Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Liburan Memulai Kesibukan.


__ADS_3

Pagi hari minggu ini, jam masih menunjukkan pukul 6.30 pagi, Jammer sudah pergi ke rumah Samuel, ia akan turun tangan pengelolaan perusahaan untuk sementara, mengambil pedang bambu yang sudah mengganggu penghuni rumah, mengontrol perkembangan organisasi mafianya, mengecek berbagai perusahaan yang bergerak dibawah naungan PT Sri Manunggal Sejahtera, berlatih menyanyi lagi untuk rekaman, serta berjalan-jalan dengan pacarnya, Dinda. Karena dia melakukan kegiatan dirumah Sam, secara langsung juga akan diikuti oleh Dinda yang selalu menempel di sisinya, mulai dari rapat dengan Rendi dan orang-orangnya hingga kegiatan akhir melatih teknik bernyanyinya. Kini setelah perjalan dari rumah selama setengah jam lebih sedikit, Jammer telah sampai di rumah orang tua angkatnya, sekaligus rumah calon mertuanya, ia pun masuk ke dalam merebahkan diri di atas sofa ruang keluarga.


"Selamat pagi tuan muda, apa ada yang bisa saya lakukan?" tanya bi Atun.


"Bibi buatin sarapan, jus mangga, terus minta tolong cepat ya." ucap Jammer.


"Baik tuan Jammer." ucap bi Atun.


Beberapa menit Jammer duduk, semua penghuni rumah tidak terlihat, ia datang setelah jam sarapan, niatnya supaya ada orang malah sampai rumah sama sekali tidak terlihat keluarganya itu. Tak lama pesanannya datang, ia menyantap hidangan dengan hitmat tanpa suara, hingga sebuah suara memanggilnya sesaat setelah jus mangga manisnya habis.


"Sayang, kamu kesini?" panggil Dinda dari lantai dua.


"Iya, mana yang lain?" tanya Jammer.


"Tunggu aku turun dulu." ucap Dinda, melangkah turun menuju sofa, menyandarkan diri di pundak Jammer.


"Mama dan papa sedang berada di teras belakang. Dhean lagi telepon gak tau siapa di lantai atas." jawab Dinda.


"Oke, aku panggil Rendy dulu." ucap Jammer menelepon Rendy.


"Mau ngapain." tanya Dinda yang telah manja memeluk lengan Jammer.


"Ssstttt, nanti dulu." bisik Jammer.


"Hallo selamat pagi tuan." sapa Rendy


"Kamu ke rumah papa bawa dokumen Ren. Mulai Senin aku ambil bagian dalam perusahaan, kemudian panggil Silvi, dan siapkan surat mutasi untuk Galenka, biarkan dia jadi sekertarisku." perintah Jammer.


"Hiih, kok dia?" sahut Dinda kesal.


"Aarrgghh, sakit sayang." teriak Jammer karena cubitan dari Dinda di lengannya.


"Abis kamu nakal." keluh Dinda.


"Ren, nanti dulu, ada harimau betina lagi marah. Kamu kesini cepat ya." pamit Jammer tanpa menutup telepon ia lempar ponsel ke sofa di sampingnya.


"Hai, jangan marah. Kamu kan tau aku gak mungkin akan menyukainya, cukup ada saja saat aku perlu, dan cari aku saat perlu aku. Semua tetap pada posisinya, hahaha." ucap Jammer terkekeh-kekeh melihat raut wajah Dinda.


"Hhhmmm." dehem Dinda malas, memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya di dada.


"Sudah dong, jangan gitu." pinta Jammer, berusaha membalikkan badan Dinda ke hadapannya.


"Aaahhh gak, udah urusin aja tuh Galenka. Kamu kan milih dia." tolak Dinda.


"Nah gitu dong, mau ngasih ijin kan?" goda Jammer.


"Hiiih. Kok malah gitu sih, bujuk lagi dong. Masak cuma gitu aja." ucap Dinda kesal.


"Nah gitu dong hadap-hadapan gini." ucap Jammer memegang kedua tangan Dinda.


"Masih mau marah apa mau ngobrol sama aku?" tanya Jammer.


"Ya marahnya ditunda deh." ucap Dinda tersenyum.


