Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Lambatnya Waktu Malam.


__ADS_3

Fiux baru saja masuk ke rumahnya, kondisi ruang tamu sudah remang hanya terkena cahaya dari ruang tengah dimana bapaknya masih menonton Timnas Sepak bola Indonesia U-23 berlaga dalam pertandingan persahabatan dengan Arab Saudi, ia berjalan langsung menuju kamarnya yang tidak melewati tempat duduk bapaknya.


"Putri." panggil bapaknya.


"Iya pak, kenapa?" jawab Fiux.


"Kok sampai malam?" tanya bapaknya.


"Tadi belanja dulu pak buat persiapan sekolah." jawab Fiux.


Tak ada kata-kata lagi yang diucapkan oleh bapaknya, hanya suara komentator pertandingan di tv yang ramai mengomentari jalannya pertandingan itu. Fiux meletakkan barang-barang yang ia beli tadi di atas atas meja belajarnya, kemudian menutup pintu kamar dan merebahkan badan letihnya ke atas spring bed empuk miliknya. Matanya menyapu langit-langit kamar yang remang juga, karena ia tak menyalakan lampu, ia sengaja tak menyalakan lampu karena lelah menguasai tubuhnya, namun mata tak kunjung ada rasa kantuk sama sekali. Selain itu pikirannya melambung terbayang kejadian yang ia lihat sore hari tadi.


"Kenapa dia ada di seberang jalan tadi ya?" gumam Fiux pelan.


"Tadi yang aku lihat dia sama pacarnya ada di sana, tapi kenapa mereka di sana dan kenapa mereka di posisi itu? Setahuku dari posisi dia berhenti dapat melihatku. Tapi untuk apa dia berada di sana? Jika dia mengawasi diriku dari mana dia tahu aku di sana, padahal sudah berminggu-minggu ia tak mengikutiku, atau aku tak melihatnya mengikutiku?" tanya-tanya pada gumam Fiux untuk dirinya.


Fiux melirik jam tangannya, terlihat angka 22.51, ia pulang tadi pada saat komentator menyerukan "Gooolll... Al-Rasy. Menit 50 Arab Saudi menggandakan keunggulan menjadi 4-1 lewat gelandang serangnya." seruan itu sangat melekat karena baru beberapa waktu lalu. Kini terdengar peluit panjang dibunyikan wasit menandakan bahwa pertandingan berakhir, artinya ia sudah rebahan lebih dari 40 menit hanya memiliki satu kegalauan, benaknya tak habis pikir dengan itu.


"Loh sudah 40 menit doang aku dari tadi." gumam Fiux.


"Apa aku tak terasa sudah tidur?" batinnya.


"Tapi tak mungkin, rasanya aku belum tidur." gumamnya.


Ia meraih ponselnya. Mencari nomor Galuh.


"Aku coba minta bantuan Galuh saja." gumamnya sambil menyambung telepon ke nomor Galuh.


"Halo, kenapa Fiux. Malam-malam begini telepon aku? tanya Galuh di seberang telepon.


"Boleh minta bantuan gak?" tanya Fiux.


"Ada apa sih?" tanya Galuh penasaran.


"Tadi aku kan pergi sama doi. Terus lagi asyik ngobrol aku gak sengaja lihat Jammer dan pacarannya ribut dari tempat yang bisa lihat aku dari luar kafe. Bisa gak kamu cari tahu, mereka kenapa ribut di sana?" tanya Fiux.


"Wah gimana ya? Aku posisinya serba salah. bapakku sedang kerja dengan dia, kalau aku bantu kamu takutnya..." jawab Galuh namun dipotong Fiux.


"Ya sudah kalau gak bisa." potong Fiux.


"Eehmm, begini saja, aku minta pacarku saja bantu untuk cari tahu tentang itu tadi?" tanya Galuh yang sebenarnya itu pancingan untuk Fiux.


"Memang bisa?" ucap Fiux ragu.


"Tenang, pacarku kan hebat dan baik hati huft... hft... hft.." jawab Galuh terkekeh.


"Hahaha, ya aku percaya. Mohon bantuannya ya Galuh." pinta Fiux.


"Iya. Sudah dulu, aku telepon dia sekarang." ucap Galuh, tanpa menunggu jawaban telepon dimatikan.


