Dhean ternyata pintar." puji Amel.
"Ya begitulah anak papa." sahut Sam membanggakan dirinya.
"Yang melahirkan mama." sahut Amel tak mau mengalah.
"Tapi kalo bukan papa yang membuahi pasti tidak ada." sambung Sam tak mau kalah.
"Tapi Dhean itu pintar dari mama, apa papa aja gak peka kok." sambung Amel lebih tidak mau kalah. Dan itu mematikan langkah Sam.
"Eehhhmm, ehm nganu mama, papa itu kurang fokus karena kepikiran hari ini Senin, sampai sore begini Jammer belum menelepon papa. kata Sam.
"Lah dia pasti kecapekan, habis menghukum Ayam jago yang menyakiti Ayam betinanya." kata Dhean asal sebut saja.
"Maksudnya, soal Fiux yang di aniaya mantan itu?" tanya Sam.
."Iya kok tau?" tanya Dhean.
"Papa nih. Kok keceplosan." potong Amel sebelum Dhean mendetailkan tanyanya, dan Samuel salah ucap.
__ADS_1
"Itu pas kamu ketemu Kenan kan sudah tau Fiux ada didalam pengawasan papa." ucap Sam.
"Oh iya." kata Dhean tak ingin bantak tanya jawab lagi.
"Aku mau pulang ke mansion, aku kecapean dan mengantuk mungkin Dinda juga sedang tidur jadi aku ikutan mengantuk." ucap Dhean.
"Iya take care." kata Sam.
"Oke siap."
...****************...
Ketika keluar dari kamar Amel, Kana masih menunggu Dhean di depan kamar. Tak sepatah kata di keluarkan oleh Dhean dia hanya berjalan keluar rumah sakit dan itu membuat Kana juga terdiam mengikuti langkah kami Dhean, hingga ke halte bus.
"Why you walk away from me and but keep silent?" tanya Kana.
"Because I am tired. I going to go to my Mansion." jawab Dhean.
"Ok. I going to guard of your side." ucap Kana lirih.
"What do you say?" tanya Dhean yang tak begitu mendengar kata-kata Kana.
"I going to go back my home, tomorrow." Kata Kana.
"Have fun your last night at my arm." kata Dhean.
"Why you say...?" kata Kana namun terpotong sebuah bus yang kini telah mendekat ke halte.
Mereka menaiki bus itu, Kana masih ingin beberapa hari di sini tapi pekerjaannya di Jepang sudah menggunung, menantinya datang mengeruk sedikit demi sedikit gunungan pekerjaan itu.
"Are you know about love?" tanya Dhean mendadak.
"I think about love, Love is everything your heart, but not more. Itu is about your share, your give, and your priorities." jawab Kana.
"Ok. Thanks for you." gumam Dhean dan tidak di dengar Kana.
Perjalanan dilakukan dengan diam, setelah dua puluh menit Dhean berdiri dan akan turun di halte bus selanjutnya, tanpa disuruh Kana mengikuti Dhean masih tanpa suara. Ketika bus telah berhenti di halte mereka berdua pun turun.
"Why do we have to get off at this bus stop?" tanya Kana bingung karena mansio yang ditujuh masih jauh.
Dhean hanya menempatkan jemarinya pada bibir untuk mengisyaratkan kata 'Diam'. Dhean berjalan beberapa meter ke sebuah toko pakaian, membeli dua jas yang memiliki model sama namun berwarna sesuai kesukaan dia dan Dinda. Kana hanya diam memerhatikan dan mengikutinya. Kemudian Dhean berjalan lagi membiarkan Kana membayar dan keluar, beralih masuk ke toko roti disebelah toko baju, membeli paket menu pancake dan coffee latte, menoleh ke Kana seperti mengisyaratkan tanya 'Mau tidak?' yang ditanya hanya diam kebingungan, kemudian karena tidak ada jawaban Dhean melangkah kesebuah kursi menungggu paket makanannya datang, lagi dia membiarkan Kana membayar.
"*Rasain tuh, aku kerjain bayar terus, bayar. Hahaha." batin Dhean puas.
"Beli apa lagi ya, masih kurang mahal?" batin Dhean menimbang-nimbang.
"Udah ah aku capek, gak ada Dinda disini. Aku merasa gak seru ngerjain orang kalo sendirian gini, semoga besok bisa pulang sama mama." batin Dhean berkeluh-kesah pada diri sendiri*.
Kana datang membawa pesanan Dhean, dan duduk memerhatikan wanita didepannya itu makan, di pandang dengan lekat Dhean merasa risih tapi memilih cepat-cepat menyelesaikan makan untuk segera terbenam dalam mimpi di mansion Samuel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini jam telah menunjukkan pukul 8 malam, Jammer mengajak Dinda untuk membeli beberapa kebutuhan wanita dan pakaiannya untuk semalam ini, karena Jammer sendiri lupa tidak memasukan koper Dinda dan tas sekolahnya pada saat di rumah Sam.
"Ibu, mama Tri." panggil Jammer.
"Iya." suara Tri dari kamar mandi.
"Aku ngantar Dinda ke toko ya sebentar." ucap Jammer.
"Oh iya, lah bapak kamu dimana?" tanya Tri.
"Keluar mungkin, gak ada." jawab Jammer. Ia pun pergi karena sudah tidak ada jawaban.
"Ayo Din." ajaknya pada Dinda yang sedang duduk diruang tengah dengan Dinar.
"Pergi dulu ya Dinar. Bey." pamit Dinda.
Jammer pun mengeluarkan motornya dari garasi, lama sudah tidak dikeluarkan. Mereka pergi ke toko di daerah dekat rumah sakit Soe-Hat. Karena membawa seorang wanita, Jammer tidak berani untuk memacu kuda besinya terlalu kencang. Limaas menit kemudian mereka berdua sampai di depan sebuah toko.
"Ayo." ajak Jammer sambil mengulurkan tangannya.
"Ah aku seneng deh kalo gini." sahut Dinda mendekat dan memeluk lengan Jammer.
"Mau beli apa dulu?" tanya Jammer.
"Piama aja buat tidur dulu, nanti pilih pakaian buat pulangnya."
Lama sekali proses memilih baju piama, hingga sejam tapi Dinda belum selesai.
"Udah yang tadi aja, warnanya bagus kan." celetuk Jammer.
"Ehm iya deh kalo kamu bilang gitu." kata Dinda cemberut.
"Eehh jangan cemberut, kalo mau milih lagi ya gak apa-apa." ucap Jammer, yang sebenarnya juga iya ragukan ucapannya itu.
"Aduh benarkan milih piama lagi." batin Jammer.
"Ppffftt. Sabar mas, perempuan memang gitu." kata pelayan toko yang berada tak jauh dari mereka berdua.
"Sayang. Ini aja, ayo pilih baju buat besok pulang.
"Lega satu masih satu lagi yok Jammer bersabar lagi nunggu Dinda." batinnya sambil berjalan mengikuti Dinda.
Dan benar batin Jammer, sampai toko sudah tutup sebagian, Dinda belum selesai memilih, akhirnya dia mengambil yang Jammer tunjukkan supaya lebih cepat. Setelah membayar merekapun pulang kerumah, jam setengah sebelas malam mereka sampai di rumah dan sudah ditunggu oleh Samad di teras depan.
.
.
.
__ADS_1
.