"Nah gitu dong, kan kamu tau aku masih berusaha buat mencintai kamu, itu artinya aku sudah menerima kamu masuk dalam hatiku. Hanya tinggal tunggu waktu sebentar lagi." ucap Jammer, dimana posisi mereka masih sama.


...****************...


Tak lama Rendy datang membawa beberapa dokumen, surat pemanggilan mutasi kerja, dan Gusman bersamanya. Rendy dan Gusman berdiri di depan Jammer dan Dinda menunggu perintah Jammer.


"Oh Ren, kok sama Gusman?" tanya Jammer.


"Saya ada laporan tuan." ucap Gusman.


"Kita pindah ke ruang kerja papa, aku kan belum punya ruang kerja di rumah." ucap Jammer.


"Sayang, nanti kalau ada rumah kita buat ya ruang kerja dirumah." pinta Dinda berangan-angan.


"Ah, aku punya ide. Cari apartemen, ubah jadi ruang kerja." ucap Jammer.


"Tapi tuan, kalau apartemen sama saja tuan pergi ke kantor, terus fungsinya apa kalau begitu." sahut Rendy.


"Ya sudah, tanya papa sana beb ada tempat untuk ruang kerja kita bertiga gak." suruh Jammer.


"Ok baby." jawab Dinda berlalu.


"Kalian tunggu disini aku harus ke kamar." ucap Jammer.

__ADS_1


Dinda dan Jammer datang bersamaan, Jammer membawa pedang bambu dari lantai atas tempat kamarnya, dan Dinda membawa sebuah toples berisi makanan ringan kesukaannya.


"Beb, gimana?" tanya Jammer masih menuruni tangga.


"Eehhhmm, itu katanya papa, pakai kamar tamu yang lantai atas aja, kita bertiga kan tidur diatas semua jadi lebih baik kalau di atas tempat kerjanya." jawab Dinda.


"Terus kamu ngapain bawa pedang, katanya mau meeting sama Rendy dan yang lain." tanya Dinda heran.


"Mau aku taruh markas, kalau gak salah seharusnya Silvi itu pasti sepaket dengan Byan, dia yang tau caranya menetralkan pedang ini biar gak bunyi-bunyian lagi." jawab Jammer, menggandeng Dinda yang kini telah di hadapannya.


Jammer pun mengarahkan Rendy dan Gusman ke kamar tamu untuk memulai berbagai pembahasan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Donny dan Galuh baru saja tiba di sebuah tempat rekreasi air, sepulangnya Rendy ke Indonesia membuat tugas Donny berkurang drastis, karena memang tugas tambahan ketika tidak ada Rendy kemarin cukup besar walaupun dibagi-bagi dengan Gusman, Gerry, dan yang lainnya. Namun tidak bisa menyamai kinerja Rendy di sisi Jammer, dan sedikit merepotkan sehingga menyita banyak waktunya.


"Sayang, naik itu yuk." ajak Galuh menunjuk sebuah wahana permainan.


"Iya ayo apa aja buat kamu yang dihati ini." jawab Donny menyanggupi.


Mereka pun mengantri tiket masuk wahana kereta luncur, ketika Donny melihat permainan wahana itu ia sedikit bergidik karena teriakan orang-orang yang berada di atas wahana itu. Melihat orang-orang antri masuk ke wahana yang membawa penumpang menyusuri rel naik mengitari air terjun yang dikeluarkan dari bangunan yang dibuat menyerupai tebing yang tinggi dan mengucurkan air jernih yang deras dan sejuk.


"Kamu gak takut lihat itu keretanya tuh naik tinggi banget?" tanya Donny.


"Gak aku enggak takut." jawab Galuh sedikit mengejek.


"Kamu takut ya." goda Galuh.


"Enggak kok." sangkal Donny.


Ketika itu kereta tepat mencapai puncak perjalanan, dan sesaat kemudian meluncur melesat sejajar dengan turunnya air terjun. Dan...


Byyuurrr. kereta memotong jatuhnya air terjun.


diujung lintasan sebelum menyentuh dasar kereta memotong jatuhnya air terjun, sehingga membelahnya dan membuat cipratan air yang pecah membasahi apa saja yang ada di sampingnya.