Fiux pun meletakkan ponselnya di samping kanan bantalnya, kemudian membalikkan badannya dan menarik bantal itu ke pelukannya. Dengan wajah ia kesampingkan melihat sisi kiri dimana ponselnya berada, ia merasa entah apa yang ia akan pikirkan ketika memerhatikan ponsel itu, muncul perasaan akan menunggu sesuatu yang tidak bisa ia nalar.


...****************...


POV Fiux...


"Aku menunggu apa?" tanyaku pada diri sendiri.


Aku lihat notifikasi menyala, segera aku buka ponsel itu.


"Ternyata IG." keluhku.


Aku tak mengerti kenapa mengeluhkan hal itu, ku buka notifikasi itu dan berselancar memuaskan mataku, satu demi satu post di beranda aku buka, tak aku beri satupun tanda hati merah pada mereka karena malas melanda tiba-tiba.

__ADS_1


"Loh kenapa tiba-tiba aku malas ya?" ucapnya bingung.


Ting...


Sebuah notifikasi masuk, ketika aku buka, sebuah nomor tak dikenal mengirimiku pesan.


+628313...


Aku Donny pacar Galuh...


Notifikasi itu tertulis begitu. Segera kau buka apa kelanjutan dari pesan yang hanya bisa aku baca sebagian dengan penasaran ya sedikit menyesakan dadaku tiba-tiba.


"Aku Donny pacar Galuh. Kata pacarku kamu butuh bantuan untuk menyelidiki Jammer?" isi pesan dari Donny.


"Iya benar. Apa Galuh sudah menjelaskan?" balasku dengan segera.


"Kenapa sedikit lega ketika ada jawaban dari pacar Galuh? Ada apa denganku?" gumamku merasa bingung.


Lama balasannya, aku merasa semakin bosan, dan sesak dadaku menahan diri agar tidak terlihat aku menunggunya dengan sangat berdebar. Ketika aku lihat jam di ponselku, menunjukkan 2.07 WIB, sangat larut, tapi di luar seperti bapak tidak mematikan TV, mungkin ketiduran.


"Baik, tapi biayanya berapa yang kamu bisa beri?" balas Donny.


"Apa ya, aku kan pelajar mana mungkin punya uang untuk bayar orang menjalankan permintaan ini." balasku.


"Aku minta satu permintaan jika kamu setuju maka akan aku beri tahu kamu semua yang aku tahu, dan sebelum kamu memutuskan untuk tidak setuju, aku beri tahu kamu, aku adalah Detektif swasta, jadi informasi yang aku dapat otentik, dan juga aku dekat dengan orang tua Jammer, hanya sekedar memberitahu kamu, aku bisa melaksanakan tugas itu." balas Donny.


"Boleh jika kamu bisa mendapatkan hasil. Apa syaratnya?" jawabku


"Bagus sekali. Aku minta waktu kamu untuk makan malam. Waktu dan tempatnya kita bahas setelah aku berhasil menjalankan permintaanmu." balas Donny.


"Syarat apaan sih itu?" balasku.


"Tapi Galuh?" balasku beberapa saat kemudian.


"Setuju ya setuju. Jika tidak ya tidak usah setuju. Dan kalau setuju ya tahu harus merahasiakan hal ini dari pacarku." balas Donny.


"Baik aku setuju." balas WA dariku lagi.


Namun hingga beberapa kali aku buka layar ponsel yang mati karena tak ada jawabannya, masih tetap tak ada lagi tanda jawaban, walaupun kulihat Donny dalam kondisi online.


...****************...


POV Author.....


Pada waktu yang sama di tempat yang berbeda, Dinda masih terjaga bersandar di kasur kamarnya memandangi foto mereka bertiga ketika di bandara Internasional Singapura. Ia lirik jam dinding di samping lukisan masa kecil mereka dekat pintu kamar, dipampangkan oleh jam digital itu angka 2.17, namum matanya belum merasa kantuk, malah berdenyut panas ingin mengeluarkan airnya. Merasa akan menangis Dinda beralih ke balkon yang dapat menampakkan pemandangan kota di bawah bukit dimana minson mewah Samuel berada.


"Aku cipta kata, lukisan gelap rasa jiwa. Memastikan tumbuhnya kecewa, tersiram Lara memekarkan tangis." gumam Dinda, sambil meneteskan air mata.


Cccrrriiinngg... Cccrrriiinngg... Cccrrriiinngg... Telepon genggam Dinda berbunyi.


Iya meraih gadget itu kemudian membawanya ke balkon. Dilihatnya panggilan berasal dari Jammer. Ia tak mengangkatnya, namun dengan rasa sesal ia membuat panggilan balik.


"Halo sayang." sapa Jammer dengan suara lemah.


"Iya, kamu belum tidur." jawab Dinda menahan tangisnya.


"Aku minta maaf." balas Jammer singkat.


"Kamu gak jawab. Belum tidur?" balas Dinda.


"Belum, aku memikirkan kamu." jawab Jammer.


"Hhmm." suara Dinda tercengir.

__ADS_1


"Tunggu sebentar." ucap Dinda.


"Kenapa?" tanya Jammer.


"Aku tadi nangis. Tapi sekarang aku sadar, aku salah karena terlalu emosi. Aku minta maaf." Ucap Dinda.


"*Kamu gak salah, aku yang salah. Aku belum bisa untuk sepenuhnya melupakan Fiux. Aku malah secara diam-diam mencari Fiux, padahal selama liburan ini kamu yang menemaniku." ucap Jammer. Namun ia menahan ucapannya karena mencari ketenangan jiwa supaya dapat melanjutkan ucapannya.


"Kamu sudah tidur yang?" tanya Jammer karena sadar tidak ada komentar dari Dinda*.


Dinda sebenarnya tidak tidur, ia menangis mendengarkan kata-kata Jammer. Tak ada jawaban yang berani Dinda katakan, sedangkan Jammer terus mengatakan isi hatinya dengan lancar karena mengira Dinda tertidur.


Hhwwsss... Suara angin menerpa ponsel Dinda.


...----------------...


Mendengar suara angin berhembus cukup kencang di dekat Dinda, perasaan Jammer menjadi khawatir dan penasaran. Dia pun terperanjat oleh kekhawatirannya dan bangun dari kasur kemudian berlari ke jendela untuk melihat kondisi di luar rumah.


"Sayang. Sayang kamu dimana kok ada suara angin?" tanya Jammer. Tapi tidak dijawab.


"Kak Dinda. Adinda ada dimana?." panggil Jammer.


"Iya, sayang aku di balkon. Aku takut Dhean terganggu dengan obrolan kita." jawab Dinda.


"Aku tidak bisa larang kamu untuk di balkon. Tapi bisa tidak aku minta kamu masuk kemudian tidur, dan setelah itu mimpi indah?" tegur Jammer dengan lembut. Seperti kebiasaannya manis dan tidak membuat lawan bicaranya terpaksa.


"Aku ingin segera tertidur dan mengakhiri penantian panjang ini. Tapi aku sadar, memaksa kamu untuk melupakannya itu mustahil. Dia mungkin tak akan bisa aku gantikan di hati kamu, tapi jika kita bersatu pasti ada ruang untuk aku." jawab Dinda, masih sesenggukan.


"Maafkan aku yang selama ini membuatmu tak bahagia, maafkan aku atas segalanya." ucap Jammer.


"Sudah dulu..." ucapan Dinda terhenti oleh Jammer.


"Matikan dulu, kita tidur. Nanti jam 8 pagi aku bakal jemput kamu." ucap Jammer memotong kata-kata Dinda.


Mereka akhirnya termenung di tempat masing-masing, Jammer berada di ambang jendela, tenggelam pada hayalan semunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini ketika waktu pintu surga dibuka untuk pertama kalinya di sepertiga malam terakhir ini, ada tiga anak manusia sedang dalam lamunannya. Mereka bertempat yang saling jauh, namun dengan lamunan yang saling berhubungan. Mereka yaitu Jammer, Fiux, dan Dinda.


"Kenapa malam ini terasa begitu panjang?" gumam mereka di tempat yang berbeda.


Mungkin rencana Tuhan memang menggariskan bahwa mereka berada pada kondisi yang rumit serta menguras energi batin ini. Mungkin tak ada yang dapat menjadi mereka, karena mereka juga tidak mungkin bisa menjadi orang lain.


.


.


.


.


.


Readers, best wishes for us. Berdebar kan nunggu kelanjutan pernikahan mereka? Sama author juga nunggu, but the way author belum bisa pastikan kapan mereka menikah, author kan nulis pake ploting gitu. Kok masih lama wkwkwk.


.


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2