"Sayang, balik yuk cari yang lain." ajak Donny.


"Kamu kenapa takut?" tanya Galuh.


"Kita keluar aja, cari yang lain." Ucap Galuh mengalah.


"Maaf yang, sayang." kata Donny.


Mereka pun bermain dengan gembira, menghabiskan waktu bersama. Tugas Donny yang sama seperti bapaknya Roni menjadikan dirinya sendiri cukup riskan terkena bahaya, dengan waktu yang sempit mereka juga harus menyesuaikan diri dengan cepat. Karena tugas yang menumpuk jugalah Donny mengajak Galuh berwisata, hari ini sebagai pengganti hari-hari mereka berdua tak bisa bertemu.


"Sayang makan dulu yuk?" ajak Galuh.


"Iya ayo makan, jangan sampai kamu telat makan." jawab Donny.


"Mau makan dimana sayang?" tanya Galuh.


"Ya kita cari tempat makan disini dulu. Kalau nanti kamu gak suka makanan di food court sini, lebih baik kita pergi keluar dulu, nanti masuk lagi kalau mau main." jawab Donny.


Mereka pun pergi mencari food court. Tempat makan berada di dekat pintu keluar, ketika mereka tiba tempat makan itu sedang penuh oleh pengunjung. Galuh melihat satu-persatu menu yang tertera di daftar menu setiap outlet.


"Gimana sayang, kamu mau makan yang mana?" tanya Donny.


"Terserah aja. Kamu aja yang pilih!" jawab Galuh setengah menyuruh.


"Gawat ini bikin dilema, kalau salah ngasih pilihan bisa aja aku kena ngambeknya. Tunggu aku pikirkan hal yang lebih aman." batin Donny melihat pacarnya sesaat.


"Kita keluar dulu, makan di tempat yang kamu suka aja kelihatannya mereka lama kalau kita nunggu di sini." ajak Donny berdebar-debar takut salah.


"Ok, terserah kamu aja." ucap Galuh lebih dulu berjalan ke pintu keluar.


"Aduh oh mama, kenapa perempuan susah sekali dimengerti. Apa cuma aku yang gak bisa paham?" gerutu Donny dalam gumaman.


"Ayo sayang!" pekik Galuh karena tidak melihat Donny mengikutinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku ingin besok pagi meeting dengan semua direksi PT Sri Manunggal Sejahtera, jadi kabari aku kalau sudah siap!" perintah Jammer ketika mereka semua keluar dari ruang kerja yang sementara masih berupa kamar tidur belum di sulap mengubah kasur menjadi meja dan kursi kerja.


"Gusman, kau supiri aku!" suruh Jammer.


"Sayang aku ganti baju dulu, kamu pamit dulu sama papa dan mama." pamit Dinda melepas tangannya dari lengan Jammer.

__ADS_1


Setelah beberapa menit mereka semua sudah siap, sudah berpamitan dengan kedua orang tua mereka. Kini mereka telah melaju keluar dari rumah Sam menggunakan sedan MK modifikasi Japan Look. Jammer akan mulai latihan intensif dengan pelatih vokal mulai hari ini, jadwal mereka pada jam 5 sore di sebuah studio bernama William Masterpiece Music Studio atau biasa disingkat Wimmus, dan itu tinggal sejam lagi dengan perjalanan normal 20 menit.


"Tunggu Gus." ucap Jammer membuat Gusman melambatkan mobilnya ketika akan memasuki area parkir studio.


"Ada apa baby." tanya Dinda.


"Gak, kita jalan lagi." jawab Jammer mengalihkan pandangannya.


"Apa sih sebenarnya, ada cewek yang ngedeketin kamu di sini, mana sini biar aku yang kasih dia peringatan." ucap Dinda kesal.


Jammer hanya diam sambil menunggu Gusman memberhentikan mobilnya dan turun dari mobil. Dinda hanya mengerutkan dahinya, mengikuti Jammer keluar dari mobil.


"Udah gak usah kesel kita masuk saja, seharusnya sudah ada Gerry dan manajemen record nya." ucap Jammer mengulurkan tangannya untuk digandeng.


...****************...


Didalam Gerry sudah menunggu cukup lama untuk kedatangan pihak manajemen, dan Jammer. Sambil memikirkan pekerjaan dan rencananya untuk bertemu dengan keluarga sang kekasih.


"Gerry." panggil Jammer menyadarkannya.


"Iya tuan muda." jawab Gerry berlari menghampiri Jammer.


"Orang dari manajemen recordnya sudah datang?" tanya Dinda.


"Belum nona, masih dalam perjalanan." Gerry.


"Tapi kata karyawan sini, malah pelatih vokalnya sudah datang. Memang kebetulan dia langganan kesini dari berbagai label dia kebanyakan masuk kesini jadi mereka hapal." ucap Gerry.


"Terus kita disuruh nunggu dimana?" tanya Jammer.


"Di sofa itu dulu tuan muda, karena tempatnya juga sedang di persiapkan operator." jawab Gerry.


Jammer dan Dinda pun duduk di sofa yang tadi di tunjuk oleh Gerry, sedangkan Gusman dan Rendy berdiri di kedua sisi sofa seolah menjaga sebagai bodyguard.


"Sayang haus." keluh Dinda.


"Gusman tolong carikan minum air mineral empat botol buat antisipasi, terus jus jeruk, atau lemon soda, atau wine juga boleh buat ini tuan putri." ucap Jammer.


"Baik tuan saya akan segera kembali." ucap Gusman mengangguk mengerti.


Waktu berjalan cepat, para manajemen dan Nicky Tazkiana dari perusahaan rekaman Star Nine Music sudah datang. Segera mereka melakukan pembahasan kerjasama antara mereka dan Jammer, sementara memang belum bisa memastikan penandatanganan kontrak dikarenakan beberapa points baru saja dicapai kesepakatan. Kini akan dikenalkan tiga pelatih untuk mempersiapkan Jammer rekaman di akhir masa liburan sekolah, dan itu hanya 2 minggu kedepan.


"Nicky tolong panggilkan pelatihnya!" suruh Michael William, owner dari Star Nine Music atau SNM.


"Baik tunggu sebentar." ucap Nicky.


Tak lama ia datang kembali bersama tiga orang, dan seseorang dikenali oleh Jammer. Ia adalah seorang yang kadang bertemu dengannya ketika Jammer masih sering menunggu seseorang di persimpangan jalan menuju sekolah, saat masih menunggu Fiux. Orang itu adalah bapak dari Vanessa Trishella, sebenarnya tadi dia melihat di luar saat bapak itu sedang berbicara di telepon sebelum memasuki area parkir studio, dan sempat melewatinya dari belakang, tapi saat ada niat menyapa dirinya tidak tahu harus memanggil siapa karena tidak tau.


"Permisi ini pelatihnya, silahkan rekan-rekan bisa berkenalan terlebih dahulu." ucap Nicky.


"Perkenalkan saya Bambang Santoso, pelatih vokal." ucap bapak Trishella.


"Oh saya Imaduddin Jammer." balas Jammer menjaba tangan Bambang.


"Kenalkan saya Ditanara Ardilla Chyvari, sepupunya pak Michael. Pelatih fisik dan mental." ucap Dita, berganti mengulurkan tangannya.


"Saya Indrawan Gwen Chou, panggil saja koh Chou. Saya pelatih teknik dan fisik." ucap Chou.


"Mereka satu tim dari Santosa Musical Lesson. Masih satu manajemen dengan SNM, ini koh Chou GM dari usaha les musik itu." ucap Nicky menimpali.


"Baik, terus kapan kita mulai?" tanya Gerry yang dari tadi diam memerhatikan.


"Mungkin sekarang tes saja di dalam recording room, nanti tinggal cari formula untuk latihan, besok tinggal mulai saja.


"Baik, kita mulai dari besok ya latihannya sekarang observasi dulu." sambung Michael, dan diangguki sebagai besar orang disitu.


Mereka melakukan tes untuk observasi selama 3 jam, banyak hal yang kurang sehingga harus dikejar dengan latihan ekstra keras. Jammer yang mendengar bahwa dia harus berlatih dengan keras sedikit gusar, karena perusahaannya juga butuh dirinya ada di dalam perusahaan. Dinda yang selalu ada di sampingnya melihat Jammer dalam dilema.


.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2